NovelToon NovelToon
TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Romansa Fantasi
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: My_Sunshine

Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.

Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.

Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Doktrin sang kakak

Yudha menghembuskan nafas lega saat akhirnya Keenan keluar dari kamar. Ia sempat khawatir ayahnya akan tetap berada di rumah dan mengacaukan rencana yang telah ia susun.

Keenan menghampiri putra sulungnya yang masih berdiri di depan kamar.

“Ayah harap apa yang terjadi hari ini bisa kamu jadikan pelajaran,” ucapnya tenang.

“Iya, Yah,” jawab Yudha patuh.

Ia ragu sejenak sebelum bertanya,

“Ayah mau balik ke kantor lagi ya?”

“Iya. Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.”

Seketika wajah Yudha berubah cerah. Setidaknya, satu hambatan dalam rencananya akan segera pergi. Namun, sebelum sempat mengatakan apa pun lagi, suara klakson terdengar dari arah halaman.

“Pim! Pim! Pim!”

Mobil antar-jemput sekolah Daffa baru saja tiba. Tak lama kemudian, bocah laki-laki itu berlari masuk ke rumah sambil menggendong tas sekolahnya.

“Assalamualaikum!” serunya riang.

“Waalaikumsalam,” jawab Keenan

sambil tersenyum. “Eh, jagoan kecil ayah sudah pulang.”

Daffa langsung menghampiri ayahnya.

“Lho, Ayah kok sudah di rumah?”

“Ayah pulang sebentar. Ada berkas yang tertinggal.”

“Berkas itu buat rapat ya?”

“Kurang lebih begitu.”

“Oh iya!” Daffa seperti baru teringat sesuatu. Ia segera membuka tas sekolahnya dan mengeluarkan selembar kertas yang terlipat rapi.

“Aku dikasih ini sama Bu Guru. Katanya harus ditandatangani Ayah.”

Keenan menerima kertas itu lalu membukanya. Ternyata surat pemberitahuan kegiatan kunjungan sekolah ke museum dan perpustakaan daerah yang memerlukan persetujuan wali murid.

“Apa isinya?” tanya Daffa penasaran.

Wajahnya mendadak cemas.

“Bukan surat panggilan, kan? Aku nggak nakal kok di sekolah.”

Keenan terkekeh.

“Bukan, Nak. Ini surat pemberitahuan kegiatan kunjungan ke museum dan perpustakaan daerah. Bu Guru meminta tanda tangan Ayah sebagai tanda persetujuan.”

Raut tegang di wajah Daffa langsung menghilang.

“Perpustakaan itu tempat baca buku, kan? Kalau museum itu apa?”

Kali ini Kinanti yang menjawab.

“Museum adalah tempat menyimpan benda-benda bersejarah. Misalnya uang kuno, pakaian zaman dulu, lukisan, benda peninggalan pahlawan, atau kerangka hewan purba.”

Daffa mengerutkan dahinya, masih mencoba membayangkan. Kinanti tersenyum lalu menjelaskan dengan cara yang lebih sederhana.

“Kalau perpustakaan menyimpan buku, museum menyimpan benda-benda penting atau bersejarah dari masa lalu.”

“Ohhh...” Daffa mengangguk paham.

Tiba-tiba matanya berbinar.

“Aku pernah baca di buku kalau dinosaurus itu besar banget. Jadi penasaran mau lihat kerangkanya.”

“Kalau memang ada koleksinya, nanti kamu bisa melihatnya langsung,” ujar Kinanti.

“Wah, pasti seru!”

Keenan mengambil pena yang selalu terselip di saku kemejanya. Setelah membaca sekilas isi surat tersebut, ia langsung membubuhkan tanda tangannya.

“Suratnya sudah ayah tanda tangani. Besok serahkan lagi ke Bu Guru, ya.”

“Siap, Bos!” jawab Daffa sambil memberi hormat.

Keenan terkekeh lalu mengacak rambut putra bungsunya itu. Daffa segera melipat surat tersebut dan menyimpannya kembali ke dalam tas.

“Ayah berangkat ke kantor lagi, ya. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam,” sahut mereka hampir bersamaan.

“Semangat kerjanya, Yah!” seru Daffa.

“Siap, Bos!”

Daffa tertawa lebar dan melambaikan tangan saat ayahnya berjalan menuju pintu. Begitu suara mesin mobil menghilang dari halaman, bocah itu langsung menoleh pada Kinanti.

“Tante, aku lapar. Hari ini masak apa?”

Kinanti tersenyum lembut,

“Tante masak opor ayam.

Mata Daffa langsung berbinar.

“Wah! Pasti enak!”

“Kamu ganti baju dulu. Setelah itu baru makan.”

“Siap!”

Daffa berlari menuju kamarnya.

Tak lama kemudian ia kembali dengan pakaian santai. Saat itulah ia melihat Kinanti sedang merapikan rantang susun di atas meja makan.

“Tante mau ke mana?”

“Tante mau ke rumah nenekmu. Mau mengantarkan opor ayam.”

“Ooh…”

Kinanti baru bersiap keluar setelah memastikan Daffa sudah duduk di meja makan dan mulai menyantap makan siangnya.

“Kamu di rumah sama Mas Yudha, ya. Tante keluar sebentar.”

“Hati-hati, Tante,” ucap Daffa tulus.

Kinanti tersenyum hangat sebelum melangkah keluar rumah.

Daffa sedang sendirian di ruang makan. Bagi Yudha, ini adalah kesempatan yang tepat untuk kembali mempengaruhi adik bungsunya agar kembali pada rencana mereka semula: membenci Kinanti dan membuat perempuan itu pergi dari rumah ini.

Yudha menghampiri meja makan lalu berdiri di samping kursi Daffa.

“Daffa... kenapa kamu bohong sama Mas?”

Daffa yang sedang lahap menyantap nasi hangat dengan opor ayam langsung menoleh. Keningnya berkerut bingung.

“Bohong?”

“Iya. Kamu bohong sekaligus ingkar janji.”

Daffa meletakkan sendoknya perlahan.

“Maksud Mas apa?”

“Sebelum Ayah menikah lagi, kita bertiga sudah sepakat ‘kan? Kita mau bikin Tante Kinanti nggak betah sampai akhirnya pergi dari rumah ini. Tapi sekarang lihat apa yang kamu lakukan.

Yudha menatap adiknya tajam.

“Kamu selalu makan masakannya. Kamu selalu dekat sama dia. Bahkan kemarin kamu minta maaf sama dia.”

Daffa menundukkan kepala. Jari-jarinya memainkan sendok dan garpu di atas piring.

Yudha melanjutkan ucapannya dengan nada yang lebih pelan, tetapi justru terdengar menusuk.

“Kamu sadar nggak? Apa yang kamu lakukan itu sama artinya kamu sudah mengkhianati Ibu.”

Tubuh kecil Daffa langsung menegang.

“Ibu pasti sedih kalau tahu kamu melupakannya secepat ini.”

Daffa menggeleng cepat.

“Aku nggak lupa sama Ibu.”

Suaranya mulai bergetar.

“Sampai kapan pun Ibu akan selalu ada di hati aku.”

“Kalau begitu kenapa kamu malah dekat sama perempuan itu?”

Daffa terdiam beberapa saat sebelum akhirnya memberanikan diri menjawab.

“Soalnya Tante Kinan baik.”

Yudha mendengus.

“Baik?”

“Iya. Tante selalu masakin makanan yang enak buat kita. Dia juga perhatian sama aku, sama Mbak Tiara, sama Mas.”

Daffa mengangkat wajahnya menatap sang kakak.

“Memangnya Mas nggak capek selalu marah dan kasar sama Tante Kinan?”

Pertanyaan polos itu membuat Yudha semakin kesal.

“Peng… khi..a…nat!" desisnya.

Mata Daffa membelalak.

“Aku bukan pengkhianat!”

“Tapi kenyataannya begitu. Kamu sudah melupakan Ibu.”

“Aku nggak pernah melupakan Ibu!” bantah Daffa dengan suara lebih nyaring.

“Pasti di atas sana ibu sedih lihat kamu sekarang.”

Kalimat itu menghantam hati Daffa seperti batu besar. Bibirnya mulai bergetar, matanya memanas. Dan beberapa detik kemudian, tangisnya pecah.

“Huu... huuu... huu...”

Tangisan bocah itu memenuhi ruang makan. Tanpa sanggup melanjutkan makan, Daffa turun dari kursinya. Ia meninggalkan piring yang masih penuh lalu berlari menuju kamarnya.

Melihat adik bungsunya menangis, Yudha tampak biasa saja. Baginya, Daffa memang pantas mendapat peringatan. Bocah itu sudah melanggar kesepakatan mereka.

Seharusnya mereka bertiga tetap bersatu untuk membuat Kinanti tidak betah tinggal di rumah itu, bukan malah bersikap akrab dan mulai menyayanginya.

Sudah hampir setengah jam Kinanti pergi, tetapi belum juga kembali. Dari dalam kamar Daffa pun tak terdengar lagi suara tangisan. Mungkin bocah itu kelelahan menangis hingga akhirnya tertidur.

Yudha melirik jam dinding, lalu tersenyum tipis.

“Sepertinya ini waktu yang tepat untuk menjalankan rencanaku,” gumamnya pelan.

Ia meraih ponselnya lalu membuka daftar kontak. Jemarinya bergerak cepat mencari nomor pengamen yang pagi tadi ia temui di terminal.

//Bang, situasi aman. Berangkat sekarang ya. Naik ojek online saja. Bilang ke drivernya turun di rumah Pak Keenan, Jalan Cendana Nomor 20//

//Siap!//

-Panggilan terputus-

Senyum Yudha semakin lebar.

“Ayah tidak ada di rumah. Perempuan itu juga sedang pergi. Daffa masih mengurung diri di kamar. Ini kesempatan terbaik,” pikirnya.

Rencana yang ia susun bersama Tiara semalam terasa semakin dekat dengan kenyataan. Jika semuanya berjalan lancar, ayahnya akan percaya bahwa Kinanti diam-diam memasukkan laki-laki lain ke dalam rumah dan jika ayahnya percaya,

maka perempuan itu akan diusir.

Atau bahkan diceraikan.

Namun, di balik keyakinannya, ia tidak menyadari satu hal. Setiap rencana yang dibangun di atas kebohongan selalu menyimpan celah yang bisa menghancurkan pelakunya sendiri.

Apakah rencana licik Yudha akan berjalan sesuai harapannya?

Ataukah justru menjadi awal dari masalah yang jauh lebih besar?

1
partini
marah" Mulu tensi tinggi gampang Kena stroke
My_Sunshine: wkkkk. umur segitu kan lagi lucu-lucunya kak😄
total 1 replies
Agunk Setyawan
ibu egois
partini
ozi boleh bikin mereka mikir tapi jangan kriminal juga
Mahesa hemmmm ada something ini
Ifana
Aku padamu pak 👍 seolah Tiara pelaku kriminal pdhl dia korban kejahatan
partini
sekolah apan itu ,,berengsek sekali
Ifana
tau gtu bikin tu nenek lampir sekarat aja thor ini udh ditolongin tp gk tau terima kasih
partini
kalau sekarat baru lah dia sadar ,,aihh Thor kasih lagi lah yg instan juga lebih parah lagi macam stroke bibirnya gitu Biar ga nyrocos jahar
My_Sunshine: iya kak... nanti dapat karma kok dia😄
total 1 replies
partini
keren Thor karma instan semua 👍👍👍
My_Sunshine
Iya, Kak. Nanti aku bakalan bikin panjang ceritanya kalau banyak yang setia ngikutin 🤗
partini
biasanya kalau minta jangn tumbuh malah tumbuh kuat pula si jabang bayinya,
partini
gantian Yudha Thor
partini
maaf terlambat Tiara yg sangat berharga bagi wanita ya itu kehormatan mu tekah si renggut pasti trauma Shok berat merasa kotor dan satu lagi semoga dapat jodoh yg menarima kamu tulus so sad
partini
wow
Agunk Setyawan
enak Tiara jadi anak sombong blagu ya ini balasan lebih sakit kan
partini
jangan di di unboxing Thor ,,itu nanti trauma bisa gila di lecehkan saja udah bikin trauma apa lagi dengan bobol kejem sekaleeeeee harusnya Yogha yg paling parah ini kan ide dia
Agunk Setyawan
ben kapok tu si Tiara blagu amat Yudha juga Ben kapok
partini
ngeri di perkaos kah
Nelita Nopitasari
ih gilaaa nggk ada rasa bersalahnya bocah setan
partini
selamat yah berhasil rencana nya,, tapi kita lihat kedepan nya akan seperti apa
partini
masuk ke pondok pesantren aja lah pak biar. berjauhan dari ortu biar mikir mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!