Suatu hari seorang pemimpin Squadron tentara Khusus bernama Mayor Eldric sedang menjalankan misi khusus bersama pasukannya. Namun, tanpa diduga pada saat pasukan itu hendak pulang mereka tidak sengaja bertemu dengan pasukan musuh dan terkena serangan dari rudal yang dilepaskan pasukan itu. Tersadar setelah Helikopter yang mereka tumpangi jatuh Eldric kini telanjang bulat di tengah hutan?
Kehilangan sebagian ingatan, dia menemukan bahwa dia dipanggil dengan nama berbeda, Allsbert.
Allsbert sendiri kemudian bertemu dengan Seorang Wanita Elves cantik yang terkutuk.
Bagaimana perjalanan Allsbert di dunia yang berbeda dengan dunianya dulu itu?
Genre: Fantasi, Aksi, petualangan, Dunia Lain ( isekai ), Romantis, Survival, Perang, Kerajaan, Zero to Anti-Hero
Original. Update? Saya usahakan sehari 1x pada jam 19.30 WIB. So, Jangan lupa masukin ke Favorit dan rak buku kalian ya! Thank You. Happy Reading~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lana_Eka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang Yang Terpanggil.
Ditengah kebingungan yang mereka rasakan mereka mendengar suara dari orang yang berdiri di bawah singgasana.
" Terduduk di singgasana agung di hadapan kalian sekarang ialah sang Kaisar Ellery Unna Roch Valdemar IV yang termasur dari Kekaisaran Meeresreich. " Ujar Orang itu memperkenalkan orang yang sedang duduk di tempat tertinggi di ruangan itu dan kemudian memperkenalkan dirinya sendiri sebagai Jenderal Elloy Norberta.
" Maaf memotong ucapan Anda! Tapi saya ingin bertanya dimana kita sekarang? Seingat saya, saya pingsan dan tiba-tiba bangun disini. Kenapa kami berada disini? Apakah ini adalah sebuah syuting film atau ada event khusus? " Tanya seorang pria yang nampak dewasa dan berusia sekitar 30 tahunan memutuskan berbicara untuk menyuarakan kebingungannya.
Sebuah tombak dengan 4 cabang nampak tergeletak di bawah pria itu, di dekat kakinya.
Sebenarnya Norberta terkejut karena ucapannya dipotong seperti itu. Walau ucapan pria itu sopan, namun tentu saja itu lancang.
Walaupun begitu, Norberta berusaha bersabar dan dengan pelan Norberta kemudian memberikan penjelasan inti mengenai situasi yang sekarang terjadi.
" Anda semua kini berada dalam ruang Singgasana Kekaisaran Meeresreich. Kami memanggil Anda para Pahlawan karena dalam 2 tahun akan terjadi sebuah malapetaka yang hebat dan kemungkinan itu disebabkan oleh kebangkitan Raja Iblis yang telah dikalahkan 100 tahun yang lalu. Untuk itu, Kami memohon kepada Dewa untuk memberikan kami Para Pahlawan yang akan menyelamatkan negeri kami. " Jelas orang bernama Norberta itu dengan suara keras kepada mereka.
" Apa maksud itu? Jadi, kita sedang ada di event atau tidak ? " Tanya pria itu masih kebingungan.
Pria itu masih belum memahami apa maksud perkataan Norberta.
Melihat bawah pria yang tadi menyuarakan pendapat itu masih kebingungan dan tidak tahu maksud perkataan orang yang berdiri di tempat tinggi yang memanggil dirinya sebagai Norberta, seorang gadis nampak bergerak ke arah pria itu.
" Maaf, Pak? " Panggil gadis itu.
Pria itupun membalikan badannya kepada orang yang memanggilnya di belakang, yang ternyata adalah seorang gadis yang tengah memegang sebuah pedang. Gadis itu nampak seperti wanita asia.
" Saya sepertinya memahami apa maksud dari orang itu. " Lanjut gadis itu.
" Apa maksudmu, nona? " Tanya si om-om.
" Saya pernah melihat hal ini di komik serta novel. Maksud saya, kita sekarang ditransfer atau diteleport ke dunia lain secara paksa untuk bertarung atau untuk menghentikan seorang yang dikenal sebagai Raja Iblis yang memiliki kekuatan mengerikan. " Jelas gadis itu.
Gadis itu sendiri kemudian melihat ke arah Norberta dan singgasana.
" Benar seperti itu, Tuan?" Tanya gadis itu memastikan.
" Tepat sekali, Nona! " Jawab Norberta kemudian.
Wanita itu tidak menyangka jika tebakan akan benar.
" Saya tidak menyangka hal ini akan benar-benar terjadi pada kita. " Ungkap si wanita itu.
" Apa maksudmu? Ini tidak masuk akal!! J-Jadi maksudmu kita sekarang berada di dunia berbeda?! " Tanya om-om itu kembali.
Sebenarnya pria itu tidak bisa mempercayai ucapan gadis remaja di hadapannya yang terkesan hanyalah bualan. Jadi, dia memutuskan untuk memastikan. Lagipula dia merasa aneh dengan keadaan sekitarnya dan tidak menjumpai sebuah kamera di manapun.
Sedangkan orang-orang yang ada di belakang dirinya nampak juga kebingungan dan hanya menyimak.
" Itulah maksud saya, Pak! " Jawab gadis itu.
Mendengar jawaban tidak masuk akal itu membuat pria itu lantang berbicara.
" Jangan bercanda!! Aku tidak bisa terus disini!! " Kata Om-om itu setengah berteriak.
Guratan otot nampak muncul di kening pria itu akibat amarah yang memuncak.
Dia kemudian melangkah maju. Tanpa memikirkan akibatnya.
Sebagai reaksi, tidak perlu waktu lama hingga para pasukan yang ada disitu bergerak dan mengepung ketujuh orang itu.
Mereka menaruh perisai mereka mengitari ke tujuh orang itu dan menodongkan tombak mereka ke arah orang-orang itu.
" Hei. Tenanglah pak. Tenang. Jangan terbawa emosi. Mereka sepertinya serius disini. " Kata seorang pria yang nampak membawa sebuah buku membujuk agar pria yang berteriak tadi untuk tenang.
" Hii. Mereka nampak menakutkan!! " Ujar seorang gadis kecil yang membawa sebuah boneka beruang nampak menyembunyikan diri ke tengah-tengah orang-orang itu untuk berlindung.
Pria yang emosi itupun kemudian menyadari bahwa orang-orang ini serius. Tapi, dia tetap tidak peduli. Hanya sedikit emosi yang mereda. Namun, kekhawatirannya tetap sama.
" Tuan?! Apakah saya dapat kembali ke rumah saya? Bagaimana cara agar saya dapat kembali! Saya memiliki anak dan istri di dunia saya! Saya harus kembali! " Ungkap pria itu masih berani karena didorong oleh kekhawatirannya.
" Norberta! " Sang Raja itu dengan wajah datarnya hanya memanggil nama Norberta bermaksud menyuruhnya untuk menjawab.
" Baik, Yang Mulia. Maafkan kami atas tindakan tidak sopan kami. Namun, ini memang sebuah tindakan pencegahan yang diperlukan. " Ungkap Norberta kepada orang-orang yang terkepung itu.
" Untuk pertanyaan Anda, Tuan Pahlawan. Saya akan menjawabnya. Untuk kembali ke tempat asal Anda saya pikir itu hal yang sulit. Namun, saya tidak mengatakan bahwa itu tidaklah tidak mungkin. " kata Norberta memberi penjelasan.
" Jadi, memang bisa? Bagaimana caranya!! " Tanya Pria itu dengan nada tinggi.
" Saran terbaik saya, Anda bisa mencoba mengalahkan Raja Iblis. Setelah mengalahkan seorang Raja Iblis yang menyebabkan malapetaka besar pada dunia, umumnya doa para Pahlawan akan di dengarkan oleh para Dewa. Anda mungkin bisa memohon untuk di kembalikan ke tempat asal Anda. Saya sendiri menyarankan hal itu karena hal itulah yang paling mungkin. " Jelas Norberta kembali.
Mendengar hal itu tanpa berfikir panjang orang itu segera mengambil tombak di bawahnya yang membuat prajurit bersenjata terkejut. Tapi, om-om itu mengabaikannya dan bertanya,
" Jadi dimana si Raja Iblis itu?! "
" Maaf Tuan Pahlawan. Menurut ramalan Raja Iblis itu baru akan muncul dalam 2-3 tahun lagi dalam waktu yang disebut abad Kekacauan. Maaf untuk mengatakan ini. Tapi selain itu, Anda semua sekarang belum mampu untuk melawan Raja Iblis itu. Maaf sekali lagi untuk bilang ini, tapi anda semua masih lemah dan masih sebanding dengan manusia biasa. Maka dari itu, Anda semua diharuskan untuk melatih diri sebelum peperangan benar-benar terjadi! "
" Jadi, Aku harus menunggu dua tahun? " Tanya om-om itu kembali sembari menggeretakan giginya.
" Pak. Jangan melakukan tindakan sembrono! " Seru seorang pria di dalam rombongan itu memperingati om-om itu agar tidak melakukan tindakan nekat.
" Aku tahu. " Ungkap om-om itu menjawab. Kemudian om-om itu seperti terpikir sesuatu.
" Bisakah kita meminta untuk kembali ke waktu saat kita dipanggil kesini?! Bukan dua tahu? " Tanya pria itu keras ke arah Norberta.
" Saya tidak tahu. Tapi, kemungkinan bisa. " Jawab Norberta.
" Kalau begitu baiklah. Aku hanya perlu berlatih untuk mengalahkan Raja apalah itu kan? " Tanya si om-om.
" Benar, Tuan Pahlawan. " Jawab Norberta.
" Akan kulakukan. Akan kukalahkan raja apalah itu dan kembali ke duniaku! " Ungkap pria itu.
" Kalau begitu kita sudah menyelesaikan kesalahpahaman kita. Turunkan senjata kalian! "
Norberta memerintahkan para prajurit itu untuk menurunkan senjata mereka.
Menuruti perintah Norberta, para prajurit itu kemudian menurunkan tombak mereka dan berhenti mengepung ketujuh orang itu untuk membentuk kembali barisan mereka.
" Sebelum saya menjelaskan lebih lanjut, mari kita mulai upacara selanjutnya! " Seru Norberta kepada ketujuh orang itu.