Alvaro Zaidan Alexander adalah anak ketiga dari empat bersaudara, ia adalah anak tengah yang hampir terlupakan oleh keluarganya sendiri semenjak sang mamah meninggal, keluarganya yang dulunya harmonis dan hangat sekaranh hanya keluarga dingin dan juga kaku.
Dan ada satu kejadian yang membuatnya berubah yaitu musuh bebuyutan sang Papah yang mengincarnya yang membuat sang Papah dan 3 saudaranya berubah seketika...
Apa yang di inginkan oleh musuh Papah kepada Alvaro?
Apakah mereka berhasil melindungi Alvaro atau tidak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patmandari Nugraheni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21 Kekhawatiran yang Menggema
"Pah bisa datang kerumah sakit sekarang" ucap Arlan setelah sang papah mengangkat telponnya.
"Siapa yang sakit Arlan?" tanya sang papah kepada Arlan.
"Al pah yang sakit demam berdarah, tapi kita baru nunggu hasil labnya pah" jawab Arlan.
"Ya sudah papah ke sana sekarang, sudah menghubungi Erlan?" tanya sang papah lagi.
"Belum pah habis ini, pah" jawab Arlan lagi.
"Ya sudah tunggu papah 20 menit lagi" ucap sang papah.
"Iya pah" ujar Arlan.
Setelah Arlan menghubungi sang papah selanjutnya ia akan mengubungi Erlan yang masih ada di kampus karena jam kelas mereka yang berbeda.
"Halo Erlan" panggil Arlan saat panggilan telponnya sudah di angkat oleh sang kembaran.
"Ya bang kenapa?" tanya Erlan kepada Arlan.
"Kamu bisa kesini gak kerumah sakit Alvaro masuk rumah sakit ini" jawab Arlan kepada Erlan.
"Bisa bang aku kesana sekarang, tapi aku izin dulu ke dosen" ucap Erlan.
"Iya hati-hati" ujar Arlan.
"Iya bang" jawab Erlan.
Tutt
Tuut tutt
Panggilan telpon pun di matikan sepihak oleh Erlan dari sebrang sana.
"Cepet sembuh ya Al, kita semua khawatir" batin Arlan saat melihat kondisi sang adik keduanya itu.
30 menit kemudian, mereka semua pun sudah berkumpul di ruangan igd dan tepat di samping kanan dan kiri brankar yang di buat istirahat Alvaro, mereka semua pun sedang menunggu hasil lab darah milik Alvaro.
1 jam kemudian, tirai yang ada di igd lun terbuka memcahkan keheningan yang ada disana. Dan tampak lah seorang dokter muda yang berjalan mendekat dan di ikuti oleh satu perawat yang ada di belakangnya.
Papah, Arlan, Erlan dan Elvano pun mengalihkan pandangan mereka dari Alvaro ke arah sang dokter tersebut yang membawa hasil uji lab.
"Dengan keluarga pasien?" ucap dokter muda tersebut.
"Iya dok saya papahnya, bagaimana hasil uji labnya dok?" tanya sang papah dengan nada khawatir ke arah sang dokter.
"Bapak dan yang lainnya tidak perlu panik, meski pun pasien harus melakukan perawatan intensif untu beberapa hari ke depan. Dari hasil uji lab Alvaro, ia memang terkena demam berdarah dengan kadar trombositnya yang sudah turun di bawah nilai normal yaitu 80.000 mcl" jelas sang dokter.
"Jadi anak saya positif demam berdarah dok" ucap sang papah.
"Benar pak, pasien juga harus rawat inap supaya kami bisa memantau perkembangan kondisi pasien dan juga cairan yang pasien butuhkan" ucap sang dokter yang lebih detail.
"Baik dok saya mengerti" ujar sang papah.
"Pasien bisa langsung di pindahkan keruang rawat pak setelah administrasi sudah selesai" ucap sang dokter lagi.
"Baik dok, saya akan ambil ruang rawat VVIP" ujar sang papah mutlak.
Dokter muda itu hanya bisa tersenyum "Pastinya pak, biar perawat yang mengurus ruang rawat inap yang kosong. Setelah administrasinya selesai, pasien bisa langsung di pindahkan ke ruang rawat".
"Biar Arlan dan Erlan yang mengurus administrasinya pah" sahut Arlan menyenggol bahu sang kembaran.
"Iya pah, papah bisa temani Al sama El" tambah Erlan sambil mulai mengekori sang kakak kembar dari belakang.
Setelah sepeninggalan mereka berdua, El pun menghampiri brankar sang kakak dengan raut yang tak kalah khawatir ke arah sang kakak kembar.
"Al yang kuat ya, pasti sembuh" ucap Elvano lirih ke arah Alvaro yang sudah tertidur lagi.
"Tenang El pasti Al sembuh kok kalau trombositnya naik lagi" sahut sang papah pelan.
Tidak berselang lama Arlan dan Erlan pun kembali setelah menyelesaikan administrasi, brakar Alvaro pun di bawa oleh kedua perawat menuju ke ruang rawat inap miliknya yang berada di lantai tiga rumah sakit.
Langkah kaki mereka semua pun mengema pelan di koridor rumah sakit yang kontras dengan suara brankar milik Alvaro, dan Elvano berjalan paling dekat dengan brakar milik sang kakak dan ia hanya bisa melihat wajah pucat milik Alvaro.
Sesampainya di lantai tiga di depan kamar rawat inap VVIP milik Alvaro pun, mereka semua pun masuk dengan suara yang cukup sunyi tidak ada suara pembicaraan sama sekali kecuali suara roda brakar yang terdengar.
"Cairan infusnya sudah kami sesuaikan ya pak, jika ada ke adaan darurat bisa tekan tombolnya saja dan nanti beberapa jam sekali akan ada perawat yang akan datang kesini" ujar salah satu perawat kepada sang papah.
"Baik sus terima kasih" ucap sang papah.
"Sama-sama pak, kami permisi" ujar perawat tersebut.
Setelah perawat tersebut keluar dari kamar Alvaro suasana ruangan tersebut berubah semakin sunyi.
Tiba-tiba Alvaro terbangun dari tidurnya dan melihat ke arah sampingnya yang sudah ada sang papah.
"Pah" panggilnya lirih.
"Iya Al, ada yang sakit?" tanya sang papah.
"Pusing pah" jawab Alvaro lirih.
"Pah" panggilnya sekali lagi.
"Iya?" tanya sang papah.
"Aku mau senderan" jawabnya lirih.
"Bentar ya Al" ucap sang papah.
"Arlan bantu papah dong brakarnya agak di tegakkin dikit" ujar sang papah kepada anak sulungnya.
"Iya pah" sahut Arlan.
"Segini sudah Al?" tanya Arlan kepada Alvaro.
"Sudah bang" jawab Alvaro lirih.
"Papah" panggil Alvaro sekali lagi.
"Iya Al?" tanya sang papah.
"Al mau minum" jawab Alvaro kepada sang papah dan sang papah hanya bisa mengangguk pelan.
Sang papah pun langsung mengambil air minum yang ada di atas meja nangkas di samping tempat tidur Alvaro. Ia pun memasukkan sedotan plastik ke dalam air minum Alvaro supaya ia tidak perlu bersusah payah mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Dengan perlahan-lahan sang papah pun mengarahkan sedotannya ke arah bibir Alvaro yang sudah sangat pucat itu.
"Minumnya pelan-pelan, Al" ucap sang papah dan hanya mendapatkan anggukan kecil dari Alvaro sebagai jawaban.
Alvaro pun menyedotnya air minumnya sedikit demi sedikit, setelah beberapa teguguk ia pun menjauhkan kepalanya dari air minumnya sebagai tanda ia sudah selesai minum.
"El" panggil Alvaro lirih hampir kepada sang adik kembar dan Elvano pun mendekat ke arah Alvaro.
"Iya Al?" tanya Elvano kepada Alvaro.
"Montor kamu gimana?" tanya Alvaro.
"Haduh Al aku kira apa, tenang aja nanti montorku sama tas kita di bawa teman-teman. Nanti aku mau chat Darren aja" jawab Elvano kepada Alvaro, dan Alvaro pun hanya bisa mengangguk sebagai jawaban.
Suasana ruang rawat Alvaro kembali hening dan mereka melakukan aktivitas masing-masing seperti sang papah melakukan sedikit perkerjaannya yang tadi tertunda, Arlan dan Erlan mengerjakan sedikit tugas kulian mereka dari dosen, Alvaro sedang melihat Elvano yang mengechat teman-teman mereka dan yang terakhir Elvano yang sedang mengechat teman-teman mereka untuk membawakan montornya dan tas mereka ke rumah sakit.
"Sudah di chat El, Darrennya?" tanya Alvaro kepada Elvano.
"Sudah kok Al, kamu tenang aja" jawab Elvano ke pada Alvaro.
Tak lama kemudian Elvano pun menyimpan ponselnya dan Alvaro pun kembali memejamkan matanya kerena rasa pusing yang ia rasakan dan juga dingin secara bersamaan.
"Masih pusing, Al?" tanya Elvano kepada Alvaro dan hanya di jawab anggukan pelan.
"Tidur aja biar cepet sembuh dan trombositnya cepet naik" ucap Elvano pelan dan hanya di jawab deheman oleh Alvaro
Di pojok ruangan, Arlan dan Erlan mendongak dari layar laptop dan melihat interaksi kedua adik mereka yang sangat manis.
"Pah, papah kalau capek istirahat aja di kamar sebelah" ucap Erlan kepada sang papah yang dari tadi mengerjakan pekerjaannya.
"Belum capek kok Er, nanti kalau capek papah istirahat kok" ujar sang papah.
"Kalian sudah selesai tugasnya?" tanya sang papah.
"Sedikit lagi kok pah" jawab Arlan dan Erlan bersamaan dan hanya di balas anggukan oleh sang papah.
Ruang rawat Alvaro pun kembali hening, yang tersisa hanya suara ketukan kibor dari laptop Arlan, Erlan dan juga sang papah.
[Ruang rawat Alvaro - 16.00]
Terdengar suara ketukan pintu dan tiba-tiba pintu pun terbuka dengan sangat pelan supaya tidak membangunkan Alvaro yang sedang tertidur.
"Misi om" sahut Darren dengan sopan.
"Oh kalian masuk-masuk" ujar sang papah.
"Ini kita mau bawain kunci montornya El sama tasnya Al dan El om" ucap Darren.
"Oh iya taruh sini saja" ujar sang papah.
"Oh ya El montornya ada di parkiran rumah sakit ya" ucap Arvin dan di balas anggukan oleh Elvano sebagai jawabannya.
"Kalau begitu kami langsung pamit ya om" ucap Clara yang ada di belakang Darren.
"Kok buru-buru banget kalian" ujar Erlan.
"Iya kak, biar gak ganggu Alvaro yang baru yang istirahat" jawab Alan yang berada di samping Darren.
"Oh ya sudah kalau begitu, kalian hati-hati ya" ucap Arlan.
"Makasih ya guys" ujar Elvano.
"Sama-sama El, salam ya buat Al" ucap Ervon dan hanya mendapatkan anggukan dari Elvano.
"Permisi ya om, bang Arlan, kak Erlan sama El" ujar Elena dan hanya mendapatkan anggukan dari mereka berempat.
Setelah teman-teman mereka pulang, tiba-tiba Alvaro bangun dari tidurnya karena ia sempat mendengar suara teman-temannya dan Elvano.
"Van tadi kayak suara temen-temen kita" ucap Alvaro kepada Elvano.
"Iya memang mereka, mereka baru saja antar tas kita sama kunci montorku" ujar Elvano.
"Oh ya kamu juga dapet salam dari mereka" ucap Elvano sekali lagi dan hanya mendapatkan anggukan dari Alvaro sebagai jawaban lalu ia pun memejamkan matanya lagi karena rasa pusing yang ia rasakan.