Kisah cinta rumit si gadis culun yang berusaha mengambil hati seorang direktur tampan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERKEJUT
Farhan duduk di ruang kerjanya yang berpencahayaan remang. Pria berwajah ramah tetapi tegas itu menatap ponselnya dengan gelisah, menanti kabar dari Andrew atau Toni tentang kemajuan rencana mereka.
Ia mendesah kecewa saat melirik layar ponselnya yang bergeming, tidak ada tanda-tanda pesan masuk pada aplikasi hijau yang ada di benda pipih itu.
Farhan bersandar pada sandaran tinggi kursi yang ia duduki. Begitu matanya terpejam, sebuah kenangan merayap masuk ke dalam kepalanya. Kilasan-kilasan kenangan itu bagai sepotong puzzle yang saling tindih, tidak jelas dan campur aduk, tetapi perlahan potongan-potongan puzzle itu bergeser, mencari tempat yang pas bagi setiap kepingannya, sehingga menjadi jelas di dalam kepala Farhan, sejelas puluhan tahun lalu, saat kejadian itu masih baru, bukan sebuah kenangan seperti sekarang.
***
Wanita cantik itu bernama Samira, seorang janda tanpa anak, terkenal sebagai wanita penghibur yang memikat, profesi yang ia jalani setelah kematian suaminya karena serangan jantung. Farhan sedang bertugas di Jakarta saat itu, sementara istri dan putranya yang berusia enam tahun menetap di Napoli, Italia.
Tinggal seorang diri di sebuah apartemen selama beberapa bulan tentu membuat Farhan kesepian, sehingga mendorongnya untuk mencari seorang teman yang bisa diajaknya berbagi cerita dan tentu saja berbagi kehangatan ketika malam merangkak naik.
Saat itulah Farhan bertemu dengan Samira Aulia, wanita bertubuh mungil dengan lekuk indah yang menggoda. Seorang teman lama yang mengatur pertemuan antara dirinya dan Samira di sebuah restoran, yang kemudian pertemuan itu berlanjut di atas tempat tidur.
Hingga suatu hari, Samira mengatakan bahwa dirinya hamil dan meminta pertanggungjawaban Farhan. Tentu saja Farhan tidak keberatan, dirinya adalah seorang pebisnis yang sering melakukan perjalanan ke berbagai kota dan negara, termasuk Jakarta, Indonesia. Sehingga baginya tidak terlalu sulit jika ia memiliki satu istri lagi di Indonesia.
Pernikahan siri pun menjadi solusi bagi Farhan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Pesta sederhana sudah akan digelar. Samira terlihat cantik dalam balutan kebaya berwarna gold, rambut ikal panjangnya digelung dengan bentuk yang sangat elegan. Tamu sudah berdatangan, penghulu pun sudah duduk bersila di balik meja kecil berhiaskan puluhan tangkai mawar putih.
Namun, dalam sekejap semua menjadi berantakan. Seorang pria menerjang masuk dan membongkar kebohongan Samira. "Dia anakku! Bayi yang sedang dikandungnya adalah anakku, bukan anakmu!" teriak pria itu, yang kelihatannya sangat marah.
Farhan tidak dapat berkata-kata, ia sungguh tidak percaya jika Samira berniat untuk menipunya.Tapi, ia bodoh, bagaimana ia bisa percaya perkataan seorang wanita panggilan!
Tok, tok, tok!
Suara ketukan di pintu membuat Farhan tersadar, memecah kenangan yang mulai terbentuk di dalam kepalanya. Farhan menegakkan tubuhnya, kemudian meminta siapa pun yang sekarang sedang berdiri di depan ruang kerjanya agar segera masuk.
Pintu berayun membuka, memperlihatkan sosok jangkung Andrew dan Toni, yang terlihat lelah.
"Bagaimana? Semua lancar?" tanya Farhan, sedikit tidak sabar.
Andrew dan Toni mengangguk bersamaan, kemudian Toni membuka suara. "Pelangi sedikit tertekan saat melakukannya. Aku khawatir, jika pada akhirnya dia berubah pikiran."
"Kurasa tidak. Aku yakin gadis itu akan bertahan hingga pagi menjelang," ujar Farhan, dengan penuh keyakinan.
***
Gilang menggeliat, merentangkan tangannya sejenak lalu memeluk Pelangi yang berbaring di sebelahnya. Pria itu masih belum membuka mata, hanya saja saat merasakan kehadiran seorang wanita di sebelahnya, pikirannya langsung tertuju pada sosok Gisel yang cantik.
Senyum tersungging di bibir kemerahan Gilang, lalu tangannya semakin erat mendekap tubuh Pelangi yang ia pikir adalah Gisel. "Halo, Sayang. Sudah tidak marah padaku?" tanya Gilang, menenggelamkan wajahnya pada tengkuk Pelangi.
Pelangi menegang, sebelumnya tidak pernah ada pria yang memeluknya seperti itu, selain karena ia tidak memiliki kekasih, siapa juga yang mau dengannya, si gadis berkacamata dari rumah kumuh.
Sentuhan Gilang yang terasa hangat di bagian belakang leher membuat darah Pelangi berdesir sehingga membuat Pelangi seperti hilang akal. Tadinya, ia berniat untuk menggeser tubuhnya menjauhi Gilang, tetapi yang terjadi justru sebaliknya, ia memejamkan mata dan membiarkan Gilang terus memeluknya seperti itu.
Gilang mendekap Pelangi semakin erat, masih dengan mata tertutup ia membalik tubuh gadis itu agar menghadap ke arahnya, kemudian mulai menyentuh bagian depan tubuh yang kulitnya terasa hangat itu.
Pelangi semakin hilang akal, ia membalas setiap sentuhan Gilang, menyentuh lengan berotot pria itu dengan lembut.
Gilang tersenyum, kemudian menyapu wajah Pelangi dengan tangannya, menuju bibir gadis itu. Namun, seketika ia berhenti, ada yang berbeda dari lekuk bibir yang ia sentuh. Bibir Gisel tipis, baik bibir atas atau bibir bawahnya. Sedangkan bibir yang sekarang ia sentuh terasa tebal, penuh, dan lembut sekali.
Gilang membuka mata, dan saat itu juga ia merasa dunia seperti berputar dengan cepat. Ia pusing, tidak mengerti dengan apa yang sedang dilakukannya dan apa yang sedang terjadi. Bagaimana bisa ia berbaring tanpa busana dengan Pelangi di sampingnya. Gadis itu pun penampilannya sama dengan dirinya, tubuh mereka nyaris polos tanpa sehelai benang pun.
Gilang berteriak, begitu juga dengan Pelangi yang menjadi terkejut karena suara Gilang begitu menusuk gendang telinganya.
Tanpa sadar, Gilang menendang Pelangi, membuat gadis itu terjatuh dan mendarat dengan keras di lantai yang dingin. Pelangi merintih, bukan karena tendangan dari Gilang, karena tendangan itu sama sekali tidak menyakitkan, hanya seperti kaki pria itu mendorong tubuhnya menjauh.
Yang membuat Pelangi merintih adalah lantai yang sekarang tengah ia duduki. Lantai semen tanpa karpet itu sungguh dingin, sehingga membuat Pelangi menggigil, apalagi ia tidak mengenakan sehelai benang pun untuk menutupi bagian bawah tubuhnya, hanya selembar CD yang menutupi area sensitifnya.
"Apa yang terjadi? Kenapa aku ada di sini, hah? Di mana Toni, di mana dia?" teriak Gilang, terlihat benar-benar terkejut.
Pelangi meraih T-shirt miliknya yang tergeletak di atas nakas. T-shirt itu dulunya milik salah satu teman lelakinya saat ia masih duduk di bangku SMA. Sehingga tidak heran jika ukuran T-shirt itu terlalu besar untuk tubuh mungil Pelangi. Saat digunakan, T-shirt itu dapat menutupi bagian paha hingga ke atas lutut, sehingga tidak masalah jika Pelangi tidak mengenakan celana lagi di baliknya.
"Cepat katakan, di mana Toni?!" Gilang menerjang tubuh Pelangi, mendorong gadis itu hingga ke dinding dan menatapnya penuh amarah.
Pelangi gemetar di bawah tatapan marah Gilang, tetapi ia tidak bisa berbuat banyak. "Aku tidak tahu ke mana Toni, sungguh, Pak."
"Lalu, kenapa kita bisa tidur satu ranjang, hah? Apa yang terjadi? Kenapa aku dan kamu tidak berpakaian?"
Pelangi meneguk saliva, bahkan air mata mulai menetes dari kedua matanya. Alasan ia menangis bukan karena ia takut pada Gilang, tapi hatinya sakit mendapati tatapan benci dan marah di kedua mata tajam pria itu. "Anda yang memintaku, bagaimana bisa aku menolak, Anda bosku."
"Bohong! Bohong, kamu pasti berbohong, ya, 'kan? Aku tidak mengingat apa pun, aku bahkan tidak ingat mengajakmu ke tempat tidur dan ... apa kita melakukannya?" Gilang meremas pundak pelangi dan mengguncang tubuh gadis itu. "Katakan padaku, Pelangi, apa kita melakukan itu?"
Pelangi mengangguk, lalu menjawab dengan suara tercekat, "Ya, kita melakukannya."
"Aaarg, ****! Sial." Gilang meraung, meremas rambutnya dengan kasar, lalu kembali menatap Pelangi dengan marah. "Dengarkan aku, Pelangi, dengarkan aku--"
Belum lagi ia selesai bicara, pintu kamar mendadak terbuka, dan Popy berdiri di ambang pintu diikuti dua orang rentenir yang sepertinya datang untuk menagih Pelangi.
"Astaga, Pelangi, apa yang kamu lakukan?!"
Bersambung ....
dan ending yang menyedihkan untuk Gisel and the Genk..
btw..
soal visualnya mereka ,aku liat² wajah mereka pada serupa yaa sama para pasangan nya..
jangan ² mereka beneran jodoh di dunia nyata 🖤🖤
rasa nya kok sedih yaa..
Selamat ber bahagia Gilang pelangi dan semua nya🤗🖤
gemes sama Toni ..
satu demi satu
kebahagiaan mu akan trcapai
terlebih Gilang harapan saya kpd outhor smoga Gilang sembuh seperti sedia kala
supaya pelangi semakin bahagia 🙏❤️