Sinopsis
Pernah tidak kepikiran kalau saja kalian punya ilmu yang tiada tanding di alam lain? Ya... kita mungkin tidak pernah kepikiran sampai ke sana, tapi ini beda dengan yang di alami oleh Tan Xiao Yi. Di kehidupannya saat ini dia adalah seorang ibu rumah tangga dengan 3 orang anak dan sebagai istri dari seorang pengusaha yang cukup sukses.
Hingga suatu ketika pada saat malam tiba, dia langsung pindah ke dimensi alam lain yaitu era 700 masehi masa Dinasti Tang. Disanalah dia memasuki ke dalam tubuh seorang gadis cantik bernama Yiyi.
Bagaimana kehidupan dia disana sebagai Yiyi? Apakah dia bisa kembali ke alam nyatanya lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perburuan ke-3
Keesokan paginya....
Aku bangun awal pagi ini. Matahari belum muncul dan udara pagi sangat dingin. Untung saja Ruyi sudah menyiapkan mantel bulu untuk menghangatkan tubuhku. Aku keluar dari tendaku dan meninggalkan selir ke-6 yang masih tertidur pulas.
Aku membentangkan kedua tanganku lebar-lebar sambil menghirup udara pagi yang segar tapi dingin. Kemudian, aku menghampiri Silver. Dia sadar dengan kedatanganku.
"Kau sudah bangun?" tanya Mo Yan dari depan tendanya setelah melihatku.
Aku menoleh ke arahnya. "Ya," jawabku singkat.
"Hari ini kita harus berburu lagi. Jangan sampai kamu tidak dapat apa-apa hari ini!" katanya yang berlalu pergi masuk ke dalam tendanya.
"Cih," responku setelah mendengar ucapannya.
Beberapa saat kemudian....
"Kak Yi, hari ini kamu akan ikuti siapa? kalau aku, aku akan ikuti Kak Gu, karena aku rasa dia hebat berburu," kata selir ke-6.
"Aku jalan sendiri saja. Aku punya tujuanku sendiri," jawabku.
"Ooooo.... Semoga berhasil, kak!" katanya menyemangatiku.
Aku hanya tersenyum dan berlalu keluar dari tenda menemui Silver. Selir ke-2 dan selir ke-3 sudah bersiap-siap dengan kudanya. Selir ke-6 juga menyusulnya. Setelah mereka pergi, aku baru siap menunggangi si Silver.
Setelah beberapa kilometer kami lalui, pandanganku fokus pada seekor rusa yang sedang mencari makanan. Aku mengisyaratkan Silver agar tenang dan tidak membuat si rusa ketakutan. Aku mengambil busur dan anak panah yang sudah kubawa dan mengarahkannya ke rusa tersebut.
'Fokus!' seruku dalam hati. Aku melepaskan anak panahku ke arah rusa itu, tapi ada yang mendahuluiku. Rusa tersebut tidak kena sama sekali dengan anak panahku. Dia hanya lari ketakutan meninggalkan tempatnya. 'Sial, gagal lagi!' ujarku dalam hati.
Tidak ada yang memanah ke rusa itu.Tapi ada sekelompok orang berpakaian serba hitam keluar untuk menyerangku.
"Mau apa kalian?" tanyaku yang sudah pasang kuda-kuda untuk melawannya jika di serang.
"Kami mau nyawamu," jawab salah satunya. "Bunuh dia!" serunya yang membuat lainnya datang ke arahku sambil memegang pedangnya.
'Buzzzz....' mereka semua terjatuh, karena aku sudah menghempaskan mereka dengan kekuatanku, tapi ada yang kurang mempan juga. Ada 5 orang yang mungkin cukup hebat ilmu beladirinya, sehingga dia tidak mudah di lumpuhkan.
"Bagus juga, tapi mungkin kamu akan kurang beruntung hari ini," kata salah satu dari mereka yang cukup tangguh. Lalu dia menghampiriku dengan cepat sambil mengayunkan pedangnya.
Mo Yan tiba-tiba muncul di antara kami. Dia menghadang ke-5 orang itu dan melawan mereka. Mereka bertanding dengan kekuatan mereka masing-masing. Aku hanya bisa menjadi penonton saja dan selalu waspada. Tanpa sepengetahuanku, ada seseorang yang sudah mengarahkan pedangnya untuk menusukku, tapi beruntung aku tidak kena sama sekali karena Mo Yan memelukku sambil melawannya dan dia kena beberapa sayatan pedang dari para musuh. Mo Yan sangat tangguh sekali. Walaupun tubuhnya terluka, tapi dia masih tampak sigap melawan para musuh. Hingga akhirnya para musuh ada yang tewas dan ada pula yang melarikan diri.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya padaku sambil terengah-engah dan memegang area perutnya yang sudah terluka.
"A...aku tidak apa-apa," jawabku kikuk dan agak kaget karena lihat darah yang begitu banyak membasahi hanfunya. "Tapi... kau berdarah. Aku akan mengantarmu dengan kudaku." Aku sudah bersiap memapahnya. Untung saja Silver tidak begitu jauh dari kami.
"Ini semua gara-gara kamu," katanya yang menyalahkanku.
Aku langsung melototinya. "Apa kau bilang?"
"Kalau bukan karena aku melindungimu, mungkin kamu yang akan mati di tangan mereka."
"Tapi kan aku tidak minta tolong sama kamu untuk membantuku dan aku juga tidak tahu kalau kamu akan datang ke sini," kataku kesal.
"Kamu masih saja bisa sombong. Kenapa mereka mau membunuhmu?"
"Sekarang lebih baik kita pulang dulu. Lukamu harus segera di obati agar tidak infeksi." Aku memapahnya ke Silver dan kami pulang ke tenda kami.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi," katanya saat kami sedang menunggangi kuda saat menuju pulang ke tenda.
"Aku juga tidak kenal dengan mereka. Aku juga tidak tahu kenapa mereka mengincarku. Aku tidak merasa ada musuh selama ini," jawabku yang bingung sendiri.
Sesaat kemudian di tenda...
Aku sudah membawanya kembali ke tenda. Ling Zhe langsung panik melihat Mo Yan yang terluka. Tidak lama kemudian, seorang tabib datang untuk mengobati Mo Yan. Aku tidak tahu lagi keadaanya, karena aku tidak masuk menemaninya di tendanya. Aku hanya berharap kalau dia baik-baik saja. Bagaimanapun juga aku berhutang nyawa padanya.
Atas kejadian yang menimpa Mo Yan, kami tidak berburu lagi keesokkan harinya. Kami pulang ke istana saat itu juga. Semua demi keamanan kami semua.
Setibanya di paviliunku...
"Ruyi, aku pulang," seruku gembira.
Ruyi keluar dari dapur. "Nyonya, istirahatlah! Aku sedang membuat makan siang kita."
"Baiklah, aku bilas badan dulu ya."
Tidak berapa lama aku berganti pakaian, kasim istana datang menyuruhku untuk menemui ibunda permaisuri di istana. Aku bergegas langsung ke sana dan melewati makan siangku.
Sesampainya di istana, ibu mertuaku mengintrogasiku. Dia bertanya dari A sampai Z. Hanya aku seorang yang di sana saat itu. Aku rasa, ibu mertuaku menyalahkanku atas kejadian yang menimpa Mo Yan. Ditengah-tengah pembicaraan kami, Ling Zhe datang menghadap ibu mertua sambil memberi hormat.
"Hormat yang mulia permaisuri, Ling Zhe ke sini atas permintaan pangeran ke-3," kata Ling Zhe.
"Ada apa, Ling Zhe?" tanya ibu mertuaku dengan wajah panik.
"Dia meminta agar yang mulia permaisuri dapat menghukum selir Yi dengan menebus kesalahannya yaitu merawat pangeran ke-3 sampai sembuh," jawab Ling Zhe.
"Hah?" tanpa sadar aku mengeluarkan kalimat itu.
"Kalau begitu, selir Yi tolong jalani hukumanmu sesuai permintaan anakku!" tegas ibu mertua.
"Baik, ibunda permaisuri. Hamba selir Yi pamit undur diri dulu," jawabku sambil berpamitan dengan ibu mertuaku.
Aku di temani Ling Zhe berjalan ke arah paviliun Mo Yan. Paviliun itu bernama 'Kebenaran'. Halamannya luas, banyak tanaman yang indah dan terawat, serta ada pohon buah plum yang mulai berbuah.
"Silahkan masuk, selir Yi! Pangeran ke-3 sudah menunggumu," kata Ling Zhe sopan.
Pintu paviliun Mo Yan telah dibukakan oleh Ling Zhe, lalu aku masuk ke dalam dan canggung. Ruangan yang luas, banyak ornamen etnik kuno dan beberapa gulungan kertas yang tersusun rapi.
"Yiyi!" panggil Mo Yan dari arah dalam kamar.
"Ya," jawabku.
"Masuklah ke sini!" suruhnya yang bersumber dari kamar sebelah kanan.
Tanpa ragu-ragu, aku masuk untuk menghampirinya. Aku melihatnya yang sedang berdiri membaca sebuah buku di tangannya sambil menghadap ke jendela kamarnya.
"Apakah kamu sudah baikkan?" tanyaku.
Dia menyeringai. "Menurutmu?"
"Aku sedang bertanya padamu, kenapa kamu malah balik bertanya padaku?"
"Heh wanita, kamu tidak tahu tujuanmu datang ke sini?"
"Aku tahu. Aku dihukum untuk merawatmu sampai kamu benar-benar pulih. Tapi... tampaknya kamu tidak apa-apa," kataku seraya memperhatikannya. Bahkan dia sangat terlihat sehat.
Dia menghampiriku dan memegang daguku lalu mengangkat sedikit ke arah wajahnya. "Jangan coba-coba melawanku!"
"Aku tidak melawanmu, hanya saja kamu tidak terlihat sedang sakit."
"Bantu aku mengganti perbanku dengan mata tertutup!" pintanya.
"Hah?"
"Ya. Matamu harus ditutup dengan kain ini," katanya sambil memperlihatkan kain putih panjang yang ada di tangannya.
Aku mengambilnya dan kemudian menutup mataku dengan kain tersebut.
halo semua! terima kasih sudah berkunjung. maaf karena author baru bisa upload sekarang🙏😊
Bukan nya cpet2 slesaiin misi, emang ga mikir ninggalin suami n anak2 di dunia modern
Makasih banyak ya buat support mu pada karya ku! ❤️🤗😘