Malika diceraikan oleh suaminya yang telah ia nikahi selama lima tahun dan telah memberinya anak kembar karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.
Namun, bagi Malika, keberuntungan bertubi-tubi justru datang setelah perceraiannya. Salah satunya adalah kehadiran pria blasteran Jepang tampan yang 'ngotot' ingin menjadi bagian dari hidup barunya.
🍰🍰🍰
Taki Sahara, seorang penerus Bakery legendaris berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menikah sejak dirinya divonis infertil setelah sebuah kecelakaan yang dialaminya.
Namun pertemuannya dengan seorang janda muda yang cantik beranak dua seketika mampu mengguncang keteguhan hati Taki dalam memegang janjinya itu.
.
.
.
Jangan lupa pencet ❤️ nya yaa, biar dapet notif tiap update.
Baca juga karyaQ yang lainnya:
~ REPLACEMENT LOVER
(Novel Komedi Romantis)
~ SEJUTA CINTA
(Kumpulan Cerita Pendek)
.
.
.
HAPPY READIINGGG!!! 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mrs caffeine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HATER DADAKAN
'Merendahkan orang lain
tak menjamin dirimu lebih tinggi,
Menjelekkan orang lain
tak menjamin dirimu akan lebih baik,
Menghina orang lain
sama sekali tidak membuktikan dirimu lebih mulia.'
—MOVE ON, by: Mrs. Caffeine
💗
💗
💗
Hari kedua Malika bekerja di PANKEKI BAKERY, ia berangkat ke toko penuh dengan aura positif dan semangat empat lima. Karena memarnya sudah tidak terlalu kelihatan, jadi Malika merasa sudah tidak perlu memakai plester lagi hari ini, dan itu membuatnya menjadi lebih percaya diri.
Ia datang di waktu yang hampir sama seperti hari pertamanya kemarin. Namun kali ini, ia berusaha untuk lebih hati-hati demi menghindari insiden memalukan seperti kemarin.
Di depan pintu toko, Malika menyapa Modo yang sedang melakukan tugasnya. "Pagi, Mas Modo!" sapa Malika ramah.
"Eh, mbak Malika! Pagi juga!" balas Modo tak kalah ramah. Pemuda itu mengehentikan aktivitasnya sejenak demi berbincang dengan Malika. "Untung ketemu disini, ada titipan nih buat Mbak Malika, dari Pak Zacky!"
Modo mengeluarkan sebuah kartu absensi dari saku atas seragamnya lalu menyerahkan kartu itu kepada Malika.
"Kemarin Pak Zacky lupa ngasih ke Mbak Malika, dan karena tahu saya shift pagi lagi hari ini jadi sama Pak Zacky dititipin ke saya lewat Pak Koko, satpam yang baru pulang jam enam pagi tadi. Biar Mbak Malika udah bisa checklock pagi!" terang Modo.
"Oh, gitu..." Malika menerima kartu itu lalu membolak baliknya.
Dilihatnya dua buah tulisan tangan pada kolom jam masuk dan jam pulang di tanggal kemarin. Sepertinya Pak Zacky menulisnya secara manual mengingat kemarin Malika datang dan pergi begitu saja tanpa checklock.
"Terima kasih ya Mas Modo, kalo gitu saya checklock dulu!" pamit Malika.
"Iya, Mbak. Sama-sama. Udah tahu kan dimana mesin checklocknya?" tanya Modo.
"Sudah-sudah tahu. Di sana kan?" Malika menunjuk pada sebuah lorong buntu disudut toko yang dekat dengan toilet untuk pengunjung.
Modo mengangguk lalu tersenyum melepas kepergian Malika yang langsung menuju ke tempat mesin checklock berada. Malika memasukkan kartunya ke dalam mesin checklock itu sesuai tutorial yang ada di balik kartu.
Setelah angka pada kolom jam masuk sudah tertulis secara otomatis, Malika lalu meletakkan kartu tersebut pada deretan tempat kartu bersama dengan kartu-kartu milik staff lainnya. Dipilihnya tempat kartu yang masih kosong lalu memasukkan karunya sendiri ke dalam sana.
Malika tersenyum sejenak kemudian berbalik untuk keluar dari lorong itu dan bermaksud segera menuju ruang ganti karyawan untuk mulai bersiap-siap.
Wanita berambut panjang sepinggang itu pun berjalan keluar lorong dengan santai namun ketika hampir mencapai ujung lorong, tiba-tiba Malika tanpa sengaja bertabrakan dengan seorang perempuan lain yang baru akan masuk masuk ke lorong itu dengan tergesa.
BRUG!
"Duuhh, apaan sih! Lo siapa kok masuk-masuk ke sini?" teriak perempuan itu dengan emosi. Ia memegangi pundaknya yang barusan bertabrakan dengan Malika.
Malika juga refleks memegangi dadanya yang sedikit nyeri akibat tabrakan barusan. "Maaf, Mbak! Saya nggak sengaja!" jawab Malika lirih. Ia tidak ingin menimbulkan kericuhan di hari keduanya bekerja.
"Siapa sih lo? Ini tuh khusus karyawan tauk! Udah seenaknya masuk-masuk, maen nabrak orang pula!" cerocosnya.
Dari kejauhan, Modo yang mendengar suara ribut di depan lorong langsung menghampiri Malika dan perempuan itu. "Mbak Indri, ini tuh Mbak Malika. Asisten barunya Chef Nanda yang baru masuk kemarin. Mbak Indri kemarin kan off makanya enggak tahu!" jelas Modo dengan gugup.
Perempuan yang ternyata bernama Indri itu lantas memelototi Malika dari atas hingga bawah. Setelahnya ia menyunggingkan senyum sinisnya dan mulai menghina Malika tanpa alasan.
"Ck...yang kaya begini jadi asistennya Chef Nanda. Modal cakep doang, tapi palingan kemampuannya NOL!" rutuknya penuh nada sarkas.
Mendengar hal itu Malika sama sekali tidak senang. Ia merasa tidak pernah berbuat salah terhadap perempuan yang sedang berdiri dengan angkuh di hadapannya itu, sedangkan kejadian barusan murni ketidak sengajaan. Apalagi dia juga sudah meminta maaf. Lalu apa yang membuat perempuan bernama Indri ini merasa berHak mencaci Malika sepagi ini.
"Mbak Indri, sekali lagi saya mohon maaf kalau saya nggak sengaja menabrak mbak. Tapi mbak juga sama sekali nggak punya Hak untuk menghina saya! Saya minta mbak minta maaf pada saya!" balas Malika dengan wajah tegas.
Karena Malika bersikap berani padanya, perempuan bernama Indri itu malah makin tidak senang pada Malika. Ia pun berkacak pinggang sebelum membalas lagi ucapan Malika.
"Hah? Apa??? Lo nyuruh gue minta maaf ke elo yang anak baru? NGGAK SUDI! Gue tuh sudah kerja di sini bertahun-tahun, elo baru kerja sehari aja udah belagak, huh!"
Kali ini si Indri yang dengan sengaja menabrakkan pundaknya dengan keras ke pundak Malika, ia ingin memperingatkan pada si anak baru bahwa dirinyalah yang lebih senior.
Dengan cepat Indri melakukan checklock pada kartu absensinya sendiri dan bermaksud segera pergi dari tempat itu untuk menghindari Malika, si anak baru. Namun saat ia sekali lagi melewati Malika, tiba-tiba Indri dikejutkan dengan keberadaan Chef Taki yang berdiri di belakang Modo.
Indri pun langsung tergagap melihat Chef Taki yang menatapnya dengan tajam sambil bersedekap. "Ch-chef..." Indri mendadak takut. Seingatnya, Chef Taki orangnya jarang marah, tapi ia tahu persis jika sekalinya marah, Chef Taki bisa jadi sangat menakutkan.
"Kalian bertiga ikut saya ke kantor!" perintahnya lalu melangkah lebih dulu menuju ruang Pimpinan.
Malika dan Modo menurut begitu saja, dan langsung mengekor di belakang Chef Taki. Sedangkan Indri yang merasa ketiban apes di pagi hari, merasa tidak terima karena gara-gara si anak baru ia sampai harus dipanggil ke kantor oleh Chef Taki yang nampak marah.
Gara-gara anak baru sok kecakepan, gue jadi ikutan kena deh, SIALAN tuh cewek! Indri mendengus keras lalu dengan enggan melangkah menuju ruang Pimpinan.
Di dalam ruangannya, Taki sudah duduk di kursi Pimpinan sedangkan Malika dan Modo dengan kompak berdiri tegap di depan meja Pimpinan. Indri yang baru datang belakangan lalu berdiri di samping Modo. Membuat pemuda tanggung itu berdiri di tengah-tengah dua wanita yang sedang bersitegang.
Setelah kedatangan Indri, Taki menatap satu per satu karyawan yang akan ia interogasi itu. "Saya dengar tadi Indri mengucapkan kata-kata tidak pantas pada staff baru kita. Tapi karena saya tidak tahu awal mulanya, jadi saya minta Modo untuk cerita ke saya, sebenarnya bagaimana kejadiannya awalnya?"
Modo melirik ke arah Indri dan ke arah Malika secara bergantian. Indri dengan tegas memberikan tatapan mengancam padanya, berharap pemuda itu akan mengatakan cerita yang mendukungnya. Berbeda dengan saat menatap Malika, wanita itu sama sekali tidak melihat ke arah Modo. Malika malah menunduk dengan raut wajah penuh penyesalan.
Meski dalam hati Modo takut pada intimidasi Indri jika ia mengatakan sesuatu yang malah menyudutkan seniornya itu, tapi Modo lebih takut lagi pada Chef Taki yang ia tahu memberikan perhatian khususnya terhadap Malika.
Kalau gue belain Mbak Indri, bisa tamat riwayat gue di tangan Chef Taki kalau dia akhirnya tahu ternyata Mbak Indri yang salah. Lagipula ada CCTV, pastinya nanti Chef Taki tetep bakalan tahu kronologi yang sebenernya. Mending gue ngomong sejujurnya aja deh, biar selamet! Pikir Modo dalam hati.
Setelah mempertimbangkan segala konsekuensinya, Modo akhirnya memilih untuk menceritakan menurut versinya sendiri.
"Be-begini, Chef. Awal persisnya saya juga kurang tahu, saya nyamperin mereka waktu saya denger Mbak Indri teriak-teriak di depan lorong. Saya pikir Mbak Indri cuman salah paham, dikiranya Mbak Malika ini bukan orang dalam, trus saya jelasin kalau Mbak Malika ini asisten barunya Chef Nanda. Tapi saya enggak tahu kenapa, Mbak Indri malah menghina Mbak Malika. Dan Mbak Malika yang enggak terima....!"
"Cukup!" potong Taki. "Sekarang kamu Malika, coba ceritakan awal mulanya!" pinta Taki pada Malika.
Malika nampak menghela nafasnya terlebih dulu sebelum akhirnya menceritakan kronologi versi dirinya,
"Tadi habis checklock, pas saya mau keluar dari lorong tiba-tiba saya bertabrakan dengan Mbak Indri. Meskipun saya tidak sengaja, saya langsung minta maaf, tapi Mbak Indri tetap marah dan mengira saya orang luar yang main nyelonong masuk, trus Mas Modo datang untuk menjelaskan siapa saya. Dan kemudian Mbak Indri malah menghina saya, jelas saya tidak terima, Pak, dan minta Mbak Indri untuk minta maaf ke saya tapi dia bilang dia tidak sudi minta maaf dan langsung menabrak saya dengan sengaja." jelas Malika dengan jujur.
"Tapi dia pasti sengaja nabrak saya duluan, Chef!" pekik Indri tidak terima.
"DIAM! Siapa yang nyuruh kamu ngomong sekarang?" bentak Taki pada Indri. Indri pun menutup mulutnya seketika.
Taki menghela nafasnya dengan kesal, "Modo! Kamu sudah boleh keluar! Lanjutkan pekerjaanmu!" perintah Taki pada Modo.
"Baik, Chef!" Modo pun segera undur diri ruangan itu dengan lega. Merasa dirinya barusaja terbebas dari kandang singa yang lagi ngamuk.
Setelah tinggal mereka berdua saja di hadapan Chef Taki, Indri merasa harus membela dirinya agar tidak kena sangsi dari Bos besar itu. "Chef, saya minta maaf kalau saya terlanjur menghina dia tapi saya yakin dia juga sengaja menabrak saya sejak awal!" Indri mencoba beralibi.
"Gimana bisa Malika sengaja nabrak kamu? Orang dia kenal kamu aja enggak, trus apa alasan dia sampai harus nabrak kamu dengan sengaja?" balas Taki dengan kesal.
Indri langsung terdiam seketika mendengar penuturan Taki yang rasional. Ia kini hanya bisa menunduk dengan ketakutan.
"Kamu pikir Malika orang psyco, maen nabrak orang yang tidak dikenalnya begitu saja? Artinya kamu juga menuduh saya sembrono dengan memperkerjakan orang psyco, begitu?" Taki makin emosi.
"Bu-bukan begitu maksud saya, Chef!" balas Indri terbata. "Sa-saya minta maaf, Chef!" imbuhnya dengan gemetar.
"Saya rasa orang pertama yang harus mendapat permintaan maaf dari kamu adalah Malika. Saya lihat dan dengar sendiri bagaimana kamu menghina dia, dan saya tidak melihat ada alasan yang tepat untuk kamu berHak menghinanya seperti itu! Harusnya kamu tahu dengan jelas, bagaimana sistem perekrutan di PANKEKI BAKERY. Saya tidak akan sembarangan memperkerjakan orang yang tidak mempunyai kemampuan." ucap Taki dengan tegas.
Indri tepekur. Ia langsung sepenuhnya sadar dirinya tidak akan bisa mengelak lagi. Ia pun sama sekali tak menyangka, jika dirinya akan mendapat masalah seperti ini di hari pertamanya bekerja setelah off. Merasa tak punya pilihan lain lagi, Indri pun akhirnya meminta maaf dengan enggan kepada Malika.
"Maaf, atas ucapan saya tadi, Malika!" Indri mengatakan itu sambil menghadap ke arah Malika. Namun sorot matanya yang enggan menatap lurus ke mata Malika, membuktikan ketidak tulusan wanita itu dalam menunjukkan penyesalannya.
"Kamu juga harus minta maaf atas perbuatanmu yang menabrak Malika dengan sengaja tadi!" Taki menambahkan.
Indri terkejut ketika mendengar Chef Taki turut memperhitungkan kejadian itu, namun ia pun lagi-lagi tak punya alasan untuk tidak minta maaf jika saksinya adalah Bosnya sendiri.
"Sa-saya juga minta maaf sudah sengaja nabrak kamu!" ucapnya lagi masih berusaha menghindari tatapan Malika.
Sebenarnya Malika kurang puas atas permintaan maaf Indri yang nampak tidak tulus sama sekali, namun ia pun enggan memperpanjang masalah hingga jadi berlarut-larut. Malika sungguh tidak ingin merusak suasana kerjanya yang sudah sangat membuatnya nyaman.
"Baiklah. Saya terima permintaan maafnya Mbak Indri. Sekali lagi saya juga minta maaf, tanpa sengaja sudah menabrak Mbak Indri tadi!" balas Malika lalu mendesah pelan.
"Kalau begitu kamu sudah boleh pergi, Malika! Silahkan bersiap-siap untuk mulai bekerja." perintah Taki.
Malika hanya mengangguk cepat lalu pamit dengan perlahan dari ruangan itu.
"Saya gimana, Chef?" tanya Indri dengan gugup.
"Selama ini saya selalu mendengar keluhan diam-diam dari para staff yang merasa terintimidasi sama kamu. Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka tidak pernah melaporkannya secara langsung kepada saya. Tapi kasus hari ini berbeda, karena saya melihat dan mendengar sendiri sikap tidak terpuji kamu kepada rekan kerjamu." ungkap Taki dengan nada tajam.
Indri langsung terkejut mendengarnya, ia yakin jika selama ini Chef Taki maupun Bos lainnya tidak tahu atas sikapnya yang seperti itu. Tapi nyatanya sebaliknya, mendadak nyali Indri langsung menciut.
"Jadi, kalau sekali lagi saya tahu kamu bersikap kurang ajar atau semena-mena dengan staff lain karena merasa senior. Saya akan langsung mutasi kamu ke toko cabang kita di kabupaten. Ingat itu!" ancam Taki dengan tegas.
Sorot matanya yang dingin dan tajam memancarkan aura kemarahan yang langsung membuat Indri semakin ketakutan dan gemetar.
"I-iya, Chef! Sa-saya akan ingat baik-baik!" jawab Indri dengan terbata.
Setelah berhasil lepas dari masalah yang nyaris mengancam posisinya di PANKEKI BAKERY, Indri semakin kesal karena ia merasa dikalahkan oleh seorang anak baru di hadapan Chef Taki—Bos besar sekaligus orang yang sangat diidolakannya.
Namun karena ancaman Chef Taki yang terngiang-ngiang di telinganya, Indri merasa ia tidak bisa berkutik lagi.
Semua ini gara-gara si anak baru itu, Malika! Awas aja lo! Gue akan bales lo begitu ada kesempatan! janji Indri dalam hati.
.
.
.
To Be Continue...