Seratus tahun telah berlalu sejak Shi Hao mengorbankan kultivasinya menggunakan Teknik Terlarang untuk menyelamatkan Alam Atas dari kehancuran Kaisar Langit. Di Alam Atas, kedamaian semu tercipta di bawah pimpinan Dewan Bersama (Raja Yan, Lei Zhen, Ao Zun).
Namun, di sebuah desa fana yang terpencil, Shi Hao hidup bahagia sebagai petani buta dan lumpuh bersama istri fananya (Gu Qing Yi yang menyembunyikan identitasnya). Kepompong fana Shi Hao perlahan-lahan menyehatkan jiwanya yang hancur, menanamkan pemahaman Dao Kemanusiaan yang belum pernah dicapai oleh Dewa mana pun.
Kedamaian itu hancur ketika Dinding Dimensi Alam Atas robek. Shen Yu, Dewa Iblis dari Semesta Sembilan Nether yang telah menaklukkan ribuan alam, akhirnya tiba bersama pasukan jenderalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 17
Dunia Fana – Halaman Gubuk Keluarga Shi.
Angin siang berhembus pelan, membawa debu tanah yang menari-nari di sekitar ujung pedang perak milik Zhao Xuan. Ujung pedang yang memancarkan pendaran Qi tajam itu kini berjarak hanya satu jengkal dari leher Shi Hao.
Bagi penduduk desa biasa, pemandangan ini cukup untuk membuat mereka pingsan ketakutan. Namun Shi Hao, dengan mata kirinya yang dibalut kain putih, hanya berdiri santai bersandar pada tongkat bambunya, seolah pedang maut di lehernya itu hanyalah sebatang ranting yang tersangkut di baju.
"Tuan Muda," kata Shi Hao dengan senyum maklum, suaranya setenang air telaga. "Benda tajam seperti itu berbahaya jika dimainkan sembarangan. Jika kau mencari harta, kau salah rumah. Seperti yang kau lihat, atap rumahku saja masih bocor jika hujan turun."
"Tutup mulutmu, Manusia Cacat!" bentak Zhao Xuan, wajahnya memerah karena merasa diremehkan oleh ketenangan orang awam ini.
Sebagai murid inti Sekte Pedang Awan tingkat Pembentukan Pondasi (Foundation Establishment), dia terbiasa melihat manusia fana bersujud menjilat debu di sepatunya. Ketenangan Shi Hao adalah sebuah penghinaan besar bagi harga dirinya.
"Matamu memang buta, dan kau benar-benar tidak mengenali Gunung Tai di hadapanmu!" geram Zhao Xuan. "Kau pikir aku tidak bisa mencium aroma sisa Sup Pusaka Spiritual dari dapurmu?! Serahkan pusaka itu sekarang, atau aku akan mengukir nama sekteku di wajahmu!"
Di atas dahan pohon bambu yang berjarak sekitar dua ratus tombak dari sana, Lima Penjaga Teratai sedang berjongkok rapi, mengunyah kuaci dengan penuh antusias.
"Ah, kalimat klasik," bisik Lu Bai sambil melempar kulit kuaci ke bawah. "'Mata tak mengenali Gunung Tai'. Lalat itu benar-benar mengucapkannya pada orang yang bisa membelah seluruh pegunungan di tiga ribu dunia hanya dengan satu jentikan jari."
"Tuan Besar kita memiliki kesabaran setebal kulit bumi," kekeh Hong Hua. "Jika itu aku, lalat itu sudah kuubah menjadi pupuk sejak dia mencabut pedangnya."
Kembali ke halaman.
Melihat Shi Hao masih diam dan tersenyum, kesabaran Zhao Xuan habis. Niat membunuh melintas di matanya.
"Karena kau memilih mati, biarkan aku membantumu reinkarnasi!"
Zhao Xuan memutar pergelangan tangannya. Qi Sejati di dalam Dantian-nya meledak, mengalir ke bilah pedang peraknya. Pedang itu berdengung nyaring, melepaskan teknik andalan sektenya.
"Teknik Pedang Awan: Tebasan Pembelah Angin!"
Bilah pedang itu melesat secepat kilat, mengincar langsung bahu kanan Shi Hao dengan niat memotong lengan pria buta itu sebagai peringatan.
Namun, sesuatu yang sangat aneh namun terlihat begitu natural terjadi.
Shi Hao tiba-tiba menguap. Karena menguap, bahunya sedikit merosot, dan tangannya yang memegang tongkat bambu lapuk bergerak naik secara refleks untuk menutup mulutnya.
Gerakan itu terlihat lambat dan penuh kebetulan.
Tetapi, saat pedang perak tingkat spiritual itu berbenturan dengan batang tongkat bambu lapuk di tangan Shi Hao...
TING!
Sebuah suara dentingan yang sangat jernih terdengar, diikuti oleh bunyi retakan yang mengerikan.
KRAAAK... PRANG!
Pedang perak kebanggaan Zhao Xuan senjata pusaka yang ditempa selama tujuh hari tujuh malam menggunakan logam bintang hancur berkeping-keping layaknya kaca tipis yang dihantam palu godam. Pecahan bilahnya jatuh berserakan di atas tanah berdebu.
Tebasan pembelah angin itu lenyap tanpa sisa.
Zhao Xuan membeku seperti patung es. Tangannya masih memegang gagang pedang yang kini hanya tersisa pangkalnya saja. Matanya melotot hampir keluar dari kelopaknya.
"A-Apa...?" Zhao Xuan tergagap, menatap tongkat bambu Shi Hao yang bahkan tidak tergores sedikit pun. "P-Pedang pusakaku... hancur oleh bambu busuk?! teknik iblis macam apa ini?!"
Logika di otaknya menolak menerima kenyataan. Sebagai kultivator arogan, dia tidak bisa memproses bahwa manusia fana ini lebih kuat darinya. Satu-satunya penjelasan di benaknya adalah pria buta ini memakai jimat iblis!
Shi Hao menurunkan tangannya yang baru selesai menutup mulut saat menguap, lalu meraba tongkat bambunya dengan ekspresi polos.
"Wah, pedangmu sepertinya rapuh sekali, Anak Muda. Apakah pandai besi di kotamu menipumu? Lain kali, beli pedang di Paman Wang saja. Besinya lebih tebal," saran Shi Hao dengan kebaikan hati yang begitu tulus hingga terasa seperti tamparan berlapis besi.
"KAU...! KAU BERANI MEMPERMAINKANKU!" raung Zhao Xuan, wajahnya kini berubah ungu karena amarah yang memuncak. Dia membuang gagang pedangnya, dan mulai membentuk segel tangan dengan cepat, bersiap mengeluarkan mantra api terkuatnya.
Namun, sebelum segel itu selesai...
Krieeet...
Pintu dapur gubuk kembali terbuka.
Gu Qing Yi melangkah keluar, menepuk-nepuk debu tepung dari celemek raminya. "Suamiku, siapa yang berteriak-teriak di luar? Apakah tukang tagih pajak dari kota datang lagi?"
Saat Zhao Xuan menoleh ke arah sumber suara, segel tangan di jarinya seketika terhenti. Seluruh amarah di kepalanya menguap, digantikan oleh syok yang jauh lebih besar daripada saat pedangnya hancur.
Meskipun Qing Yi hanya mengenakan pakaian rami kasar dan celemek kusam, aura kecantikan surgawinya tidak bisa disembunyikan. Wajahnya seperti pahatan giok dewi dari sembilan langit, matanya bening seperti mata air roh, dan auranya begitu murni hingga membuat para bidadari akan menunduk malu.
Glek. Zhao Xuan menelan ludah. Hawa nafsunya langsung mengambil alih otaknya yang sempit.
"Surga di atas... Aku tidak pernah melihat wanita secantik ini di seluruh Benua Tengah..." gumam Zhao Xuan, matanya berkilat penuh keserakahan.
Sebuah ide gila dan klise dari kiasan tuan muda arogan langsung muncul di kepalanya. Dia menunjuk ke arah Shi Hao sambil tertawa angkuh.
"Hahaha! Orang cacat, ternyata kau menyembunyikan dua pusaka sekaligus! Sebuah benda spiritual yang merusak pedangku, dan seorang wanita cantik jelita!" Zhao Xuan membusungkan dadanya, menatap Qing Yi dengan tatapan mesum.
"Nona, sungguh sayang bunga secantik dirimu harus menancap di atas kotoran sapi lumpuh ini. Tinggalkan dia! Ikutlah denganku, Zhao Xuan, Tetua Muda Sekte Pedang Awan! Aku akan menjadikanmu selir utamaku, dan memberimu pil keabadian agar kau tetap awet muda!"
Di atas pohon bambu di kejauhan.
KRETAK!
Lu Bai secara tidak sadar meremukkan dahan bambu sebesar lengan di tangannya hingga menjadi serbuk kayu. Vena di dahi Hei Gen berdenyut gila, dan Shui Di seketika kehilangan seluruh rasa kantuknya.
"Lalat itu..." bisik Jin Yu, suaranya bergetar bukan karena takut, tapi karena ngeri melihat tingkat kebodohan yang bunuh diri. "Lalat itu baru saja menggoda Nyonya..."
"Dia menggoda seorang Raja Dewa Pembunuh dari Alam Atas," tambah Hong Hua sambil menutupi wajahnya dengan tangan. "Dan dia melakukannya tepat di depan hidung Kaisar Asura. Bahkan Dewa Iblis Shen Yu tidak seberani itu."
Di halaman rumah, suasana mendadak menjadi sangat dingin. Udara seolah membeku.
Shi Hao tidak lagi tersenyum. Senyum lembut yang selalu menghiasi wajahnya sebagai A-Hao lenyap tanpa bekas. Meski mata kanannya tampak buta dan tidak fokus, aura di sekitarnya tiba-tiba menjadi sekosong dasar jurang maut.
Qing Yi, di sisi lain, tidak marah. Dia hanya menatap Zhao Xuan dengan pandangan yang sama seperti saat orang melihat lalat mati di atas meja makan. Sepenuhnya tidak relevan.
Qing Yi melirik suaminya. Dia tahu, jika Shi Hao sampai melepaskan seujung kuku kemarahannya, bukan hanya pemuda bodoh ini yang hancur, tapi seluruh gunung tempat sektenya berada akan rata dengan tanah.
"Suamiku," panggil Qing Yi lembut, menyentuh lengan Shi Hao untuk menenangkannya. "Tidak perlu mengotori tanganmu. Tanganku juga sedang sibuk mengadoni kue."
Qing Yi lalu bersiul pelan ke arah belakang gubuk.
"Hitam Satu. Ada tamu tak diundang yang mulutnya kotor. Tolong usir dia."
Mendengar perintah itu, Zhao Xuan tertawa meremehkan. "Seekor anjing? Kalian mau melawanku dengan seekor anjing kampung?! Biar kubakar anjing itu menjadi—"
DUM!
Kata-katanya terhenti. Tanah di bawah kakinya bergetar.
Dari balik rumah, sebuah bayangan hitam raksasa melangkah maju.
Itu adalah Hitam Satu. Namun, anjing itu tidak lagi berbentuk anjing pemburu biasa. Setelah menyerap sisa kuah kaldu Ikan Belut Nether dan berevolusi, ukuran tubuhnya membesar hingga setinggi singa dewasa. Otot-ototnya menonjol liar, enam matanya terbuka sepenuhnya, menyala semerah lava neraka, dan kabut ungu pekat mengepul dari sela-sela taringnya yang setajam pedang.
Ini adalah Raja Anjing Nether, monster yang auranya kini berada di tahap puncak Jiwa Baru Lahir (Nascent Soul)!
Dua tingkat kultivasi di atas Zhao Xuan.
Bagi seorang kultivator tingkat Pembentukan Pondasi seperti Zhao Xuan, berhadapan dengan monster Nascent Soul sama seperti semut yang diinjak oleh gajah.
Hanya dengan melihat Hitam Satu melangkah keluar, tekanan spiritual (Spiritual Pressure) yang masif langsung menghantam jiwa Zhao Xuan.
"A... A... Apa..." Bibir Zhao Xuan bergetar. Wajah arogannya yang tadinya semerah tomat kini memucat seperti mayat.
Hitam Satu menatap pemuda itu dengan tatapan jijik. Anjing iblis ini tahu bahwa majikannya sangat benci keributan, jadi ia tidak mengaum. Ia hanya maju satu langkah, menundukkan kepalanya, dan melepaskan satu geraman rendah dari tenggorokannya.
Grrrrrrrr....
Suara itu sangat pelan, tapi gelombang suara Qi iblis itu menghantam tubuh Zhao Xuan layaknya badai topan.
CRAT!
Zhao Xuan menyemburkan seteguk besar darah. Matanya berputar ke atas. Pertahanan Qi Sejati di dalam tubuhnya hancur seketika layaknya kertas basah.
PRANG!
Di dalam Dantian Zhao Xuan, pondasi kultivasinya yang ia bangun selama dua puluh tahun retak, lalu hancur sepenuhnya. Hanya dengan satu geraman anjing, kultivasinya dihapus!
"T-Tidaaaaak..." jerit Zhao Xuan histeris, jatuh berlutut di tanah. Dia memegangi perutnya yang kini kosong melompong dari energi spiritual. Rasa sakit yang luar biasa bercampur dengan teror absolut meruntuhkan seluruh akal sehatnya. Dia tidak lagi peduli pada harta, kecantikan, atau harga diri.
Pria ini cacat? Istrinya wanita lemah?
TIDAK! Ini adalah sarang monster prasejarah! Bahkan anjing penjaga mereka adalah Raja Iblis dari neraka!
Tanpa pikir panjang, dan melupakan fakta bahwa celananya sudah basah oleh air seninya sendiri, Zhao Xuan merangkak putar balik dengan panik. Dia tidak bisa lagi terbang karena kultivasinya hancur, jadi dia berlari dengan kedua kaki fananya yang gemetar, tersandung-sandung batu, menjerit memanggil ibunya layaknya orang gila.
"IBAAAANG!! TOLONG AKUUUU!! MONSTER!!" teriak Zhao Xuan, suaranya perlahan menjauh hingga menghilang di balik tikungan jalan desa, meninggalkan jejak debu (dan bau pesing) di belakangnya.
Di halaman, Hitam Satu mendengus jijik, mengibas-ngibaskan ekornya yang berduri untuk membersihkan sisa debu, lalu kembali duduk dengan patuh seperti anak anjing yang manis di depan Qing Yi.
Qing Yi tersenyum sambil mengelus kepala raksasa anjing itu. "Anak pintar. Nanti kuberi tulang iga yang paling besar."
Shi Hao, yang sedari tadi diam dengan aura gelap, akhirnya menghela napas panjang dan kembali tersenyum. Bahunya kembali merosot, memancarkan kedamaian.
"Anak muda zaman sekarang, selalu terburu-buru," keluh Shi Hao santai, menggelengkan kepalanya. "Baru ditegur anjing sedikit saja sudah lari sambil menangis. Bagaimana dia bisa menjaga sawahnya dari babi hutan?"
Shi Hao memungut tongkat bambunya, menoleh ke istrinya. "Ayo masuk, Istriku. Kuahnya nanti keburu dingin."
Di atas dahan bambu, kelima Penjaga Teratai saling pandang, menghela napas lega berjamaah.
"Anjing Nyonya lebih berbakat dalam merusak mental orang daripada kita," gumam Hei Gen, mencatat teknik intimidasi anjing itu di dalam kepalanya.