NovelToon NovelToon
Trapped By You

Trapped By You

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: BintangFRY

​​"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"

Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.

"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.

​"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"

​"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siapa Mara Sebenarnya?

Di dalam kabin mobil yang kedap suara, Kayna hanya bisa memandang keluar jendela. Matanya menatap deretan lampu jalanan Jakarta. Tapi pikirannya jelas tidak disana.

​Di sampingnya, Mara duduk dengan tenang dan angkuh. Lalu dengan gerakan yang teramat lembut, jemari kokoh Mara meraih tangan kanan Kayna yang sedingin es, lalu membawa punggung tangan wanita itu ke bibirnya untuk dikecup pelan.

​"Tanganmu dingin sekali, sayang," bisik Mara, suaranya kembali melembut, penuh dengan perhatian. "Apakah AC mobilnya terlalu dingin untukmu?"

​Kayna tidak menjawab. Ia bahkan tidak menolehkan kepalanya sedikit pun. Ia membiarkan tangannya berada di dalam genggaman erat pria itu.

​"Kenapa kau hanya diam saja, sayang?"

​"Aku hanya lelah, Mara," jawab Kayna akhirnya. Suaranya dibuat selirih mungkin, memancarkan kesan pasrah agar tidak di ungkit terlalu jauh.

​Mendengar nada pasrah itu, Mara tersenyum tampan, lalu menarik tubuh ramping Kayna ke dalam dekapannya, mengusap helai rambut panjang gelap wanita itu dengan kelembutan seorang kekasih yang protektif.

​"Sebentar lagi kita tiba. Kau bisa langsung istirahat."

...----------------...

​Begitu mereka tiba kembali di mansion megah keluarga Veldens, Maya, pelayan yang ditugaskan khusus untuk mengawasinya, sudah berdiri kaku di dekat tangga utama.

​Namun, sebelum Mara sempat mengantar Kayna ke lantai atas , sebuah getaran konstan berasal dari saku celananya. Mara merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah ponselnya.

​Begitu melihat nama yang tertera di layar datar tersebut, guratan kelembutan di wajah tampan Mara seketika lenyap tanpa bekas. Ekspresinya mendadak berubah menjadi sangat dingin dan pekat—menampilkan sekilas sosok asli sang pemimpin tertinggi Mafia Lexans yang ditakuti dunia bawah tanah.

​"Masuklah ke kamar dan langsung beristirahat, Kayna. Aku ada urusan bisnis mendesak yang harus diselesaikan di ruang kerja," ujar Mara dengan suara baritonnya yang datar. Pria itu kemudian menoleh ke arah Maya, memberikan kode mata yang tajam dan mengintimidasi. "Jaga calon istriku dengan baik."

​"Baik, Tuan Mara," jawab Maya dengan anggukan patuh.

​Kayna melangkah naik ke kamarnya di lantai dua tanpa mendebat atau mengeluarkan satu patah kata protes pun. Di dalam kamar tidur utama yang luas dan mewah itu, ia sengaja merebahkan tubuhnya di atas ranjang queen size dengan seprai sutra abu-abu, memejamkan mata, dan mengatur napasnya agar terdengar seperti orang yang telah terlelap karena kelelahan.

​Maya berdiri kaku di dekat pintu selama hampir tiga puluh menit, mengawasi setiap gerak-gerik dadanya yang naik turun. Setelah yakin sang nona muda benar-benar telah tidur, pelayan itu perlahan mundur dan menutup pintu rapat-rapat untuk berjaga di koridor luar, memberikan Kayna sedikit privasi yang semu.

​Begitu bunyi klik pintu yang terkunci terdengar, sepasang mata Kayna langsung terbuka lebar di dalam kegelapan kamar. Tidak ada rasa kantuk sedikit pun di matanya; yang ada hanyalah gairah liar dan rasa penasaran yang membakar jiwanya untuk mencari tahu kebenaran.

​Kayna bangkit dari ranjang sutra itu dengan gerakan seringan kucing, memastikan tidak ada gesekan kain yang menimbulkan suara. Langkah kakinya yang tanpa alas berjalan mengendap-endap menuju sebuah pintu penghubung rahasia di sudut ruangan. Kamar tidur utama ini terhubung langsung dengan ruang kerja pribadi Mara melalui pintu yang biasanya selalu terkunci rapat.

​Namun hari ini, keberuntungan tampaknya sedang berpihak pada Kayna. Mungkin karena terburu-buru menerima telepon darurat, Mara lupa memutar kunci gerendel bagian atas dengan sempurna. Pintu itu menyisakan sebuah celah yang teramat tipis—nyaris tidak terlihat jika tidak diperhatikan dengan saksama dari dekat.

​Rasa takut yang luar biasa hebat sempat mencengkeram dada Kayna hingga membuatnya sulit bernapas. Jika ia tertangkap basah sedang menguping, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan Mara lakukan padanya.

Namun ia juga penasaran dengan siapa Mara sebenarnya? dan kenapa ia selalu merasa bahwa Mara menyembunyikan sesuatu darinya.

​Maka dari itu, ia memberanikan diri menempelkan telinganya tepat pada celah pintu yang dingin itu.

​Dari balik ruangan, suara bariton Mara terdengar sangat jelas. Namun, nadanya sama sekali tidak menyisakan ruang bagi kehangatan yang biasa ia tunjukkan pada Kayna. Suara itu begitu dingin, tajam, dan sarat akan kekejaman yang sanggup membekukan darah.

​"Bagaimana bisa pengiriman di pelabuhan Utara bocor lagi ke tangan aparat?" desis Mara, nadanya rendah namun bergetar penuh amarah yang tertahan. "Aku sudah membayar direktur pelabuhan itu dengan nominal puluhan miliar. Jika dia tidak bisa membungkam mulut anak buahnya sendiri, singkirkan dia malam ini juga."

​Kayna membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan, matanya terbelalak lebar karena syok. Jantungnya berdegup begitu kencang di balik rongga dadanya hingga ia takut detak jantungnya sendiri akan terdengar menembus dinding kayu.

"Pengiriman apa? Singkirkan? dan kenapa tidak boleh ketahuan aparat?"

Dugaan dan instingnya selama beberapa minggu ini semakin kuat. Pria tampan yang selalu mencium keningnya dengan penuh kelembutan sebelum tidur itu mungkin bukan orang sembarangan.

​Namun, kejutan mengerikan malam itu belum berakhir. Suara langkah kaki Mara terdengar berjalan mendekati meja kerjanya, disusul oleh suara desahan napas panjang pria itu sebelum ia kembali berbicara dengan lawan bicaranya di telepon.

​"Lalu, bagaimana dengan pergerakan kelompok dari Sumatra? Apakah mereka masih mengincar celah untuk menyentuh Kayna?" tanya Mara lagi kepada bawahannya yang bernama Carlos.

​Mendengar namanya disebut, Kayna semakin menajamkan pendengarannya, menempelkan tubuhnya lebih erat ke permukaan pintu kayu jati tersebut hingga nyaris tak berjarak.

​"Bagus. Perketat seluruh sistem pengamanan di sekitar mansion. Jangan biarkan sebutir peluru pun lolos atau mengganggu jalannya pernikahan kami," perintah Mara dingin.

​Ada jeda sejenak di seberang sana sebelum Mara tiba-tiba terkekeh—sebuah kekehan sinis yang terdengar sangat mengerikan dan membuat bulu kuduk Kayna berdiri seketika.

​"Gadis itu sampai sekarang masih tidak mengingat apa pun tentang masa lalunya."

​Suara Mara kembali terdengar dari balik pintu, kali ini dipenuhi oleh nada kemenangan yang sangat manipulatif dan penuh obsesi gila yang pekat.

"Ya, itu baik. Secepatnya kau urus masalah itu."

Mara memutus panggilan tersebut.

Dan Kayna dengan cepat kembali ke ranjangnya agar tidak ketahuan sedang menguping.

Di dalam ruangannya, Mara melirik sekilas ke arah pintu tempat Kayna tadi berada.

Sebuah senyuman licik terbit di wajah tampannya. "Kau benar-benar berani, Kelinci yang mulai kembali liar."

...●Bersambung●...

1
AzhuraAstra
Lanjut seng!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!