NovelToon NovelToon
Midori High School

Midori High School

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:15.5k
Nilai: 4.8
Nama Author: Yoru Akira

Dear,
Diriku yang kelak berusia 27 tahun.

Aku tak tahu akan jadi apa engkau kelak. Tapi aku akan mempersiapkan engkau menjadi perempuan tangguh yang memperjuangkan cita-citanya. Bukankah engkau masih ingin menjadi seperti Najwa Shihab - salah satu perempuan hebat yang dimiliki negeri ini?

Jika memang itu keinginanmu, maka hal pertama yang harus kulakukan adalah berhasil lulus tes dan bergabung dalam Midori Magz. Engkau tahu 'kan, majalah sekolah itu memiliki banyak penggemar. Bukan hanya dari kalangan Midori High School saja, melainkan menjadi idola anak muda seantero kota ini.

Hei diriku yang kelak akan berusia 27 tahun, kau harus tahu bagaimana perjuanganku untuk mewujudkan mimpimu, mimpiku, mimpi kita.

Salam sayang,
Darimu yang berusia 16 tahun

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoru Akira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18 : Deadline

Semesta Ayyara

Menjelang akhir bulan, ekskul Midori Magz disibukkan dengan deadline penerbitan majalah dinding. Setiap hari sepulang sekolah ruangan bernuansa hijau di deretan ruang ekskul lainnya itu, tampak lebih ramai dibanding biasanya.

Bahkan kelas tiga seperti Jonathan, Ardian, Kak Nana juga anggota lainnya masih menyempatkan berkumpul di ruang redaksi Midori Magz. Meski di luar jam pelajaran, aku yakin mereka masih punya jam tambahan seperti bimbel dan lain sebagainya.

Hari ini pun Midori Magz masih ramai seperti beberapa hari lalu. Aku dan Adelia berlari sepanjang lorong saat mendengar bunyi bel tanda pelajaran berakhir. Kami mendapat tugas menulis laporan utama yang harus diserahkan hari ini. Jonathan mewanti-wanti agar pengumpulan laput (laporan utama) jangan sampai melebihi deadline jika tak ingin mengulang tema yang akan diterbitkan. Mengulang tema, sama halnya menyusun laporan dari awal. Dan itu berarti bencana, mengingat tanggal penerbitan mading tinggal menghitung jari.

Brukk...

Adelia tak sengaja menabrak seseorang yang keluar dari kelas X-A saat kami berlari menyusuri koridor. Tumpukan buku yang dibawa cewek berambut ikal itu jatuh berantakan di lantai koridor. Menyadari kecerobohan Adelia, aku berjongkok dan membantu cewek itu mengemasi tumpukan buku yang terjatuh.

"Sori kami nggak sengaja," ucapku saat menyerahkan buku-buku yang terjatuh kembali pada pemiliknya.

"Nggak apa-apa. Makasih, Ayyara," balas cewek itu membuatku terkejut. Di mana kita pernah berkenalan sebelumnya? "Kamu adik Kak Aditya 'kan? Aku salah satu peserta photography tour and camp. Kenalin, aku Laura," katanya sambil tersenyum dan mengulurkan tangan.

Aku menyambut uluran tangannya. “Ah, senang kenalan sama kamu. Oh iya, kenalin juga dia temanku. Adelia.”

Laura balas menyambut uluran tangan Adelia yang entah mengapa membuat wajah temanku menunjukkan raut tidak suka. Ia bahkan menoleh kepadaku seolah berkata,”ngapain sih ngenalin aku juga”. Meski begitu Laura tetap bersikap ramah tanpa menghilangkan senyum di wajahnya.

Sesaat aku terpesona dengan sikap Laura. Cewek itu cantik. Pembawaannya tenang. Tingginya tak jauh berbeda denganku. Mungkin sekitar 163 centimeter. Aku 165 centimeter. Meski rambut sebahunya keriting, tetap terlihat cantik dengan bentuk wajahnya yang oval. Wajahnya pun tipikal yang cantik alami tanpa make up. Ketika tersenyum terlihat gigi kelinci di balik bibirnya. Karena keluar dari kelas A, aku yakin kemampuan otaknya pasti jauh di atasku. Namun, tetap saja ada yang mebuatku penasaran.

"Jadi gimana, masih betah ikut ekskul fotografi?" tanyaku ingin tahu.

Aku harus mengorek informasi apakah dia juga termasuk cewek yang mengikuti kegiatan Polaroid Island hanya demi mendekati Arata.

“Ya, fotografi udah jadi passion sejak lama,” kata cewek itu membuatku hampir terkecoh.

“Oh ya?”

"Iya, begitu lah."

"Hemm, aku dengar banyak anggota yang cuma ikut-ikutan aja. Gimana tuh, kan pasti bakal jadi tantangan berat?" tanyaku seakan melempar api dalam sekam.

Sungguh aku ingin menyelamatkan Arata dari pengaruh buruk cewek-cewek yang mendekatinya hanya untuk mencari perhatian saja.

“Nggak apa-apa kok, aku yakin kami bisa bertahan. Ada Haruto yang bisa membuat kegiatan ekskul jadi menyenangkan.”

“Oh ya, kupikir Kak Metha juga cukup bertalenta di fotografi. Kenapa Arata?”

“Maaf?”

“Ya, kupikir Kak Metha juga bisa membuat kegiatan ekskul jadi menyenangkan. Aku ikut acara kalian kemarin. Dan dia banyak membuat kegiatan yang menyenangkan menurutku. Demi membuat kalian betah ikut ekskul fotografi.”

Astaga, aku bahkan berniat sekali hanya demi membuat cewek itu mengaku jika dia mengikuti Polaroid Island karena Arata. Bahkan aku membela Metha meski dalam hati aku tak mau mengakui leadership cewek itu, yang ternyata begitu memukau selama kegiatan photografi tour and camp. Namun tetap saja, di mataku Metha masih menyebalkan.

“Yah mungkin karena Haruto spesial. Dia bisa membantu siapa saja cepat belajar dan menyukai fotografi.”

“Oh ya? Termasuk menyukai orangnya?”

"Ya, kurasa."

Jawaban Laura membuatku cukup paham dengan tujuan cewek itu mengikuti Polaroid Island. Tanpa sadar aku tersenyum mendengar jawaban singat itu. Dia tidak menyadari jika pertanyaanku tadi menjebaknya.

“Udah napa Ra, kita bakal telat kalo ngobrol sama dia,” kata Adelia membuatku ingat pada tujuan awal. Ruang Midori Magz.

"Sori kita permisi dulu ya."

Aku berpamitan saat Adelia menarik tanganku untuk menjauh. Kami kembali berlarian sepanjang koridor menuju ruang redaksi Midori Magz.

“Aku yakin dia nggak tulus ikut Polaroid Island. Paling juga karena ada Haruto. Wajahnya nyebelin banget tahu nggak. Nih ya Ra, kalaupun nanti Haruto punya pacar, cuma kamu yang pantes dapetin dia,” komentar Adelia saat kami sudah menjauh dari Laura.

“Dih, emang dia barang. Nggak usah ngaco ah,” balasku tak acuh. Meski dalam hati, kalimat Adelia terus membekas di kepalaku.

***

"Wah harusnya dapat kejutan tema baru nih kalau satu menit lagi kalian nggak muncul," sindir Jonathan saat kami membuka pintu ruangan Midori Magz. Dia sudah kembali ke mode tegas cenderung ketus yang pernah disebutnya.

"Untung masih selamat. Yes!"

Adelia berteriak kegirangan sambil menyerahkan artikel yang akan diterbitkan kepada Jonathan. Aku pun melakukan hal yang sama setelah mengambil artikel dari dalam tas.

"Eh tapi kok masih sepi sih?" tanyaku saat menyadari ruang redaksi masih sepi dibanding beberapa hari terakhir.

Kutatap Jonathan yang kini mengecek pekerjaanku dan Adelia - meski sebenarnya itu urusan Ardian selaku pimred pelaksana sekaligus editor Midori Magz. Namun rasanya ada yang kurang jika Jonathan tidak ikut berkomentar.

“Pada akhirnya hanya orang yang sungguh-sungguh yang akan bertahan.”

Suara Jonathan membuatku mengalihkan perhatian dari kertas-kertas yang berserakkan. Aku tahu maksud perkataannya merujuk pada anggota baru yang terkesan ogah-ogahan. Mulanya ada 45 orang yang mendaftar sebagai anggota baru Midori Magz. Lantas disaring menjadi 25 besar. Pada tahap presentasi kekaryaan hanya menyisakan 15 orang termasuk aku dan Adelia.

Kini setelah hampir mengikuti kegiatan ekskul selama satu bulan hanya ada sepuluh anggota yang benar-benar aktif selain kelas dua dan tiga. Formasi mereka masih lengkap sejak hari pertama mengikuti ekskul Midori Magz. Kelas dua tujuh orang dan kelas tiga enam orang - termasuk Jonathan, Ardian dan Kak Nana. Well, memang benar kata Jonathan, pada akhirnya Midori Magz hanya menyisakan orang-orang yang serius berproses.

Tak lama berselang dua orang anggota baru memasuki ruang redaksi. Mereka si kembar cowok-cewek, Fatan dan Ambara. Setelah meminta maaf karena terlambat, mereka menyerahkan artikel kepada Jonathan. Mereka kebagian menulis tentang profil salah satu siswa berprestasi dalam bidang olahraga panjat tebing yang baru saja meraih juara dua tingkat Nasional.

Jadi tema mading bulan depan - sekaligus karya para anggota baru, tentang prestasi generasi Z. Bukan hanya tentang prestasi akademik dan non akademik, tapi juga peran serta siswa dalam kehidupan bersosial. Sebagai laporan utama Ardian meminta kami mengangkat tentang kegiatan Polaroid Island. Menurutnya itu sebuah prestasi yang patut dibanggakan. Karena ekskul yang semula sepi peminat, kini Polaroid Island memiliki 12 anggota baru. Hanya selisih tiga angka dengan ekskul Midori Magz. Tentu ini sebuah prestasi bagi Polaroid Island sebab mereka bersungguh-sungguh mempertahankan ekskul yang semula direncanakan akan ditutup jika tak ada peminat.

“Farhan belum ke sini, Ra?” tanya Ambara menyebut salah satu anggota Midori Magz saat duduk di sampingku.

“Belum tuh. Masih ada perlu kali ya.”

“Kayaknya nggak deh. Tadi dia keluar kelas duluan. Harusnya sudah sampai sini.” Nada suara Ambara terdengar khawatir.

“Apa mungkin dia beneran nggak ke sini?” tanya Fatan pada saudara kembarnya.

“Memangnya kenapa?” Adelia yang semula sibuk membaca novel sambil menunggu anggota lainnya pun ikut nimbrung.

“Entah, kayaknya dia mau mundur dari Midori Magz,” jawab Ambara takut-takut. Ia seperti khawatir - Jonathan yang sedang membaca ulang naskah yang akan diterbitkan - mendengar suaranya.

“Kok bisa sih, dia ‘kan yang kebagian layouting gimana mau keluar sekarang!” Suara Adelia yang tak terkontrol menjadikan Jonathan menatap ke arahnya.

“Ada apa, Del?”

Terlambat, Jonathan sudah ikut ambil bagian dalam pembicaraan yang tak menyenangkan ini. Sedang Ambara terlihat kesal akibat ulah Adelia.

“Kata Ambara, Farhan mau mengundurkan diri Kak.”

Bukannya menyadari letak kesalahannya, Adelia justru mengadu soal niat Farhan mau mengundurkan diri dari Midori Magz. Dari limabelas orang, hanya sepuluh yang aktif saja sudah kerepotan membagi job disk penerbitan mading, sekarang ditambah aduan Adelia yang aku yakin tak mungkin ada solusinya. Terkadang sikap terlalu apa adanya yang dimiliki Adelia sering menjadikan orang lain kesusahan. Seperti sekarang.

“Ya baguslah, itu berarti dia memang tidak pantas tetap berada di sini,” ucap Jonathan entah mengapa membuat dadaku terasa nyeri.

Meski belum ada satu bulan aku mengenal Farhan, dia tipikal orang yang bertanggung jawab. Bahkan saat diberi materi rutin hingga berakhir pada pengumpulan latihan menulis artikel setiap minggu, Farhan satu-satunya orang yang selalu mematuhi deadline dari senior. Bagaimana bisa sekarang dia dengan santainya mengucapkan seperti itu tanpa ada beban. Sementara penerbitan mading masih memerlukan Farhan untuk me-layout artikel sebelum ditempel. Karena tak bisa dipungkiri, Farhan satu-satunya anggota baru yang memiliki kemapuan desain grafis paling bagus.

“Harusnya Kak Jonathan nggak punya hak bicara kayak gitu,” kataku tanpa sadar.

******. Cowok itu kini menatapku dengan sorot matanya yang tajam. Siap meluncurkan kalimat yang akan menyulut perdebatan panjang.

“Apa kamu masih mau membelanya sekalipun dia udah menyusahkan?”

“Tapi bukan berarti Kak Jojo bisa seenaknya bilang begitu. Memang apa jaminannya kita pantas atau nggak berada di Midori Magz?”

Pertanyaanku menyulut amarah. Cowok itu bangkit dari kursi. Tulunjuknya menuding ke arahku.

“Orang yang nggak disiplin, nggak pantas berada di sini. Satu hal yang harus kalian ingat, saat kalian terlena oleh waktu, selamanya akan jadi orang yang merugi. Deadline bukan cuma untuk mengukur kedisiplinan kita, tapi juga untuk menyadarkan sejauh mana kita mampu berjuang.”

“Kakak bahkan belum tahu apa alasan dia mundur, tapi sudah berpikiran sepicik itu pada Farhan,” kataku penuh penekanan. Bisa kulihat wajah Jonathan semakin meradang.

“Lantas apa, dia sendiri nggak menghargai prosesnya. Bagaimana bisa aku percaya kalau dia sungguh-sungguh?”

"Apa itu perkataan yang pantas diucapkan oleh Kak Jonathan sebagai ketua kami? Kakak bahkan menuduh Kak Metha nggak becus memberi contoh baik pada anggotanya. Kalau kayak gini apa Kak Jonathan udah ngerasa paling benar?"

"Kamu nggak berhak ngatur aku."

"Tapi aku punya hak buat ingetin ketuaku kalau dia mengambil keputusan yang salah. Otoriter sekali Anda kalau tidak mau mendengar saran dari anak buah," kataku dengan amarah yang tak bisa kutahan. Sedangkan Jonathan masih berdiri di tempatnya. Menantangku dan menatap tajam.

Ruangan mendadak sunyi. Tak ada satu pun dari kami yang berani membalas ucapan Jonathan. Percuma saja jika membalas ucapannya, itu justru akan membuatku semakin terluka.

“Bulan depan, nggak perlu ada mading kalau persiapan kalian seburuk ini,” tandas Jonathan membuatku naik pitam.

“Mana bisa begitu. Harusnya Kakak ngasih kami solusi, jangan justru menyudutkan seolah kesalahan kami benar-benar fatal,” teriakku histeris. Tanpa mempedulikan tatapan orang-orang dalam ruangan, aku keluar dari ekskul Midori Mgaz.

Bagaimana bisa dia seegois itu? Apakah sedikit pun ia tidak menghargai usaha kami mempersiapkan konten untuk mading tanpa bantuan kakak kelas. Kutegaskan, tanpa bantuan kakak kelas. Tanpa bantuan kakak kelas. Mereka hanya menentukan tema dan memberi ide untuk bahan laput. Semua kami yang mengerjakan. Mulai perencanaan liputan hingga narasumber yang harus diwawancarai.

Meski kuakui, aku terbantu karena Jonathan saat peliputan photography tour and camp, tapi bagaimanapun tetap aku sendiri yang merencanakan draft pertanyaan dan sudut pandang yang ingin kutulis. Bisa-bisanya kini dengan mudah ia memutuskan untuk tidak menerbitkan mading tanpa memahami perasaan kami. Tanpa berdiskusi dengan kami yang sudah susah payah meluangkan tenaga dan waktu demi mading Midori Magz.

Tanpa sadar aku menuju koridor utama tempat mading Midori Magz terpajang. Air mataku mengalir saat menatap mading berukuran 2x1 meter itu. Seharusnya bulan depan karyaku sudah terpasang di sini, tapi Jonathan menghancurkan rencanaku dalam sekejap.

 

Semesta Arata

Saat menuju ruang ekskul Polaroid Island, Arata menangkap bayangan Ayyara berlari melintasi halaman upacara. Tanpa memedulikan tujuan awalnya, cowok itu berlari mengejar Ayyara yang kini berdiri terisak di depan mading Midori Magz. Perlahan ia mendekati Ayyara dan menyentuh pundak cewek itu. Rasanya ada bagian dalam dirinya yang terasa nyeri saat melihat air mata mengalir di pipi Ayyara.

Ayyara bukanlah sosok yang suka menangis. Bahkan sikapnya yang cenderung cuek menjadikan cewek itu pemberani dan terlihat tahan banting. Sejak kecil pun Ayyara jarang sekali menangis meski terjatuh dari pohon ataupun sepeda hingga badannya penuh luka gores.

Bahkan pernah, suatu ketika saat mereka bermain di tanah lapang, Ayyara terjatuh di antara perdu berduri. Bukannya menangis, Ayyara justru tertawa terbahak. Ia hanya meringis saat menyadari banyak duri tertancap di badannya. Justru Arata yang menangis karena takut dimarahi oleh obaachan ataupun bunda.

Kini Arata melihat cewek itu menangis hingga terisak. Suatu peristiwa yang tak pernah terjadi sebelumnya.

“Nande, apa sesuatu yang buruk terjadi?”

Saat mendengar suara lembut Arata menyentuh gendang telinganya, Ayyara hanya tersenyum masam dan menghapus air mata di pipinya.

“Iie, traktir aku ice cream dong. Lagi bad mood nih.”

“Kenapa jadi aku yang disuruh traktir?”

“Nggak apa-apa, kamu ‘kan best friend aku. Jadi, traktir ice cream ya.”

Arata menghembuskan napas panjang. Lagi-lagi dia mendengar istilah best friend yang membuat hatinya semakin nyeri.

1
Icha Akim
kapan dilanjut lagi
Keisya ayu wandira
g sabar nunggu lanjutannya..ganbatte kudasai kak yoru
Jasmine
asiiiikkkkk up ny stlh sekian purnama.
semangaaattttt
Icha Akim
😍😍💐💐💐💐💐💐💐
Icha Akim
alhamdulillah ....semoga sehat terus biar bisa lanjutin MHS dan PULANG💪💪💪💪
Jasmine
ceritany kerreeennn.
dtunggu up ny thor.
semangatttt
Zullya dewi Suryani
tulisan Yoru tu keren2 tp knp yg like sedikit
Zullya dewi Suryani
aku selalu suka tulisan Yoru
Sri Dinar
setia menantimu thor
Icha Akim
masih sabar menunggu
Icha Akim
kapan up lagi thor
rayya oey
like
cinta sejati tidak akan pernah pudar hanya karena terhalang oleh jarak dan waktu.tapi cinta sejati itu akan bersemi karena rasa saling percaya dan kesetiaan
Araya n Ayyara...Miss you all...
cinta sejati tidak akan pernah pudar hanya karena terhalang oleh jarak dan waktu.tapi cinta sejati itu akan bersemi karena rasa saling percaya dan kesetiaan
kpn up LG kak Yoru??aq tungguin....
Ari Eka
semangat up nya thor
bagus cerita2 nya
Jingege54
humm mantap thor 😆 lanjut terooosss jangan patah semangat 💙💪 kutunggu terus kelanjutannya thor 😉 up up up lagi crasy up!

feedback ya thor ke novelku Pendekar Wanita Dari Masa Depan 💙 gege tunggu di sana😆
rayya oey
like
writer in box
salam dari iya dia istriku kisah ketulusan seorang suami yang merawat istrinya yang menderita ganguan jiwa/skizofrenia. Boom like dari iya dia Iya dia istriku💪💪🥰🥰🥰
Rindu F.
jadi inget masa SMA thor. aktif kegiatan ini itu. 😢
Sivia
Thor, Ayyara gak mungkin sama Jo, kan? Duh, plis Thor biarin Ayyara sama Arata aja deh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!