Pikiran Nara masih saja penuh dengan ajakan menikah dari direktur gilanya itu, Nara jadi tidak begitu konsen dalam bekerja.
Kenapa aku bisa sesial ini pergi ke perjodohan malah ketemu sama bos sendiri?!
Masalahnya Nara hanya wanita yang menyamar sebagai sahabatnya.
Akankah perjalanan cinta Nara dengan statusnya sebagai janda berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duajempol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu satunya Cara
Sebuah mobil sedan putih berhenti tepat di depan Gior Group, mobil BMW itu milik Natha. "Apa kau harus sekali memakai penutup mata itu?" Natha melihat Nara yang memakai penutup mata medis tetapi wanita itu lebih terlihat seperti bajak laut.
"Memangnya aku akan membiarkan memar ini terlihat dengan jelas dan membuat banyak orang bertanya tanya." Jawab Nara judes.
"Pakai ini saja." Natha membuka dashboard nya dan mengeluarkan sebuah sunglases hitam besar. "Ukuran lensanya lebar, aku rasa lebam itu akan tertutup sempurna."
"Boleh juga." Nara mengenyir terlebih dia melihat logo Channel pada sisi gagang kacamata itu. Lalu dia memakai kaca mata hitam milik Natha dan keluar dari mobil. "Terimakasih sudah mengantar aku yah, aku masuk dulu." Nara membungkukkan badannya agar sejajar dengan jendela mobil yang terbuka.
"Iya, aku juga akan langsung ke kantor, nanti sore aku jemput. Sampai jumpa." Dan mobil putih Natha melesat pergi.
Nara menggenakan setelan kantor kemeja navy pas body dan rok ketat selutut, sepatu hak tinggi 5 centi berwarna hitam, mengamit tas kerjanya dan tidak lupa kacamata hitam trendy milik Natha. Dia mengibaskan rambutnya kebekakang, "Nah ayo kita kerja!"
Begitu Nara melangkahkan kaki ke dalam kantor, bisik bisik terdengar di seluruh penjuru kantor.
"Apa sih kenapa dia memakai kacamata hitam?"
"Apa dia habis menangis semalaman?"
"Dia habis bertengkar yah?"
"Mungkin dia sakit mata!"
Nara benar benar menjadi pusat perhatian, dalam waktu 10 menit saja kepercayaan dirinya luntur seketika. Nara duduk dengan lesu di meja kerjanya, "Aku benar benar akan menjadi pusat perhatian, tapi jika aku melepas kacamata ini aku malah akan bertambah jadi pusat perhatian. Ini bagaikan buah simalakama!" Gerutu Nara, "Belum lagi jika aku bertemu dengan direktur dikantor, bisa bisa aku ditangkap karena dianggap orang yang mencurigakan dan semua akan ketahuan lalu aku di p.e.c.at!!" Nara bergidik ngeri.
"Nara." Pak Adrian, senior Nara di kantor menepuk bahu Nara, namun karena Nara sedang bersandar di meja kerjanya dia reflek terkejut dan membalikkan badannya.
"Aaaaah!!! Apa ini??!" Kopi yang dibawa pak Adrian sukses tumpah di rok Nara. Untung saja rok yang dia kenakan berwarna hitam namun rasa lengkep dari kopi tetap saja membuatnya tak nyaman.
"Aduh maaf!" Pak Adrian terlihat cemas, "Aku hanya ingin memberikan kopi yang di belikan oleh ibu kepala tadi. Tapi kenapa kamu memakai kacamata hitam sih?"
"Hahaha tidak apa apa, aku permisi ke toilet dulu. Sampaikan terimakasih pada bu kepala." Nara tertawa canggung dan bergegas ke toilet.
Nara memasang wajah kesal dan murung, "Hari hari ku benaran tidak baik belakangan ini, banyak kejadian aneh dan sial menimpaku!" Wanita itu memakai tisu yang di basahkan air kran untuk membasuh rok kerjanya. "Bagaimana jika pak direktur menelpon untuk mengajak latihan hari ini?" Gumamnya.
"Kalau aku berkata aku sibuk, dia pasti beragrumen jika dia lebih sibuk. Alasan ini jelas payah.
Hmmm.. Jika aku bilang aku kecelakaan dan dirawat dirumah sakit pasti dia akan berkata ingin membesukku dan latihan dirumah sakit. Biar bagaimanapun sepertinya dia tidak berencana untuk melepasku dalam cengkramannya" Nara memasang wajah ngeri.
"Atau jangan jangan aku harus bilang aku... mati?!"
Nara shock, "Dan jangan jangan juga dia bilang akan menyusulku ke akhirat?! Aaargh!!! Apa yang harus aku katakan?! Aku bisa gila hanya memikirkan hal ini!" Nara frustasi.
Namun tiba tiba Nara mendapat ide bagus, "Aku akan bilang aku mendadak harus dinas keluar kot.. tidaak.. keluar negri! Benar, negara yang jauhh, beda benua bahkan dia tidak akan bisa menjangkau diriku! Kamu sungguh brilliant Nara." Ucapnya denga tertawa bangga.
Tepat setelah Nara tersenyum, ponselnya bergetar tanda ad telepon masuk.
'Drrrrrrtttt Drrrttttttt'
Nara terdiam melihat layar ponselnya.
Konon harimau akan muncul saat di panggil. Ternyata itu benar adanya!
Tentu saja panggilan telepon itu berasal dari Rey.
"Halo tuan Rey." Nara mengangkat telepon dengan sambutan hangat terlebih dahulu. "Baru saja saya mau menelpon anda, untuk sementara saya tidak bisa bertemu dulu."
"Ada apa?"
"Saya akan pergi dinas keluar negri." Nara tertawa hambar.
"Kemana?"
Ke.. kemana yah? Aduh karena terlalu mendadak aku tidak kepikiran tadi!!
"A.. anu itu ke.. Ururgai!!"
"Urugai dimananya?? Di Raflata?"
"Hah?? Aa.. eehm. I.. iya disitu!"
"Ah saya salah, Raflata itu ada di Argentina." Rey menahan senyum.
"Hah?!"
"Berapa lama? Kamu pergi sendiri? Kapan berangkat? Lalu apa sebenarnya pekerjaan kamu?" Todong Rey.
"Itu.. itu.."
Nara bernafas cepat karena gugup dan shock.
Pada akhirnya aku selalu terjebak dalam permainan aku sendiri! Dia sungguh tidak bisa di bohongi, sampai kapanpun aku sepertinya tidak akan pernah menang melawan dia. Kalau sudaj begini satu satunya cara adalah....
'Tut' Ibu jari Nara langsung menutup panggilan telepon bahkan ibu jari itu juga yang menekan tombol blokir kontak Rey.
"Maafkan saya pak direktur, tunggu dan bersabarlah beberapa har.. tidak satu minggu tunggu satu mingu!" Ujar Nara frustasi.
****
Rey mengernyitkan alisnya, sudah satu minggu dia mencoba menelpon Nara tetapi selalu dalam pesan suara tidak dapat terhubung.
"Pak direktur." Bastian masuk ke dalam ruang kerja Rey, "A.. ada pesan dari pak predir. Beliau berkata sudah tidak bisa menunggu lagi, kemarin hari minggu aku sudah menjelaskan pada pak Presdir jika kekasih pak direktur sedang sakit namun sepertinya pak presdir tidak semudah itu percaya. Jadi dia memaksa agar pak direktur menemaninya pergi memancing pekan ini." Bastian berhati hati menyampaikan informasi karena sudah seminggu ini mood Rey sedang tidak bagus.
"Nona Narnia sudah mengabaikan anda selama seminggu apa pak direktur tidak mau menyerah?"
'Tringggg Tringggg'
Bunyi panggilan masuk telepon itu membuat Rey dengan gegas mengambil ponselnya namun ternyata yang berbunyi adalah ponsel Bastian.
"Ha.. halo pak presdir." Sapa Bastian gugup.
"Ah iya baik baik, saya akan menyampaikannya pada pak Direktur."
"Pak direktur? Ahh hmm beliau sedang sibuk persiapan rapat sebentar lagi, ada situasi darurat di kantor."
"Baik tentu saja saya akan menyampaikannya lagi."
Bastian menyugar rambutnya gemas setelah menutup sambungan telepon.
"Pak presdir berkata batas waktu perpanjangan yang beliau berikan hanya tinggal 1 hari lagi, jika tidak besok dia akan pergi memancing. Aku sudah mengundur harinya terus bahkan dengan alasan pak direktur dinas tapi ini sudah tidak bisa lagi."
Rey acuh mendengar penjelasan Bastian sedari tadi membuat Bastian menghela nafas kesal.
"Pak Direktur!!" Bastian meluapkan kekesalannya.
'Brakkkk' Rey menggebrak meja membuat nyali Bastian ciut seketika karena terkejut.
Apa aku sudah keterlaluan yah? Tapi aku tidak mau terjebak dalam pertarungan dua harimau ini!!
"Bastian! Apa menurut kamu masuk akal jika aku pergi ikut memancing dengan pak presdir??"
"Te.. tentu saja tidak."
"Kalau begitu lakukan apapun untuk menyelesaikannya! Itu tugas seorang kepala sekretaris kan, memastikan atasannya dapat fokus bekerja hingga seluruh kegiatan perusahaan berjalan dengan lancar??!" Tegas Rey.
"Ta.. tapi kan anda sendiri yang berjanji dengan pak Presdir."
"Lalu?"
"Anda juga harusnya menepati janji dengan pak Presdir."
Rey menghelan nafas panjang, "Kamu sudah berubah Bastian."
"Hah? Apa?" Bastian semakin bingung dengan sikap Rey.
"Kamu tidak ingat? Seminggu setelah di adopsi kakek dan kamu datang kerumahku, kamu meminjam buku pelajaran sekolahku agar bisa belajar dengan baik untuk membuat kakek bangga. Sebagai gantinya kamu berkata akan melakukan apapun!" Rey menunjuk Bastian tepat di wajahnya.
Bastian shock tentu saja, "Itu kan hampir 20 tahun yang lalu!!"
"Mau 20 30 50 tahun yang lalu, janji adalah janji. Jadi selesaikan masalah ini dengan pak presdir." Rey bersikap tidak peduli dan melanjutkan memeriksa dokumen.
Keras kepala sekali dia!! Kesal Bastian.
" Bagaimana jika pak direktur kembali menghubungi nona Narnia." Bastian masih berusaha tersenyum.
"Dia memblokkir nomorku."
"Atau pak direktur bisa mengunjungi tempat kerjanya kalau begitu."
Melihat Rey terdiam membuat Bastian membelakkan matanya, "Jangan bilang pak direktur tidak tau tempat kerjanya??"
"Ppfttt ternyata ada juga bagian yang terlewat dari pak direktur yang sangat detail ini." Bastian berusaha menahan senyumnya, ketika melihat ekapresi marah Rey, dia cepat cepat membetulkan mimik wajahnya.
Rey terdiam kesal.
Meski mengesalkan tetapi perkataam Bastian benar, entah kenapa setiap berhubungan dengN wanita itu aku selalu tidak kompeten bahkan berkali kali kehilangan jejaknya. Awas saja jika bertemu lagi, aku pasti tidak akan melepaskannya!!
"Bastian!!" Intonasi tinggi suara Rey membuat Bastian tersentak, "Ucapanku masih berlaku, bagaimanapun selesaikan semua dengan pak presdir, jika tidak kamu yang akan pergi memancing!!"
aku baca bab ini pas lagi makan Ampe keselek,gara2 Nara baca UUD.
KK jgn sampe Nara dan Natha musuhan karna cowo.