NovelToon NovelToon
Gluttony Sovereign

Gluttony Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:673
Nilai: 5
Nama Author: Xian Nying

Dunia baru, aturan baru: yang kuat makan, yang lemah dimakan.

Yudha terbangun di dunia asing dengan membawa Apocalypse Hunger System—kekuatan yang bisa melahap apa saja untuk menjadi lebih kuat, tapi dengan harga: ia harus selalu lapar, atau dunia ini yang akan menanggung akibatnya.

Dingin, pragmatis, dan tidak percaya pada siapa pun, ia hanya punya satu tujuan: bertahan hidup, menjadi yang terkuat, dan tidak akan pernah lagi merasakan kelaparan atau diinjak-injak seperti masa lalunya.

Segalanya berubah saat ia bertemu Carmelia—anak kecil polos yang ia anggap hanya sebagai petunjuk jalan dan alat bantu. Di balik senyum dan sikap lembutnya, tersembunyi sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih gelap, dan jauh lebih berbahaya daripada sistem yang ada di dalam tubuh Yudha sendiri.

Dari pemangsa, ia perlahan sadar: ia mungkin bukan yang berburu... tapi justru yang sedang diburu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xian Nying, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 : Pipit Yang Mematuk Pohon Seperti Pelatuk

Pagi harinya, Sektor Selatan Aethelgard bener-bener pecah kayak sarang tawon yang dihantam batu. Sambil duduk di sudut kedai kopi kotor pinggiran pasar, gw bisa ngelihat sekumpulan ksatria berzirah perak lari ke sana kemari dengan muka panik. Koran pagi yang gw pegang penuh dengan berita utama yang bikin gw pengen meludah ke tanah: Satu Lagi Perwira Elit Faksi Gereja Dilaporkan Menghilang Misterius di Tengah Pesta Topeng Distrik Atas Semalam.

Mereka sibuk nyari dalang politik dan ketakutan setengah mati karena mengira ada faksi pemberontak yang lagi nyulik perwira mereka satu per satu. Padahal, orang yang bertanggung jawab bikin babi-babi itu lenyap tanpa jejak lagi santai ngunyah keju curian di depan mata mereka. Sisa daging perwira semalam udah bersih gw umpanin ke sistem Gluttony gw sampai gak bersisa sedikit pun. Kebersihan alibi adalah nomor satu.

Braaakkk!

Pintu kedai kopi kotor itu didobrak kasar. Tiga orang prajurit berzirah besi dengan lambang resmi Kerajaan — bukan lambang faksi Gereja — masuk dengan tatapan menyapu ruangan. Suasana kedai langsung senyap. Tangan kanan gw refleks turun ke bawah meja, jemari gw udah siap menyentuh gagang belati hitam di balik jubah naga hitam gw. Jantung gw berdetak konstan, tapi otak gw langsung berputar cepat.

Sialan, apa faksi Bangsawan Hitam berkhianat dan ngebocorin identitas gw setelah gw kelar beresin target semalam? Atau sisa anjing-anjing Gereja berhasil ngelacak gerak-gerik gw? Rasa trauma dikhianati dan dibuang sampai mati kelaparan di dunia lama mendadak berputar di kepala gw, bikin darah gw terasa dingin. Tekad gw buat bertahan hidup langsung naik ke ubun-ubun. Gw gak bakal pernah bisa percaya sama siapa pun di dunia bangsat ini. Kalau mereka mau nyawa gw, gw bakal pastiin gw seret mereka semua ke neraka duluan.

Carmelia yang lagi duduk di sebelah gw langsung siaga. Tangannya diam-diam masuk ke balik jubah biru tuanya, siap menarik sepasang pisau kecilnya kapan saja, sementara Lyra memasang posisi tubuh yang kaku, siap jadi tameng suara di belakang menggunakan biola pegasus putihnya. Gw gak tahu apakah fisik gw yang berada di angka 225 ini cukup buat ngebantai satu skuadron militer kalau mereka nekat ngepung tempat kotor ini, tapi gw udah siap buat opsi terburuk.

"Petualang bernama Yudha!" teriak si kapten pasukan dengan suara lantang.

Gw tetep diam, masang muka datar sedingin batu tanpa ngelepasin pegangan belati gw di bawah meja.

"Gw?Ada Urusan Apa Sialan?!Dasar Cecunguk Cecunguk Sialan Ga Tau Diri..Dateng Gaada Sopan Santun Gapake Akhlak,Apa Bedanya Lu pada Ama Anjing?!"

Si kapten berjalan mendekat, tapi bukannya mencabut pedang, dia malah menegakkan tubuhnya dan memberikan hormat militer secara formal di depan meja kotor gw.

"Mohon maaf atas kelancangan kami yang mengganggu waktu istirahat Anda. Baginda Raja meminta kehadiran Anda, beserta dua rekan Anda, segera di istana utama. Laporan mengenai misi Hutan Kematian dari mendiang kelompok Julian telah diverifikasi, dan Anda adalah satu-satunya penyintas yang mendampingi mereka sampai akhir."

Gw tertegun sekejap. Oalah, bangsat. Lencana si Julian yang gw taruh di Guild kemarin ternyata baru diproses dan langsung sampai ke telinga orang-orang istana hari ini. Mereka mengira gw adalah faksi petualang pendamping yang ikut berjuang mati-matian bareng party Julian di hutan sialan itu sebelum insiden gorong-gorong.

Tangan gw pelan-pelan lepas dari gagang belati. Gw menyeringai tipis di balik ketenangan muka gw. Baguslah, anjing-anjing penguasa ini ternyata lebih bego dari yang gw kira.

"Yaudahhh... Ayo Cabutt," kata gw sambil berdiri, memberi isyarat mata ke Lyra dan Carmelia buat nurunin tensi mereka.

Satu jam kemudian, di dalam aula istana yang megah dan dipenuhi pilar emas yang norak, gw harus menahan mual. Di atas takhta, si Raja tua duduk dengan muka penuh simpati buatan, dikelilingi para menteri yang sibuk berbisik-bisik. Biar akting gw sempurna, gw sengaja gak ngebersihin debu jalanan yang nempel di zirah kulit naga hitam gw. Gw bikin tampang gw kelihatan lesu, trauma, dan penuh beban batin, seolah-olah gw baru aja ngeliat seluruh rekan kerja gw mampus di hutan terkutuk.

Lyra maju satu langkah di depan gw, mengambil peran sebagai juru bicara sesuai instruksi gw dulu. Dengan suara lembut, tenang, dan sopannya, dia menceritakan dongeng fiktif yang udah gw susun rapi: bagaimana kelompok Julian tewas dengan "terhormat" demi melindungi kami, dan bagaimana kami berdarah-darah merangkak keluar dari Hutan Kematian demi membawa lencana itu kembali ke kota.meskipun nyatanya jadi limbah perut gw pun gapantas...cuihhh

Raja yang kemakan narasi kepahlawanan murahan itu langsung mengusap air mata palsunya. Demi menjaga nama baik militer dan meredam kepanikan publik karena kota lagi sering kehilangan perwira secara misterius, kerajaan butuh figur "pahlawan" baru buat dipamerkan ke rakyat agar instabilitas politiknya ketutup. Dan opsi itu jatuh ke tangan kelompok Abyssal Chord.

"Atas keberanian kalian menjadi saksi dan bertahan di medan terkutuk itu, Kerajaan Aethelgard resmi menganugerahi kalian gelar "Comrades of the Heroes Party", sebuah rumah besar di Sektor Elit, dan hak akses penuh ke seluruh dungeon kota," suara Raja menggema, disusul dua pelayan yang membawa nampan berisi sekotak penuh koin emas murni.

Gw menerima kotak emas itu dengan kepala tertunduk, masang tampang sedih yang dipaksakan.

"Terima kasih atas kemurahan hati Baginda yang agung."

Padahal di dalam hati, gw pengen ketawa sekencang-kencangnya. Bedebah-bedebah ini bener-bener bodoh. Mereka ngasih hak istimewa, legalitas, dan harta melimpah ke seekor harimau yang suatu saat nanti bakal merobek tenggorokan mereka sendiri dari dalam rumah.

Keluar dari gerbang istana, gw langsung membelokkan langkah kaki menuju pasar gelap di jalur belakang kota. Gw gak butuh zirah baru atau pedang baru. Perlengkapan yang gw beli di Bab 11 — dua pedang berat di pinggang, zirah kulit naga, biola pegasus putih Lyra, dan setelan biru Carmelia — udah lebih dari cukup. Duit emas dari raja bodoh ini murni gw investasikan buat logistik taktis sekali pakai yang bisa mendukung gaya bunuh senyap kami.

Gw borong beberapa botol racun cair korosif dosis tinggi buat dilumurin ke bilah pisau pendek gw, beberapa ramuan pemulih mana instan buat Lyra, dan bubuk penetral bau tambahan buat Carmelia.

"Tuan, kita mau langsung balik ke rumah baru?" tanya Lyra sambil menggendong kotak pelindung biola pegasusnya dengan telaten.

"Gak ada waktu buat leyeh-leyeh," jawab gw dingin sambil memasukkan botol racun ke kantong rahasia zirah gw. "Kita dapet akses dungeon gratisan atas nama hukum kerajaan. Kita manfaatin itu buat matengin pergerakan kalian berdua. Gw gak mau alat-alat gw karatan cuma karena dapet fasilitas mewah."

Sore harinya, kami udah berdiri di depan gerbang besi berat dungeon lantai satu di pinggiran kota. Bau tanah basah dan hawa busuk monster langsung menyengat hidung begitu gerbang dibuka oleh penjaga Guild yang sekarang langsung nunduk hormat begitu melihat tanda gelar dari istana di dada gw.

"Ingat aturan mainnya," gw ngomong tanpa balik badan, menatap lorong gua yang remang-remang di depan. Gw tarik dua pisau pendek gw dari balik jubah — di lorong sempit begini, pedang panjang yang berat cuma bakal mentok dinding dan bikin pergerakan gw lambat. Gw harus adaptasi pakai gaya fast-kill dengan atribut kelincahan 172 gw. "Kita di sini bukan buat jadi pahlawan seperti yang dibilang raja idiot itu. Kita di sini buat cari makan. Kalau lu gak bunuh, lu yang dimakan. Paham?!"

"PAHAM, TUAN!" sahut Lyra dan Carmelia serentak dengan nada lantang tanpa ragu sedikit pun.

Gw menyeringai sinis menembus kegelapan gua. Langkah pertama buat nelan tatanan kota ini baru aja dimulai dari tempat kotor ini.

1
We wok
sampai tamat yah/Frown/
Xian Nying: Udah Baca Emangnya Kenapa?
total 3 replies
Xian Nying
Singkat aja: CERITA INI GAK ADA OBATNYA ENAK BANGET. Karakter, alur, bahasanya, semuanya pas. Gak sabar liat Yudha makan kekuasaan, makan dunia, makan apa aja deh pokoknya. LANJUT BOS, GW DUKUNG TERUS! 🔥"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!