NovelToon NovelToon
Terjerat Perjodohan Sang CEO Mafia

Terjerat Perjodohan Sang CEO Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Aliansi Pernikahan / Bad Boy / Action
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Orang_Cuman_Cerita

​"Aku bisa membeli apa pun di dunia ini, termasuk dirimu dan kebebasanmu. Mulai detik ini, kamu adalah milikku."
​Kehidupan tenang Aletta hancur lebur dalam semalam ketika ayahnya menjaminkan dirinya demi melunasi hutang triliunan rupiah. Tanpa bisa menolak, Aletta dipaksa menandatangani kontrak perjodohan dengan Xavier—seorang CEO miliarder berdarah dingin yang memimpin perusahaan raksasa di siang hari, dan menjadi ketua sindikat mafia paling ditakuti di dunia bawah tanah pada malam hari.
​Di dalam mansion mewah yang terasa seperti sangkar emas berlapis berlian, Aletta harus bertahan dari sikap arogan dan posesif sang suami. Xavier awalnya hanya menganggap Aletta sebagai jaminan hutang belaka. Namun, sifat keras kepala dan ketangguhan Aletta perlahan mengusik hati es sang penguasa kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Sangkar Emas Sang Ratu

Sinar matahari pagi menembus celah gorden tebal, menerangi kamar utama yang masih berantakan. Pakaian yang berserakan di lantai marmer menjadi saksi bisu atas apa yang terjadi semalaman.

​Aletta mengerjapkan matanya yang terasa berat. Seluruh tubuhnya terasa remuk, sebuah sensasi nyeri dan asing menjalar di setiap persendiannya. Namun, sebelum kesadarannya terkumpul penuh, ia merasakan sebuah beban berat yang posesif melingkar di pinggangnya, menariknya rapat hingga punggung telanjangnya menempel pada dada bidang yang hangat.

​"Pagi, Ratuku."

​Suara serak dan rendah itu berbisik tepat di telinga Aletta, disusul oleh kecupan basah di perpotongan lehernya. Bulu kuduk Aletta meremang seketika.

​Ia memutar tubuhnya perlahan, menarik selimut sutra tebal untuk menutupi dadanya. Di hadapannya, Xavier menatapnya dengan sepasang mata kelabu yang tak lagi sedingin es. Tatapan pria itu kini dipenuhi oleh kepuasan yang absolut, sebuah obsesi gelap yang akhirnya menemukan tempat berlabuh. Rambut hitam Xavier berantakan, dan pria itu sama sekali tidak berusaha menutupi bekas-bekas kemerahan di dada dan bahunya akibat cakaran Aletta semalam.

​Aletta menelan ludah, ingatannya kembali berputar pada kesepakatan gila dan penyerahan dirinya.

​"Kau..." suara Aletta parau, ia berdeham pelan. "Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan, Xavier. Sekarang, tepati janjimu."

​Sudut bibir Xavier melengkung membentuk seringai tipis. Pria itu mengangkat sebelah tangannya, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah pucat Aletta dengan gerakan yang sangat lembut—kelembutan yang terasa kontras dengan kekejamannya.

​Tanpa mengalihkan pandangannya dari mata Aletta, Xavier mengulurkan tangan kirinya meraih telepon nirkabel di atas nakas, lalu menekan satu tombol panggilan cepat.

​Hanya butuh dua detik hingga suara Diego terdengar dari seberang saluran. "Ya, Bos?"

​"Batalkan persiapan eksekusi di Pelabuhan Barat," perintah Xavier mutlak, suaranya kembali dingin dan datar layaknya sang penguasa dunia bawah. "Pindahkan pria tua itu dari rumah sakit ke Fasilitas Tartarus secara rahasia. Isolasi maksimum. Berikan perawatan medis yang dia butuhkan, pastikan dia tetap bernapas, tapi jangan biarkan dia melihat cahaya matahari atau berinteraksi dengan siapa pun selain penjaga bisu."

​"Dimengerti, Bos. Akan segera dilaksanakan."

​Xavier memutus panggilan itu dan melempar teleponnya kembali ke nakas. Pria itu menatap Aletta yang kini memejamkan mata, membiarkan setetes air mata lega lolos dari sudut matanya. Ayahnya selamat. Meski harus membusuk di penjara bawah tanah, ayahnya tidak akan mati di depan regu tembak.

​Ibu jari Xavier bergerak mengusap air mata di pipi Aletta.

​"Sudah selesai, Aletta. Nyawa ayahmu sudah kubeli lunas malam tadi," bisik Xavier, nada suaranya menuntut perhatian penuh. "Mulai detik ini, aku tidak ingin lagi mendengar nama pria pengkhianat itu keluar dari bibirmu. Tidak ada lagi air mata untuk masa lalu. Fokusmu sekarang hanya tertuju padaku... dan pada benih pewaris yang mungkin sedang tumbuh di dalam sini."

​Tangan besar Xavier menyusup ke balik selimut, mengusap perut datar Aletta dengan gerakan posesif yang membuat napas gadis itu tertahan.

​Aletta membuka matanya, menatap lurus ke dalam badai kelabu di mata suaminya. Tidak ada lagi perlawanan. Ia telah menjual jiwanya, dan ini adalah konsekuensinya. "Aku mengerti."

​Jawaban patuh itu membuat Xavier menyeringai puas. Pria itu bangkit dari ranjang, mempertontonkan tubuh atletisnya yang penuh luka tanpa ragu, lalu berjalan menuju kamar mandi. "Bersiaplah. Setelah mandi, kita akan turun bersama."

​Satu jam kemudian, pintu kamar utama terbuka. Aletta melangkah keluar mengenakan gaun merah marun berlengan panjang yang sangat elegan, menutupi seluruh tanda kepemilikan Xavier di leher dan tulang selangkanya. Xavier berjalan di sampingnya, mengenakan setelan jas hitam three-piece yang rapi.

​Namun yang berbeda pagi ini adalah tangan pria itu. Lengan kekar Xavier melingkar posesif di pinggang Aletta, menjaganya agar tetap berjalan beriringan tanpa menyisakan jarak sedikit pun.

​Saat mereka tiba di lobi utama mansion, langkah Aletta terhenti. Matanya membelalak kaget.

​Seluruh penghuni mansion—mulai dari puluhan pengawal berseragam hitam, para pelayan, hingga koki dan tukang kebun—berdiri berbaris rapi di sepanjang lobi. Diego berdiri di paling depan, menundukkan kepalanya dalam-dalam.

​Suasana luar biasa hening dan mencekam.

​Xavier membawa Aletta berdiri di anak tangga terbawah, menghadap pasukan pekerja dan pengawalnya. Aura membunuh yang selalu mengikuti pria itu kembali menguar pekat, membuat suhu ruangan seolah turun drastis.

​"Dengarkan aku baik-baik," suara bariton Xavier menggema, tajam dan tanpa ampun. "Mulai hari ini, wanita di sampingku bukan sekadar istri di atas kertas. Dia adalah Nyonya rumah ini. Dia adalah Ratu dari klan Vassiliev."

​Xavier menatap tajam satu per satu anak buahnya. "Kata-katanya adalah kata-kataku. Perintahnya adalah perintahku. Siapa pun yang berani menatapnya dengan tidak hormat, membantah perintahnya, atau gagal melindunginya dengan nyawa kalian... aku sendiri yang akan mencabut jantung kalian dari tempatnya. Kalian mengerti?!"

​"MENGERTI, BOS!" seruan serempak yang menggelegar dari puluhan orang itu mengguncang lobi mansion.

​Semua orang langsung berlutut dengan satu kaki, menundukkan kepala mereka ke arah Aletta, memberikan penghormatan tertinggi yang biasa mereka berikan hanya kepada Xavier.

​Aletta membeku. Tangannya yang dingin diremas lembut oleh Xavier. Ia menoleh menatap suaminya. Xavier menatapnya dengan tatapan bangga dan posesif, seolah baru saja menobatkan seorang dewi di atas singgasana berdarahnya.

​Aletta akhirnya menyadari realitas barunya. Sangkar emas yang mengurungnya kini berubah bentuk. Ia tidak lagi dirantai di sudut ruangan; ia baru saja didudukkan di atas singgasana tertinggi di dunia gelap suaminya. Ia adalah Ratu dari sang iblis. Dan untuk bertahan hidup, Aletta tahu ia harus mulai belajar memerintah kegelapan ini bersamanya.

1
Nurwana
go go go Alleta....
Nurwana
semangat Alleta......
Nurwana
kayaknya makin berat hidupmu alleta....
Nurwana
alleta......
Nurwana
jangan cepat percaya alleta, selidiki dulu tentang kebenarannya. jangan sampai itu surat tipuan dari musuh suamimu.
Nurwana
saya mampir Thor.
Orang_Cuman_Cerita: Ok Semagat Ya 💪
total 1 replies
fatmawati (pipit)
disini aletta blm menguasai dunia IT apa untuk menemukan siapa yg menjadi dalang penjebakan
Orang_Cuman_Cerita
GOKIL💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!