NovelToon NovelToon
Takhta, Cinta, Dan Rahasia

Takhta, Cinta, Dan Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:405
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Raffi adalah anak di luar nikah dari Mahesa Pratama, Presiden Direktur Pratama Group Hotel, hasil hubungannya dengan Maya Indira. Meski lahir tanpa status yang diakui keluarga, Raffi mewarisi kecerdasan, bakat kepemimpinan, dan naluri bisnis yang membuat Mahesa diam-diam berniat menjadikannya penerus kerajaan bisnisnya.

Namun, keputusan itu memicu amarah istri sah Mahesa. Demi memastikan putra kandungnya, Julian, menjadi satu-satunya pewaris Pratama Group Hotel, ia menyusun berbagai rencana licik untuk menyingkirkan Raffi. Berbagai fitnah, pengkhianatan, hingga perebutan hak waris membuat Raffi kehilangan segalanya dan dipaksa memulai hidup dari nol.

Dengan tekad yang tak pernah padam, Raffi membangun kembali kariernya dari bawah. Ia berjuang membuktikan bahwa kesuksesan bukan ditentukan oleh status kelahiran, melainkan kerja keras, kemampuan, dan keteguhan hati. Langkah demi langkah, ia bangkit untuk merebut kembali tempat yang seharusnya menjadi miliknya dan cintanya dengan dewi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

diujung perjalanan

Menjelang malam, mobil Mahesa memasuki halaman rumah keluarga Pratama. Bagasi dipenuhi berbagai kantong belanja berisi perlengkapan bayi, pakaian ibu hamil, hingga beberapa kebutuhan rumah tangga yang baru saja dipilih Naura.

Sepanjang perjalanan pulang, Naura tampak begitu bahagia. Sesekali ia membuka kembali kantong belanja dan tersenyum melihat pakaian bayi berukuran kecil yang dibelinya.

"Lucu sekali," ucap Naura sambil memperlihatkan sepasang sepatu bayi kepada Mahesa.

Mahesa tersenyum tipis.

"Masih lama dipakainya."

"Tidak apa-apa. Aku sudah tidak sabar."

Melihat istrinya kembali ceria, Mahesa ikut merasa lega. Sudah lama ia tidak melihat Naura tersenyum setulus itu.

Sesampainya di rumah, para pelayan segera membantu membawa semua barang ke dalam. Naura memilih naik ke kamar untuk beristirahat karena tubuhnya mulai mudah lelah.

Saat Mahesa hendak menyusul, suara Bu Ratih menghentikan langkahnya.

"Mahesa."

Mahesa menoleh.

"Ibu ingin bicara sebentar."

Melihat raut wajah ibunya yang serius, Mahesa mengangguk dan mengikuti Bu Ratih menuju ruang kerja.

Begitu pintu ditutup, suasana menjadi sunyi.

"Ada apa, Bu?"

Bu Ratih memandang putranya cukup lama sebelum akhirnya duduk.

"Kamu masih memikirkan Maya?"

Pertanyaan itu membuat Mahesa terdiam.

Beberapa saat kemudian, ia mengangguk pelan.

"Saya memang merasa bersalah."

Mahesa mengembuskan napas panjang.

"Saya tahu kesalahan itu tidak bisa dihapus. Karena itu saya ingin bertanggung jawab. Setidaknya saya ingin bertemu langsung dengannya dan berbicara."

Bu Ratih langsung menggeleng.

"Tidak perlu."

Mahesa mengernyit.

"Maksud Ibu?"

"Semua sudah Ibu urus."

Mahesa menatap ibunya dengan bingung.

"Ibu sudah bertemu Maya."

"Tanpa memberi tahu saya?"

"Iya."

Mahesa berdiri dari kursinya.

"Kenapa, Bu?"

Bu Ratih menarik napas panjang.

"Ibu sudah memberikan bantuan yang ia butuhkan. Ibu juga sudah memastikan kehidupannya tetap terjamin."

Mahesa masih belum mengerti.

"Tapi itu bukan yang saya maksud."

Bu Ratih memotong ucapan putranya.

"Mahesa, sekarang dengarkan Ibu."

Nada suaranya berubah tegas.

"Naura sedang mengandung. Selama bertahun-tahun kalian menunggu kehadiran seorang anak. Sekarang istrimu membutuhkan perhatian penuh darimu."

Mahesa menundukkan kepala.

"Ibu tidak ingin kamu membuka kembali persoalan yang hanya akan melukai lebih banyak orang."

"Tapi, Bu..."

"Cukup."

Bu Ratih menatap putranya dengan mata berkaca-kaca.

"Ada kalanya rasa bersalah harus kamu simpan dan kamu tebus dengan menjadi suami serta ayah yang baik bagi keluargamu."

Mahesa mengepalkan tangannya.

"Tapi saya belum meminta maaf kepada Maya."

"Ibu sudah mewakili keluarga ini."

Kalimat itu membuat Mahesa terdiam.

Entah mengapa, hatinya justru terasa semakin berat.

Ia mengenal Maya sebagai perempuan yang tidak pernah menuntut kemewahan. Karena itu, ia ragu semua persoalan bisa selesai hanya dengan bantuan materi atau permintaan maaf yang disampaikan orang lain.

Namun, melihat wajah ibunya yang begitu lelah, Mahesa mengurungkan niat untuk membantah.

"Fokuslah pada Naura," ucap Bu Ratih lirih. "Jangan sampai kamu kehilangan keluarga yang sedang berjuang membangun masa depan."

Mahesa masih berdiri di ruang kerja dengan wajah penuh kebingungan. Entah mengapa, penjelasan Bu Ratih justru membuat hatinya semakin gelisah.

"Bu... sebenarnya apa yang Ibu katakan kepada Maya?"

Bu Ratih menghela napas panjang.

"Ibu hanya mengatakan apa yang perlu dikatakan agar dia mau pergi."

Mahesa mengernyit.

"Maksud Ibu?"

"Ibu meminta dia melupakan keluarga Pratama. Ibu memberinya uang, tempat tinggal, dan meminta dia memulai hidup baru."

Mahesa mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

"Itu saja?"

Bu Ratih terdiam sejenak.

"Ada beberapa hal lain."

Mahesa mulai merasa firasatnya tidak baik.

"Ibu mengatakan bahwa kamu memilih fokus pada istrimu dan anak yang sedang dikandung Naura."

Mahesa masih bisa menerima kalimat itu.

Namun ucapan Bu Ratih berikutnya membuat wajahnya berubah drastis.

"Ibu juga mengatakan... bahwa dalam kepanikanmu dulu, kamu pernah berharap kehamilan itu tidak terjadi."

Mahesa langsung menatap ibunya.

"Itu memang pernah terucap saat aku panik. Tapi itu bukan berarti aku menginginkan hal buruk terjadi."

Bu Ratih tetap diam.

"Ibu... apa lagi yang Ibu katakan?"

Dengan nada datar, Bu Ratih menjawab,

"Ibu mengatakan kepadanya bahwa kamu tidak akan datang menemuinya. Bahwa kamu memilih keluargamu. Dan lebih baik dia membesarkan anaknya jauh dari keluarga Pratama."

Mahesa mengepalkan tangannya.

"Bu..."

"Ibu melakukan itu demi menyelamatkan keluarga ini."

Mahesa menggeleng pelan.

"Lalu Maya?"

"Dia akan baik-baik saja."

Mahesa menatap ibunya dengan sorot mata penuh kekecewaan.

"Dia sedang mengandung anakku."

Ruangan mendadak sunyi.

"Anak itu tetap memiliki hak untuk mengenal ayahnya. Apa pun kesalahanku, aku tidak pernah berniat lari dari tanggung jawab."

Bu Ratih bangkit dari duduknya.

"Kalau kamu terus mendekatinya, rumah tanggamu akan hancur."

"Rumah tangga tidak bisa dibangun dengan kebohongan, Bu."

Kalimat itu membuat Bu Ratih tersulut emosi.

"Kamu menyalahkan Ibu?"

Mahesa menarik napas panjang, berusaha meredakan amarahnya.

"Aku menyalahkan keputusan yang diambil tanpa sepengetahuanku."

Bu Ratih menatap putranya tajam.

"Ibu sudah berkorban demi menjaga nama keluarga Pratama. Demi istrimu. Demi cucu yang ada di kandungan Naura."

"Tapi Ibu mengorbankan Maya."

Mahesa menunduk sesaat sebelum melanjutkan dengan suara yang bergetar.

"Dia berhak mendengar langsung dariku, bukan melalui kata-kata yang membuatnya percaya aku sama sekali tidak peduli."

Wajah Bu Ratih mulai memerah.

"Lalu apa yang kamu inginkan? Membawa Maya pulang? Menghancurkan semuanya?"

"Aku hanya ingin bertanggung jawab."

"Terlambat!" bentak Bu Ratih.

Mahesa terdiam.

"Perempuan itu sudah pergi. Ibu bahkan tidak tahu dia sekarang berada di mana."

Kalimat itu membuat dada Mahesa terasa sesak.

"Pergi...?"

"Iya. Setelah pertemuan itu, dia memilih meninggalkan kota."

Mahesa menutup matanya rapat. Penyesalan yang selama ini ia pendam berubah menjadi rasa bersalah yang jauh lebih besar.

Seandainya ia datang lebih cepat.

Seandainya ia tidak menyerahkan semuanya kepada ibunya.

Kini, orang yang ingin ia temui telah menghilang tanpa jejak.

Sementara Bu Ratih tetap berdiri dengan wajah keras.

"Kalau kamu marah kepada Ibu, silakan. Tapi ingat satu hal, semua yang Ibu lakukan adalah demi melindungi keluarga ini."

Mahesa menggeleng pelan.

"Dengan menyakiti orang lain, Bu... terkadang yang kita lindungi justru perlahan mulai hancur."

Ucapan itu membuat keduanya kembali terdiam. Tidak ada lagi yang mampu mengubah kenyataan bahwa keputusan yang telah diambil telah membawa akibat yang tidak bisa ditarik kembali.

Tanpa disadari Mahesa maupun Bu Ratih, di balik pintu ruang kerja berdiri seseorang yang sejak tadi membeku di tempat.

Setyo.

Semula ia datang hanya untuk menyerahkan beberapa dokumen yang tertinggal. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar suara Mahesa dan Bu Ratih yang semakin meninggi. Tanpa sengaja, sebagian percakapan mereka terdengar jelas.

"...Maya sedang mengandung anakku."

"...Perempuan itu sudah pergi."

Kalimat demi kalimat membuat wajah Setyo perlahan berubah pucat. Ia tidak pernah menyangka persoalan itu berkembang sejauh ini.

"Jadi... Maya benar-benar pergi?" batinnya.

Yang lebih mengejutkan lagi, Mahesa ternyata sama sekali tidak mengetahui bahwa Bu Ratih telah menemui Maya lebih dulu.

Setyo mengepalkan tangannya.

Selama ini ia mengira Mahesa sengaja mengabaikan Maya. Namun setelah mendengar sendiri percakapan itu, ia mulai menyadari bahwa keadaan sebenarnya jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.

Tanpa membuang waktu, Setyo segera meninggalkan rumah keluarga Pratama. Ia masuk ke dalam mobil dan melaju menuju kontrakan Maya—tempat yang beberapa bulan lalu pernah ia datangi ketika mengantarnya pulang dari vila.

Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan.

"Apa Bu Ratih benar-benar membuat Maya pergi?"

"Ke mana dia pergi dalam keadaan hamil sebesar itu?"

Semakin dipikirkan, dadanya semakin dipenuhi rasa gelisah.

Sesampainya di gang sempit tempat kontrakan Maya berada, Setyo langsung turun dari mobil. Namun langkahnya mendadak terhenti.

Pintu kontrakan itu tertutup rapat.

Jendelanya gelap.

Tak ada lagi pot bunga kecil yang dulu selalu dirawat Maya di depan teras.

Setyo mengetuk pintu beberapa kali.

"Bu Maya..."

Tidak ada jawaban.

Ia kembali mengetuk lebih keras.

Tetap sunyi.

Tak lama kemudian, seorang ibu pemilik kontrakan keluar dari rumah di sebelah.

"Mencari penghuni yang dulu, Mas?"

"Iya, Bu. Maya."

Wanita paruh baya itu menghela napas.

"Sudah pindah."

Setyo terkejut.

"Pindah ke mana?"

"Saya juga tidak tahu."

"Benar-benar tidak tahu?"

"Iya. Dia hanya pamit, melunasi semua biaya kontrakan, lalu pergi membawa koper. Katanya ingin memulai hidup baru."

Jawaban itu membuat Setyo terdiam.

"Dia tidak meninggalkan alamat?"

Wanita itu menggeleng pelan.

"Tidak ada."

Setyo memandang rumah kontrakan yang kini kosong. Tempat itu masih sama, tetapi orang yang selama ini menempatinya telah menghilang tanpa jejak.

Entah mengapa, dadanya terasa sesak.

Ia membayangkan Maya pergi seorang diri, membawa bayi yang terus bertumbuh di dalam kandungannya, tanpa seorang pun yang benar-benar tahu ke mana tujuan langkahnya.

Setyo menundukkan kepala.

Untuk pertama kalinya, ia merasa semua orang telah terlambat.

Mahesa terlambat meminta maaf.

Bu Ratih terlambat menyadari luka yang ditinggalkannya.

Dan dirinya... terlambat mencari seseorang yang telah memilih menghilang demi melindungi sisa harga dirinya.

Di depan kontrakan yang kini kosong itu, Setyo hanya mampu berdiri dalam diam, memandang pintu yang tak akan lagi dibuka oleh Maya. Yang tersisa hanyalah penyesalan dan pertanyaan yang belum memiliki jawaban: di manakah perempuan itu kini memulai hidupnya yang baru?

Setelah menempuh perjalanan panjang melalui laut, kapal yang ditumpangi Maya akhirnya merapat di pelabuhan Kalimantan Timur. Perlahan ia melangkah turun sambil membawa koper tua dan sebuah tas ransel. Angin yang berembus membawa aroma laut bercampur hujan khas pesisir menyambut kedatangannya.

Maya berhenti sejenak menatap sekeliling. Kota itu begitu asing baginya. Tidak ada satu pun tempat yang pernah ia kenal, tidak ada kenangan yang harus ia hindari, dan tidak ada wajah yang membuat hatinya kembali terluka.

Ia mengusap perutnya yang kini telah membesar.

"Kita mulai dari awal, ya..." bisiknya lembut kepada bayi di dalam kandungannya.

Tak lama kemudian, seorang perempuan melambaikan tangan dari kejauhan.

"Maya!"

Maya segera menoleh. Wajahnya perlahan berubah lega ketika mengenali sosok itu.

"Siska!"

Siska adalah mantan rekan kerjanya di Hotel Pratama. Beberapa bulan lalu, perempuan asal Kalimantan Timur itu memutuskan berhenti bekerja dan kembali ke kampung halamannya. Kini, bersama suaminya, ia bekerja mengelola administrasi di sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Keduanya saling berpelukan hangat.

"Kamu capek sekali kelihatannya," ucap Siska sambil memperhatikan wajah Maya yang pucat.

Maya hanya tersenyum tipis.

"Perjalanannya lumayan panjang."

"Ayo, kita pulang dulu. Suamiku sudah menunggu di mobil."

Dalam perjalanan, Maya lebih banyak diam sambil memandangi jalan-jalan yang dipenuhi pepohonan hijau. Pemandangan itu sangat berbeda dengan hiruk-pikuk kota yang baru saja ia tinggalkan.

Entah mengapa, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, napasnya terasa sedikit lebih lega.

Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah sederhana berbahan kayu dengan halaman yang cukup luas. Di samping rumah terlihat beberapa pot bunga dan pohon buah yang tumbuh subur.

"Selamat datang di rumahku," kata Siska sambil tersenyum.

Maya memandang rumah itu cukup lama. Memang tidak semewah rumah keluarga Pratama, tetapi suasananya terasa hangat dan damai.

Begitu masuk ke dalam, aroma masakan rumahan langsung menyambutnya.

"Anggap saja rumah sendiri," ujar Siska sambil membantu membawa koper Maya ke kamar tamu. "Kamu tidak perlu memikirkan apa pun dulu. Istirahatlah sampai kondisimu benar-benar pulih."

Maya menatap sahabatnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Terima kasih... karena masih mau menerimaku."

Siska menggenggam tangan Maya dengan hangat.

"Kamu bukan orang lain. Dulu kita sama-sama berjuang mencari nafkah. Sekarang giliran aku yang membantumu."

Mendengar kalimat itu, air mata Maya kembali jatuh. Namun kali ini bukan karena penghinaan atau penolakan, melainkan karena masih ada seseorang yang menerimanya tanpa memandang masa lalu ataupun keadaan yang sedang ia hadapi.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak meninggalkan kota, Maya dapat merebahkan tubuhnya di tempat yang baru dengan sedikit ketenangan. Meski luka di hatinya belum sembuh, ia mulai percaya bahwa di tempat yang asing ini, dirinya dan bayi yang dikandungnya masih memiliki kesempatan untuk membangun kehidupan yang baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!