"Apa! Masuk pesantren?"
tanya seorang gadis yang bernama Senja itu pada ayah nya.
"iyah nak,kamu mau kan?"memangnya ayah yakin mau memasukan senja ke pesantren?"katanya seraya mengerutkan keningnya.
betapa bahagia nya sang ayah melihat putri kesayangan nya itu setuju untuk masuk ke pesantran, padahal jika di perhatikan tingkahnya hampir menyerupai anak laki-laki, keras dan sangat nakal. bahkan di sekolah dia dikenal sebagai Queen bar-bar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ridwan jujun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 18
~Pov Senja
__________________
'Ah sial. Mereka melihat keberadaanku.' Batinku mengumpat kesal.
"Senja!" Terdengar suara Rya dan Fajar memanggilku yang sudah bersiap-siap untuk pergi.
Aku berbalik ke arah mereka. Rya menuju ke tempat dimana aku berdiri.
"Senja, kamu kenapa balik lagi? Dan ... sejak kapan kamu di sini?" Suara Rya terdengar seperti seseorang yang ketahuan mencuri, gugup.
Fajar juga ikut menuju ke arahku dan Rya.
"Hai!" Fajar bertingkat seolah-olah tidak terjadi apa-apa. 'Hello! Kalian itu tertangkap basah.' Tidak henti2 batinku mengeluarkan cuap-cuap kesal.
"Senja, kenapa memandangku begitu?" tanya Rya.
"Kamu marah, ya?" sambungnya lagi.
"Iya, jelas aku marah Rya. Kalian ngapain coba peluk-pelukan gitu. Terus, kamu Fajar. Ada hubungan apa kamu sama Rya? Kenapa nggak jujur aja, kalau kamu itu suka sama Rya. Ngapain pakek acara lamar-lamar aku, segala. Bilang aja kamu cuma mau mempermainkan perasaan aku, iya? Hah? Rya, aku nggak nyangka kamu sejahat ini. Di depan mendukung tapi di belakang menikung. Gimana, sih? Kenapa kalian malah diam? Jawab Rya!" Aku menyemprot mereka dengan omelan yang begitu panjang. Entah apa yang terjadi dengan mulutku, rasanya ingin sekali melahap mereka berdua. Aku mengguncangkan bahu Rya yang masih membisu, tidak menjawab pertanyaanku.
"Nikung? Hahahaha ... Senja, kamu ngomong apa, sih? Siapa yang menikung?" Bukannya panik karena aku mengetahui segalanya, Rya malah menertawakan aku yang masih kebingungan menanti jawaban setelah mengomel banyak tentang mereka.
"Iya, apalagi namanya coba? Kamu kerja sama 'kan dengan Fajar untuk membalaskan dendamnya ke aku? Udah, deh, kalian jujur aja. Eh Fajar, kamu ngapain senyam-senyum enggak jelas? Jawab kenapa di___" Belum sempat aku menghabiskan kalimat omelanku, Fajar memotongnya.
"Gimana mau jawab, Senja? Kamu dari tadi nggak kasih aku kesempatan buat bicara." Fajar menarik Rya untuk lebih dekat dengannya.
"Siapa yang menikung? Rya ini keponakan aku," sambung Fajar tersenyum.
Aku melongo mendengar jawaban Fajar, Rya hanya tersenyum dalam rangkulannya.
"Nggak mungkin, kalian nggak usah ngeles, deh. Bilang aja kalau kalian saling suka. Pakek peluk-pelukan segala lagi, bukan muhrim tau." Aku membantah tidak percaya sama omongan Fajar.
"Senja sahabatku yang paling cantik, paling baik, paliiiing ... imut, Fajar bener, kok, aku ini keponakannya. Papaku itu, Abangnya Fajar, dan Fajar adalah anak bungsu dari keluarga Papa aku. Jadi, kalau Fajar memelukku, itu tidak dosa, Senja, karena secara agama Fajar ini dikatakan Wali pengganti, setelah Papaku." Rya menjelaskan sambil memegang tanganku.
"Tapi sebelumnya kalian tidak pernah cerita." Aku masih ragu.
"Itu karena kamu tidak pernah tanya, Senja laura," jawab Rya sambil memyunggingkan senyum menampakkan giginya.
"Iya, setidaknya 'kan kamu bisa cerita, Rya." Suaraku sudah sedikit lemah.
"Gimana mau cerita, aku baru nyebut nama Fajar aja, kamu udah nutup telinga duluan," ucap Rya.
Aku terdiam, Rya benar. Dulu aku begitu membenci Fajar, sampai-sampai kalau Rya ngomongin masalah Fajar, aku selalu menutup telingaku.
Aku melirik Fajar, pemuda itu tidak henti-hentinya tersenyum melihatku.
"Apa, sih? Dari tadi senyum-senyum, ngga jelas banget." Aku membuang muka dari pandangan Fajar.
"Kamu cemburu, ya? Liat aku sama Rya tadi? Hayo ngaku." Fajar menaik turunkan alisnya.
"Siapa yang cemburu? Ak--aku ...!" Aku menjawab gugup.
"Tuh 'kan, jadi gagap-gagap gitu." Fajar terus menggodaku, pipiku terasa panas. Sepertinya sudah memerah karena malu ketahuan cemburu.
"Cieee ...." Rya menyenggol bahuku sambil terus menggodaku.
"Au ah, aku mau pulang." Aku memutar balik tubuhku untuk kembali ke motor.
"Heh, mau kemana? Bentar lagi magrib, nanti kalau terjadi apa-apa di jalan gimana? Eum ...." Fajar mencegahku pulang.
Benar katanya, lagian aku juga tidak berani kalau pulang sendirian.
"Udah, jangan kebanyakan mikir, Senja. Ayo masuk, nanti kita hubungi Ayah kamu di dalam untuk memberitahunya." Rya mengajakku kembali ke rumahnya.
Aku dan Rya mengikuti langkah Fajar yang berjalan di depan kami.
Di dalam rumah sudah ada Om Riyan dan Mamanya Rya, aku mendekati Om Riyan dan menyalaminya. Fajar juga melakukan hal yang sama.
Aku melirik wajahnya Om Riyan dan Fajar, ternyata Rya benar, bahwa Fajar adalah Adiknya Om Ryan. Secara fisik, mereka begitu mirip, sayangnya aku baru sadar. Dan yang lebih jelas lagi, mereka masing-masing memiliki tambahan Pangestu di belakang nama. Fajar pangestu dan Riyan pangestu.
'Aduh, Senja, kenapa baru sekarang kamu sadar.' Batinku mengeluh.
***
Sekarang, aku, Fajar dan keluarganya Rya, sedang menikmati makan malam. Tadi sore, aku sudah menghubungi Ayah dan memberitahukan aku tidak pulang, sekaligus juga meminta izin untuk menginap satu malam di sini.
"Jadi, Senja tidak tahu kalau Fajar ini Adiknya Om, ya?" Om Riyan melihat ke arahku yang sedang melahap makanan.
"Hehehe ... engga Om, Rya juga enggak pernah cerita," jawabku.
"Tambah lagi, makanannya Senja, nih!" Rya menyodorkanku nasi tambahan.
"Eum, udah, Rya. Bisa meledak perut aku kalau makan segini banyak." Dengan sigap aku menghentikan gerakan tangan Rya yang terus menambahkan nasi ke dalam piringku.
"Masa, sih? Bukannya kamu memang suka makan, eum?" Fajar membuka suara, apalagi kalau bukan untuk meledekku.
Kesal. Tentu saja aku kesal dengan ledekannya. Aku memukul bahunya yang kebetulah duduk bersebelahan denganku.
"Aws, sakit Senja." Fajar menggosok bahunya yang tadi aku pukul dengan keras.
"Makanya, jangan suka ngatain orang," ketusku kesal.
Seketika Om Ryan, Mama dan Rya menertawakan tingkahku dan Fajar.
"Begitulah, Mam. Ketika king dan queen bar-bar ketemu," sambung Rya. Aku menyipitkan mata padanya tanda marah. Rya menghetikan tawanya, dia memang takut kalau aku marah. Soalnya aku bakalan mencubit-cubit seluruh badannya tanpa ampun.
***
Setelah makan malam, Fajar pamit untuk pulang. Aku melihat dia meminta izin pada Om Riyan dan Mama dari jarak yang sidikit jauh.
Tapi tiba-tiba Fajar melihat ke arahku. Dengan sigap aku memalingkan wajah darinya dan berlari ke kamar Rya. Lagi-lagi aku malu dengan tingkahku sendiri. 'Ngapain coba, aku liat dia tadi. Ih ...." Batinku meracau.
***
"Ry, tadi Fajar kenapa bahagia banget? Sampe meluk kamu gitu?" tanyaku pada Rya yang sedang melipat mukenahnya usai salat isya.
"Ooh ... tadi aku ngasih tau dia, kalau kamu nunggu kabar darinya." Rya menjawab sambil melihat ke arahku yang berada di sampingnya, juga sedang melipat mukena.
"Iiih ... kamu kenapa malah bilang itu ke dia, sih? Bisa-bisa Fajar kegeeran nanti." Aku menarik hidung Rya dengan sedikit geram.
"Aku baik 'kan?" tanyanya tak berdosa.
"Baik dari hongkong? Eh ... tapi Ry, waktu kamu bilang gitu ke dia, dia jawab apa?" tanyaku penasaran.
"Dia jawab gini, 'Dek, aku tuh, seneeeng ... banget, karena Senja sudah mau membuka hatinya untuk aku.' gitu katanya sambil meluk aku, terus tiba-tiba kamu datang." Rya menceritakan kembali kejadian tadi sore.
Aku cuma bisa menyunggingkan senyum, tidak tau mau jawab apa. Toh, Fajar benar tentang aku yang sudah mau membuka hati untuk dia.
Malam menunjukkan pukul 21:30, hari ini sedikit melelahkan, hingga kantuk lebih cepat menyerangku, dan terlelap di kasur empuk milik Rya.
~Bersambung
(Gimana guys, sudah tau kan kenapa Fajar memeluk Rya? Tenang, mereka itu mahram. Jadi tidak dosa kalau bersentuhan, karena mereka tidak sah menikah. Yang sudah salah paham pada Fajar, minta maaf gih:)