NovelToon NovelToon
Diusir Suami Karena Hamil Anak Perempuan

Diusir Suami Karena Hamil Anak Perempuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Mengubah Takdir
Popularitas:28.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melisa ekprisa

Sekuel Talak di Ujung Ramadhan


Diusir saat mengandung anak perempuan, Sarah kehilangan rumah, harga diri, dan cinta yang pernah ia percaya. Dunia menamparnya tanpa ampun—hinaan, pengkhianatan, dan kesepian jadi makanan sehari-hari.

Namun saat tangisan putrinya lahir memecah sunyi, Sarah memilih bangkit. Bukan sekadar bertahan—ia ingin membalas luka dengan keberhasilan.

Ketika masa lalunya tiba-tiba kembali, membawa rahasia yang bisa menghancurkan segalanya… Sarah dihadapkan pada satu pilihan: tetap diam, atau melawan dan merebut keadilan yang selama ini direnggut darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa ekprisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 17

Di sudut kota yang lain, matahari pagi baru saja memecah kabut, namun kehangatannya sama sekali tak mampu mencairkan dinginnya niat di hati seorang wanita paruh baya. Langkah kakinya yang tergesa membelah pelataran parkir sebuah bank swasta, dengan sepasang mata yang berpendar penuh ambisi bercampur kepanikan yang disembunyikan rapat-rapat.

Wanita itu adalah Bu Anisa. Pagi ini, ia datang bukan untuk menabung atau sekadar melakukan transaksi biasa, melainkan dengan satu tujuan mutlak yang sudah ia rencanakan sejak malam—mencairkan seluruh isi rekening milik menantunya sendiri, Sarah.

Sambil merapatkan tas jinjingnya ke dada, seolah takut berkas-berkas berharga di dalamnya lenyap, Bu Anisa mendorong pintu kaca bank dengan napas yang memburu. Di dalam kepalanya, skenario demi skenario sudah tersusun rapi. Ia tidak peduli bagaimana kondisi Sarah yang saat ini tengah terkulai lemah di rumah sakit, ataupun janin di dalam kandungan menantunya itu. Bagi Bu Anisa, lembaran uang di dalam rekening Sarah adalah penyelamat yang harus ia amankan sebelum segalanya terlambat dan berubah menjadi rumit.

Bu Anisa melangkah mendekati mesin antrean dengan jemari yang sedikit gemetar, lalu menekan tombol untuk layanan teller. Selembar kertas kecil berkode T-014 kini berada di genggamannya, diremasnya ujung kertas itu untuk menyalurkan rasa gugup yang mulai merayap.

Ia tidak membawa kartu ATM karena ia tahu batas maksimal penarikan harian di mesin tidak akan cukup untuk memenuhi ambisinya. Di dalam tas jinjingnya, Bu Anisa telah menyiapkan senjata utama: buku tabungan atas nama Sarah, kartu identitas menantunya yang ia ambil diam-diam dari dompet Sarah saat di rumah sakit, serta selembar slip penarikan yang tanda tangannya sudah ia palsukan dengan sangat hati-hati semalam.

"Nomor antrean T-014, silakan menuju teller tiga," suara merdu mesin pemanggil bergema, membuat jantung Bu Anisa mencelos.

Dengan memasang wajah setenang mungkin, Bu Anisa berjalan mendekati meja konter teller. Ia melemparkan senyum ramah yang dipaksakan kepada petugas bank muda di balik kaca pembatas.

"Selamat pagi, Ibu. Ada yang bisa saya bantu?" sapa teller tersebut dengan sopan.

"Pagi, Mbak. Saya mau menarik tunai seluruh saldo dari rekening menantu saya," ujar Bu Anisa tanpa ragu, sambil menyodorkan buku tabungan, KTP atas nama Sarah, dan slip penarikan yang sudah terisi nominal sangat besar. "Menantu saya sedang sakit parah di rumah sakit dan butuh biaya darurat sekarang juga, jadi saya yang diminta mengurusnya."

Petugas teller menerima berkas tersebut, lalu jemarinya mulai menari di atas papan ketik komputer untuk memeriksa data sistem. Bu Anisa menahan napas, matanya tak lepas mengawasi setiap perubahan ekspresi di wajah sang teller, berharap siasatnya berjalan mulus tanpa hambatan.

Petugas teller terdiam beberapa saat, matanya bergantian menatap layar komputer dan slip penarikan di tangannya. Dahinya sedikit berkerut, membuat jakun Bu Anisa naik turun karena menelan ludah dengan susah payah. Rasa was-was mulai membakar dada wanita paruh baya itu.

"Mohon maaf sebelumnya, Ibu Anisa," ucap teller itu dengan nada yang tetap sopan namun terdengar sangat formal. "Karena nominal penarikan ini sangat besar dan menguras seluruh saldo, sesuai prosedur bank kami, penarikan di atas batas tertentu yang diwakilkan harus menyertakan Surat Kuasa resmi bermeterai dari pemilik rekening. Selain itu, tanda tangan di slip ini terlihat sedikit berbeda dengan spesimen tanda tangan asli Ibu Sarah di sistem kami."

Kalimat itu bagai petir di siang bolong bagi Bu Anisa. Wajahnya seketika menegang, namun ia dengan cepat berusaha menguasai keadaan. Ia memajukan tubuhnya, menatap petugas bank itu dengan kilat mata yang dibuat seiba mungkin.

"Aduh, Mbak... keadaannya betul-betul darurat!" potong Bu Anisa dengan suara yang sengaja agak dikeraskan agar memancing simpati. "Menantu saya itu sekarang sedang kritis di ruang ICU! Jangankan bikin surat kuasa, buat pegang pulpen saja dia sudah tidak punya tenaga. Apa pihak bank tidak punya rasa kemanusiaan? Ini uang untuk menyelamatkan nyawa, Mbak!"

Beberapa nasabah di antrean sebelah mulai menoleh ke arah Bu Anisa. Petugas teller tampak serba salah, namun ia tetap menggelengkan kepala dengan tegas. "Kami sangat memahami kondisi tersebut, Ibu. Namun, demi keamanan dana nasabah, sistem kami mengunci transaksi ini secara otomatis. Sebagai alternatif, kami harus melakukan panggilan video atau konfirmasi suara langsung ke nomor telepon Ibu Sarah yang terdaftar untuk memverifikasi penarikan ini sekarang juga."

Keringat dingin seketika bercucuran di tengkuk Bu Anisa saat kata "konfirmasi telepon" meluncur dari bibir teller. Detik itu juga, kepanikan total mulai merayap di dadanya. Skema cerdik yang ia susun semalam mendadak buntu menghadapi tembok tebal prosedur perbankan.

Otak Bu Anisa berputar cepat, mengingat kembali tindakan nekatnya kemarin. Ia telah membuang ponsel milik Sarah ke tempat sampah umum di pinggir jalan untuk menghilangkan jejak, memastikan tidak ada satu pun orang yang bisa melacak tindakannya. Bahkan, setelah meninggalkan rumah sakit dengan tergesa-diam, ia sendiri sama sekali tidak tahu bagaimana kondisi terkini atau di mana keberadaan menantunya itu sekarang. Sarah bisa saja dipindahkan ke ruang rawat lain, atau bahkan kondisinya memburuk, Bu Anisa tidak peduli. Ponsel itu sudah musnah, dan konfirmasi telepon dari bank adalah hal terakhir yang ia harapkan terjadi.

"A-aduh, Mbak... ponsel menantu saya itu hilang saat dia dilarikan ke rumah sakit!" dusta Bu Anisa dengan suara yang dibuat bergetar, mencoba menutupi kepanikannya yang kian memuncak. "Makanya kami pihak keluarga bingung setengah mati. Nomornya sudah tidak aktif lagi sekarang!"

Petugas teller menatap Bu Anisa dengan sorot mata yang mulai berubah waspada. Pengalaman bertahun-tahun menghadapi nasabah membuat insting sang petugas menangkap gelagat tidak beres dari wanita paruh baya di hadapannya. Tangan teller itu diam-diam bergerak di bawah meja, menekan tombol interkom untuk memanggil petugas keamanan dan manajer operasional bank.

"Jika nomor yang terdaftar tidak aktif, kami tetap tidak bisa mencairkan dananya, Ibu," jawab teller itu dengan nada yang kini jauh lebih dingin dan tegas. "Prosedur keamanan kami sangat ketat untuk nominal sebesar ini. Mohon tunggu sebentar, saya perlu mengonsultasikan hal ini dengan kepala cabang kami."

Mendengar itu, bumi seolah runtuh di bawah kaki Bu Anisa. Di saat ia terjebak di meja teller, di tempat lain ponsel Leo—anak kandungnya—justru terus bergetar hebat di dalam saku celana akibat panggilan masuk dari nomor tidak dikenal. Panggilan yang berasal dari kantor pusat bank yang mendeteksi adanya aktivitas penarikan mencurigakan pada rekening bersama milik Sarah dan Leo.

...******...

Sementara itu, di dimensi yang sangat berbeda, atmosfer di dalam ruang kerja Leo terasa begitu mencekik. Jauh dari aroma antiseptik rumah sakit tempat istrinya berjuang, ataupun dinginnya lantai bank tempat ibunya menipu, Leo tengah dikepung oleh badai kecemasan yang tidak kalah hebat. Di atas meja kerjanya, tumpukan berkas laporan kuartal akhir tampak berantakan, mencerminkan isi kepala sang manajer yang sedang carut-marut.

Leo memijat pangkal hidungnya yang berdenyut kencang. Urusan proyek pengerjaan tender utama perusahaan saat ini benar-benar macet total akibat kesalahan kalkulasi tim lapangan. Masalah itu belum selesai, namun fokusnya sudah terpecah oleh ancaman yang nyata di depan mata: Randi.

Pria muda yang baru bergabung hampir tiga tahun lamanya kini menjadi momok mengerikan bagi kelangsungan karier Leo. Randi memiliki segala hal yang mulai memudar dari diri Leo; ambisi yang menggebu, kecerdasan taktis yang segar, dan koneksi luas dengan para petinggi korporat. Setiap gerak-gerik Randi di koridor kantor seolah-olah menjadi sinyal tegas bahwa posisi nyaman yang selama ini Leo duduki sedang berada di ujung tanduk. Jika proyek minggu ini gagal total, Leo tahu betul bahwa jajaran direksi tidak akan ragu untuk mendepaknya dan menyerahkan kursi kepemimpinan kepada Randi.

Tekanan di kantor yang begitu besar membuat Leo sepenuhnya menutup mata dari luar. Jangankan memikirkan kondisi kehamilan Sarah yang tengah kritis, memeriksa ponselnya yang bergetar di atas meja saja tidak sempat ia lakukan. Fokusnya kini murni tersita untuk mempertahankan harga diri dan posisinya di perusahaan.

Dengan rahang mengeras dan emosi yang sudah berada di ubun-ubun, Leo bangkit dari kursinya. Ia menyambar map dokumen penting di atas meja, lalu melangkah lebar keluar dari ruangannya. Tujuannya hanya satu: ruang kerja Randi yang berada di ujung koridor lantai ini.

Tanpa mengetuk pintu, Leo mendorong kasar pintu kaca tersebut hingga membentur dinding.

Randi, yang saat itu tengah duduk santai sambil menyesap kopi hitamnya di balik meja kerja yang rapi, sama sekali tidak terkejut. Pria muda itu hanya menaikkan sebelah alisnya, lalu meletakkan cangkirnya dengan gerakan yang teramat tenang—sebuah ketenangan yang justru semakin membakar amarah Leo.

"Maksud kamu apa ikut campur dalam presentasi klien kemarin, Randi?!" Leo langsung melemparkan map dokumen ke atas meja kerja Randi dengan suara menggelegar. "Itu proyek saya! Vendor lapangan itu urusan saya! Kamu masih bau kencur jangan coba-coba memotong jalur kerja saya kalau masih mau punya karier di sini!"

Randi tetap mempertahankan posisinya tanpa membalas kekerasan fisik. Ia mengangkat kedua tangannya terbuka, sebuah gestur tenang yang menunjukkan rasa hormatnya kepada sang senior.

"Pak Leo, tolong lepaskan. Saya masih sangat menghormati Anda sebagai senior dan mentor saya di perusahaan ini," ucap Randi dengan nada rendah dan santai. "Saya tidak ada niat untuk merusak reputasi yang sudah Anda bangun."

Sayangnya, ketulusan dan sikap santun Randi justru ditangkap berbeda oleh Leo. Di mata Leo yang sudah diselimuti rasa tak aman, ucapan Randi tidak lebih dari sekadar kepura-puraan yang dirancang untuk membuatnya terlihat makin kekanak-kanakan dan tidak profesional di depan karyawan lain. Leo merasa harga dirinya kian terinjak karena justru sang junior yang kini bersikap lebih dewasa daripadanya.

"Jangan sok mengajari saya, Randi!" desis Leo dengan rahang mengeras, perlahan melepaskan cengkeramannya namun tetap menatap Randi dengan pandangan penuh permusuhan.

Leo mundur satu langkah, merapikan jasnya dengan kasar sembari menahan gejolak kecemburuan dan rasa tersaingi yang makin membakar dadanya. Bagi Leo, eksistensi Randi di kantor ini adalah ancaman nyata yang harus segera ia singkirkan, tidak peduli seberapa sopan pria muda itu bersikap kepadanya. Sebelum konfrontasi batin itu berlanjut, ponsel di saku celananya kembali bergetar hebat, memutus ketegangan di antara mereka berdua.

1
Rhica_Yubie
papa sama mama gema buatkan gema adik biar lebih seru🤭
Miu.Nuha
hidupny pk dokter ternyata penuh lika-liku 🤧
Yuliana Purnomo
hayooo gercep dr Gema,, udah ada sinyal dr Sarah 💪
Myz Pena
apakah Hana lelah dengan hubungan mereka ??🤧
Myz Pena
apakah dokter gema tidak memiliki kelemahan ?? 🤭
Myz Pena
luar biasa ya dokter kandungan 😍
Dinarkasih1205
kasihan karakter gema di buat kasar
mama Al: keburu panas saat lihat kebersamaan Ibra dan Sarah
total 1 replies
ginevra
kok ada ya ibubyabg suka ngehasut anaknya
ginevra
terlihat jelas kalau Tuhan akan mencabut rizkinya kalau kamu dzalim pada istri yang sholehah
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
inilah alasan kenapa harus menikahi orang yang mencintai kita bukan kita mencintai dia. tapi lebih bagus saling mencintai dan juga kedua pihak keluarga merestui yah yang paling penting orang tua sih🤭 sok menasehati padahal pacar aja gak punya say😆😆😆
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
seharusnya dulu Sarah lebih pentingkan pendidikan daripada pernikahan /Bye-Bye/rugi kan sekarang
mama Al: makanya di paksa nikah sama Leo
total 3 replies
Aii Flow🌷
Fitnah ihhh, dia yang jahat Sarah yang dipojokin
Teteh Lia
mau bilang "sabar, Gema." tapi gw juga ikut esmosi.
Teteh Lia
jadi pengen makan martabak. masalah na harus nunggu malem. baru nongol kang martabak na
Apriyanti
lanjut thor 🙏
mama Al: lanjut ke bab selanjutnya
total 1 replies
Miu.Nuha
apa ibu berniat mencelakai pemuda itu 🙄
dosa bu dosaaa...
Miu.Nuha
gampang bngt 😭
bahkan uang ny Sarah bakal ditilep sama ibu matre ini jangan2...
Myz Pena
agak curiga dengan suaminya ni.. jangan sampai dia selengki /CoolGuy/
Myz Pena
boleh nggak sihh bilang ini mertua jahat.. asli kesellll /Angry/
THE GIRL COOL😑
ya allah sedihhhhhh ayahhhhhhh gue yg di tinggal ayah sejak berusia 5 tahun aja rindu *tapi bohong!🤣 jujur gue gak kangen karena gue benci sama ayah gue
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!