Dimas Saputra seorang pemuda tampan yang sholeh, mendapatkan hati seorang wanita cantik yang kaya raya.
Seorang pemuda yang bekerja di sebuah perusahaan besar milik keluarga Haristian, kini telah memikat hati seorang putri cantik dari pemilik perusahaan tersebut.
Berawal dari kehidupan yang sederhana, membuat dirinya merasa tak pantas untuk mendampingi wanita yang begitu terlihat sempurna. Namun kenyataannya jika yang kuasa sudah berkehendak, semua yang tidak mungkin akan menjadi mungkin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enchya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
"Iya sayang, apapun buat kamu akan papa lakukan." Ucap papa Adit sambil membelai rambut putrinya.
"Makasih pah." Ujar Lisa sambil memeluk papanya dari samping.
"Sama-sama sayang."
Mama Ita dan papa Adit tersenyum melihat kelakuan putri tunggalnya itu. Setelah papa dan mamanya mengetahui soal catatan buku diary Lisa itu, sekarang mereka berubah banyak. Sepasang orang tua itu begitu memanjakan putrinya sekarang, bukan hanya di manjakan dengan uang seperti dulu, tapi sekarang mereka juga mencurahkan seluruh kasih sayang mereka.
.
.
.
Dimas...
Sudah beberapa hari ini Dimas bekerja di kantor papa Adit, Amel yang dari awal sudah mengagumi ketampanan Dimas selalu saja mencari-cari perhatian Dimas. Dia melakukan hal-hal konyol untuk bisa dekat dengan Dimas.
Hari itu di saat Dimas membersihkan sebuah ruangan didekat ruangan Amel, Amel pura-pura menumpahkan minumannya ke lantai, dan Amel memanggil Dimas untuk membersihkannya.
"Dimas, tolong ini bersihkan ruangan saya," teriak Amel.
Dimas masuk ke ruangan Amel.
"Yang mana mba?" tanya Dimas karena melihat lantai di ruangan Amel sudah bersih.
"Ini di dekat kursi saya, tadi aku tidak sengaja menumpahkan minuman saya." Jawab Amel dengan senyuman manisnya berharap Dimas akan tertarik padanya.
Dimas mendekat,
"Maaf, mba Amel pindah dulu biar saya bersihkan di bagian yang terkena air minumnya mba." Ujar Dimas sopan.
"Ga apa mas sini aja," Ujar Amel tak mau kehilangan momen dekat dengan Dimas, karena ini memang akal bulus dia biar bisa melihat wajah Dimas dari dekat.
"Maaf mba, saya ga bisa melakukannya, Kalau ada yang melihat nanti di kiranya saya sedang kurang ajar sama mba Amel." tolak Dimas halus.
"Apa yang kamu pikirkan Mas? cuma bersihin lantai bekas minuman doang kog." Jawab Amel tak terima dengan penolakan Dimas.
"Maaf mba, sebentar saya keluar dulu." Ujar Dimas sambil keluar dari ruangan Amel. Tak lama dari situ seorang wanita masuk ke ruangan Amel yang juga bekerja sebagai petugas kebersihan di kantor itu.
"Loh kenapa kamu yang bersihin?" tanya Amel sinis.
"Saya di sini mengambil alih pekerjaan Dimas mba, Dimas yang menyuruh saya gantiin dia membersihkan ruangan mba Amel, karena Dimas lagi ada tugas di ruangan lain."
"Sialan." Gumam Amel pelan tapi masih bisa di dengar oleh orang itu.
"Ada apa mba?"
"Ga ada, udah cepat bersihkan dan cepat keluar dari ruangan saya. Saya masih banyak kerjaan." Ujar Amel sambil berdiri dengan muka kesalnya dan membiarkan wanita itu membersihkannya.
Selesai membersihkan ruangan Amel, wanita itu keluar, dan Amel mendudukkan dirinya lagi di kursi kerjanya semula.
"Ternyata tak mudah mendapatkan perhatianmu Mas, tapi lihat saja, aku pasti bakal bisa buat kamu suka sama aku, bahkan kamu yang bakalan mengejar ku." Ujar Amel bicara sendiri.
Tak lama dari kejadian itu papa Adit datang, semua karyawan memberi hormat kepada papa Adit, dia berjalan menuju ruangan kerjanya. Sampai di ruangan kerjanya, papa Adit menekan tombol telepon di kantornya untuk menghubungi seseorang.
Tuutt tuuutt tuuutt.
"Selamat siang pak." Suara seseorang di sebrang telepon.
"Selamat siang, aku ada pekerjaan untuk kamu."
"Siap pak, apa yang bisa saya lakukan pak?"
"Aku mau kamu selidiki kejadian kecelakaan tempo hari di jalan xxx, korban menggunakan mobil Terios warna putih dengan nopol sekian yang jatuh masuk ke jurang."
"Baik pak, secepatnya akan saya lakukan, selamat siang."
"Siang, lakukan dengan baik."
"Siap pak."
Setelah menelepon, papa Adit mulai membuka berkas-berkas di meja kerjanya. Hari ini ada banyak berkas yang harus di tanda tangani. Saat papa Adit fokus bekerja terdengar suara di luar pintu.
Tok tok tok.
"Masuk."
"Permisi pak, ini minumannya." Ujar Dimas masuk dan meletakkan minuman untuk pimpinan di meja kerjanya.
"Terima kasih Mas"
"Sama-sama pak."
Saat Dimas hendak keluar papa Adit memanggilnya.
"Dimas, sebentar."
"Iya pak, ada yang bisa saya bantu?"
"Duduk dulu," Ujar papa Adit mempersilahkan Dimas duduk di depannya.
"Baik pak, ada apa pak?"
"Begini, kamu bilang dulu itu resto tempat kerja kamu mau di jual kan ya?"
"Iya pak, tapi katanya dulu belum pasti."
"Saya lihat sampai sekarang belum ada yang membelinya, apakah kamu punya nomor pemiliknya?"
"Ada pak, sebentar nanti saya Carikan pak."
"Baiklah Dimas, terima kasih."
"Sama-sama pak, saya permisi dulu pak,."
"Baik silahkan."
Dimas keluar dari ruangan papa Adit dan berjalan menuju tempat istirahat karyawan. Dimas mengambil tasnya dan mengambil handphone yang ada di dalamnya. Dimas mencari nomor bosnya yang dulu, setelah menemukan dia mengirimkannya ke nomor papa Adit.
.
.
.
Lisa...
Seperti biasa Lisa ke kampus diantar oleh supirnya, sampai di kampus Lisa bergabung dengan sahabat-sahabatnya. Mereka memang selalu bersama-sama. Saat mereka bercanda tawa seperti biasanya, tiba-tiba handphone Lisa berdering, panggilan dari nomor yang tidak di kenal lagi, Lisa tidak mengangkatnya.
"Siapa Lis? kog ga diangkat." tanya Rere.
"Ga tau Re, dari nomor ga di kenal." Jawab Lisa.
"Kenapa ga diangkat aja? siapa tau penting." Ujar Vika.
"Males Vik, beberapa hari ini banyak banget nomor baru yang masuk di ponselku." Terang Lisa.
"Fans kamu kali Lis." Canda Aulia.
"Enak ya Lis jadi kamu, belum jadi selebriti aja udah banyak fans kamu Lis." Canda Sela juga.
"Kalian ini apaan fans-fans segala, memangnya artis." Jawab Lisa.
Bersamaan dengan itu, dering ponsel Lisa berbunyi lagi.
"Dari nomor baru lagi?" tanya Aulia.
Lisa menganggukkan kepalanya, dan dia menyimpan handphone di tasnya lagi. Sampai panggilan yang kesekian kalinya baru Lisa mengangkatnya.
"Hallo Lisa sayang." kata orang di sebrang sana.
"Siapa sih ini? kurang kerjaan banget ya gangguin orang melulu." Jawab Lisa dengan nada kesalnya.
"Jangan galak-galak dong cantik, nanti cantiknya hilang loh."
"Ech ga bakalan hilang juga sih, orang cantiknya permanen kan ya, hahaha." katanya lagi sambil tertawa senang.
"Siapa sih ini? jangan ganggu aku lagi, aku ga ada waktu buat bercanda." Ujar Lisa ketus.
"Ayolah cantik, jangan begitu, nanti aku jemput kamu pulang kuliah ya." Ujarnya lagi.
"Ga perlu, uda ada sopir yang siap siaga menjemput ku." Jawab Lisa sambil mematikan telepon nya sepihak.
"Siapa sih orangnya?" tanya Vika penasaran.
"Ga tau orang kurang kerjaan kali, gangguin orang tiap hari." Jawab Lisa kesal.
Tiba-tiba ada Notifikasi pesan masuk di ponsel Lisa.
"Cantik, aku jemput kamu pulang kuliah ya. Aku mau ngajak kamu jalan-jalan, kamu mau kan? ya mau donk, siapa sih yang nolak diajak jalan sama orang ganteng." Isi pesan yang masuk di handphone Lisa.
Lisa tak menghiraukan pesan tersebut, dia kembali mengunci ponselnya.
"Jawab donk cantik, mau kan jalan sama aku?" Isi pesannya lagi tapi tidak pernah di balas oleh Lisa.
"Semakin kamu cuek, semakin bikin aku penasaran Lis." pesan satu persatu masuk ke ponsel lisya tapi tak satupun di balasnya.
Mereka berlima masih di buat penasaran dengan orang misterius pengganggu Lisa. 5 menit lagi waktu kuliah akan di mulai, lalu mereka bergegas memasuki ruangan.