Gladis 24 tahu harus menerima kenyataan bahwa masa depannya berada di tangan kedua orang tuanya. Ia dijodohkan dengan anak rekan bisnis papanya untuk memperkuat perusahaan orang tuanya di kancah Internasional.
Gadis yang mempunyai kekasih bernama Fadli seorang dokter kandungan harus rela putus karena kedua orang tua Gladis tidak pernah merestui hubungan keduanya.
David calon suami Gladis adalah seorang pengusaha muda yang terkesan dingin, ketus, pemarah, tempramen. Akankah pernikahan mereka berlansung bahagia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ide Jahil Juna
*To**k...tok...tok*.....suara ketukan pintu ruangan praktek Juna.
"Masuk!" teriak Juna dari dalam ruangan itu.
krekkk....pintu itu pun terbuka, seorang suster itu pun masuk menghampiri Juna yang sedang duduk membaca sebuah berkas.
"Maaf dok, nona Gladis sudah sadar," suster itu memberitahu.
Mendengar itu juna langsung menatap suster itu dengan mimik wajah kaget.
"Ya sudah kita kesan," lanjut Juna langsung berdiri dan keluar dari ruangannya, di susul oleh suster itu.
Sesampainya di kamar itu Juna melihat Gladis sedang duduk bersandar di tempat tidurnya sambil melihat ke luar jendela.
"Hay Gladis...bagai mana keadaanmu!" sapa Juna berdiri di dekat Gladis.
Gladis pun menoleh ke arah Juna, laki-laki itu pun tersenyum manis tapi Gladis hanya membalasnya dengan senyuman dingin.
"Baik," jawabnya dengan nada sedikit lemas.
Juna menatap lekat Gladis, ia merasa iba melihat gadis itu wajah cantiknya tertutup kesedihan.
"Aku Juna, temannya David juga," Juna memperkenal diri.
"Tadi tante Teresa dan Devi kesini tapi kamu masih tidur," Juna memulai pembicaraan.
"Oh ya!" kata Gladis terkejut menatap Juna.
"Iya mereka khawatir banget sama kamu," lanjut Juna Gladis pun menunduk sedih mendengarnya, ia tau bahwa tante Teresa sangat menyayanginya.
"Kamu beruntung ya Gladis banyak orang yang menyayangi kamu, contohnya keluarga tante Teresa mereka sangat menyayangi Kamu."
Mendengar ucapan Juna hati Gladis menjadi terharu, ia tau bahwa tante Teresa amat menyayanginya walaupun baru dua kali bertemu tetapi Gladis dapat merasakannya.
"Aku tau Gladis sekarang kamu sedang berada di masa sulit tapi kamu harus bertahan setidaknya untuk orang-orang yang kamu sayang dan menyayangi kamu, walaupun tidak banyak yang menyayangi kamu tapi buatlah mereka sebagai semangat hidupmu," tutur Juna menyemangati Gladis.
Air mata Gladis pun tumpah mendengar ucapan Juna, ia tau maksud perkataan Juna walaupun Gladis sekarang sudah tidak mempunyai harapan hidup tapi dia masih ada orang-orang yang sangat menyayangi Gladis. Juna yang melihatnya pun menjadi ikut sedih.
"Ya sudah sekarang kamu harus makan agar kamu cepat pulih, pasti kamu ingin cepat pulangkan! Oh iya dan ini," Juna memberikan Gladis sesuatu.
Ya ponsel milik Gladis yang di titip oleh tante Teresa tadi, Gladis yang melihatnya sangat senang.
"Tadi tante Teresa titip ini dan aku yakin kamu akan sangat membutuhkan ini," Juna memberikan ponsel itu kepada Gladis.
"Terimakasih ya Jun, kamu sudah membantu aku," Gladis menatap sendu pada Juna sembari berusaha tersenyum.
"Sama-sama sudah menjadi tugas aku Gladis, aku harap kamu cepat sembuh."
Di saat mereka sedang asik mengobrol tiba-tiba saja seseorang datang.
"Gladis!" teriaknya histeris sambil memasuki kamar itu dan menghampiri Gladis.
Juna dan Gladis pun menoleh dan betapa terkejutnya Gladis ketika ia tau bahwa yang datang itu adalah kakaknya tersayang.
Ben langsung memeluk Gladis dengan erat, Gladis pun sebaliknya memeluk Ben dengan erat sambil menangis. Juna yang menyaksikan itu heran penuh tanda tanya siapa orang yang ad di hadapannya ini.
"Apa kabar kamu! Kamu kenapa!" Ben mulai bertanya menatap Gladis.
Tapi Gladis tidak menjawab, ia hanya menangis membenamkan kepalanya diperlukan Ben
"Kamu sakit apa sayang!" Lanjut Ben bertanya kepada Gladis.
SAYANG!....SAYANG katanya jangan-jangan dia ini pacarnya Gladis yang di ceritakan David!
"Aku kecapean, kenapa ada di sini! Kapan datang."
"Barusan, di rumah tidak ada orang lalu orang rumah bilang kamu di rawat jadi aku langsung ke rumah sakit."
Juna sedari tadi memperhatikan percakapan Gladis dan laki-laki itu, sampai Gladis sadar bahwa ada Juna sedari tadi di situ.
"Oh iya kak kenalkan ini dokter Juna yang merawat ku," Gladis memperkenalkan Juna.
Ben pun menatap Juna, begitu pun sebaliknya.
"Juna!" Juna memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya tanda perkenalan.
"Ben!" Gw kakaknya Gladis.
*What...kakaknya Gladis! Gw pikir pacarnya Gladi**s*
"Terimakasih sudah merawat adik gw," kata Ben singkat.
"Sama-sama sudah tugas gw kok."
"Bagaimana keadaannya!"
"Lumayan dari pada yang kemarin, hanya dia masih belum mau makan."
"Kamu harus mau makan Dis, agar cepat sembuh," Ben berbicara kepada Gladis tapi Gladis hanya terdiam tidak menjawab.
"Kakak suapi ya," tawar Ben dan Gladis pun mengangguk sembari tersenyum manis.
"Aku pamit dulu ya Dis, sekarang ada kakak lo yang menjaga. Gw cukup lega ada yang menemani lo" kata Juna berpamitan.
"Sekali lagi terimakasih Jun."
"It's ok," kata Juna sambil tersenyum manis.
"Gw pamit dulu ya Ben, gw titip Gladis jika ada apa-apa panggil gw saja."
"Iya terimakasih ya," kata Ben sambil mengulurkan tangannya dan Juna pun membalasnya
Juna pun pergi meninggalkan Ben dan Gladis berdua.
"Kak Ben ko bisa kesini!" Gladis memulai pembicaraan.
"Memang kenapa kamu tidak suka jika kakak ke sini!" kata Ben balik tanya sambil duduk di samping adik kesayangannya itu.
"Bukan begitu kak, Gladis senang sekali kakak datang tapi bukan seharusnya kakak sangat sibuk sekali."
"Iya Dis, kakak memang sangat sibuk kemarin kakak sudah seminggu di Singapura karena kakak ingin sekali bertemu mama dan kamu jadi kakak memutuskan untuk sekalian ke Indonesia," tutur Ben menatap Gladis.
"Tadinya kakak ingin menemui kamu setelah tau kabar kamu akan di jodohkan, tapi karena kakak sibuk sekali jadi belum sempat menemui mama, maafkan kakak ya Dis," lanjut Ben.
"Minta maaf untuk apa kak!"
"Seandainya saja kakak ada pasti kakak akan menolak perjodohan itu," kata Ben dengan nada menyesal sambil menatap Gladis.
Terlihat wajah Ben dan Gladis sangat sedih tapi Gladis tidak ingi membuat kakak kesayangannya itu sedih dan khawatir, baginya Ben itu adalah pahlawan. Hanya Ben yang tau isi hati Gladis hanya Ben yang peduli setelah Fadli karena Ben jauh tinggal di negara lain membuatnya tidak bisa menjaga Gladis lagi.
"Jangan bicara begitu kak, aku senang dengan perjodohan ini," kata Gladis menutupi.
Mimik wajah Ben terlihat aneh menatap Gladis, ia tau bahwa Gladis sudah mempunyai pacar dan bagaimana bisa Gladis setuju dengan perjodohan ini!
"Dia lelaki yang baik, keluarganya pun baik tante Teresa sangat menyayangi aku kak, aku seperti menemukan sosok seorang ibu di dalam diri tante Teresa, sosok seorang ibu yang tidak pernah aku dapatkan dari mama kak," papar Gladis bercerita sambil menatap Ben dengan sendu.
"Tapi Gladis, perjodohan ini juga karena bisnis."
"Aku tau kak, untuk mendapatkan sesuatu yang mama dan papa inginkan ia seperti menjual kita."
"Aku tidak mau kamu seperti aku Gladis, tidak pernah bahagia karena pernikahan. Andai saja dulu kakak menolak perjodohannya dan kakak tidak mau menimpah kepadamu juga, kamu berhak bahagia dengan orang yang kamu sayang Dis."
Gladis terdiam sejenak, ia tau bagaimana akan pernikahannya nanti, sikap David padanya apa lagi saat ini Gladis sudah tidak Virgin lagi.
"Aku akan bahagia kak, kakak tenang saja dia lelaki yang baik dan keluarganya pun baik sayang kepadaku."
"Tetapi kakak tidak akan setuju begitu saja, kakak akan bicara dengan mama dan papa, lagi pula kakak belum tau bagai mana calon suami kamu."
Gladi# lagi-lagi terdiam mendengar ucapan kakaknya.
"Lalu bagaimana dengan pacarmu itu! Apa dia sudah tau?"
"Kak Gladis belum bisa bicara soal ini semua, tapi Gladis janji akan bicara dengan kakak."
"Baiklah kakak mengerti sekarang kamu harus makan dulu, biar kakak yang suapi kamu."
"Kakak di sini sampai kapan!"
"Sampai kakak bicara kepada mama dan papa."
"Terus perusahaan kakak bagaimana?" tanya Gladis khawatir.
"Tenang Gladis semua sudah ada yang mengurusnya."
"Sekarang kamu makan, kakak yang akan mengurus kamu."
Gladis pun tersenyum manis hatinya mulai tenang dan bahagia karena orang yang selama ini menjadi pahlawannya sudah hadir kembali.
Drettt.....Drettttt....Drettt.....suara ponsel Juna berbunyi.
"Siapa sih!" kata Juna sambil mengambil ponsel miliknya di saku celana.
"Halo!" kata Juna sambil berjalan menuju ruang operasi.
"Jun,bagaimana keadaan Gladis!" tanya David di ujung telepon itu
"Ya elah Vid, kan sudah gw bilang baik-baik saja, lo tidak usah khawatir."
"Dia udah sadar!" tanya David dengan nada terdengar khawatir.
"Sudah ko, sekarang dia sedang makan."
"Syukurlah gw sebentar lagi ke sana."
"Mau ngapain! Lo tidak usah ke sini, lo di rumah saja istirahat atau urusin urusan lo. Lagi pula di sini juga Gladis tidak mau bertemu dengan lo, dan gw juga tidak mengijinkan lo masuk ke kamar Gladis, di sini Gladis sudah ada yang menemani."
David pun terdiam ketika mendengar perkataan Juna dan ia pun penasaran.
"Siapa yang menemani Gladis!"
Ups......terbesit ide jahil Juan untuk mengerjainya.
Haha.....gw kerjain lo kali ini, gw ingin tau bagaimana reaksi lo....sorry ya bro gw aga kejam sama lo.
"Tadi ada cowok yang datang, pacarnya mungkin dan sekarang Gladis di temenin sama dia dari tadi," kata Juna berbohong.
"APA......LO TIDAK TANYA DIA SIAPA!" teriak David dari ujung telepon itu membuat Juna menjauhkan ponsel miliknya karena suara David menganggu pendengarannya.
"Untuk apa gw tanya, sudah gw sedang buru-buru ke ruang operasi, nanti gw kabari lagi soal Gladis."
"Jun tunggu dulu sebentar, siapa laki-laki itu?"
Tapi Juna sudah mematikan saluran telepon itu sambil memasukan kembali ponselnya ke saku celana lalu berjalan menuju ruang operasi.
Haha rasain lo Vid kebakaran jenggot kan lo, uring-uringan- deh lo situ, Cari tau tuh siapa cowok itu....sorry ya Vid.....
kemudian, berarti dia tdk menerima kalau bayi nya terlahir cacat.
🙏🙏 kalau sy slh paham