Haloo... ini novel pertamaku..
yg di judul sebelumnya aku tamatin karna ada kesalahan. So, aku pindah ke judul ini aja..
Enjoy reading...
- - - -
Bagaimana rasanya kalau calon suami tercinta tertangkap basah sedang berkhianat??
belum sembuh luka hati, tiba-tiba...
"menikahlah dengan mas Bara, dek!"
Kata-kata itu yang sekarang membuat Nadia dilema. Menikah dengan kakak ipar sendiri??? Are you serious!??
Pengkhianatan, Kekecewaan, lalu pernikahan dadakan...
Sanggupkah Nadia melalui semua itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
BAB 18
“Bi sumi…” panggil Mel
“Iya nyonya” sahut bi sumi
“tolong panggilkan Nadia di kamarnya yaa. Setelah itu tolong bikinkan minuman” titah mama Mel pada bi sumi
“Baik Nyonya” Bi sumi segera naik menuju kamar Nadia dan memanggilnya. Nadia sangat semangat ketika mendengar princess cantiknya sedang berkunjung kesini. Dia pun bergegas untuk turun.
Nadia segera mendekat kearah putri cantik yang sedang digendong papa Johan.
“Hai princess cantiknya onty.. apa kabar sayang?” sapa Nadia pada ponakannya. Dan ajaibnya bayi yang tadinya merengek itu langsung diam dan menoleh mencari sumber suara. Seakan dia tau kalau suara itu memanggilnya.
“Hai sayang.. loh ini kenapa baby Lea menangis?” tanya Nadia saat melihat mata keponakannya masih menggenang
“ini dari tadi nangis terus. Katanya juga susah minum susu lagi dan tidurnya juga tidak tenang.” Jawab sang mama
“Iya Nona, beberapa hari setelah keluar dari rumah sakit baby Lea susah lagi minum susunya, dan bahkan sering rewel lagi. Dan kalau tidur tidak tenang” sahut Bu lika
“oh astaga… sini pa, berikan pada Nadia” nadia mengambil alih baby Lea dari tangan papanya. Bayi itu pun langsung diam seakan nyaman berada dalam dekapan Wanita cantik itu.
“hei lihatlah, Lea langsung anteng begitu” ucap Mama mel yang sedikit heran
“Iya Nyonya, saat di rumah sakit juga baby Lea hanya bisa tenang dan mau minum susu ketika didekap nona Nadia”
“Mah, Pa, Kak, aku bawa Nadia ke taman belakang yaa.” Izin Nadia
“Iya” Bara yang sedari tadi diam hanya mengeluarkan 1 kata itu saja.
“Bu Lika, sini botol susu Lea. Biar kubawa juga” Bu Lika menyerahkan botol susu Lea pada Nadia, kemudian Nadia bergegas meninggalkan ruang tamu itu dan beranjak ke taman belakang.
Melia dan Johan saling pandang sejenak.
“Tuan, Nyonya, saya permisi mau menyusul ke taman belakang yaa” pamit Bu Lika pada 3 orang disana.
“iya bu, silahkan”
“Bara, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” Johan bertanya pada menantunya.
“apa maksud papa?” tanya Bara yang belum mengerti maksud mertuanya itu
“tentang janji kalian pada Safira. Kalian telah berjanji akan memenuhi permintaan terakhir Safira. Papa tau ini berat buat kamu dan yang pasti untuk Nadia juga. Apalagi dia juga pernah mengalami kegagalan menjelang hari pernikahannya karena penghianatan calon suaminya itu.”
“tapi ini semua juga demi Lea. Lea seperti sudah terikat dengan Nadia, dia butuh Nadia untuk merawatnya. Kau lihat sendiri perubahannya tadi saat sebelum dan sesudah bertemu Nadia.” Jelas Papa Johan
“kami tidak bermaksud memaksa kalian, tapi ini juga demi kebaikan baby Lea. Dan kalian sendiri juga telah berjanji pada mendiang Safira sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.” Ucap Mama Mel.
“aku belum memikirkan itu ma, pa. Aku sangat mencintai mendiang istriku dan tidak pernah berpikir akan menikah lagi apalagi dengan adik iparku sendiri. Rasanya sangat sulit dan tidak mungkin” sahut Bara sambil memejamkan matanya seakan merasakan beban berat.
Tanpa mereka sadari Nadia berdiri tidak jauh dari ruang tamu dan mendengar semuanya.
*Nadia POV
Tadinya aku berniat kembali ke ruang tamu karna ingin mengambil popok ganti untuk baby Lea. Tapi langkahku terhenti saat aku mendengar ketiga orang itu dengan berbicara serius. Papa, Mama, dan kakak iparku itu. Entah kenapa saat mendengar ucapan kak Bara, aku merasa sakit di sudut hatiku, seakan aku sedang mendapat penolakan yang menyakitkan.
“hhmm kenapa hatiku terasa sakit. Seperti ada yang berdenyut nyeri. Tapi kenapa?” lirihku sambil menekan dadaku yang terasa nyeri.
Akhirnya aku memutuskan kembali ke taman belakang dan meminta Bu Lika saja untuk mengambilkan popok Lea.
----
Terimakasih