Baby Grezyca Aurora, Nama yang bagus tapi tidak dengan nasibnya. sedari kecil Baby sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya karena kecelakaan yang menimpa mereka. Dan sejak saat itu Baby harus menjalankan hidupnya hanya dengan Marvel pratama, Kakak kandungnya.
Suatu hari Baby dipecat dari pekerjaannya tanpa alasan dan itu membuatnya uring uringan. Karena Baby sangat membutuhkan uang untuk pengobatan kakaknya yang sedang sakit.
Seorang teman Baby memberikan informasi bahwa di perusahaan Xington group sedang membuka lowongan pekerjaan. Baby sangat bahagia, ia memutuskan untuk melamar pekerjaan disana.
"Pendidikan terakhir?"
"SMA pak"
Pria itu diam sesaat dan menatap Baby dengan sorot mata yang tajam.
"Kamu ditolak, saya tidak bisa menerima Sekretaris yang hanya lulusan SMA"
"Bapak menolak saya karena saya lulusan SMA, memangnya bapak pikir lulusan SMA tidak bisa bekerja jadi sekretaris. Saya pastikan bapak menyesal karena menolak saya.
Leon pradipta Xington, orang yang baby bentak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririn Calliesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan hangat
Setelah membeli dalaman dan sepatu untuk Marvel, Baby akan memesan taksi tapi dicegah oleh Leon. "Biar saya yang mengantarmu" ucapnya pada Baby. Baby tak menolak, lumayan ia bisa dapat tumpangan gratis.
Baby membuka pintu lalu ia masuk ke dalam dan duduk di kursi belakang. Leon menatapnya datar. "Pindah ke depan, saya bukan supirmu" ucap Leon. Dengan wajah yang ditekuk akhirnya Baby pindah ke depan dan duduk di samping Leon.
"Gak usah ditekuk mukanya, makin jelek aja" ucap Leon ketika melihat wajah bete Baby. "Jangankan ditekuk pak, dilipat saja muka saya tetap cantik kok. Muka saya ini original dan asli dari pabriknya langsung"
Leon menggelengkan kepalanya lalu mulai menjalankan mobilnya. Sepanjang perjalanan Baby memutuskan untuk menghidupkan musik agar tidak sepi. Baby memilih musik dengan judul Kekasih bayangan.
Leon menoleh sebentar pada Baby dan melihatnya yang tengah bernyanyi mengikuti musiknya itu.
"Aku tahu engkau sebenarnya tahu
Tapi kau memilih seolah engkau tak tahu
Kau sembunyikan rasa cintaku
Di balik topeng persahabatanmu yang palsu
Kau jadikan aku kekasih bayangan
Untuk menemani saat kau merasa sepi
Bertahun lamanya kujalani kisah
Cinta sendiri"
Mungkin memang benar
Cinta itu tak lagi berharga
Semua percuma
Bila engkau tak punyai harta"
Deg. Lagu itu sangat tepat sekali dengan Leon. Entah mengapa hatinya merasa sakit sekali saat mendengar lagu itu. Lagu itu mengingatkannya pada sosok di masa lalunya.
Leon berusaha menepis mimpi buruk itu.
Syafira menatap ke arah Leon. "Kenapa pak? Kenapa bapak bisa keringatan gini padahal ac mobilnya sudah menyala dari tadi" ucap Baby. Baby mengusap keringat yang ada di wajah Leon dengan tangannya.
"Tolong matikan musiknya, saya tidak bisa mendengar lagu itu lagi" ucap Leon dengan nada lirih. Syafira sebenarnya penasaran tapi biarlah saat ini Leon menyimpannya sendiri. Lagi pula ia tak ada hak untuk itu.
"Stop dulu pak, berhentiin dulu mobilnya" Baby memerintahkan Leon karena ia khawatir dengannya. Leon menurut saja, mobilnya berhenti di pinggir jalan.
Baby melepas sabuk pengamannya kemudian memeluk Leon dengan erat. Baby tahu Leon tidak baik baik saja. Karena sejak tadi Leon terus merasa gelisah.
"Saya gak tahu bapak kenapa? Saya juga tidak ingin meminta bapak berbagi pada saya. Tapi saya siap untuk melindungi dan menenangkan bapak disaat saat seperti ini"
Leon membalas pelukan Baby dengan erat. Ia membenamkan kepalanya di ceruk leher Baby. Leon merasakan ketenangan saat ia memeluk Baby, ketenangan yang tak pernah ia rasakan selama ini.
Baby mengelus rambut Leon dengan pelan. Jantungnya berdetak dengan kencang saat dirinya memeluk Leon. Ini adalah pertama kalinya ia memeluk seorang pria selain abangnya sendiri.
Leon melepaskan pelukan Baby dengan pelan. Kemudian ia menatap mata Baby yang sangat meneduhkan baginya. Leon tidak menyangka Baby yang selama ini selalu barbar di hadapannya bisa mempunyai sisi lain seperti ini.
"Terima kasih karena kamu sudah menenangkan saya" ucapnya pada Baby. Baby tersenyum lalu mengangguk. "ngomong ngomong tadi saya merasakan sesuatu yang kenyal" ucap Leon.
"Apa sih pak? Tidak ada yang kenyal kok." Ucap Baby sambil memalingkan wajahnya yang sudah memerah sepeti tomat. Leon terkekeh, ia tahu benda yang kenyal itu adalah milik Baby.
"Ya sudah, ayo saya antar kamu pulang. Nanti Marvel ngamuk lagi gara gara saya nahan kamu disini" ucapnya pada Baby. "Abang saya jinak kok pak, dia tidak menggigit apalagi berbisa"
"Marvel memang tidak menggigit dan berbisa tapi kalau sampai dia mengamuk pasti korban amukannya berakhir di rumah sakit. Sama seperti waktu dulu" jawan Leon sambil menjalankan mobilnya dengan pelan.
"Memangnya abang separah itu ya? Perasaan dulu abang kalau di rumah kalem kalem aja seperti biasa" ucap Baby sambil menatap Leon. "Berarti kamu belum mengenal sifatnya yang lain"
Tiga puluh menit kemudian Leon telah tiba di rumah Baby, ia menghentikan mobilnya di depan rumah Baby. Baby segera turun dari mobil Leon sambil mengucapkan terima kasih.
Leon menyusul Baby keluar dari mobil. Kemudian ia memanggil Baby
"Baby" panggil Leon. Baby menoleh ke belakang dan menghadap Leon. "Ada apa pak?" Tanya Baby bingung. "Boleh saya melakukan satu hal untukmu?" Tanya Leon lagi.
"Apa?". Leon berjalan mendekat ke arah Baby lalu ia mengacak acak rambutnya dengan gemas sambil memberikan senyuman terbaiknya pada Baby.
"Terima kasih atas semuanya, saya akan melakukan sesuatu untuk kamu tapi sebagai gantinya kamu harus tutup mata. Baby mengangguk, ia memejamkan matanya dengan cepat.
Setelah yakin bahwa Baby benar benar sudah memejamkan matanya, Leon mendekatkan wajahnya pada wajah Baby lalu menempelkan bibirnya pada daging empuk nan kenyal itu.
Cup
Leon mencium pipi Baby dengan cepat membuat tubuh baby menegang karena ciuman Leon di bagian pipinya. Walaupun hanya di pipi tapi jantungnya terus memompa dengan cepat.
"Berani banget ya kamu mencium Baby, nyari mati kamu?" Ucap Marvel sambil lalu keluar dari rumah. Leon menatap Marvel dengan perasaan biasa saja. "Memangnya kenapa kalau gue nyium adek lo? Toh adek lo aja diam aja tuh"
Marvel menarik kerah kemeja Leon dengan tangannya. Meskipun Leon adalah sahabatnya ."Abang, pak Leon itu sudah baik sama Baby, tadi dia nganterin Baby berbelanja, pulang dan makan bersama." Jelas Baby pada Marvel.
"Baik sih baik tapi jangan sampe kamu jadi cewek murahan. Abang selalu menegaskan sama kamu berkali kali untuk mengurangi kontak fisik bersama seorang pria."
Karena kesal dengan Marvel yang selalu menyudutkannya dengan Leon. Baby mengambil sepatu yang ia beli untuk Marvel dan melemparnya pada Marvel.
"Ini, tadi Baby beliin sepatu dulu buat abang. Ini adalah pilihan pak Leon, menurut dia abang paling suka sepatu seperti ini. Dan juga selama bekerja dengan Pak Leon baby tidak pernah merasa kekurangan"
Leon tersenyum cerah melihat Baby membelanya habis habisan di depan Marvel, kakak kandungnya sendiri. Marvel sampai tak bisa berkata kata karena Baby mengeluarkan ceramahnya.
"Hanya satu kekurangan pak Leon bagi baby, dia seperti bunglon. Kadang manis, kadang nyebelin dan kadang suka bad mood gak jelas" ucap Baby lalu masuk ke dalam rumah.
"Lo tenang aja Vel selama adek lo langsung bekerja di perusahaan gue dia pasti akan nyaman. Lo tahu enggak baby tersenyum bahagia ketika mendapat bonus dari gue. Dia bilang dia ingin membelikan sesuatu buat abangnya dan itu adalah lo"
"Lo mengatai Baby murahan hanya karena Gue mengecup pipinya sebentar. Lalu Bagaimana denganmu Marvel? Apa kamu benar benar suci? Kamu bahkan lebih parah karena sering celap celup sana sini.
Setelah mengatakan itu Leon masuk ke dalam mobilnya dan segera pulang. Marvel terdiam di tempatnya sambil menatap kantong plastik itu dengan sedih.
Marvel berniat untuk pergi ke kamar Baby dan akan meminta Maaf. Tok tok tok. "Pemilik kamar sedang tidak mood coba lah pergi dan kembali nanti aja" itu adalah suara baby dari dalam"
"Buka pintu dulu abang mau ngasih kamu sesuatu" ucap Marvel sambil memegang sebuah album kenangan Marvel dan Baby selama ini.
Baby membuka pintu kamarnya dengan lebar lalu menatap Marvel dengan datar. "Ada apa?" Ucapnya sambil bersedekap dada dan memalingkan wajahnya.
"Abang mau ngasih ini buat kamu. Selama ini abang menyimpannya sendiri. Dan mungkin sekarang waktunya kamu untuk mengenang semuanya" ucap Marvel sambil menyerahkan album kenangan itu.
"Kalau hanya ingin memberikan ini saja Baby mau masuk kamar lagi" Baby bersiap untuk menutup pintu kamarnya sebelum Marvel menariknya hingga ia jatuh dalam dada bidang Marvel
Baby tentu saja kaget,karena posisi mereka saat ini sangatlah intim. Baby menahan nafas saat hidungnya menempel di dada Marvel. Bukannya melepaskan baby Marvel semakin membuat tubuhnya menempel dengan Baby.
Baby merasa tidak nyaman, ia segera menarik dirinya dari pelukan Marvel. "Cepat abang pergi sekarang juga" ucap baby sambil menahan sesuatu di matanya.
Marvel merasa ada yang aneh dengan baby. "Kamu kenapa? Apa abang ada salah lagi sama kamu. Tolong katakan. Abang akan memperbaiki kesalahan abang secepat mungkin"
"Pergi bang" ucap wanita itu dengan lirih. Marvel menghela nafasnya lalu pergi.
Baby hanya orang tertentu aja 🙂
Jangan lupa mampir di novel ku juga ya~ Judulnya cinta kedua
Terimakasih🤗
KRNA ORNG NYA TLAH MENDAHULUI KITA...
TAMAT