NovelToon NovelToon
Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action
Popularitas:53.6k
Nilai: 5
Nama Author: RantauL

Season 2 dari Novel Sang Penakluk.

Hi Cesss, Novel Sang Penakluk kembali lagi ni. Semoga klean suka dengan alur ceritanya Cesss.

Jangan Lupa Like, Komen dan Supportnya Cesss. Karena setiap like, komen dan support dari kalian akan sangat berguna bagiku yang pemula ini.

Selamat Membaca...,,,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RantauL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17. Rombongan Kekaisaran Awan Kuning

Di luar ibukota, jauh dari tembok tinggi dan keramaian, sesosok besar berdiri di puncak bukit. Tubuhnya kekar, kulitnya gelap berkilau, dan matanya menyapu cakrawala dengan waspada.

Gorblac—Raja Gorilla Hitam—menghirup udara dalam-dalam.

Sejak ditugaskan oleh Ray Zen, ia tak pernah lalai. Setiap gerakan mencurigakan, setiap aura asing yang mendekat ke ibukota, semuanya ia catat. Di pinggangnya tergantung token komunikasi berukir simbol emas—penghubung langsung ke Ray Zen.

“Hmm…” gumamnya saat merasakan getaran halus di udara. “Aura ini… bukan dari wilayah ini.”

Ia menutup mata sejenak, merasakan arah sumbernya, lalu mengeluarkan token itu. “Tuanku,” katanya dengan suara rendah namun jelas, “ada pergerakan asing di bagian barat laut ibukota. Belum berbahaya, tapi patut diawasi.”

Di istana, Ray Zen membuka matanya. “Teruskan pengamatan. Jangan bertindak gegabah.”

“Baik, Tuan.” jawab Gorblac singkat.

Ray Zen menutup komunikasi, lalu menatap langit biru di atas istana. “Semuanya berjalan sesuai rencana…”

Ia tahu tidak semua orang senang dengan kebangkitan pengaruhnya. Ia tahu ada mata-mata, bisikan, dan kebencian tersembunyi. Namun ia tidak peduli.

Yang ia pedulikan hanyalah satu hal: Keseimbangan Kekaisaran Awan Putih.

Dengan adanya Paviliun Harta Karun, aliran sumber daya menjadi lebih teratur. Dengan adanya Paviliun Cahaya Bulan, informasi dan stabilitas sosial terjaga.

Dan dengan adanya Gorblac di luar, dan Bai Hu serta yang lain di dalam, keamanan kekaisaran berada di tangan orang-orang yang ia percayai.

Malam pun tiba, lampu-lampu Paviliun Cahaya Bulan bersinar lembut seperti bintang jatuh. Di Paviliun Harta Karun, transaksi masih berlangsung hingga larut. Di istana, pasukan khusus Ray Zen menyelesaikan latihan mereka dengan wajah penuh tekad.

Ray Zen berdiri sebagai poros yang tak terlihat—menggerakkan semuanya tanpa perlu suara keras. “Selama kekuatan ini digunakan dengan benar,” gumamnya pelan, “Kekaisaran Awan Putih… akan menjadi lebih baik.”

Angin malam berhembus lembut, membawa perubahan yang belum sepenuhnya disadari dunia.

Keesokan harinya, mentari pagi belum sepenuhnya naik ketika kabut tipis masih menggantung di jalan utama yang mengarah ke pintu gerbang Ibu Kota Kekaisaran Awan Putih. Udara terasa sejuk, dedaunan basah oleh embun malam, dan suasana di luar tembok kota masih relatif sunyi.

Di atas sebuah pohon tua yang tinggi dan rindang, sesosok besar bertengger tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

Gorblac.

Ia berdiri kokoh di atas dahan paling tebal. Tubuhnya yang besar dan kekar hampir menyatu dengan bayangan dedaunan. Mata merah keemasannya menatap lurus ke jalan besar di bawah, penuh kewaspadaan.

Sejak fajar, ia sudah berada di sana, mengikuti instingnya yang mengatakan jika ada aura berbeda dari arah barat laut ibukota.

Dan insting itu terbukti benar.

Dari kejauhan, suara derap kaki kuda mulai terdengar. Pelan, teratur, dan penuh wibawa.

Gorblac menyipitkan mata.

“Datang juga…” gumamnya pelan.

Kabut pagi perlahan terbelah ketika sebuah rombongan besar muncul di tikungan jalan. Di barisan paling depan, dua orang menunggang kuda putih bersih. Kuda-kuda itu bukan kuda biasa—langkahnya mantap, tubuhnya tegap, dan matanya tajam seolah telah dilatih untuk medan perang.

Penunggangnya mengenakan baju zirah berwarna emas pucat dengan ukiran awan berlapis cahaya kuning. Wajah keduanya tenang namun dingin. Aura kuat terpancar dari tubuh mereka berdua—bukan aura kasar seperti prajurit biasa, melainkan tekanan halus yang hanya dimiliki oleh para kultivator hebat.

“Dua Jendral Kekaisaran…” gumam Gorblac. “Kuat. Sangat kuat.”

Di belakang mereka, bergerak perlahan sebuah kereta kuda yang luar biasa mewah. Badannya dilapisi emas dan perak, dihiasi simbol awan yang berpilin indah. Tirai sutra kuning bergoyang pelan mengikuti gerakan roda. Dari dalam kereta, aura samar namun dalam terasa berdenyut—tenang, terkendali, namun jelas bukan orang biasa.

Mengapit kereta itu, ratusan prajurit berbaris rapi. Tombak mereka tegak, perisai berkilau, dan langkah mereka serempak. Di barisan belakang, bendera besar berkibar tertiup angin pagi—berwarna kuning keemasan, dengan lambang awan bertingkat.

Kekaisaran Awan Kuning.

Gorblac tidak bergerak. Tidak menghalangi. Tidak memperlihatkan diri.

Tugasnya bukan konfrontasi—melainkan mengamati.

Ia mengamati setiap detail: jumlah pasukan, jarak antar barisan, ekspresi wajah, hingga ritme langkah kuda. Ia mencatat semuanya dalam benaknya seperti seorang mata-mata berpengalaman.

“Rombongan diplomatik…” gumamnya. “Tapi mengapa mereka membawa pasukan sebanyak ini? Hmph...”

Ia mengeluarkan token komunikasi dari ikat pinggangnya. Ukiran emas pada permukaannya berpendar lembut saat ia menyalurkan energi.

“Tuanku,” suara Gorblac rendah namun jelas, “rombongan dari Kekaisaran Awan Kuning hampir tiba di gerbang ibukota kekaisaran. Dua Jendral kuat memimpin di depan. Satu kereta mewah di tengah—kemungkinan tokoh penting. Dan pasukan pengawal berjumlah besar. Tidak ada yang mencurigakan, tapi kekuatan mereka tidak bisa diremehkan.”

Di dalam istana, Ray Zen yang sedang berdiri di depan meja peta membuka matanya perlahan.

“Kekaisaran Awan Kuning…” gumamnya.

Bai Hu yang berdiri di sampingnya langsung menoleh. “Apa ada sesuatu yang terjadi pangeran,” tanya Bai Hu penasaran, karena hanya Ray Zen saja yang dapat mendengar suara Gorblac.

Ray Zen mengangguk pelan, "Rombongan Kekaisaran Awan Kuning sedang menuju kemari, Paman." jawabnya, lalu berbicara lagi pada Gorblac. “Terus awasi dari kejauhan, Gorblac. Jangan menghalangi mereka. Aku ingin tahu apa tujuan mereka datang jauh-jauh kesini.”

“Dimengerti, Tuan.”

Komunikasi terputus. Gorblac kembali menyimpan token dan melompat ringan ke dahan lain, mengikuti rombongan itu dari atas pepohonan.

"Sepertinya akan ada hal menarik lagi." ucap Ray Zen pelan, namun dapat didengar oleh semua pengawalnya. Senyum tipis terukir diwajahnya.

Bai Hu, Bear, Han Yu, Tiger dan Trile saling pandang, tapi tidak bertanya. Mereka sudah terbiasa dengan sikap dan sifat Ray Zen tersebut.

...*****...

Tak lama kemudian, rombongan Kekaisaran Awan Kuning tiba di depan gerbang utama Ibu Kota Kekaisaran Awan Putih.

Gerbang raksasa itu berdiri kokoh. Di depannya, puluhan prajurit Awan Putih telah bersiaga. Pemimpin gerbang melangkah maju. “Berhenti!” serunya lantang. “Sebutkan identitas dan tujuan kalian!”

Dua penunggang kuda putih berhenti bersamaan. Salah satu dari mereka, seorang pria paruh baya berjenggot, turun dari kuda dengan gerakan angkuh, lalu melangkah maju.

“Kami adalah utusan resmi dari Kekaisaran Awan Kuning,” katanya dengan suara tenang namun berwibawa. “Kami datang membawa pesan penting untuk Kekaisaran Awan Putih.”

Ia mengangkat sebuah gulungan bersegel emas.

Komandan gerbang menerima gulungan itu, memeriksanya dengan cermat, lalu menatap kembali rombongan tersebut.

“Silakan tunggu,” katanya. “Kami akan melakukan pemeriksaan sesuai prosedur.”

Rombongan tidak memprotes. Para prajurit Awan Kuning berdiri tenang, disiplin, seolah telah memperkirakan hal ini. Pemeriksaan berlangsung cukup lama—kereta diperiksa, pasukan dihitung, dan aura tiap individu diamati oleh petugas khusus.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Jangan Lupa Like dan Komennya Cesss.....

Selamat Membaca.....

Lanjut Terussss.....

1
anindhira
cukup bagus namun lambat up
jabanusratvribali
Mungkin msh menimbang2 hrs spt apa sosok sang penakluk pada ujian ke dua dst....nya. 😄
gara 21
MC jadi Hilang ditelan bumi.. kaya dia bukan MC. tp piguran yg tak penting..
LoginNovel 123
Parah
teguh andriyanto
hadewh🤣🤣
Boqin Changing
ngilang lagi thor
Mohd Ali Mohamad
b0d6ij Ii 7676n7 I'll be 7 inn n
Zulkifli Zul Dsr
ni Certa kayak di telan bumi sama dengan orang nya kadang nongol kadang ilang🤣🤣🤣
Ardiy Anto
duri keluarga ini bikin kurang sedap bacanya
Ardiy Anto
peran seperti muche ini cepat cepat di hilang kan...biar lebih asik bacanya
jgan terlalu banyak instriksion....dan culas
bandit kicau
chapternya bertele2 menjiwai kayak sinetron, MCnya tenggelam jd kagak menarik,,
bandit kicau
kebanyakan chapter gak penting yg tidak perlu,jd MCnya terlupakan pokok ceritanya jd kayak cerita sinetron jd kagak asik,,
Endrasusilastri_224
baru mau penasaran baca nya ilang deh semangat me. baca nya tor🤣🤣
Endrasusilastri_224
dah mulai kendor bab nya ya tor
Boqin Changing
lanjut terusss👍💪
Zulkifli Zul Dsr
duh tor biasa nya 4.capter kok sekarang dua chapter semangat dong tor ajar torrr saya mendukung mu yang banyak torrr🤣🤣
Boqin Changing: yg banyakk , ya🤣
total 1 replies
Boqin Changing
lanjuttt Thor
sutrimo trimo
yaa💪
Agus Purwanto
cerita goblok
kaisarnya gx da tegas
sutrimo trimo
semangat cess😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!