Angan Kaina hancur ketika sosok Zidan muncul dan masuk ke kehidupannya. Imajinasi indah yang selama ini ia dambakan, hancur seketika.
Takdir mempermainkan perasaannya dengan kejam. Ia harus hidup dalam pernikahan yang tak diinginkan. Tidur satu ranjang dan berbaring bersama dengan laki-laki asing.
Setelah ia mulai bisa menerima situasinya, sekali lagi—takdir mempermainkannya. Hati nya dipatahkan, rasa percayanya dikhianati oleh orang yang selama ini ia sukai.
Sosok suami yang tak dicintai selalu ada, memberi dukungan, menyalurkan rasa aman dan nyaman. Perlahan Kaina sadar, Zidan adalah takdir dari Tuhan yang seharusnya ia cintai sepenuh hati.
Jalan hidup tak selalu mulus, seringkali lubang yang sangat dalam menyapamu di depan.
Lubang apa yang akan menyapa Kaina di masa depan?
Siapa yang akan bersama Kaina pada akhirnya?
Joshua?
Zidan?
Ataukah Hanif?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Możhe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Ranjang
Kaina mengekori Zidan masuk ke dalam rumah mewah milik laki-laki itu yang berdiri kokoh diatas sebidang tanah yang luas. Didominasi dengan warna putih hitam dan dipercantik dengan lampu warna kuning.
"Kamar kita ada di lantai atas." tuturnya memberi tahu Kaina.
Setiap sudut dan bagian di rumah itu tak luput dari furniture indah yang sangat menawan, harganya mungkin juga jutaan bahkan ratusan juta.
Lantainya begitu mengkilat dan bersih, semut pun mungkin tak berani untuk melewatinya apalagi serangga kotor lainnya.
Rasanya Kaina ingin menyuarakan kekagumannya pada penampakan mewah rumah laki-laki yang kini berstatus sebagai suaminya itu, namun terhalang oleh rasa gengsi.
"Kita sudah sampai." ujar Zidan.
Mereka telah berada di lantai paling atas dan hanya terdapat satu kamar yang di sertai dengan balkon di bagian luarnya.
Kaina menatap Zidan sesaat.
"Sungguh aku harus sekamar dengan dia?" batin Kaina tak percaya dengan segala yang terjadi hari ini.
"Ayo masuk!" ajak Zidan.
Pintu kamar dibuka oleh laki-laki itu. Luas, bersih, rapi dan wangi—begitulah deskripsi pas untuk kamar Zidan.
Hampir semua dinding di dominasi dengan kaca bening dan tirai yang menjuntai panjang dari atas hingga hampir menyentuh lantai.
"Kita harus banget ya tidur dalam satu ruangan?" tanya Kaina, barang kali laki-laki itu akan mengatakan bahwa dia boleh tidur di kamar lain.
"Iya. Kita kan sudah sah sebagai suami istri."
Kaina menghela nafas pelan. "Tapi saya nga mau di unboxing sama Bapak." gumam Kaina.
"Kamu tadi bilang apa?" tanya Zidan yang lagaknya mendengar samar gumaman istrinya itu.
"Sedenger Bapak aja."
"Saya dengernya kamu bilang mau di unboxing. Apanya yang mau diunboxing?"
"Itu kopernya!" jawab Kaina cepat, dan bohong.
"Oh~~" Zidan ber-oh ria mendengar penuturan Kaina.
"Kamu istirahat aja, pasti lelah kan?" pinta Zidan. Perjalanan panjang dari rumah Rehandana menuju kediaman laki-laki itu tidaklah dekat, sehingga ia tahu bahwa istrinya itu pasti lelah karena perjalanan panjang ini.
"Biar nanti saya unboxing."
"Hah?" Kaina terkejut.
"Kopernya biar saya yang unboxing." jelas Zidan.
"Oh~~" kini giliran Kaina yang ber-oh ria.
Zidan masuk ke sebuah ruangan yang mana Kaina tidak tahu itu ruangan apa.
Gadis itu membuka pintu kaca yang merupakan akses menuju balkon rumah Zidan.
Luas dan sangat bersih. Di beberapa titik diletakkan sebuah pot besar yang berisikan tanaman hijau untuk memperindah tampilan balkon. Terdapat 3 sofa dengan satu meja di tengahnya yang dapat digunakan untuk bersantai sembari menikmati pemandangan matahari terbit maupun saat matahari tenggelam.
Waktu berjalan, tak terasa malam telah larut. Kaina masih terjaga. Ia tidak bisa tidur.
Zidan yang berbaring disebelahnya pun mulai memperhatikan istrinya itu.
"Kamu nga nyaman ya sama kamar saya?" tanya laki-laki itu yang membuat Kaina sedikit terkejut karena sebelumnya hanya keheningan yang menemani keduanya.
"Bukan kamarnya, tapi pemiliknya." jawab gadis itu singkat lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Zidan tersenyum getir setelah mendengar jawaban dari Kaina yang cukup ngena di hatinya.
Sekarang serba salah, baik untuk Kaina maupun untuk Zidan. Pernikahan yang tidak didasari oleh cinta memang cukup menyulitkan.
Terlebih jika salah satu pihak tidak ingin berusaha untuk mencintai pihak lainnya.
Dan terlebih hati Kaina untuk yang lainnya.
mampir juga yuk ke karyaku Human's Adventure & Preman Cantik 🤗
mampir juga yuk di Kisah Cinta Syakila
aku tunggu