NovelToon NovelToon
Ayah Tiriku, Sugar Daddy-ku

Ayah Tiriku, Sugar Daddy-ku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Terlarang
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Wandhansari

Veliora tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah ibunya menikah dengan pria paling berbahaya di dunia elite Jakarta.
Kaelric Vorn.
Pria dingin yang dikenal sebagai penguasa bisnis internasional itu memiliki segalanya, kekuasaan, uang, dan dunia gelap yang tidak tersentuh orang biasa.
Namun di balik mansion mewah, tatapan tajam, dan nama besarnya…
Kaelric menyimpan sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Seekor black panther betina bernama Nyx.
Dan anehnya, binatang liar itu memilih Veliora.
Awalnya Veliora hanya ingin bertahan hidup di dunia baru yang terasa asing baginya.
Namun semakin lama dia berada di sisi Kaelric…
semakin dia menyadari bahwa pria itu bukan sekadar ayah tirinya.
Kaelric terlalu protektif.
Terlalu dominan.
Dan perlahan mulai memperlakukannya seperti sesuatu yang tidak ingin dia lepaskan.
Di tengah dunia elite penuh rahasia, pengkhianatan, dan kekuasaan…
Veliora terjebak di antara rasa cinta terhadap Ayah Tirinya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wandhansari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 : Bismantaka Yang Di Atas Angin

Ruangan itu begitu tenang. Bahkan, terlalu tenang untuk sebuah pertemuan yang sebenarnya bersifat penting.

Aroma kopi masih tersisa menguar di udara, namun tidak ada yang benar-benar menikmatinya.

Pertemuan kali itu diadakan bukan di gedung Adiwinata Corporation. Melainkan di private lounge St. Regis Jakarta. Bismantaka yang menyiapkan segalanya.

Bismantaka sudah duduk lebih dulu. Posisinya santai, namun penuh perhitungan. Tatapannya mengarah ke pintu.

Menunggu kedatangan seseorang yang kayak untuk bekerjasama dengan dirinya.

Bismantaka nampak tenang dalam duduknya, bahkan penuh dengan keyakinan.

Pintu pun terbuka. Kaki melangkah masuk tanpa suara berlebihan.

Alessandro Vorneti. Dia tidak berjalan tergesa.

Tidak juga menunjukkan kewaspadaan.

Seolah ruangan itu tidak pernah menjadi ancaman baginya.

“Sudah menunggu lama?”

Nada suaranya ringan.

“Untuk sesuatu yang bernilai, waktu tidak pernah jadi masalah bagiku, ” jawab Bismantaka tenang.

Alessandro pun duduk tanpa diminta. Satu gerakan kecil, tapi cukup untuk menunjukkan

ia tidak datang sebagai tamu.

Suasana terasa hening. Bukan berarti canggung. Tetapi lebih seperti dua orang yang sedang menimbang satu sama lain.

“Saya sudah mendengar Anda mengambil alih untuk sementara,” ucap Bismantaka.

“Hmm untuk sementara,” jawab Alessandro singkat.

“Menarik sekali.”

Bismantaka menyandarkan tubuhnya sedikit.

“Biasanya orang seperti Anda tidak suka terikat.”

Senyum tipis muncul di wajah Alessandro.

“Biasanya.”

Hening kembali turun di antara mereka berdua. Bismantaka memutusnya lebih dulu.

“Saya tidak suka berputar-putar.”

Nada suaranya berubah, lebih langsung pada pokok pembicaraan.

“Silakan.”

Tatapan mereka bertemu. Seolah menyiratkan dua orang yang sedang melakukan gencatan senjata. Atau sedang mengupayakan perdamaian.

“Situasi ini tidak akan bertahan lama,” ujar Bismantaka.

“Dan ketika semuanya kembali stabil, posisi Anda tidak lagi diperlukan.”

Kalimat itu halus. Namun cukup jelas untuk memberikan penekanan.

Alessandro tidak langsung merespon. Ia hanya menatap Bismantaka dengan tenang.

“Saya melihat ini sebagai peluang yang sangat bagus,” lanjut Bismantaka.

“Bukan konflik.”

“Peluang?” ulang Alessandro pelan.

“Sebuah kerja sama,” jawab Bismantaka tanpa ragu. Ia sedikit condong ke depan.

“Semua orang memiliki kepentingan.”

Hening sejenak.

“Dan menurut Anda,” tanya Alessandro,

“apa kepentingan saya?”

“Pengaruh. Akses. Kendali.”

Jawaban itu datang begitu cepat dan yakin.

Alessandro tersenyum tipis. Ia ingin seberapa jauh Bismantaka merayu dirinya untuk mengajaknya bekerjasama.

“Dalam bisnis, biasanya semua orang langsung menyebut uang, sudah menjadi standar kemanusiaan, Tuan Alessandro."

“Saya tidak meremehkan Anda.” Bismantaka memperbaiki letak duduknya.

“Oh, tidak, saya tahu maksud anda” jawab Alessandro santai.

“Anda hanya bermaksud menyederhanakan, itu saja. ”

Suasana mendadak hening.

“Apapun itu,” lanjut Bismantaka,

“saya bisa memberikannya.”

Kalimat itu jatuh dengan keyakinan penuh. Alessandro menatapnya beberapa detik. Dia tidak berbicara bahkan tidak bereaksi sama sekali.

Lalu, tak lama kemudian...

“Tidak.”

Hanya cukup satu kata dan bersikap tenang. Untuk pertama kalinya ritme percakapan berubah.

“Anda bahkan belum mendengar penawaran saya,” ujar Bismantaka.

“Aku tidak perlu mendengarnya.”

Alessandro bangkit dari kursinya. Gerakannya santai tanpa terburu-buru.

“Karena apapun yang akan Anda tawarkan…”

ia berhenti sejenak,

“bukan sesuatu yang saya cari.”

Bismantaka langsung berkata....

“Tapi, semua orang mencari sesuatu, Tuan Alessandro.”

Alessandro menoleh sedikit.

“Benar.”

Ia mengangguk pelan.

“Tapi tidak semua orang bisa Anda beli begitu saja.”

Kalimat itu begitu ringan. Namun cukup untuk mengiris tipis keyakinan di balik senyum Bismantaka.

Suasana menjadi hening. Kali itu terjadi pergolakan batin antara mereka berdua. Bismantaka tidak merubah keputusannya. Setidaknya itulah yang nampak dari luar.

“Saya harap kita tetap bisa bekerja sama,” ucapnya.

Masih dengan kondisi tenang dan percaya diri. Bahwa, Alessandro bisa diajaknya kerjasama. Dia benar-benar membutuhkan seorang Alessandro untuk menjalankan niatnya.

Alessandro berhenti di depan pintu. Tanpa membalikkan tubuhnya.

“Kita sudah melakukannya.”

Pintu kemudian terbuka. Alessandro melangkahkan kakinya keluar dari private lounge. Tapi, sebelum beranjak pergi,

“Namun mungkin bukan seperti yang Anda bayangkan.”

Dan ia pun pergi. Ruangan kembali sunyi.

Bismantaka tidak langsung bergerak.

Tatapannya masih tertuju ke arah pintu yang telah tertutup.

Perlahan, senyum tipis kembali muncul. Dia merasa dirinya menang dari pertarungan itu.

“Menarik…”

Gumamnya pelan.

Baginya permainan itu baru saja dimulai.

Namun yang tidak ia sadari, ia tidak pernah benar-benar memegang kendali. Dia tidak tahu, bahwa di belakang itu semua ada orang yang memantau dari kejauhan.

Pintu tertutup dengan bunyi pelan.

Namun gema dari pertemuan itu tidak benar-benar hilang.

Masih tertinggal di udara, di meja, di ruang yang kembali sunyi tanpa kehadiran dua orang yang barusan saling membaca tanpa benar-benar membuka kartu.

Bismantaka tetap duduk di tempatnya. Tidak bergerak. Tatapannya masih mengarah ke pintu, seolah-olah bayangan sosok yang baru saja pergi masih tertinggal di sana.

Beberapa detik berlalu. Lalu perlahan dia bersandar pada tempat duduknya. Tangannya menyentuh cangkir kopi di depannya. Masih terasa hangat. Namun ia tidak langsung meminumnya.

“Hmmm... Tidak tertarik?”

Gumamnya terdengar pelan. Tetapi bukan seperti perasaan kecewa. Dia lebih seperti mencatat dalam pikirannya.

Ia sudah bertemu banyak orang seperti itu.

Orang yang berbicara sedikit. Orang yang terlihat tidak bisa dibaca.Orang yang menolak secara langsung tanpa memberi ruang negosiasi.

Namun tidak ada yang benar-benar berbeda.

Semua orang pada akhirnya tetap memiliki celah.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

“Masalahnya hanya satu, aku belum menemukan titiknya kelemahannya”

Ia akhirnya mengangkat cangkir itu. Menyesap perlahan dan tatapannya berubah menjadi lebih tajam.

Alessandro Vorneti bukan orang yang bisa ditekan secara langsung dan itu sudah jelas.

Namun bukan berarti dia tidak bisa diarahkan.

“Kalau bukan lewat kepentingan…”

gumamnya pelan,

“maka lewat situasi.”

Ia meletakkan kembali cangkir itu di atas meja. Gerakannya pelan dan terukur.

Dalam pikirannya, potongan-potongan mulai tersusun. Situasi perusahaan yang sekarang agak kacau sistemnya. Pergerakan saham yang tidak stabil. Tekanan internal yang rusuh. Dan sekarang datang lagi satu variabel baru. Yaitu Alessandro.

Bismantaka tidak melihatnya sebagai sebuah ancaman. Atau mungkin belum berpikiran ke arah sana.

Lebih tepatnya, dia pikir Alessandro adalah sebuah tantangan baru. Berbeda dengan Ravian. Seseorang yang tidak bisa dibeli biasanya hanya belum diberi alasan yang tepat. Dan rupanya, Bismantaka sedang menunggu momen seperti itu.

Ia berdiri merapikan jasnya dengan satu gerakan ringan.

“Sungguh menarik…”

Ulangnya pelan.

Langkahnya menuju pintu. Tidak terburu-buru maupun tergesa.

Baginya, ini awal baru untuk menaklukan seorang Alessandro.

Namun di sisi lain kota di dalam mobil yang bergerak tenang di antara lampu-lampu malam

Alessandro Vorneti duduk di kursi belakang. Satu tangan bertumpu di sandaran.

Tatapannya keluar jendela. Lampu kota lewat satu per satu. Berjalan cepat seolah lari kearah belakang menghindari dirinya

Namun itu tidak cukup untuk menarik perhatiannya.

Ia tidak memikirkan pertemuan itu sebagai sesuatu yang penting. Bukan karena ingin meremehkan Bismantaka.

Tapi karena bagi dirinya Bismantaka erlalu mudah dibaca.

Senyum tipis muncul di wajahnya. Hampir tidak terlihat.

“Semua orang punya kepentingan…”

Ulangnya pelan.

“Dan semua orang bisa dibeli…”

Ia menggeleng kecil.

“Kesalahan yang sama.”

Tangannya bergerak ringan, membuka ponsel.

Satu pesan masuk. Isinya padat dan singkat.

Tanpa nama disana hanya sebuah nomor saja.

Namun ia tidak perlu melihat lebih lama. Ia sudah tahu dari siapa. Yaitu Kaelric Vorn.

Alessandro tidak langsung membalas, tatapannya kembali ke luar.

“Dia merasa mengendalikan.”

Gumamnya pelan.

Tidak ada nada emosi, tidak juga ejekan. Hanya sebuah penilaian.

Mobil pun berhenti di lampu merah. Sejenak, semuanya diam.

“Sudah, biarkan saja.”

Ia mengetik singkat. Lalu mengirim. Ponsel kembali dimasukkan.

“Semakin lama dia merasa di atas…”

lanjutnya pelan,

“semakin mudah dia jatuh.”

Alessandro menggumam diri. Lampu pun berubah hijau dan mobil kembali bergerak.

Sementara di tempat lain seseorang sedang menyusun rencana.

Dan di saat yang sama seseorang lain sudah melihat akhirnya.

Permainan masih berjalan. Namun garis akhirnya sudah mulai terlihat.

Hanya saja, tidak semua orang menyadarinya.

Mobil Alessandro bergerak menyusuri malam yang sudah terlalu larut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!