Cinta monyet yang meninggalkan luka dan trauma di hati seorang pemuda bernama Ahmad Dzaki. Karena perasaan bersalah atas apa yang menimpa wanita yang dicintainya, Dzaki memilih menjauh dan berubah menjadi sosok arogan, kasar dan dingin.
Setelah 18 tahun, akhirnya Dzaki bertemu kembali dengan Aleya, gadis yang dicintainya. Namun pertemuan itu justru semakin membuat Dzaki sakit hati dan menyesal. Akankah Dzaki dan Aleya bisa bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilmi Syam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saya Calon Suaminya
Dzaki melangkahkan kakinya dengan terburu-buru menuju lift, lalu menutup pintu lift meninggalkan Ferdy yang setengah berlari mengejarnya di belakang. Pikirannya kacau, terlalu banyak pertanyaan yang muncul di benaknya.
Ferdy melongo lalu dia kembali ke ruang divisi pemasaran.
"Aleya, sebaiknya kamu ikut saya"
"Baik pak"
Satu-satunya yang terlintas dipikiran Ferdy saat itu adalah membawa Aleya, satu-satunya orang yang mungkin bisa menenangkan Dzaki yang sudah dikuasai oleh amarah.
***
Dzaki keluar dari lift dengan ekspresi yang menakutkan. Beberapa karyawan yang berada di lobi bahkan tidak berani walaupun sekadar menyapanya.
Dia lalu berjalan menuju lift VIP. Tapi, beberapa langkah sebelum sampai di depan lift, salah satu dari dua pintu lift terbuka. Didalam lift terlihat Sam bersama beberapa manager JD.Corp. Dzaki langsung menghampirinya, membawanya keluar dari lift dengan menarik kerah baju Sam.
"Kebetulan" Ucap Dzaki
BUKK
Tinju yang mendarat di pipi Sam tanpa aba-aba membuatnya mundur beberapa langkah.
"Kurang ajar lo Sam" Dzaki berniat mendaratkan pukulan keduanya tapi segera ditahan oleh tiga pria yang tadi berada di lift yang sama dengan Sam
"Tenang pak" ucap mereka
Dzaki memberontak, kini mereka sudah jadi tontonan semua orang yang ada di lobi. Dzaki yang selama ini seperti gunung es yang berdiri kokoh, tidak terbaca dan tidak tersentuh, saat itu bertindak diluar kendali.
"LEPASIN, LEPASIN GUE!!!
Tiga pria tadi melepaskan Dzaki, tidak ada yang berani melawan bos besar kecuali jika orang itu siap dipecat.
"KURANG AJAR LO SAM"
Dzaki kembali melayangkan tinjunya. Sam hanya berusaha menghindar tanpa ada niatan untuk melawan, dia bingung dengan situasi saat itu.
"Ada apa? Kita bicarakan dulu ada apa ini?" Tanya Sam sambil berusaha menahan serangan Dzaki.
"Aleya, lo sengaja menyembunyikan dia kan?" Kini Dzaki mencengkram kerah baju Sam. Jelas terlihat kalau emosi sedang menguasai pikirannya saat itu.
"Aku bisa jelasin semuanya" Sam berusaha menenangkan Dzaki.
"Bre*gs*k lo Sam" sebuah kepalan kembali mendarat di pipi Sam
Bibir Sam berdarah
"KARENA LO PENGECUT!! Teriak Sam
Sebuah pukulan telak membuat Dzaki terdorong ke belakang. Sam sudah terpancing emosinya.
"Gue hanya berusaha membantu dia karena lo menghilang seperti pengecut" Sam mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan cairan merah.
Mendengar itu Dzaki makin tersulut api amarah, beberapa karyawan pria berusaha melerai mereka berdua, tapi karena terlalu emosi, Dzaki semakin memberontak.
BUKK
Dzaki kembali mendaratkan beberapa pukulannya ke arah Sam dengan keras
"KAK SAM" Aleya berlari ke arah kerumunan itu
Aleya yang panik menghampiri Sam yang tersungkur ke lantai
"Ada apa ini Pak Dzaki" Aleya menoleh ke arah Dzaki
Dzaki menahan amarah, memandang Aleya yang memihak Sam.
"Ini cuma salah paham" Sam berusaha berdiri
"Ayo kak, kita harus obati luka Kak Sam"
Aleya tidak habis pikir dengan apa yang dia lihat tadi. Tidak peduli apapun alasannya, kekerasan adalah hal yang tidak pantas dilakukan. Apalagi oleh orang dengan latar belakang seperti mereka.
"Permisi Pak, saya pastikan kita akan membicarakan masalah ini dengan kepala dingin" Sam lalu meninggalkan Dzaki
"Kita harus bicara" Dzaki menarik Aleya yang berjalan menyusul Sam.
"Maaf pak" Aleya berusaha melepas pergelangan tangannya dari tangan Dzaki, tapi gagal.
"Pak, kita bicara lagi setelah bapak bisa lebih tenang" ucap Aleya lagi
Dzaki tidak bergeming, tangannya tetap memegang Aleya
"Aleya" seseorang memanggil Aleya dengan lembut, suara yang sangat Aleya kenal.
"Mas Beni" Aleya terkejut, dengan sekali tarikan dia melepas tangannya dari pegangan Dzaki.
"Maaf pak, boleh saya bicara dengan Aleya?" Tanya Beni dengan tenang tapi Aleya tahu betul, ada rasa tidak senang yang berusaha Beni sembunyikan dari raut wajahnya.
Suasana menjadi sangat canggung, setidaknya itu yang Aleya rasakan. Dia merasa seperti tertangkap basah dengan sedang bermain curang dengan pria lain di depan calon suaminya.
"Saya calon suami Aleya, Pak" Beni mempertegas bahwa dirinya yang lebih berhak untuk bicara dengan Aleya secara pribadi.
Dzaki terkejut, ada raut sedih yang terpancar dari matanya.
"Maaf, saya sudah lancang"
Dzaki tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Aleya yang melihat itu merasakan sesak yang memenuhi dadanya, seperti ada sesuatu yang masuk ke dalam rongga dadanya dan membuatnya susah untuk bernafas.
"Permisi pak. Ayo"
Aleya mengikuti Beni, ada perasaan aneh yang muncul dari dalam hatinya saat meninggalkan Dzaki dalam keadaan seperti itu. Tapi tidak bisa dia pungkiri, dia punya tanggung jawab yang lebih besar terhadap perasaan Beni.
"Mas" Aleya memanggil Beni, mereka sudah duduk di meja kantin hampir 10 menit tapi Beni belum mengucapkan sepatah katapun.
Beni hanya memandang Aleya. Dia ragu untuk bertanya, takut kalau jawaban yang akan dia dengar ternyata akan membuatnya sakit hati.
Seolah mengerti dengan apa yang Beni pikirkan, Aleya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dia tidak ingin masalah ini akan berpengaruh pada hubungan rumah tangganya kelak.
Beni sebenarnya adalah salah satu orang yang ada di dalam lift saat Sam tiba-tiba diserang. Dia mendengar semua percakapan Dzaki dan Sam. Oleh karena itu, setelah mengetahui cerita lengkapnya dari Aleya, Beni yakin kalau Dzaki menyukai calon istrinya.
***
Dzaki terbangun masih dengan pakaian kantor yang tadi dia pakai. Jam menunjukkan pukul 20:12, di samping tempat tidurnya ada botol wine yang sudah kosong dan sebuah gelas yang tergeletak begitu saja di lantai
Setelah keributan di kantor siang itu, dia sama sekali tidak tertarik untuk melanjutkan pekerjaannya. Dia meninggalkan kantor dan kembali ke apartemennya, minum sepuasnya hingga tertidur.
Dzaki beranjak dari tempat tidur, masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Biasanya dia bisa berlama-lama di kamar mandi, tapi kali ini hanya 10 menit waktu yang dia habiskan untuk membersihkan diri.
Setelah berpakaian lengkap, Dzaki mengemudikan mobil sportnya menuju sebuah bar.
Dzaki memesan sebuah ruang VIP, selain karena dia tidak suka minum-minum bersama dengan orang lain. Dia juga ingin lebih fokus membicarakan sesuatu dengan seseorang.
Sekitar sepuluh menit menunggu, pintu ruangan akhirnya dibuka.
"Maaf, saya telat" Ucap Sam dengan wajah yang masih lebam, Dia duduk di kursi yang tidak jauh dari Dzaki
Mereka lalu terdiam
"Saya minta maaf" Dzaki memulai obrolan
Setelah saling meminta maaf dan yakin kalau suasana saat itu sudah jauh lebih tenang, Sam mulai menjelaskan semua hal yang terjadi sejak Dzaki meninggalkan Indonesia.
"Hanya beberapa hari setelah Om Ihsan meninggal dunia, rumah Aleya disita oleh bank. Om Ihsan menjadi penjamin untuk sepupunya yang mengambil pinjaman di bank"
"Karena tunggakannya yang semakin menumpuk, sepupu Om Ihsan melarikan diri keluar negeri tepat saat kalian kecelakaan"
"Dia terpaksa pindah ke sekolah yang lebih murah setelah itu, saat dia datang ke sekolah dia masih sempat menanyakanmu untuk berpamitan, tapi saat itu kami belum tahu kalau ternyata kamu pindah keluar negeri"
Sam lalu menarik nafas panjang
"Oia, tante Fitri, ibu Aleya, beliau meninggal di hari pertamamu datang ke kantor"
Tiba-tiba Dzaki teringat saat Aleya menumpahkan minumannya ke arahnya
"Sebelum meninggal, tante Fitri mengidap kelainan jantung dan ginjal. Biaya pengobatannya juga tidak sedikit memaksa Aleya berhenti kuliah dan mengubur dalam-dalam mimpinya sendiri. Dia bekerja banting tulang demi membiayai pengobatan tante Fitri, itupun tidak cukup. Utangnya menumpuk jauh lebih besar dari yang bisa dia hasilkan"
"Papa tahu tentang Aleya?" tanya Dzaki
"Setelah hampir satu tahun mencari, saya menemukannya dan menceritakan semua yang saya tahu ke Pak Reka"
"Sebenarnya Pak Reka yang banyak menbantu Aleya. Pak Reka meminta saya untuk menyuruh Aleya mengikuti tes penerimaan karyawan baru di JD.Corp, memberinya gaji yang lebih tinggi, biaya rumah sakit, bahkan tempat tinggal. Tapi semua dilakukan melalui orang lain agar Aleya tidak merasa menjadi beban bagi Pak Reka"
"Saya mengatakan ini sebagai temanmu, sebagai sesama pria" lanjut Sa
"Dia sudah kehilangan banyak hal sejak kecelakaan itu, termasuk kehilangan kamu, sosok yang sangat dia harapkan ada di sampingnya. Terus terang, awalnya saya mencarinya untuk membantumu terlepas dari rasa bersalah. Tapi setelah tahu keadaan Aleya, saya salah. Dialah orang yang paling butuh bantuan"
Dzaki memikirkan semua kata-kata Sam, lalu mulutnya berucap dengan lirih
"Termasuk membiarkan dia bersama Beni?"
"Beni adalah pria yang baik... Dzaki, Aleya tidak pernah menyalahkanmu atas kecelakaan itu bahkan sebelum dia tahu kalau kamu adalah Dzaki"
Sam meremas bahu Dzaki, memberinya dukungan lalu beranjak pergi. Urusannya sudah selesai.
Bersambung...
Sudah Ku tinggalkan like banyakkk juga.dan fav
Ku juga menunggumu di Karya Ku ...Saling Dukung yukk....
MAKASIH..
..Banyakkk