NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Mafia Kejam

Obsesi Sang Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Rosline gadis berusia 20 tahun yang terlahir bukan dari keluarga berada. Dia memiliki hidup yang sulit, bukan hanya menanggung beban hidupnya sendiri, tapi juga menanggung beban keluarganya. Suatu ketika Rosline mendapat tawaran kerja partime di salah satu rumah mewah untuk menjaga kakek tua, tapi tanpa diduga rumah itu ternyata rumah seorang Mafia kejam...

Rosline semakin bingung harus bertahan atau harus pergi dari sana. Sementara dia sangat butuh uang untuk keluarganya....
Apa yang terjadi selanjutnya dengan Rosline?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30 : Memeriksa Rosline

Suasana ruang tengah langsung membeku setelah tulisan di kertas merah itu terbaca jelas di layar monitor.

“Rosline... sebaiknya kau pergi dari mansion Alexander, karena di sana nyawamu terancam.”

Rosline langsung merasakan tubuhnya dingin. Jemarinya perlahan gemetar saat menatap boneka kecil itu.

Sedangkan tatapan Bara berubah. Bukan hanya dingin sekarang. Namun tajam penuh kecurigaan. Dan kini, sorot matanya pada Rosline terasa begitu asing.

Edwin langsung menyadari perubahan ekspresi kakaknya. “Bara…”

Namun pria itu tidak menjawab. Tatapannya masih lurus pada Rosline beberapa detik terlalu lama sampai membuat gadis itu mulai gugup.

“A-aku tidak tahu apa-apa…” gumam Rosline pelan.

Bara akhirnya berjalan mendekatinya perlahan.

“Apa kau pernah bertemu Victor sebelumnya?”

Rosline langsung mengangkat wajah cepat. “Tidak!”

“Kau yakin?”

“I-iya…” Rosline terlihat panik sekarang. “Aku bahkan baru mendengar namanya hari ini.”

Tatapan Bara tetap tidak berubah.

Sedangkan Edwin mulai mengernyit. “Bara, jangan bilang kau mulai curiga padanya.”

“Semua kemungkinan harus diperiksa.” potong Bara dingin.

Kalimat itu langsung membuat wajah Rosline memucat.

“Kau ikut denganku.” lanjut Bara rendah.

Rosline berkedip bingung. “Ke mana?”

“Ruang kerja.”

Dan tanpa memberi kesempatan membantah, Bara langsung berjalan lebih dulu menuju lorong mansion.

Rosline hanya bisa menoleh gugup ke arah Edwin sesaat sebelum akhirnya mengikuti dari belakang.

Sedangkan Edwin menghela napas sambil menatap punggung kakaknya dengan ekspresi rumit. Ia tahu sifat Bara. Saat pria itu mulai curiga, tidak akan mudah menghentikannya.

Brakk.

Pintu ruang kerja tertutup pelan.

Kini hanya ada Bara dan Rosline di dalam ruangan besar itu. Lampu redup membuat suasana terasa jauh lebih menekan. Rosline berdiri canggung dekat pintu sambil menggenggam ujung sweaternya erat.

Sedangkan Bara berdiri membelakanginya beberapa detik sebelum akhirnya berkata rendah,

“Victor tidak mungkin tertarik pada orang biasa tanpa alasan.”

Rosline langsung menelan ludah gugup. “Aku benar-benar tidak mengenalnya.”

Bara perlahan berbalik. Tatapan matanya tajam meneliti wajah Rosline tanpa berkedip sedikit pun.

“Lalu kenapa dia terus mengirimmu pesan?”

Rosline menggeleng cepat. “Aku tidak tahu…”

Beberapa detik Bara hanya diam. Lalu pria itu berjalan mendekat perlahan hingga berhenti tepat di depan Rosline. Aura pria itu begitu menekan sekarang sampai Rosline refleks mundur setengah langkah.

“Buka sweatermu.”

Rosline langsung membeku. “A-apa…?”

“Aku ingin memastikan sesuatu.” suara Bara tetap datar.

Rosline terlihat makin gugup. “Tu-tuan Bara…”

Tatapan Bara tidak berubah sedikit pun. “Aku hanya ingin melihat apakah ada tanda Black Viper di tubuhmu.”

Rosline langsung memahami maksudnya.

Victor memiliki tato ular hitam. Dan Bara sekarang ingin memastikan dirinya bukan bagian dari kelompok itu.

Wajah Rosline langsung merah karena malu sekaligus panik. “Ti-tidak ada…”

“Kalau begitu buktikan.”

Ruangan kembali hening.

Rosline menggigit bibir bawahnya pelan. Matanya mulai berkaca-kaca karena gugup. Namun melihat tatapan Bara yang begitu serius, akhirnya gadis itu perlahan membuka sweater longgarnya dengan tangan gemetar.

Bara tetap berdiri diam memperhatikannya.

Rosline lalu menurunkan sedikit bagian kerah bajunya hingga memperlihatkan pundak dan sebagian punggung atasnya yang putih bersih. Tidak ada tato apa pun, hanya kulit mulus tanpa tanda.

Beberapa detik Bara terdiam.

Tatapan tajamnya memperhatikan area pundak Rosline dengan serius memastikan tidak ada simbol ular ataupun tanda kelompok Black Viper. Dan saat memastikan itu, rahang Bara perlahan mengendur sedikit.

Rosline buru-buru kembali menutupi dirinya dengan wajah merah padam. “Se-sekarang Tuan percaya?”

Suasana mendadak terasa aneh. Karena Bara justru mengalihkan pandangannya lebih dulu. Pria itu terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata.

"Aku hanya memastikan.”

Ruangan kerja itu kembali hening setelah ucapan Bara tadi.

Rosline masih berdiri canggung sambil memegangi sweaternya erat. Wajahnya belum sepenuhnya hilang dari rasa malu dan gugup setelah Bara memeriksa pundaknya tadi.

Sedangkan Bara kini berdiri membelakanginya dekat meja kerja besar. Tatapan pria itu terlihat jauh lebih rumit dibanding sebelumnya.

“Aku percaya kau bukan bagian dari Black Viper.” ucapnya akhirnya rendah.

Rosline langsung mengangkat wajah pelan.

“Tapi justru itu masalahnya.” lanjut Bara dingin. “Victor mulai tertarik padamu meski kau bukan siapa-siapaku.”

Rosline perlahan menunduk lagi. Jemarinya menggenggam sweater makin erat.

“Aku…” suaranya pelan. “Aku justru merasa tidak aman berada di mansion ini.”

Tatapan Bara langsung tertuju padanya.

Rosline menggigit bibir bawahnya sebelum akhirnya berkata jujur, “Aku datang ke sini hanya untuk bekerja.” Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku butuh uang untuk keluargaku.”

Suasana ruangan mendadak berubah lebih sunyi.

“Ayahku sakit…” lanjut Rosline lirih. “Dan kemarin ibu menghubungiku kalau biaya pengobatan ayah semakin besar.”

Napasnya sedikit bergetar sekarang. “Aku juga harus membantu biaya kuliah adikku.” gumamnya pelan. “Makanya aku tidak bisa kehilangan pekerjaan ini.”

Untuk beberapa detik, Bara hanya diam memperhatikannya.

Rosline jarang membicarakan keluarganya. Namun sekarang gadis itu terlihat benar-benar tertekan.

“Aku tidak ingin menyeret keluarga Alexander ke masalahku.” lanjut Rosline pelan. “Kalau memang keberadaanku membuat semuanya makin berbahaya, mungkin lebih baik aku pergi dari sini.”

Detik itu juga, sorot mata Bara langsung berubah tajam. “Jangan bicara sembarangan.” suaranya rendah penuh tekanan.

Rosline tersentak.

Bara berjalan mendekatinya perlahan sampai berhenti tepat di depan gadis itu. “Mulai sekarang…” tatapannya lurus menekan Rosline. “Kau tetap tinggal di mansion ini.”

“Tapi Tuan...”

“Kalau kau keluar dari sini sekarang.” potong Bara dingin. “Victor akan jauh lebih mudah menyentuhmu.”

Rosline langsung diam.

“Di luar mansion, aku tidak bisa menjamin keselamatanmu.” lanjut Bara rendah. “Tapi selama kau di sini, tidak akan ada yang berani menyentuhmu.”

Jantung Rosline kembali berdetak aneh mendengar nada suara pria itu.

“Tapi keluargaku…”

“Semuanya akan diurus.”

Rosline langsung membeku.

Tatapan Bara tetap lurus padanya. “Biaya pengobatan ayahmu.” ucapnya tenang. “Biaya kuliah adikmu. Dan kebutuhan keluargamu.”

Rosline membulatkan matanya kaget. “Tu-tuan tidak perlu melakukan itu…”

“Aku tidak suka mengulang perkataan.” jawab Bara dingin.

Rosline benar-benar kehilangan kata-kata sekarang.

“Namun sebagai gantinya…” Tatapannya mengeras sedikit. “Jangan pernah keluar dari mansion tanpa izinku.”

Ruangan kembali hening.

Rosline perlahan menatap wajah Bara dengan bingung. Ia tidak mengerti kenapa pria sedingin ini terus melindunginya sejauh itu.

Sedangkan Bara sendiri menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berkata. “Victor sudah menjadikanmu target.”

Sorot matanya berubah jauh lebih gelap. “Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil sesuatu dari wilayahku.”

Gadis itu perlahan menunduk, berusaha menenangkan detak jantungnya sendiri yang semakin tidak teratur.

Sedangkan Bara masih berdiri tepat di depannya dengan tatapan gelap dan serius.

“Tuan Bara…” suara Rosline pelan dan ragu. “Kenapa Tuan melakukan semua ini padaku?”

Bara tidak langsung menjawab.

Tatapannya justru turun pada wajah Rosline yang terlihat lelah dan ketakutan sekarang. Mata gadis itu masih sedikit merah karena stres sejak tadi malam.

“Aku tidak suka ada orang mati di mansionku.” jawabnya dingin.

Rosline langsung terdiam.

1
Indri
Sukaaaa🤣
It's me Sky: wkwkwkkw/Proud/
total 1 replies
Keenan41
semangat thor
It's me Sky: Pasti dong, mksh dukungannya✌🏻/Hey/
total 1 replies
Hennyy exo
semangat rosaline🤭🤭
It's me Sky: Hihihihi, mksh/Smile/
total 1 replies
Hennyy exo
wow sampai sini alurnya bagus thor
It's me Sky: terimakasih bnykk/Smile/
total 1 replies
Amoera
semakin menegangkan thoor, lanjutkan dong😍
It's me Sky: hrs dong/Chuckle/
total 1 replies
Amoera
ceritanya sangat menarik, lanjutkan ceritanya thoor... semangat ratusan bab
It's me Sky: psti dong, mksh/Doge//Rose/
total 1 replies
Amoera
woww... ada cerita baru nih, wajib baca sih kayanya... semangat thoor😍
It's me Sky: iya dong, sni¹ mmpir/Hey/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!