Di balik megahnya dinding Kerajaan Sanjaya, sebuah takdir kuno mulai terbangun. Pangeran Ares, sang pewaris takhta yang gagah namun menyimpan misteri di balik rajah di lengannya, terikat janji suci sejak balita untuk bersanding dengan Princess Ciara. Perjodohan ini bukan sekadar urusan politik, melainkan segel yang menjaga keseimbangan dua kerajaan besar.
Namun, bayang-bayang masa lalu mulai mengusik saat Naomi, seorang anak pelayan istana yang sederhana, menyimpan rasa yang tak seharusnya pada sang Pangeran. Kehadiran Naomi bukan sekadar bumbu cinta segitiga biasa; ada rahasia gelap dalam darahnya yang perlahan mulai memanggil kekuatan rune terlarang.
Tiga nasib terjalin dalam bayang-bayang masa lalu. Akankah Ares memilih kewajiban demi kedamaian kerajaan bersama Ciara?
Ataukah perasaan tulus Naomi akan menjadi kunci untuk menghancurkan kutukan yang selama ini menghantui Sanjaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jaring-Jaring yang Terkembang
Uap belerang yang hangat perlahan menyelimuti ruang obat, membawa serta sisa-sisa hawa dingin mematikan yang sempat mengurung tubuh Naomi. Di atas ranjang pualam, napas gadis itu kini terdengar lebih teratur, meski wajahnya masih tampak begitu lelah. Garis-garis hitam di lengan kirinya tidak lagi terasa sedingin es; ritual penyembuhan yang dilakukan oleh Heo Jun dan Angel telah berhasil memaksa energi rune itu untuk kembali tenang dan tertidur di dalam nadinya.
Heo Jun meletakkan mangkuk perunggu terakhir yang telah kosong ke atas meja kayu. Ia menyeka pelipisnya yang basah oleh keringat, lalu menatap Angel yang kini perlahan-lahan mulai kehilangan wujud manusianya seiring dengan fajar yang menyingsing di luar batas oasis.
"Dia sudah melewati masa kritisnya," ucap Heo Jun dengan suara rendah, memastikan agar tidak membangunkan Naomi. "Tapi dia tidak boleh meninggalkan tempat ini sampai sirkulasi darahnya benar-benar menyatu dengan atmosfer Tang Yang."
Angel, yang tubuhnya kini mulai diselimuti pendaran cahaya putih sebelum kembali menjadi seekor angsa anggun, mengangguk lemah. "Aku akan menjaganya dari luar jendela, Tuan Heo. Tapi kita harus bersiap. Jiwa yang membawa rune sebesar itu tidak akan bisa bersembunyi selamanya dari radar para pemburu."
Dengan satu kepakan sayap yang senyap, Angel melompat ke ambang jendela, kembali menjadi seekor angsa putih cantik dengan mata biru jernih yang menatap tajam ke arah hutan berkabut di luar. Heo Jun menghela napas panjang, melangkah keluar dari kamar itu dan menutup pintunya dengan sangat perlahan, meninggalkan sang putri pelarian dalam tidur lelapnya yang damai untuk pertama kali.
Sementara itu, jauh di dalam kegelapan hutan yang menjembatani wilayah tak bertuan, nasib malang sedang menimpa Martha dan Ingdrit. Setelah kehilangan jejak kuda Heo Jun yang membawa pergi Naomi, kedua orang tua angkat itu terlunta-lunta di tengah semak belukar yang pekat. Langkah kaki mereka yang lelah mendadak terhenti ketika belasan bayangan berbaju zirah perak muncul dari balik pepohonan purba, mengepung mereka dengan pedang dan tombak yang terhunus.
"Jangan bergerak! Kalian berada di wilayah hukum Kerajaan Warden!" gertak salah seorang komandan pasukan dengan suara bariton yang menggelegar.
Tanpa sempat membela diri, Martha dan Ingdrit yang sudah tidak memiliki tenaga lagi langsung diringkus. Tangan mereka diikat dengan tali tambang kasar, lalu diseret secara paksa melintasi jalur rahasia menuju jantung istana Kerajaan Warden.
Malam itu juga, mereka berdua dihadapkan langsung di aula pengadilan Warden. Di atas takhta yang terbuat dari batuan kristal es, duduklah Raja Warden dengan tatapan mata yang begitu menusuk, didampingi oleh beberapa penasihat perang yang tampak tegang.
"Kalian adalah pelayan dari Sanjaya," ujar Raja Warden, suaranya bergema dingin di dalam aula yang sunyi. "Jelaskan padaku, sedang apa dua orang pelayan domestik Sanjaya berkeliaran di sisi luar wilayah kerajaanku pada tengah malam seperti ini? Apakah Sanjaya sedang mengirim mata-mata rendahan untuk mengintai perbatasanku?"
Ingdrit mencoba berdiri tegak meski bahunya ditekan oleh penjaga, namun Martha yang sudah tidak kuat menahan beban mental dan fisik langsung bersujud di atas lantai marmer yang dingin. Rasa takut akan kehilangan Naomi dan ketakutan akan eksekusi membuat pertahanannya runtuh sepenuhnya.
"Ampun, Yang Mulia Ratu... Yang Mulia Raja..." ratap Martha dengan suara gemetar, air matanya membasahi lantai. "Kami bukan mata-mata. Kami... kami diperintahkan oleh Ratu Ara untuk membawa pergi Naomi dari Kerajaan Sanjaya. Kami diusir!"
Raja Warden menyipitkan matanya, condong ke depan. "Diusir? Gadis pelayan yang memiliki rune itu? Ke mana Ara menyuruh kalian membawanya?"
"Ke perbatasan timur, menuju Tang Yang, Yang Mulia," sahut Martha, napasnya tersengal-sengal. "Tetapi... tetapi di tengah perjalanan, saat tubuh Naomi membeku karena hawa dingin perbatasan, datang seorang pria muda yang mengaku sebagai tabib. Kami tidak mengenalnya... dia merenggut Naomi dari kereta kami dan membawanya kabur ke arah timur di atas kudanya! Kami kehilangan anak kami, Yang Mulia! Naomi diculik!"
Mendengar pengakuan jujur dari Martha, Raja Warden saling bertukar pandang dengan para penasihatnya. Senyum licik yang samar perlahan terukir di wajah sang Raja. Informasi ini adalah kartu as yang sangat berharga. Sanjaya baru saja membuang senjata terbesar mereka, dan kini senjata itu berada di tangan pihak ketiga di wilayah timur.
Di saat yang sama, di dalam tembok tinggi Kerajaan Sanjaya, suasana tidak kalah mencekam. Pangeran Ares berdiri di depan gerbang utama istana dengan kuda jantannya yang sudah siap dipacu. Namun, jalannya dihalangi oleh dua baris pasukan elit jubah emas yang dipimpin langsung oleh Raja Sanjaya dan Ratu Ara.
"Minggir!" bentak Ares, matanya merah karena amarah dan kecemasan yang membakar dadanya. "Kalian sengaja membiarkannya mati di luar sana! Biarkan aku pergi menjemputnya!"
"Kau tidak akan pergi ke mana pun, Ares!" suara Raja Sanjaya menggelegar, penuh dengan otoritas mutlak yang tidak bisa dibantah. "Kau adalah Putra Mahkota Sanjaya! Tempatmu adalah di sini, mempersiapkan pernikahanmu dengan Princess Ciara untuk menyelamatkan aliansi kita, bukan mengejar anak haram dari Tang Yang itu!"
Ratu Ara melangkah maju, menatap putranya dengan pandangan dingin tanpa cela. "Prajurit, kunci Pangeran Ares di dalam kamar menara barat. Tempatkan tiga lapis penjagaan di depan pintunya. Jika Pangeran sampai berhasil meloloskan diri atau menapakkan kakinya di luar gerbang istana, kepala kalian semua yang akan menjadi bayarannya!"
Ares berteriak frustrasi saat beberapa pengawal berzirah berat memegangi lengannya, menariknya mundur menjauh dari kudanya. Pedangnya disita, dan ia dipaksa kembali ke dalam sangkar emas istana yang kini terasa seperti penjara paling jahanam. Dari balik jendela menara barat yang tinggi, Ares hanya bisa menatap ke arah langit timur yang gelap, berdoa dalam hati agar saudarinya, Naomi, entah bagaimana caranya, bisa bertahan hidup di luar sana tanpa dirinya.
🦢🦢🦢
Perlahan, rasa hangat yang asing mulai menjalar di ujung-jemari Naomi, mengusir rasa beku yang sempat mencengkeram jiwanya hingga ke dasar terdalam. Kelopak matanya yang terasa seberat bongkahan batu perlahan bergerak, membuka sedikit celah untuk menangkap seberkas cahaya temaram yang menembus uap belerang. Aroma harum dari rebusan akar-akaran dan daun kering perlahan menggantikan bau anyir logam yang sempat menghantuinya di perbatasan.
Naomi mengerang pelan, memegangi kepalanya yang terasa pening saat ia mencoba bangkit dan duduk di atas ranjang pualam. Ingatannya berputar liar...kereta kuda yang berguncang, embun es yang membekukan kulitnya, jeritan ibunya, dan sesosok pria misterius yang merenggutnya dari pelukan sang ayah.
"Ibu...? Ayah...?" panggil Naomi, suaranya serak dan nyaris tak keluar dari tenggorokan.
Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan asing itu. Tidak ada Martha yang biasa mendekapnya dengan air mata, tidak ada Ingdrit yang berjaga dengan raut wajah cemas. Ruangan itu kosong, hanya menyisakan beberapa mangkuk perunggu di atas meja kayu dan kepulan asap hangat yang keluar dari celah lantai. Ketakutan seketika menyergap dada Naomi; rasa sepi yang mencekam membuatnya merasa terisolasi dari dunia yang ia kenal.
Dengan memaksakan seluruh sisa tenaganya, Naomi menurunkan kedua kakinya ke lantai kayu yang hangat. Lengan kirinya kini tidak lagi terasa kaku, meskipun rajah hitam berbentuk rune purba itu tercetak semakin jelas dan tegas di atas kulitnya. Ia melangkah goyah, menyeret kakinya mendekati pintu kayu yang sedikit terbuka, lalu berjalan keluar menuju koridor yang menghadap langsung ke arah kolam air panas alami di kaki bukit.
Begitu ia melangkah ke pelataran paviliun, embusan angin malam yang bercampur uap hangat menyapu wajahnya. Di atas sebuah batu besar di tepi kolam belerang, duduklah seekor angsa putih berukuran besar. Bulu-bulunya berkilau indah di bawah siraman cahaya bulan, memancarkan aura keanggunan yang tidak biasa bagi seekor unggas.
Naomi tertegun melihat makhluk itu. Alih-alih merasa takut, ia justru merasakan sebuah tarikan emosional yang ganjil, seolah-olah angsa itu menyimpan sepotong jiwa manusia di dalam tubuhnya yang ringkih. Dengan langkah pelan agar tidak mengejutkannya, Naomi berjalan mendekat, lalu duduk di atas tanah berbatu tepat di samping batu tempat angsa itu bertengger.
"Mengapa... mengapa kau ada di sini?" bisik Naomi lirih, menatap sepasang mata biru jernih milik sang angsa yang tampak menatapnya balik dengan penuh kecerdasan dan rasa iba. "Dan di mana aku sekarang? Di mana orang tuaku?"
Angsa putih itu mengembangkan sayapnya sedikit, seolah hendak memberikan ketenangan pada gadis di sampingnya. Keajaiban kecil yang halus terjadi di udara; tanpa ada suara yang keluar dari paruhnya, sebuah gaung suara perempuan yang merdu dan penuh kesedihan bergema langsung di dalam kepala Naomi, layaknya bisikan angin malam yang tulus.
"Kau berada di tempat yang aman, Putri dari Tang Yang," bisik suara itu, membuat Naomi tersentak kecil. "Jangan takut padaku. Namaku Angel. Aku adalah penjaga tempat ini, sama sepertimu yang kini sedang mencari perlindungan dari dinginnya dunia luar."
Naomi mencengkeram ujung Hanfu pelayannya yang sudah koyak, matanya berkaca-kaca. "Bagaimana aku bisa sampai di sini? Pria di atas kuda itu..."
"Kau sedang diobati oleh Tabib Heo Jun," jawab Angel lagi melalui gema jiwanya, sayapnya yang seputih salju bergerak lembut seakan hendak mengusap bahu Naomi yang bergetar. "Dialah yang membawamu berlari menembus malam saat rune di lenganmu mencoba membekukan jantungmu sendiri. Jika bukan karena ramuan perak dan mata air belerang milik Tuan Heo, jiwamu mungkin sudah menguap sebelum fajar tiba di perbatasan ini."
Naomi menunduk, menatap rune hitam di lengannya yang kini tampak tenang. Di tempat asing ini, di samping seekor angsa misterius yang memancarkan penderitaan yang sama dengannya, Naomi menyadari bahwa pelariannya dari Sanjaya bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari sebuah takdir baru yang jauh lebih besar dan berbahaya yang sedang menantinya di tanah Tang Yang.