Rosline gadis berusia 20 tahun yang terlahir bukan dari keluarga berada. Dia memiliki hidup yang sulit, bukan hanya menanggung beban hidupnya sendiri, tapi juga menanggung beban keluarganya. Suatu ketika Rosline mendapat tawaran kerja partime di salah satu rumah mewah untuk menjaga kakek tua, tapi tanpa diduga rumah itu ternyata rumah seorang Mafia kejam...
Rosline semakin bingung harus bertahan atau harus pergi dari sana. Sementara dia sangat butuh uang untuk keluarganya....
Apa yang terjadi selanjutnya dengan Rosline?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33 : Foto Apa itu?
Layar ponsel itu menyala redup di tengah ruang tengah yang sunyi. Namun kali ini yang muncul bukan foto Rosline.
Alis Bara langsung berkerut, sebuah foto lama terpampang di layar. Diambil di sebuah club malam dengan lampu neon merah dan ungu yang memenuhi ruangan.
Dan di tengah foto itu, Bara. Duduk santai di sofa VIP dengan kemeja hitam yang sedikit terbuka di bagian atas. Wajahnya tetap dingin seperti biasa, namun di kedua sisinya duduk beberapa wanita yang terlihat sangat dekat dengannya. Salah satu wanita bahkan tampak tertawa sambil menyentuh lengannya. Foto itu jelas asli, bukan rekayasa.
Rosline langsung membeku. Tatapannya terpaku pada layar tanpa berkedip. Entah kenapa dadanya terasa sesak, bukan karena takut. Melainkan perasaan lain yang bahkan tidak ingin ia akui.
"Apa maksudnya ini?" tanyanya pelan.
Tidak ada yang langsung menjawab. Karena Bara sudah lebih dulu bereaksi. Rahangnya mengeras, tangannya mencengkeram ponsel itu begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Lalu semua orang melihat tulisan yang berada tepat di bawah foto tersebut.
"Jangan merasa dirimu bersih, Bara Alexander."
Ruangan langsung hening.
Aura Bara berubah dalam sekejap, tatapannya menjadi gelap dan berbahaya. "Brengsek!"
Kakek Alberto mengernyit. "Apa itu?"
"Hanya foto lama, Opa." Jawaban Bara singkat dan datar.
Rosline perlahan menunduk, dadanya terasa semakin tidak nyaman. Padahal ia sadar, dirinya tidak memiliki hak untuk merasa seperti itu.
"Oh..." Hanya satu kata.
Namun cukup membuat Bara mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu. "Jangan berpikir macam-macam."
Rosline menggeleng pelan. "Aku tidak berpikir apa-apa." Tetapi suaranya terdengar jauh lebih lemah dari biasanya.
Bara langsung menangkap perubahan itu. Rahangnya kembali mengeras. "Daniel."
Pria itu segera melangkah maju. "Ya, Tuan."
"Lacak pengirimnya. Sekarang."
"Baik, Tuan."
Daniel langsung pergi.
Bara meletakkan ponsel itu di atas meja dengan sedikit keras sebelum kembali menatap Rosline.
Beberapa detik berlalu tanpa suara. "Itu hanya masa lalu."
Rosline perlahan mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu.
"Semua orang punya masa lalu," lanjut Bara.
Nada suaranya tetap tenang, tetapi kali ini terdengar lebih berat. Sepertinya ia tidak terbiasa menjelaskan dirinya kepada orang lain.
Rosline terdiam sesaat. Lalu tanpa sadar bertanya, "kalau nanti kita menikah... apakah wanita-wanita seperti itu masih akan ada di sekitarmu?"
Pertanyaan itu membuat ruangan kembali sunyi.
Kakek Alberto bahkan ikut menoleh.
Sedangkan Bara hanya menatap Rosline tanpa berkedip. Beberapa detik berlalu, lalu akhirnya ia menjawab.
"Tidak." Jawabannya singkat, namun tegas. Bukan sekadar ucapan, melainkan sebuah keputusan.
Rosline tidak mengatakan apa-apa. Tetapi entah kenapa, dadanya terasa sedikit lebih ringan.
"Ini bukan tentang mereka," lanjut Bara. "Ini tentang Victor." Ia melangkah satu langkah lebih dekat. "Dia sedang mencoba memancing reaksiku."
Tatapannya mengeras. "Dia ingin membuatku terlihat buruk di matamu."
Rosline menelan ludah pelan. "Itu sebabnya dia mengirim foto ini?"
"Ya." Bara mengangguk tipis.."Dia ingin membuatmu ragu."
Suasana kembali hening.
Hanya suara hujan yang terdengar dari luar mansion. Lalu tiba-tiba Bara bertanya, "jadi?"
Rosline berkedip bingung. "Jadi apa?"
"Kau masih ingin membatalkan keputusanku?"
Jantung Rosline langsung berdebar.
Tatapan Bara tidak bergeser sedikit pun darinya. Seolah menunggu jawaban yang benar-benar ia inginkan.
Rosline terdiam beberapa saat. Kemudian menggeleng pelan. "Tidak."
Jawaban itu keluar lebih cepat dari yang ia duga. Bara memperhatikannya beberapa detik, memastikan.
Lalu akhirnya mengangguk. "Bagus."
Satu kata sederhana. Namun kali ini nada suaranya terdengar jauh lebih tenang. Di luar, petir kembali menyambar langit malam.
***
Sementara jauh di tempat lain, seseorang duduk santai sambil menatap layar ponselnya. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya. Foto yang sama masih terpampang di layar.
Victor mengetuk jarinya perlahan sebelum mulai mengetik pesan baru.
"Mari kita lihat, Bara Alexander." Senyumnya semakin lebar. "Berapa lama kau bisa mempertahankan sandiwaramu."
Lalu pesan itu terkirim.
***
Edwin berdiri di depan jendela kamarnya dengan rahang mengeras. Hujan masih turun deras di luar mansion, menciptakan suara yang berulang-ulang menghantam kaca.
Di tangannya, layar ponsel masih menampilkan foto yang sama. Foto Bara di club malam.
Tatapan Edwin semakin gelap. "Aku tahu Bara itu kakakku..." gumamnya pelan.
Namun kalimat itu justru membuat emosinya semakin memuncak. Ia melempar ponsel ke atas ranjang sebelum mengacak rambutnya frustrasi.
"Brengsek."
Selama ini Edwin selalu menghormati Bara. Tidak peduli seberapa dingin dan keras pria itu, Bara tetap kakaknya.
Tetapi kali ini berbeda, ini menyangkut Rosline. Dan lebih dari itu, ini juga menyangkut bisnis keluarga Alexander.
Edwin mengepalkan tangannya. Ia tidak setuju dengan keputusan Bara yang tiba-tiba ingin menikahi Rosline.
Bukan karena Rosline tidak pantas. Justru sebaliknya, karena Edwin tahu persis seperti apa dunia yang mengelilingi Bara Alexander. Penuh musuh, intrik, dan penuh bahaya.
"Rosline tidak seharusnya terlibat dalam masalah ini." Suara itu keluar pelan dari bibirnya.
Ia menutup mata sejenak. Entah sejak kapan, ia mulai memperhatikan gadis itu lebih dari yang seharusnya. Senyumnya, caranya berbicara, dan bahkan kebiasaannya saat gugup. Semua itu tanpa sadar tersimpan di kepalanya.
Edwin mengembuskan napas kasar. "Kalau hanya soal wanita, mungkin aku bisa diam."
Tatapannya kembali mengarah ke jendela. "Tapi ini bukan hanya soal itu."
Victor sudah mulai bergerak, foto itu adalah bukti. Hari ini foto lama Bara, vesok bisa jadi ancaman yang jauh lebih berbahaya. Dan orang yang akan berada di garis depan semua itu adalah Rosline.
"Apa Bara benar-benar memikirkan risikonya?"
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Atau mungkin Bara memang sudah memikirkannya dan tetap memilih melanjutkan semuanya.
Hal itulah yang membuat Edwin semakin kesal. Karena jika memang begitu, berarti Bara dengan sadar menempatkan Rosline di tengah badai.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk dari nomor yang dikenalnya.
Daniel.
Edwin langsung membuka pesan itu. Isi pesannya singkat. "Tuan Muda Edwin, kami menemukan sesuatu tentang Victor."
Tatapan Edwin langsung berubah tajam. "Menemukan apa?"
Balasan Daniel datang beberapa detik kemudian. "Victor tidak bekerja sendirian."
Edwin langsung berdiri tegak. Ekspresinya berubah serius. Instingnya mengatakan bahwa masalah ini jauh lebih besar daripada sekadar foto lama.
Jauh lebih besar daripada upaya menjatuhkan nama Bara. Dan yang paling mengkhawatirkan, ada kemungkinan target sebenarnya bukan Bara. Melainkan Rosline.
Rahang Edwin mengeras. "Kalau memang ada yang berani menyentuhnya..."
Tatapannya menjadi dingin. "Aku tidak akan tinggal diam."
Tanpa menunggu lebih lama, Edwin langsung mengambil jaketnya dan berjalan keluar kamar. Begitu pintu kamar terbuka, Edwin langsung melangkah keluar dengan wajah dingin.
Niatnya hanya satu, menemui Daniel dan mencari tahu lebih banyak tentang Victor. Namun langkahnya terhenti ketika sampai di lantai bawah.
Di depan pintu utama mansion, dua sosok pria sudah berdiri di sana. Daniel dan Bara.
Bara mengenakan jas hitam gelap dengan ekspresi datar seperti biasa. Kedua tangannya berada di dalam saku celana sementara Daniel berdiri di sampingnya sambil memegang sebuah tablet.
Tatapan Edwin langsung mengeras. "Aku seharusnya sudah tahu."
Daniel langsung menoleh.
Sedangkan Bara hanya melirik sekilas sebelum kembali menatap ke arah hujan di luar. "Kalau mau ikut, cepat."
Kalimat itu langsung membuat alis Edwin berkerut. "Aku tidak bilang mau ikut."
"Tapi kau sudah memakai jaket."
Edwin mendecih kesal. Pria itu memang menyebalkan. Bahkan tanpa melihat pun Bara selalu tahu apa yang sedang dipikirkannya.
"Aku masih tidak setuju dengan keputusanmu."
Kali ini Bara menoleh penuh. Tatapan kedua saudara itu langsung bertemu. Suasana seketika menjadi tegang. Daniel bahkan memilih diam.
"Aku tidak meminta persetujuanmu," jawab Bara tenang.
Jawaban itu justru membuat Edwin semakin kesal.
"Bara! Ini bukan permainan."
"Aku tahu."
"Kau akan menyeret Rosline ke dalam perangmu dengan Victor."
Tatapan Bara berubah dingin. "Victor yang menyeretnya."
"Kau memberinya kesempatan."