Bilawal Kenta Faaruq nama seorang anak lelaki tampan yang mempunyai arti lelaki yang selalu menjaga kehormatan, harga diri dan bijak dalam bertindak apapun nyatanya tidak sesuai dengan kenyataan.
Al biasa dia dipanggil oleh teman-temannya adalah seorang ketua Basis di sekolahannya. Tiada hari tanpa masalah yang menghiasi hari-harinya. Keluar masuk ruang BP dan kantor polisi selalu ia lakoni namun tak kunjung jua dikeluarkan dari sekolahnya karena keponakan dari kepala sekolah tempatnya belajar sekaligus papanya menjadi penyumbang utama di sana.
Suatu hari Al bertemu dengan Makaila yang tidak lain ketua OSIS yang terkenal galak.
Konflik terjadi antara mereka berdua sampai akhirnya Al menyukai Makaila dan menjadi cinta pertamanya. Segala cara Al lakukan agar Makalia menyukainya, sampai Makalia menjadi target musuh anak Basis Al.
Segala cara Al lakukan untuk melindunginya sampai nyawa menjadi taruhannya.
Hi jangan lupa follow akun IG snow_white97suga
Tik-tok. snowwhite19975
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti Mimpi
Mimpi itu selalu menghampiri Bilawal setiap malam, mimpi tentang Ethan yang meregang nyawa di dalam pangkuan Bilawal.
Wajahnya yang terlihat kesakitan serta banyak darah yang melumuri seragam sekolahnya membuat Bilawal ketakutan dan terus menangis melihat luka tusuk yang begitu dalam pada bagian perut kanannya Ethan.
"Bilawal." Rintih Ethan memanggil Bilawal dengan suara terdengar samar-samar tidak begitu jelas seraya menatapnya.
Siapa sangka itu adalah terkahir kalinya Bilawal mendengar Ethan memanggil namanya setelah menghembuskan napas terakhirnya.
Bilawal terkesiap ia terbangun dari tidurnya dengan nafas terengah-engah dan tidak beraturan, detak jantungnya begitu sangat cepat dan keringan mulai membasah keningnya.
Sesaat ia terdiam menarik napas panjang serta mencoba menenangkan dirinya sebelum melihat jam analog yang terpampang di dinding kamarnya yang masih menunjukkan pukul 03:00 WIB dini hari.
Selama tiga tahun ini Bilawal terus tersiksa dengan mimpi-mimpi yang hadir kepadanya tentang Aluna dan Ethan. Entah sudah berapa psikiater yang telah didatangi, tapi sama saja belum ada yang bisa menyembuhkannya dengan cepat.
Dibasuhnya wajah tampan yang terlihat sedikit tampak lelah dan kusam serta lingkaran hitam muncul di bawah mata karena pembuluh mata melebar.
Entah sampai kapan Bilawal harus tersiksa seperti ini menanggung kesalahannya seumur hidupnya.
"Kusut banget muka lo," sindir Fabio saat melihat Bilawal sedari tadi terdiam pada jam istrahat di kantin.
Ya, bagaimana Bilawal tidak banyak diam karena setiap malam selalu bermimpi yang sama.
"Lagi sakit?" tanya Deren menebak seraya menatap wajah Bilawal dan ia hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Di saat yang bersamaan Makaila datang bersama dengan Arunika yang sepertinya sedang mencari seseorang.
Di tangannya Makaila membawa sesuatu di dalam paper bag berwarna coklat dengan aksesoris pita berwarna pink yang menempel di bagian sudut atasnya.
Andreas yang menyadari kedatangan Makaila langsung menatap ke arah Kentaro sebagai tanda untuk memberitahukan kepada Bilawal.
"Cewek lo noh," bisik Kentaro yang duduk di sampingnya Bilawal sambil tatapannya menatap ke arah Makaila yang berdiri tidak begitu jauh dari tempat mereka.
Sontak ekspresi wajah Bilawal yang tadinya biasa saja menjadi berubah seketika mendengar ucapan temannya.
Kedua bola mata Bilawal juga mengikuti tatapan Andreas berlabuh dan Bilawal sedikit gugup dengan kehadiran Makaila di sini.
"Jangan-jangan dia lagi nyariin lo," tebak Deren sedikit menggoda Bilawal dan terdengar suara ledekan di antara mereka kepada Bilawal.
"Cie........." seru semua teman Bilawal yang berada satu meja dengannya membuat Bilawal sedikit gugup dan wajahnya sedikit memerah.
Deg, Makaila menatap ke arahnya yang sudah lebih dulu melihatnya sedari tadi. Mereka berdua saling menatap satu sama lain bertemu pandang untuk beberapa waktu yang lumayan lama.
Senyum manis Makaila mulai merekah lebar di bibirnya membuat Bilawal semakin tidak karuan. Sepertinya ucapan temannya benar jika Makaila sedang mencarinya, tapi untuk apa bukankah hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja? Apalagi saat Bilawal mengambil sebelah sepatu miliknya.
Deg....Deg...Deg...Detak jantung Bilawal semakin lama semakin berdetak sangat kencang tidak bisa dikendalikan, apalagi saat Makaila berjalan ke arahnya dengan senyuman yang lebar terus menatapnya.
Tubuh Bilawal semakin membeku dan keringat mulai keluar dari telapak tangannya, rasanya napasnya mulai tercekat seperti tersangkut di tenggorokan tapi ia mencoba untuk tenang.
Kedua bola matanya terus mengikuti langkah kaki Makaila yang semakin lama semakin mendekat ke arahnya. Bilawal mulai semakin tidak karuan, ia begitu heran kenapa perasaannya campur aduk seperti orang bodoh.
Sampai akhirnya semua perasaan bahagia dan detak jantungnya yang sedari tadi berdetak sangat cepat berubah seketika ketika Makaila berlalu melewatinya begitu saja.
Deg, seperti ada lubang besar di hatinya ketika Makaila berlalu begitu saja tidak menghampirinya. Hatinya kecewa dan tatapannya kosong seolah suara sekitar yang tadinya terdengar nyata dan ramai seolah hilang dari telinganya.
Ejekan temannya terhenti sesaat ternyata Makaila bukan datang untuk menghampiri Bilawal, melainkan menghampiri Jhousan yang juga sedang menikmati jam istirahat siang.
Jhousan dan teman-temannya berada di belakang tidak jauh dari tempat Bilawal. Semua mata temannya Bilawal tertuju ke arah meja dimana Jhousan duduk.
Gadis cantik berambut panjang sebahu berdiri di samping Jhousan yang tidak lama disambut sorakan riuh dari teman-temannya yang menggoda keduanya.
"Cie......yang lagi bucin," ledek salah satu teman Jhousan terdengar begitu frontal sampai begitu jelas di telinga Bilawal.
Entah kenapa Bilawal merasa sangat kecewa dan sedih melihat semuanya. Rasa kecewanya begitu besar dan ingin sekali marah.
Matanya mulai memerah dan kedua tangannya mengepal begitu erat saat mendengar semua teman Jhousan menggoda hubungan mereka berdua, rasanya hati Bilawal seperti terbakar api cemburu.
Tanpa sepatah kata ia pergi begitu saja meninggalkan teman-temanya yang masih menatap ke arah meja Jhousan, melihat kepergian Bilawal yang tiba-tiba membuat semuanya keheranan.
"Kenapa tuh anak?" tanya Andreas sambil menatap kepergian Bilawal.
"Cemburu kali," tebak Fabio asal bicara.
"Jangan-jangan dia beneran suka sama Makaila?" tambah Kentaro menduga.
Semua menatap Kentaro secara bersamaan, apa mungkin Bilawal menyukai Makaila?
"Ini gara-gara lo yang nyuruh dia buat deketin Makaila," tuduh Deren mulai kesal dan menyalahkan Kentaro karena menyuruh Bilawal untuk mendekati Makaila.
"Kok gue sih?" Kentaro merasa tidak terima dengan tuduhan Deren kepadanya.
"Lah kan memang lo nyuruh dia buat deketin, Makaila? Terus liat sendiri tuh dia jadi beneran suka!" Sungut Deren tidak mau kalah membuat Kentaro terdiam tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Memang benar semua ucapan Deren jika Bilawal sepertinya sudah mulai menyukai Makailai, sejak kapan ia mulai menyukainya dirinya sendiripun tidak mengetahuinya.
*
*
*
*
Di lapangan basket setelah menikmati jam makan siang Jhousan dengan temannya sedang bermain basket dan tidak lama kemudian Bilawal sendirian sengaja bertemu dengan Jhousan.
Suasana yang tadinya terlihat sangat ceria dengan canda tawa mendadak membeku dan kaku ketika kedatangan Bilawal yang tiba-tiba saja melempar bola basket ke ring menghasilkan 3 poin saat Jhousan tengah asik bermain.
Tembakan Bilawal ke ring basket membuat Jhousan serta temannya kaget dan merasa terganggu. Keduanya saling menatap satu sama lain dan suasana mendadak beku.
"Lo mau main juga?" tanya Jhousan basa-basi mengajak Bilawal yang sudah berada di tengah lapangan.
Senyum simpul Bilawal merekah namun terlihat sedikit sinis seolah menggoda Jhousan, tapi sikap Jhousan sangat tenang.
"Nggak," jawabnya singkat dengan nada tegas dan sikapnya yang dingin membuat Jhousan menatapnya kebingungan dari kejauhan.
"Terus mau ngapain?" tanya Jhousan yang masih berada di antara kerumunan temannya.
"Jauhin Makaila." Bilawal tiba-tiba saja membahas tentang Makaila membuat Jhousan kaget bukan main.
"Apa?" Jhousan kaget menatap Bilawal.
"Kurang jelas omongan gue? Mulai sekarang jauhin dia, gue nggak suka ada cowok yang deketin dia!"
Jhousan hanya bisa menatap Bilawal keheranan seraya tertawa ringan karena menurutnya ini terdengar sangat lucu, kenapa Bilawla harus menyuruhnya untuk menjauhi Makaila.
"Apa? Gue nggak salah denger?" Jhousan balik bertanya sambil tertawa ringan menatap Bilawal yang masih berdiri terdiam di tempatnya.
"Yang harusnya ngejauh dari dia itu lo, karena udah buat dia susah dan kerepotan," balas Jhousan tegas tidak mau kalah dengan nada tegas namun Bilawal hanya tertawa ringan.
Gesekan mulai terjadi di antara mereka berdua, Bilawal yang entah mengapa sangat tidak menyukai Jhousan dekat dengan Makaila.
Begitu sebaliknya Jhousan yang juga tidak ingin Bilawal mendekati perempuan yang sudah lama disukai olehnya.
"Asal lo tahu kalau gue sama Makaila udah jadian, barusan dia ngasih jawaban sama gue kalau mau jadi pacar gue," jelas Jhousan yang membuat Bilawal kaget bukan main.
Deg, hatinya bagikan ditusuk pisau belati menancap begitu dalam di hatinya. Bilawal tidak bisa berkata apa-apa lagi ternyata yang tadi dilihat olehnya adalah pengakuan perasaan Jhousan kepada Makaila.
Tubuhnya seperti disengat aliran listrik dan mendadak sedikit lemas, dadanya semakin sesak tapi Bilawal mencoba untuk tetep biasa saja tidak menampakan kesedihannya.
"Gue peringati lo jangan pernah ganggu cewek gue lagi, apalagi membawa dia ke dalam masalah besar karena gue nggak akan pernah membiarkan itu terjadi!" Ancam Jhousan menatap Bilawal begitu tajam.