Hanya sebuah kisah tentang seorang remaja laki-laki bernama Jasver Alistair yang akhirnya merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta untuk pertama kali setelah enam belas tahun hidup di dunia. Di sekolah, Jasver dikenal sebagai playboy kelas kakap. Bukan karena ia gemar mengejar perempuan, melainkan karena setiap gadis yang menyatakan perasaan kepadanya selalu ia terima tanpa banyak berpikir. Hidupnya berjalan baik-baik saja hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis dari sekolah yang sama. Gadis itu menatap Jasver seolah sedang melihat sesuatu yang sangat menjijikkan. Sejak pertemuan yang tidak disengaja itu, takdir seakan terus mempertemukan mereka. Dan tanpa Jasver sadari, gadis yang selalu memasang wajah dingin itu perlahan menjadi alasan mengapa seorang playboy kelas kakap akhirnya mengenal arti cinta untuk pertama kalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Pukul 11.45 WIB, suasana di area lapangan olahraga SMA Astra Nova berada di puncak euforia.
Di lapangan voli, Farah baru saja melancarkan jump serve tajam yang menembus pertahanan tim lawan, mengunci kemenangan set terakhir untuk kelas X-C. Sorak-sorai suporter pecah, tapi Farah tidak sempat merayakan selebrasi panjang. Ia hanya bersalaman singkat dengan kapten lawan, menyambar tasnya, dan langsung berlari melintasi koridor menuju lapangan futsal.
Di saat yang hampir bersamaan, peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan final futsal bergema di gymnasium indoor. Jasver dan Ren terduduk di pinggir lapangan dengan napas berburu-buru dan kaos jersey X-E yang basah kuyup oleh keringat. Skor papan nilai menunjukkan angka 3-1 untuk kemenangan X-E.
"Ver... hosh... napas gue mau habis..." gumam Ren sambil terlentang di atas lantai kayu, memegangi dadanya.
Jasver terkekeh lemas, menyiramkan sisa air mineral di botol ke atas kepalanya untuk mendinginkan suhu tubuh. "Ngga ada waktu buat pingsan, Ren! Bangkit lo! Operasi Jakarta dimulai sekarang!"
Jasver menarik tangan Ren hingga berdiri. Dari pintu gymnasium, Farah sudah melongok sambil melambaikan tangan heboh, mengode bahwa ia sudah siap. Keduanya bergegas berlari menuju kamar mandi luar untuk berganti pakaian secepat kilat, mengganti jersey basah mereka dengan kaos santai dan jaket.
Tepat pukul 12.10 WIB, di bawah naungan pohon ek dekat gerbang belakang sekolah, sebuah mobil Honda HR-V berwarna hitam mengkilap sudah terparkir manis dengan mesin yang menyala halus.
Aery duduk di kursi pengemudi. Ia mengenakan kaos putih polos yang dilapisi kardigan rajut warna krem, rambutnya dikuncir kuda rapi. Wajahnya begitu tenang, kontras dengan tiga orang yang baru saja berlari kencang menghampirinya sambil terengah-engah.
Pintu mobil terbuka dan tertutup dengan cepat.
"Aman! Semua barang udah masuk!" seru Ren yang mengambil posisi duduk di kursi belakang bersama Farah, langsung menyandarkan punggungnya yang pegal.
Jasver melompat masuk ke kursi penumpang di samping Aery. Ia memasang sabuk pengaman dengan gerakan cepat, lalu menoleh ke arah Aery yang sedang memegang lingkar kemudi dengan anggun.
"Semua aman, Mbak Sopir?" goda Jasver sambil memamerkan cengiran khasnya, walau napasnya masih sedikit memburu.
Aery melirik Jasver sekilas, menyunggingkan senyum tipis penuh percaya diri. "Aman. Kalian tandingnya keren banget tadi."
Jemari Aery menggeser tuas transmisi ke posisi D, lalu menginjak pedal gas pelan. Mobil HR-V hitam itu bergerak mulus meninggalkan gerbang SMA Astra Nova, meluncur membelah jalanan kota menuju gerbang tol terdekat.
Wussss!
Suara deru angin berhembus halus saat mobil melaju stabil di jalur kanan jalan tol dengan kecepatan 90 km/jam. Di dalam kabin mobil yang dingin ber-AC, aroma parfum kopi milik Dad-nya Aery tercium menenangkan.
Jasver yang bertugas di navigasi, memangku ponselnya yang menampilkan peta digital. "Jalanan tol tergolong lancar, Ry. Prediksi Google Maps kita nyampe venue Jakarta jam dua kurang sepuluh menit."
"Mantap!" celetuk Ren dari kursi belakang. Dirinya sedang sibuk membuka bungkus roti dan dua kaleng minuman Isotonik yang sempat ia beli di kantin. "Nih, Pahlawan Futsal dan Voli, minum dulu biar ngga dehidrasi."
Farah menerima kaleng minuman itu, lalu menyandarkan kepalanya ke kaca jendela. "Bumi gimana, Ver? Udah chat lagi?"
Jasver mengetik sesuatu di ponselnya. "Udah. Dia bilang sekarang lagi soundcheck terakhir di panggung utama. Nomor urut tampil dia dapet nomor sepuluh, diperkirakan naik panggung jam tiga pas."
Aery tetap fokus menatap lurus ke jalan tol yang membentang di hadapannya. Tatapannya tajam dan tenang, jemarinya memegang kemudi dengan sangat stabil. Jasver beberapa kali mencuri pandang ke arah Aery. Ada rasa kagum yang samar di hati Jasver melihat bagaimana cewek yang dulunya begitu tertutup dan kaku, kini memegang kendali penuh atas perjalanan mereka menuju impian sang sahabat.
"Ry," panggil Jasver pelan, memecah keheningan di antara alunan musik pemutar radio mobil. "Makasih ya... udah rela bawa mobil dan riwa-riwi begini buat kita semua."
Aery melirik Jasver lewat kaca spion tengah, lalu tersenyum hangat.
"Ngga usah makasih, Ver," sahut Aery lembut. "Bumi itu sahabat kita. Dan tanpa rencana nekat kalian bertiga kemarin malam, gue juga ngga bakal berani ngambil keputusan ini."
Dari kursi belakang, Farah dan Ren saling pandang lalu tersenyum tipis. Di atas aspal jalan tol yang membara di bawah terik matahari, empat remaja itu bergerak bersama dalam satu frekuensi. Jarak puluhan kilometer menuju Jakarta tak lagi terasa jauh, sebab di ujung perjalanan sana, ada seorang sahabat yang sedang menunggu sorakan paling nyaring dari mereka.
Mobil Honda HR-V hitam yang dikendarai Aery melaju begitu stabil di lajur tengah jalan tol. Di dalam kabin, alunan musik pop santai dari speaker mobil berpadu dengan suara denting kaleng minuman dingin yang dibuka Ren di kursi belakang.
Indikator jam digital di dasbor menunjukkan pukul 13.05 WIB. Semua tampak berjalan sesuai rencana awal hingga tiba-tiba deretan lampu rem merah di depan mereka menyala serentak dan menyilaukan.
Ckiiittt!
Refleks Aery bekerja sangat cepat. Jemari lentiknya memegang erat kemudi, sementara kakinya menginjak pedal rem dengan presisi dan tenang, menekan bertahap agar mobil tidak melintir atau ditabrak dari belakang.
"Eh–eh! Kenapa nih?!" seru Ren yang hampir saja tersedak roti cokelatnya.
Jasver yang duduk di samping Aery langsung memajukan badannya, menatap lurus ke depan melintasi kaca. Dari jarak sekitar tiga ratus meter di hadapan mereka, asap tipis dan pecahan kaca membumbung ke udara. Beberapa mobil sedan dan sebuah truk boks berukuran sedang tampak saling bertumpuk melintang, menutupi dua lajur utama jalan tol.
Kecelakaan beruntun.
Aery langsung menekan tombol lampu hazard. Suara tik-tak hazard mendadak menggema kaku di dalam kabin mobil yang seketika berubah hening dan tegang.
"Astaga... kecelakaan beruntun," bisik Farah dari balik kursi belakang, matanya membelalak menatap kepulan asap di depan sana.
Mobil-mobil di sekitar mereka mulai merayap pelan, hingga akhirnya berhenti total. Garis kemacetan panjang langsung mengular dalam hitungan menit.
Jasver melirik jam di dasbor. Pukul 13.12 WIB. Lalu, ia buru-buru memeriksa aplikasi Google Maps di ponselnya. Peta jalur tol yang tadinya berwarna hijau segar mendadak berubah menjadi warna merah pekat yang sangat panjang.
"Gila... G-Maps langsung berubah merah pekat!" ujar Jasver, suaranya dipenuhi rasa panik yang tak bisa ditutupi. "Estimasi waktu sampai kita langsung bengkak jadi jam empat sore! Padahal Bumi naik panggung jam tiga pas!"
"Hah?! Jam empat?!" Ren menepuk dahinya frustrasi. "Asemm, ngga lucu banget kalau kita malah terjebak di tol gini!"
Aery mengepalkan jemarinya di atas lingkar kemudi. Napasnya teratur, berusaha keras mempertahankan ketenangannya sebagai pengemudi. Ia melirik kaca spion tengah dan samping, memutar balik jelas tidak mungkin karena jalur tol dipagari beton dan mobil di belakang sudah mengular rapat.
"Tenang dulu, guys," panggil Aery dengan suara lembut tapi tegas, mencoba memotong kepanikan yang mulai menjangkiti kabin. "Panik ngga bakal bikin mobil di depan kita bergerak."
Jasver menatap Aery, lalu menarik napas panjang untuk menetralkan debar jantungnya. "Aery bener," batin Jasver. Sebagai kapten tim yang baru saja memenangi final, ia harus bisa berpikir jernih.
"Bumi... gimana kabar Bumi?" tanya Farah khawatir. "Dia udah tau belum?"
Jasver membuka grup WhatsApp, jemarinya menari cepat di atas layar.
Jasver: Bum, kita kejebak macet total di Tol KM 32. Ada kecelakaan beruntun di depan kita.
Bumi: Astaga! Kalian gapapa kan?! Ada yang terluka?
Jasver: Kita semua aman, mobil Aery sempet ngerem pas. Tapi jalanan dikunci total.
Bumi: Ya ampun, syukur kalau kalian aman. Soal nonton gue, ngga usah dipaksain ya guys. Yang penting kalian selamat di jalan.
Membaca balasan Bumi yang sama sekali tidak menuntut dan justru lebih mengkhawatirkan keselamatan mereka, dada Jasver rasanya serasa diremas.
"Bumi tuh emang terlalu baik," gumam Jasver pelan, lalu menoleh ke arah Aery. "Ry... kira-kira ada bahu jalan atau jalan keluar terdekat ngga?"
Aery mengamati situasi sekitar dan menunjuk rambu lalu lintas berjarak dua ratus meter di depan. "Sekitar dua ratus meter lagi ada Rest Area. Tapi jalan menuju ke sana kepotong sama truk yang melintang itu. Petugas lalu lintas dan derek baru aja kelihatan datang dari jauh."
"Artinya kita kudu nunggu evakuasi truk itu kelar," desah Farah pelan, menyandarkan kepalanya ke kursi.
Ren mengacak rambutnya, menatap ke luar jendela. "Waktu kita tinggal satu jam empat puluh menit lagi. Kalau evakuasi butuh waktu setengah jam... bisa abis waktu kita."
Aery menatap lurus ke arah sirine mobil polisi dan derek yang mulai menyala di depan sana. Di dalam dadanya, rasa tanggung jawab sebagai driver dan keinginan besar untuk hadir demi Bumi menyatu menjadi tekad yang makin bulat.
"Kita ngga bakal menyerah di KM 32 ini," bisik Aery pelan namun penuh penekanan. Ia menatap Jasver, Farah, dan Ren bergantian lewat spion. "Begitu jalur dibuka sedikit aja sama petugas, gue bakal cari celah. Siap-siap ya."
Suara sirine polisi meraung-raung di tengah teriknya cuaca KM 32 Jalan Tol. Beberapa petugas lalu lintas tampak sibuk memberi aba-aba, berusaha mengarahkan mobil derek untuk menggeser badan truk boks yang miring melintang.
Waktu terus bergulir tanpa ampun. Indikator jam digital di dasbor HR-V Aery menunjukkan pukul 13.35 WIB. Tersisa kurang dari satu setengah jam sebelum Bumi naik ke atas panggung utama di Jakarta.
"Gila sih... jalur kiri sama tengah bener-bener dikunci," gumam Ren dari belakang, memajukan badannya sampai kepalanya berada di antara dua kursi depan. "Mobil-mobil besar di depan kita pada tiarap semua, ngga ada yang bisa bergerak."
Jasver mengetuk-ngetukkan jarinya ke paha dengan gelisah, matanya tajam mengamati barisan kendaraan. Tiba-tiba, mata Jasver menangkap sesuatu.
"Ry... liat deh," Jasver menunjuk ke arah sebelah kanan truk boks, tepat di batas antara lajur kanan dan pembatas jalan beton. "Petugasnya baru aja ngegeser pembatas barrier oranye sekitar satu meter. Ada ruang kecil di antara bodi truk yang penyok sama dinding beton tol."
Farah ikut memajukan badannya, menatap celah yang ditunjuk Jasver. "Bentar, Ver... itu celahnya sempit banget woii! Cuma muat buat motor atau mobil mini kayaknya. HR-V mana bisa lewat situ?!"
Aery tidak langsung menjawab. Gadis itu menegakkan posisi duduknya, memajukan sedikit sandaran kursi, lalu menggenggam kemudi dengan kedua tangan. Matanya menyipit, mengukur presisi jarak antara spion kanan mobilnya dengan bodi truk yang ringsek.
"Muat," sahut Aery singkat, suaranya teramat tenang namun dingin.
Jasver, Ren, dan Farah seketika menoleh serentak menatap Aery dengan mata membelalak.
"Hah?! Ry, lo serius?!" seru Ren panik, suaranya meninggi. "Itu jaraknya cuma beda beberapa sentimeter dari bodi truk! Kalau baret gimana?! Kalau spion lo copot?!"
"Mobil ortu lo, Ry! Eh maksudnya... lo beneran berani?!" timpal Jasver yang jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat.
Aery melirik Jasver lewat sudut matanya, lalu menyunggingkan senyum tipis yang terkesan sangat badass.
"Kalian percaya sama gue, kan?" tanya Aery halus.
Pertanyaan singkat itu menyengat ketiga penumpang di kabin. Jasver menelan ludah, menatap binar mata Aery yang tidak memancarkan keraguan sedikit pun. Jasver lalu mengangguk mantap. "Oke. Gue percaya sama lo, Ry. Jalan!"
"Pegangan yang kenceng," peringat Aery pelan.
Aery menggeser tuas transmisi ke mode manual tip-tronic, lalu perlahan melepas rem. Mobil HR-V hitam itu merayap maju dengan kecepatan sangat pelan, keluar dari barisan antrean dan berbelok memotong ke arah lajur paling kanan.
Settt...
Beberapa pengemudi mobil lain yang terjebak macet tampak melongok dari jendela, menatap nekatnya mobil HR-V hitam yang mencoba menerobos celah sempit di samping truk ringsek itu.
"Gila gila gila... ini deket banget!" bisik Ren histeris, menutup matanya dengan kedua tangan tapi jari-jarinya dibuka sedikit untuk mengintip.
"Jasver, liat spion kiri! Farah, awasi spion kanan!" perintah Aery fokus, tatapannya terkunci lurus ke depan.
"Kiri aman! Ada sisa tiga sentimeter dari bodi truk!" seru Jasver dengan napas tertahan.
"Kanan... astaga Aery, kanan sisa dua sentimeter lagi nyenggol pembatas beton!" jerit Farah pelan, memegangi pegangan tangan di atas jendela rapat-rapat.
Suasana di dalam kabin mendadak terasa hampa. Hanya ada suara dengung halus mesin mobil dan deru napas empat remaja yang menahan napas serentak. Aery mengontrol pergerakan setir dengan sangat halus, milimeter demi milimeter, tanpa keraguan sedikit pun pada kakinya yang menempel di pedal gas.
Sreeek...
Bunyi gesekan daun kering di pembatas jalan terdengar nyaring.
"Dikit lagi, Ry... tahan... tahan..." bisik Jasver dengan pelipis yang mulai berkerat keringat dingin.
Hingga akhirnya–
Wuuush!
Bodi belakang HR-V berhasil melewati moncong truk boks yang ringsek. Di hadapan mereka, jalan tol lajur kanan membentang luas dan kosong melompong tanpa ada hambatan satu pun.
"LOLOSSSS!" seru Ren berteriak heboh sambil melompat-lompat di kursi belakang. "GILA! AERY LO KEREN BANGETT!"
"ASTAGA NAGA!" Farah mengelus dadanya yang berdegup kencang, lalu tertawa lepas karena lega. "Sumpah demi apa pun, jantung gue rasanya mau copot!"
Jasver bersandar lemas ke kursi penumpang, menatap Aery yang baru saja menginjak pedal gas lebih dalam, membuat mobil melesat mulus mencapai kecepatan 100 km/jam. Jasver tidak bisa menahan tawa lebarnya, menatap Aery dengan rasa kagum yang membumbung tinggi.
"Mbak Sopir... lo bener-bener gila," kekeh Jasver sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Gue resmi jadi fans nomor satu lo!"
Aery hanya terkekeh renyah, merapikan sedikit helai rambutnya yang lepas. "Udah gue bilang, kan, celahnya muat."
Aery melirik jam di dasbor yang menunjukkan pukul 13.42 WIB. Peta Google Maps seketika mengalokasikan ulang rute dan berubah menjadi warna hijau cerah: Estimasi tiba di venue Jakarta: 14.25 WIB.
"Bumi..." bisik Aery dalam hati sambil menatap jalan tol yang lurus di hadapannya. "Tunggu kita. Kita hampir sampai."