NovelToon NovelToon
Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Teen
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

Malam itu, hujan turun dengan sangat lebat, menyiram atap paviliun belakang dengan suara yang memekakkan telinga. Di dalam kamarnya yang kecil, Adelard terbaring meringkuk di atas tempat tidur. Tubuhnya menggigil hebat di bawah selimut tipis, namun keningnya terasa sepanas bara api. Tekanan mental selama berminggu-minggu—mulai dari intimidasi etiket, pengkhianatan di sekolah, hingga penolakan ibunya—akhirnya menumbangkan daya tahan tubuhnya.

"Ibu..." bisik Adel parau. Kesadarannya mulai mengabur karena demam tinggi yang mencapai 40 derajat Celsius.

Dalam igauannya, ia masih berharap. Ia berharap setidaknya sekali saja, Nyonya Siska akan datang bukan sebagai nyonya besar, melainkan sebagai seorang ibu yang membawa semangkuk bubur hangat dan membelai rambutnya seperti yang sering ia lihat dilakukan Siska pada Clarissa.

Adel mencoba meraih ponselnya di atas meja nakas dengan tangan yang gemetar. Ia mengirimkan pesan singkat kepada ibunya: *“Bu, aku sakit. Kepalaku sangat pusing. Bisakah Ibu ke paviliun sebentar?”*

Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Hingga satu jam. Tidak ada balasan.

Adel tidak tahu bahwa di gedung utama mansion, Nyonya Siska sebenarnya sudah membaca pesan itu. Siska sempat berdiri dari kursi riasnya dengan wajah cemas. "Adel sakit?" gumamnya pelan. Ada secuil naluri purba di dalam dadanya yang bergetar melihat pesan itu.

Namun, tepat saat Siska hendak melangkah keluar kamar, sebuah teriakan histeris mengguncang lantai atas mansion.

"IBU! TOLONG! DADAKU SAKIT!"

Siska tersentak dan langsung berlari menuju kamar Clarissa. Di sana, ia menemukan Clarissa sedang terduduk di lantai, memegangi dadanya dengan wajah yang sengaja dibuat pucat pasi (padahal itu hanya sisa bedak yang belum dibersihkan). Clarissa mengatur napasnya agar terdengar sesak, sebuah akting yang ia pelajari dari drama televisi untuk menarik perhatian saat posisinya terancam.

"Clarissa! Ada apa, Sayang?" Siska berlutut dan mendekap Clarissa dengan panik.

"D-dadaku sesak, Bu... sepertinya jantungku... oh, Ibu, aku sangat takut..." isak Clarissa sambil mencengkeram lengan Siska dengan kuat. "Jangan tinggalkan aku, Bu. Aku merasa seperti akan mati."

"Hendra! Panggil dokter!" teriak Siska pada suaminya yang baru saja masuk. "Clarissa kena serangan jantung!"

Tuan Mahendra yang panik segera menghubungi dokter pribadi keluarga. Seluruh mansion mendadak heboh. Para pelayan berlarian membawakan tabung oksigen dan kompres air hangat ke kamar Clarissa. Nyonya Siska tidak sedetik pun melepaskan tangan Clarissa, terus membisikkan kata-kata penenang dan menciumi keningnya.

Ponsel Siska berdenting lagi. Sebuah pesan kedua dari Adel masuk: *“Ibu, aku tidak bisa bernapas dengan baik. Tolong...”*

Siska melirik ponselnya yang tergeletak di karpet. Ia melihat nama 'Adel' di layar. Namun, Clarissa tiba-tiba merintih lebih keras. "Ibu... jangan lihat ponsel. Temani aku... aku takut kalau aku memejamkan mata, aku tidak akan bangun lagi."

Siska mematikan ponselnya. "Iya, Sayang. Ibu di sini. Ibu tidak akan pergi ke mana-mana. Kau jauh lebih penting dari apa pun."

---

Di paviliun belakang, Adel menatap layar ponselnya yang kini gelap. Ia menyadari bahwa pesannya telah dibaca, namun sang ibu memilih untuk mengabaikannya. Keheningan di kamar itu terasa sangat dingin, lebih dingin dari hujan di luar.

Air mata menetes di pipi Adel yang panas. Bukan karena sakit fisiknya, tapi karena hancurnya harapan terakhirnya. Di saat ia berjuang melawan maut sendirian di kamar yang gelap, ibunya sedang memeluk sang "putri palsu" di kamar yang penuh cahaya.

"Benar..." bisik Adel dengan suara yang hampir hilang. "Darah tidak berarti apa-apa bagi mereka."

Tiba-tiba, jendela kamar Adel terbuka dengan paksa. Seseorang melompat masuk dengan pakaian yang basah kuyup. Devan Dirgantara. Ia datang setelah melihat lokasi GPS Adel yang tidak bergerak selama berjam-jam dan tidak membalas pesannya.

"Adel!" Devan segera menghampiri tempat tidur dan menyentuh kening Adel. Matanya membelalak. "Kau terbakar! Kenapa kau tidak meneleponku?"

"Ibu..." Adel hanya bisa menggumamkan satu kata itu sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya.

Devan menatap ponsel Adel yang tergeletak di sampingnya. Ia melihat riwayat pesan singkat Adel kepada Siska. Rahang Devan mengeras. Ia melihat ke arah gedung utama mansion yang terlihat sibuk, lalu menatap Adel yang pucat pasi di pelukannya.

Tanpa membuang waktu, Devan membungkus tubuh Adel dengan selimut tebal dan menggendongnya keluar menembus hujan menuju mobilnya. Ia tidak peduli dengan protokol atau izin Tuan Mahendra. Baginya, nyawa gadis ini adalah prioritas utamanya.

---

Tiga jam kemudian, Adel terbangun di sebuah kamar rumah sakit VIP yang tenang. Infus terpasang di tangannya. Di samping tempat tidur, Devan sedang duduk sambil menatap layar laptopnya, namun ia segera menoleh saat mendengar lenguhan Adel.

"Kau sudah bangun?" suara Devan terdengar lembut, sebuah nada yang sangat jarang ia tunjukkan.

"Di mana aku?" tanya Adel lemah.

"Rumah sakit keluarga Dirgantara. Kau aman di sini," Devan meletakkan segelas air di bibir Adel. "Dokter bilang kau mengalami kelelahan ekstrem dan infeksi pernapasan akibat tekanan mental. Kau hampir mengalami koma jika aku terlambat membawamu."

Adel menatap langit-langit kamar rumah sakit yang putih bersih. "Apakah ada yang mencariku?"

Devan terdiam sejenak, ia tahu kejujuran ini akan menyakitkan. "Tuan Mahendra meneleponku satu jam yang lalu, bertanya di mana kau karena ada jadwal latihan etiket pagi ini. Aku memberitahunya kau di rumah sakit."

"Dan Ibu?"

"Nyonya Siska sedang sibuk menemani Clarissa yang katanya mengalami 'gejala serangan jantung'. Dokter pribadi mereka bilang itu hanya serangan panik ringan, tapi ibumu bersikeras untuk tetap menjaganya sepanjang malam."

Adel tertawa kecil. Tawa yang hambar dan penuh dengan kepahitan. "Serangan panik... Tentu saja. Dia selalu tahu bagaimana cara menarik perhatian saat aku sedang sekarat."

Adel memejamkan matanya rapat-rapat. Sesuatu di dalam dirinya telah mati malam itu. Bukan rasa cintanya pada ibunya, tapi rasa kebutuhannya akan pengakuan dari wanita itu. Ia merasa seolah-olah seluruh bebannya telah terangkat karena ia tidak lagi memiliki harapan.

"Devan," panggil Adel.

"Ya?"

"Mulai hari ini, aku tidak akan pernah lagi meminta kasih sayang dari wanita itu. Aku tidak akan lagi berharap dia melihatku sebagai anaknya." Adel menatap Devan dengan mata yang kini berkilat dingin seperti baja. "Dia ingin memiliki Clarissa sebagai putrinya? Silakan. Tapi dia akan kehilangan segalanya yang lain."

Devan mendekat, menggenggam tangan Adel yang dingin. "Apa yang ingin kau lakukan?"

"Aku akan menghancurkan apa yang paling mereka banggakan," jawab Adel. "Harta, reputasi, dan perusahaan Mahendra Group. Aku akan mengambil alih semuanya, dan saat aku berdiri di atas, aku ingin melihat mereka memohon ampun pada 'anak angkat' yang mereka abaikan ini."

Devan tersenyum tipis. "Selamat datang kembali, Adelard. Sekarang kau bicara dengan bahasa yang aku mengerti."

---

Keesokan paginya, Nyonya Siska datang ke rumah sakit dengan wajah yang tampak lelah namun masih memiliki aura keangkuhan. Ia membawa sebuah keranjang buah yang mahal.

"Adel, kau sudah baikan?" tanya Siska sambil meletakkan buah itu di meja. "Maaf Ibu tidak bisa datang semalam. Clarissa benar-benar dalam kondisi kritis. Kasihan dia, dia sangat trauma dengan kejadian di sekolah kemarin."

Adel menatap ibunya dengan ekspresi datar yang sangat menakutkan. Tidak ada kesedihan, tidak ada kemarahan. Hanya kekosongan.

"Terima kasih atas buahnya, Nyonya Mahendra," ucap Adel formal.

Siska mengerutkan kening. "Nyonya Mahendra? Kenapa kau memanggilku begitu? Aku ini ibumu."

"Ibu adalah seseorang yang ada saat anaknya membutuhkannya," sahut Adel tenang. "Semalam, saat saya hampir mati, saya tidak memiliki ibu. Jadi, mulai sekarang, mari kita bersikap profesional. Anda adalah istri dari Tuan Mahendra yang mengadopsi saya, dan saya adalah aset berharga yang akan menyelamatkan perusahaan suami Anda."

"Kau... beraninya kau bicara begitu!" Siska tersinggung. "Aku mengabaikan pesannya karena Clarissa sakit jantung!"

"Clarissa tidak sakit jantung, Nyonya. Dia hanya takut. Dan Anda lebih memilih ketakutan seorang pembohong daripada nyawa anak kandung Anda sendiri." Adel menunjuk pintu keluar dengan jarinya yang kurus. "Silakan keluar. Saya harus istirahat. Saya butuh banyak energi untuk mulai mengerjakan proyek besar Ayah yang tidak bisa dikerjakan oleh 'putri kesayangan' Anda itu."

Siska tertegun melihat perubahan drastis pada Adel. Gadis yang biasanya menatapnya dengan pandangan mendamba cinta, kini menatapnya seolah-olah ia adalah orang asing yang tidak berarti.

Saat Siska keluar dari kamar dengan perasaan gelisah yang tak bisa dijelaskan, ia berpapasan dengan Devan di lobi.

"Jaga putrimu baik-baik, Nyonya Siska," ucap Devan tanpa menoleh. "Sebab mulai detik ini, Adel bukan lagi anakmu. Dia adalah lawamu."

Di dalam kamar rumah sakit, Adel mengambil laptopnya yang diletakkan Devan di meja. Ia mulai mengetik kode-kode keuangan dengan fokus yang luar biasa. Air matanya sudah kering. Darah memang lebih kental dari air, namun bagi Adel, pengkhianatan jauh lebih kental daripada darah. Dan ia akan memastikan keluarga Mahendra merasakan setiap tetes pengkhianatan yang mereka tanamkan padanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!