NovelToon NovelToon
The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkaqia

​"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Debaran Hangat

Ciuman yang sarat akan rasa takut, kelegaan, dan kepemilikan mutlak itu akhirnya terlepas secara perlahan. Arsen tidak langsung menjauhkan wajahnya. Dia tetap menempelkan dahinya pada dahi Senja yang masih hangat, membiarkan napas mereka yang memburu saling beradu dalam keheningan kabin mobil.

​Senja perlahan membuka matanya yang masih basah. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai rasanya mau copot. Tangannya masih meremas kemeja hitam di dada Arsen, merasakan detak jantung pria itu yang ternyata sama gilanya dengan detak jantungnya sendiri.

​"Pak Arsen..." bisik Senja parau, mendadak bingung harus memanggil bos tiran ini dengan sebutan apa setelah apa yang baru saja terjadi.

​Arsen menjauhkan wajahnya sedikit. Ibu jarinya bergerak lembut, mengusap sisa air mata di sudut mata Senja sebelum tangannya turun untuk merapatkan jas hitam miliknya yang membungkus tubuh ringkih perempuan itu.

​"Kita tidak pulang ke rumah kamu malam ini," ucap Arsen datar, kembali ke mode suaranya yang rendah dan tenang, namun kali ini terdengar jauh lebih lembut.

​Senja mengernyitkan dahi. "Loh, kenapa? Ibu gue pasti nyariin kalau gue nggak pulang, Pak."

​Arsen tidak menjawab. Dia kembali ke posisi duduknya di balik kemudi, memasang sabuk pengaman, lalu mulai menjalankan SUV hitam itu membelah jalanan Jakarta yang basah. "Ponsel kamu mati karena orang-orang tadi menggunakan alat pengacak sinyal. Saya sudah menyuruh sekretaris pribadi saya untuk mengirim pesan ke Ibu kamu pakai nomor lain, bilang kalau kamu harus lembur menginap di hotel dekat kantor karena proyek Grand Wijaya mendesak."

​Arsen melirik sekilas ke arah bahu Senja yang kemejanya robek. "Lagipula, kamu mau pulang ke rumah dengan kondisi pakaian robek dan pergelangan tangan memar seperti itu? Kamu mau membuat Ibu kamu jantungan?"

​Senja terbungkam. Benar kata Arsen. Kalau dia pulang dengan kondisi tragis seperti ini, ibunya pasti akan panik luar biasa.

​"Terus... kita mau ke mana?" tanya Senja lirih.

​"Ke tempat saya. Satu-satunya tempat yang punya sistem keamanan berlapis di kota ini," jawab Arsen mutlak.

​Tiga puluh menit kemudian, mereka kembali menginjakkan kaki di unit penthouse mewah milik Arsen. Begitu pintu apartemen terkunci otomatis, Arsen langsung menuntun Senja untuk duduk di sofa ruang tengah. Pria itu menghilang sejenak, lalu kembali dengan membawa sepotong kaos oblong hitam polos miliknya dan sebuah kotak obat tebal.

​"Ganti baju kamu di kamar mandi. Pakai ini," Arsen menyerahkan kaos hitam tersebut.

​Senja menurut tanpa banyak bantahan. Di dalam kamar mandi, dia melepas kemeja putihnya yang rusak dan memakai kaos Arsen yang sangat kebesaran hingga mencapai setengah pahanya. Aroma parfum maskulin Arsen langsung menguar hangat, membungkus tubuhnya.

​Saat Senja kembali ke ruang tengah dengan langkah kaku, Arsen sudah menunggu sambil duduk di atas karpet bulu, di depan sofa. Di dekatnya, sebotol cairan antiseptik, salep memar, dan beberapa kapas sudah tertata rapi.

​"Duduk," ujar Arsen, menepuk tempat di sofa tepat di hadapannya.

​Senja duduk perlahan, meluruskan kedua kakinya. Arsen langsung meraih salah satu kaki Senja, menaruh lutut perempuan itu di atas pahanya dengan sangat hati-hati. Mata elang Arsen menatap lurus ke arah kulit lutut Senja yang tergores kasar akibat jatuh di trotoar tadi.

​"Ini akan sedikit perih. Tahan," bisik Arsen.

​Arsen mulai menepuk-nepuk kapas yang sudah diberi cairan antiseptik ke luka di lutut Senja. Gerakannya bener-bener pelan dan telaten, berbanding terbalik dengan kebrutalannya di jalanan tadi.

​"Aw..." Senja meringis sedikit saat cairan itu menyentuh lukanya. Refleks, tangannya meremas rambut hitam Arsen yang berada tepat di depan dadanya karena posisi Arsen yang sedang menunduk mengobati lututnya.

​Gerakan tangan Arsen sempat terhenti sedetik saat merasakan jemari Senja di rambutnya. Dia mendongak, menatap Senja dengan tatapan mata yang intens dan dalam. "Perih?"

​Senja mengangguk pelan, wajahnya mendadak merona merah karena jarak wajah mereka yang kembali dekat. "Dikit..."

​Arsen tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia menundukkan kepalanya sedikit, lalu dengan lembut meniup luka di lutut Senja beberapa kali untuk mengurangi rasa perihnya, sebelum akhirnya mengoleskan salep. Gestur sederhana itu sukses membuat jantung Senja berdegup gila-gilaan lagi.

​Setelah selesai dengan lutut, Arsen beralih meraih kedua pergelangan tangan Senja. Dia mengoleskan salep gel dingin ke area kulit yang memar membiru akibat cengkeraman kasar para penjahat tadi. Pijatan lembut jarinya membuat rasa ngilu di tangan Senja perlahan mereda.

​Namun, saat Arsen hendak menutup kotak obat, mata elangnya mendadak menangkap sesuatu. Kaos hitam longgar yang dipakai Senja sedikit bergeser di bagian bahu, memperlihatkan noda darah samar yang merembes dari balik kain di bagian belakang tubuh perempuan itu.

​Arsen menegang. "Punggung kamu juga kena?"

​Senja agak terkegun, lalu mengangguk kaku. "Iya, Pak... tadi sempat dibenturin keras banget ke tiang listrik pas mereka seret gue."

​Mendengar kata 'diseret' dan 'dibenturin', rahang Arsen kembali mengatup rapat menahan amarah. Tanpa membuang waktu, Arsen berdiri lalu pindah duduk di sofa tepat di belakang Senja, sementara Senja tetap duduk menghadap ke depan di atas karpet bulu.

​"Saya harus membuka bagian belakang kaosnya sedikit untuk mengobati luka kamu," ucap Arsen, suaranya terdengar lebih rendah dan serak dari biasanya. "Boleh?"

​Senja menelan ludah dengan susah payah, merasakan desakan napas Arsen di tengkuknya. "B-boleh, Pak."

​Dengan gerakan yang teramat hati-hati, jemari kekar Arsen meraih kerah kaos hitamnya yang longgar. Dia menarik kain itu perlahan ke bawah, menyingkap bahu kanan Senja hingga ke pertengahan punggung perempuan itu.

​Detik itu juga, napas Arsen mendadak tercekat di tenggorokan. Gerakan tangannya mengunci di udara.

​Di bawah pencahayaan lampu apartemen yang kekuningan dan temaram, pemandangan di depannya bener-bener menguji batas pertahanan seorang Arsen Malik. Kulit punggung Senja tampak begitu putih bersih, halus, dan memperlihatkan lekuk tubuh perempuan yang begitu indah, ramping, dan ringkih. Kontras warna hitam dari kaosnya yang melorot membuat lekuk tubuh itu terlihat semakin menawan.

​Namun, pemandangan indah itu ternoda oleh garis luka goresan merah panjang yang mulai membiru di sana.

​Arsen menarik napas panjang, menekan paksa insting predatornya yang berteriak liar untuk menyentuh lekuk tubuh itu lebih jauh. Dia mengambil kapas baru yang sudah ditetesi antiseptik.

​"Tahan," bisik Arsen, napas hangatnya berembus langsung di kulit leher belakang Senja, membuat bulu kuduk perempuan itu meremang hebat.

​Srett.

​Saat kapas dingin itu menyentuh luka gores di punggungnya, Senja refleks tersentak. "Akhh! Perih, Pak..." Tubuh Senja otomatis bergerak mundur, membuat punggung polosnya tanpa sengaja bersandar langsung pada dada bidang Arsen yang keras.

​Sentuhan kulit-ke-kulit yang mendadak itu bagaikan sengatan listrik bagi keduanya. Senja membeku di tempat, sementara tangan Arsen yang memegang kapas langsung menegang kaku di udara.

​Arsen tidak menjauhkan tubuhnya. Dia membiarkan punggung Senja tetap bersandar di dadanya, sementara tangan kirinya yang bebas bergerak perlahan naik, bertengger di bahu polos Senja yang tidak terluka, mencengkeramnya dengan lembut namun posesif. Arsen menundukkan wajahnya, menyembunyikan tatapan matanya yang sudah menggelap sepenuhnya di balik helaian rambut Senja.

​"Jangan bergerak, Senja," bisik Arsen di dekat telinga perempuan itu, suaranya terdengar sangat dalam, berat, dan penuh dengan gairah yang mati-matian dia tahan agar tidak meledak. "Kalau kamu bergerak lagi... saya tidak menjamin saya bisa mengontrol diri saya malam ini."

​Senja menahan napasnya. Dia bisa merasakan kehangatan tubuh Arsen yang menjalar ke punggungnya, serta debaran jantung pria itu yang beritme cepat dan kuat. Ancaman terselubung Arsen tidak membuat Senja takut, melainkan membuat seluruh tubuhnya mendadak lemas oleh ketegangan sensual yang begitu pekat.

​Arsen memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya yang nyaris menguap. Dengan perlahan, dia melanjutkan mengoleskan obat ke seluruh luka di punggung Senja, bergerak selembut mungkin walau setiap sentuhan jarinya terasa seperti siksaan manis yang membakar dirinya sendiri.

​Setelah selesai, Arsen menarik kembali kaos hitamnya untuk menutupi punggung Senja, lalu berdiri dengan terburu-buru sebelum dia benar-benar kehilangan kendali.

​"Malam ini kamu tidur di kamar saya. Kunci pintunya dari dalam," perintah Arsen datar, suaranya kembali dingin seolah-olah ketegangan gila di antara mereka barusan tidak pernah terjadi. Pria itu menyambar kotak obat dan berjalan cepat menuju dapur tanpa menoleh lagi.

​Senja masih duduk terpaku di atas karpet bulu, memegangi kerah kaosnya dengan wajah yang sudah memerah sempurna hingga ke leher. Jantungnya berdegup gila-gilaan. Di balik sifat kejam dan kaku bos mafianya, Senja sadar kalau pria itu baru saja berjuang setengah mati menahan diri demi melindunginya—termasuk melindungi Senja dari hasrat pria itu sendiri.

1
Arya Suluran
bagus banget jalan ceritanya
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!