Eko Davka terjebak tuduhan memalukan, di tuduh mandul oleh Selvia, istri sahnya sendiri, yang membuat harga dirinya tercoreng. Untuk membuktikan semua omongan itu salah, dia punya satu jalan, memiliki keturunan.
Pilihannya jatuh pada Nayyara, gadis muda yang dia beli seharga 300 juta rupiah dari pemilik klub malam, tempat gadis itu bekerja. Davka mengajukan perjanjian, menikah secara kontrak, Nayyara akan memberinya keturunan, lalu semuanya selesai.
Namun Nayyara menolak diperlakukan sebagai mesin pembuat anak. dia ingin bebas—asal bisa mengembalikan uang yang telah dikeluarkan Davka. Tapi bagaimana? Uang sebanyak itu mustahil dia miliki. Terjepit ketakutan dan keterbatasan, Nayyara akhirnya menyerah dan menerima takdirnya, menjadi istri kedua pria dingin berkuasa itu.
Akankah pernikahan yang dimulai dari paksaan dan perjanjian hanya berakhir saat kontrak selesai? Atau benih-benih cinta justru tumbuh di antara ikatan Davka dan Nayyara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. kewajiban pertama sebagai istri
Area bukan untuk anak kecil!
Setelah bertanya pada bik Sumi dimana kamar suaminya itu, Nayyara naik ke lantai dua membawa nampan berisi dua gelas susu hangat, ini kali kedua dia bisa naik kesini karena memang bik Sumi berpesan jika lantai dua ini tempat privasi majikannya, dengan perlahan dia mengetuk pintu kamar di koridor paling ujung yang bersebelahan langsung dengan balkon yang luas dan kolam renang mini.
"Tuan muda Davka!" Tak ada jawaban dan Nayyara langsung masuk karena yakin lelaki itu sudah tahu dia akan kesini. Kamar ini mewah dan luas dengan jendela besar, dua kali lebih luas dari kamar yang dia tempati di lantai bawah, ada ranjang besar king size berseprei putih di tengah ruangan, sofa mewah warna putih dan TV besar di dinding mirip layar proyektor, lengkap dengan meja kerja dan kursi di sudut ruangan kamar, di luar kamar ada balkon besar lengkap dengan kolam renang pribadi milik tuan muda itu.
"Ya ampun kamar ini beneran besar, sungguh mewah banget, jadi orang kaya seperti ini ya kamarnya, hampir seluas lapangan basket" Nayyara menatap kagum perabotan mewah di kamar ini, dia meletakan nampan di meja dekat sofa, Nayyara menoleh ketika mendengar langkah kaki yang mendekatinya, mulutnya menganga karena melihat pemandangan di depannya.
"Tuan muda!, astaga!!" Nayyara hampir menjerit dengan penampilan lelaki itu yang terlihat baru selesai mandi dan hanya pakai bathrobe putih saja, rambut hitamnya yang masih basah dan berantakan, membuat mulut Nayyara terbuka lebar.
"Ya tuhan, dia jutek dan galak, tapi kenapa bisa ganteng sekali? ya ampun kenapa bisa putih banget itu lengan?" Gadis itu mengigit bibirnya serba salah, sungguh dia jadi insecure dan gugup, namun Davka terlihat santai mendekat padanya lalu menatap bibir yang di gigit itu dengan gelengan kepala, ajaibnya bibir merah yang di gigit itu baru dia tahu begitu menggoda.
Davka duduk di sebelah gadis itu setelah berganti dengan kaos santai dan celana training hitam, dia mengambil kertas dari laci di meja. "Sekarang kita buat perjanjian dulu sebelum kamu melakukan tugasmu"
Nayyara hanya diam, pernikahan macam apa yang sudah dia lakukan tadi pagi, rasanya tak masuk akal jika seperti ini disebut pernikahan, Nayyara sedih mengingat dia tak ubahnya seperti perempuan yang rela menjual tubuhnya demi uang.
"Perjanjian apa tuan muda?"
"Panggil nama ku aja gak usah pakai tuan muda"
"Maaf, tetap saya panggil tuan muda saja, saya lebih nyaman begitu" Jawab Nayyara karena dia merasa pernikahan kontraknya ini seperti sebuah pekerjaan bukan status.
"Hah terserah kamu saja deh....." Davka menyodorkan kertas dua lembar berisi tulisan tangannya, bagus sekali dan rapi tulisannya, Nayyara tersenyum kagum, namun ketika membaca isinya dia kaget dan kesal.
"Maksudnya apa ini?" Tanya gadis itu.
"Baca saja dulu sampai selesai, baru boleh tanya!" Perintah lelaki itu jutek lagi, lalu duduk di depan Nayyara dan memalingkan wajahnya.
"Pihak ke 1 adalah aku dan kamu pihak ke 2, di situ jelas tertulis apa saja yang menjadi perjanjian kita" Davka menjelaskan.
"Setelah tugasmu selesai kamu harus langsung keluar dari sini, aku tak mau ada alasan apapun kamu tidur di kamarku, apalagi tidur bersamaku!" Tegas Davka, meskipun tadi mereka sudah menikah siri, tapi dia tak sudi tidur bersama gadis asing di kamarnya.
"Oke, baiklah tuan muda"
"Kamu sudah paham dengan semua isi perjanjian itu?"
"Iya....saya sudah paham"
"Bagus! Tanda tangan cepat! Aku tak punya banyak waktu, malam nanti aku ada urusan di luar!" Nayyara meneken kertas itu tanpa ragu, dia setuju saja, siapa juga yang sudi melihat tubuh lelaki itu tanpa apapun, apalagi balas menciumnya atau membelai tubuh lelaki jutek itu, malas sekali dia melakukan itu.
'Tak boleh balas menyentuh tubuh suami, tidak boleh membantah keinginan suami, tidak boleh keluar dari rumah tanpa ijin dari suami, siap kapanpun melakukan tugas sebagai istri dan di manapun, hanya bisa libur saat datang bulan saja, dan tak boleh tidur di kamar suami setelah tugas sebagai istri selesai.......'
Semua pasal dalam perjanjian itu Nayyara setuju saja, tanpa protes.
"Sekarang ganti bajumu dengan pakaian ini!" Davka menyodorkan paper bag coklat, dia duduk di sofa ketika Nayyara bermaksud akan ke toilet.
"Ganti bajumu di sini, aku tak suka kamar mandiku kamu tempati cuma buat ganti baju!" Mulut gadis itu melongo lalu mengangguk karena malas membantah, dia mengambil pakaian dalam paper bag itu, matanya melotot melihat sebuah pakaian tipis warna hitam yang kurang bahan dengan tali spaghetti, lengkap dengan dalamannya.
"Pakai baju itu cepat!" Gadis itu mengangguk dan mulai melepas kancing gaun terusan yang dia pakai dan melemparnya ke lantai, dia juga melepas dalaman nya hingga tubuhnya polos di depan Davka yang memalingkan wajah entah karena apa, dia mulai memakai gaun tipis hitam itu siap melakukan tugasnya sebagai istri.
Karena tak pernah berpenampilan seksi di depan orang asing Nayyara malah terlihat malu, dia menutup kedua gundukannya dengan lengan, ketika memakai pakaian kurang kain itu, dengan kaku gadis itu berdiri di depan Davka yang mulai menatap tubuhnya, lelaki itu berdiri dari sofa berjalan mendekati Nayyara yang terpaku.
"Aku tahu kamu belum punya pengalaman apapun soal ranjang, jadi menurut saja jangan melawan, ingat kamu itu istriku, milik ku" Davka mencium bibir merah itu sekilas, harusnya sesuai perjanjian tadi gadis itu tak boleh menolak apapun yang dia lakukan pada tubuhnya, namun wajah Nayyara malah merah padam karena gugup.
"Ini minumlah dulu....." Nayyara meneguk susu yang tadi dia letakkan dimeja, lelaki itu juga menghabiskan minuman itu, ekor matanya terus melirik.
"Apa kamu tak pernah di cium?" Nayyara menggeleng dengan malu, salah siapa juga Davka menikahi gadis yang masih bau kencur begini, dicium bibirnya saja sudah kalang kabut.
Dengan lekat Davka menatap gadis itu setelah meletakkan gelasnya di meja, dia mulai menilai tubuh itu, tak buruk bahkan cukup seksi untuk ukuran gadis muda yang kedua dadanya masih tumbuh, tubuh Nayyara juga bersih mulus seperti boneka porselen, padahal Davka yakin gadis itu tak pernah pakai body care mahal seperti yang biasa Selvia pakai selama ini.
Nayyara cukup pandai merawat tubuh, hasrat lelaki itu bangkit melihat reaksi malu-malu Nayyara yang terus salah tingkah dan menutup kedua aset berharganya dengan gugup, ketika Davka melepas gaunnya dan membuangnya asal.
"Jangan melawan, kamu sekarang milikku? Jalankan tugas mu sebagai istri dengan baik....." Bisik lelaki itu dengan bernafsu membelai tubuh Nayyara yang sudah polos tanpa apapun, dan melihat istrinya sudah siap.
"Iya~....tuan muda"
"Nikmati saja dengan santai, jangan tegang" Nayyara memejam berusaha pasrah ketika suaminya membaringkan tubuhnya yang sudah polos tanpa apapun di atas ranjang kamar ini, matanya memejam rapat dan pasrah dengan apapun yang akan lelaki itu lakukan agar tugasnya di sini cepat selesai.
"Ahh....." Nayyara terkejut karena lumatan bibir lelaki itu yang kasar, ciumannya yang kedua setelah tadi, Nayyara sampai merinding karena ini pertama kali dia di sentuh lawan jenis, dia memejamkan matanya rapat dan diam kaku, mirip patung hidup yang hanya bisa mendesah ketika bibir Davka beralih menikmati kedua gundukannya, dan meremas dengan keras bergantian, lalu mengigit puncaknya, wajah Nayyara meringis menahan sakit dan perih, dia Ingin berteriak menolak, tapi takut suaminya akan marah.