Cerita ini adalah fiktif belaka, semua yang terjadi adalah khayalan Author semata, nama pemeran dan lokasi hanyalah sebuah karangan Author.
Utari Candra Kirana bertemu kembali dengan orang yang selama ini dia benci. Selama mereka berpisah tidak pernah lagi mendengar bahkan bertemu dengan laki-laki yang sudah menyakiti hati nya begitu dalam. Disaat hidupnya mulai damai dan bahagia bersama sang putri, tiba-tiba harus berhadapan dengan laki-laki yang sudah menorehkan luka di hati Tari. Sialnya dia harus bertemu sepanjang hari dan berusaha berinteraksi dengan nya walaupun masih ada kebencian yang terpancar dari sorot mata nya.
Reksa Arya Nugraha laki-laki yang sudah menggores luka di hati seorang wanita yang dulu mencintai nya dengan tulus. Karena sebuah ide konyol para sahabatnya, dia melakukan sebuah tindakan yang fatal dan bahkan membuat perempuan itu membencinya.
" Kamu tahu, orang paling aku benci? jawabannya adalah KAMU, REKSA ARYA NUGRAHA !!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Arum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Reksa (R )
Reksa kini duduk menunggu di ruangan private sebuah restoran. Terlihat Reksa berulangkali menatap ke arah pintu masuk ruangan dengan perasaan gelisah.
Saat mendengar suara pintu dibuka dia langsung menoleh ke arah pintu dimana orang yang dia sudah tunggu akhirnya datang juga.
"Akhirnya dia datang juga.." Reksa bergumam saat melihat sosok orang yang dia tunggu sudah muncul di ambang pintu. Rasanya begitu lega karena akhirnya apa yang dia nanti seminggu ini akhirnya datang juga.
"Sorry bos terlambat , macet!" orang itu terlihat menarik salah satu kursi yang ada di depan Reksa dengan meminta maaf karena keterlambatan nya.
"Nggak apa-apa. Tapi kamu sudah bawa informasi yang saya minta kan?" Reksa tak ingin ada satu pun hal yang terlewat.
"Sebagian mungkin sudah saya dapat. Tapi, dalam informasi ini ada sesuatu yang harus dilakukan oleh bos sendiri."
Ucapan orang yang ada di depannya membuat Reksa mengernyitkan dahi. "Maksud kamu____
"Sorry bos, sebaiknya bos lihat dulu laporan ini.." Orang itu memotong ucapan Reksa dan segera menyodorkan amplop coklat yang dia bawa ke arah Reksa.
Reksa segera mengambil amplop coklat itu dan segara membukanya.
Reksa mulai membaca informasi yang ditulis disana. Ekspresi wajah Reksa terlihat berubah-ubah saat membaca informasi yang dia dapat.
"Tari pergi dari Jakarta tapi tidak kembali ke desanya?" orang yang ada di depannya mengangguk.
"Infonya, dia berada di Surabaya. Lalu ke Jakarta dan bekerja disebuah perusahaan. Dia menikah dan memiliki putri,namun beberapa bulan lalu mereka bercerai." Reksa menoleh ke arah orang suruhannya itu. Reksa mengerutkan keningnya dan membaca kembali lembar demi lembar kertas yang dia pegang.
"Mereka bercerai beberapa bulan lalu bos. Menurut informasi, mantan suami Tari berselingkuh dan sekarang sudah menikah dengan selingkuhannya itu. Tapi, ada yang janggal dengan pernikahan Tari dan mantan suaminya." Reksa melirik ke arah orang suruhannya itu. "Ini surat keterangan pernikahan Tari dan mantan suaminya Wisnu. Pernikahan mereka bahkan baru tiga tahun tapi, anaknya disini sudah 10 tahun."
Reksa membulatkan matanya.." Apa Tari punya mantan kekasih selama di Surabaya?" orang itu menggelengkan kepalanya.
"Menurut informasi, Tari tidak pernah menjalin hubungan sebelum kenal dengan mantan suaminya. Bahkan Tari selalu menghindar dari laki-laki." Reksa mengepalkan tangannya dengan kuat. Rahang nya pun mengeras, wajahnya pun menegang memikirkan banyak hal.
Reksa menaruh kasar kertas yang ada di genggaman nya ke atas meja. Otaknya mulai berpikir dengan segala kemungkinan." Saya tahu harus berbuat apa, sementara cukup untuk informasi nya. Thanks.."
"Siap bos, kalau ada apa-apa bisa hubungi saya lagi." Reksa mengangguk dan orang itu pun berpamitan pada Reksa untuk kembali.
...----------------...
Reksa melangkah dengan gontai masuk ke dalam rumahnya. Dia melihat Sofia sedang asik belajar di temani oleh nyonya Hanum.
"Assalamualaikum ma.." Reksa berjalan mendekati sang mama dan juga Sofia.
"Wa'alaikum salam, ehh...kamu sudah pulang Sa? Sofia, salam sama om Reksa." Sofia dengan cepat beranjak dari tempat duduknya dan segera mengulurkan tangannya ke arah Reksa.
Reksa mengulurkan tangannya ke arah Sofia. Terlihat Reksa menatap lekat wajah bocah itu, namun saat Sofia mencium punggung tangannya ada rasa aneh di dalam dadanya saat bocah itu mencium tangannya dan menatap ke arah Reksa dengan senyum manisnya yang mirip dengan Tari.
"Sofia sedang belajar apa?" suara yang terdengar lembut keluar dari bibir Reksa. Sedangkan tangan Reksa mengusap lembut kepala Sofia dengan lembut.
Pemandangan itu pun membuat Hanum tersenyum tipis. Interaksi kedua orang yang ada di hadapan Hanum membuatnya terharu.
"Fia lagi belajar matematika om, Oma bantu Sofia kerjakan PR."
"Anak rajin, Sofia lanjutkan lagi belajarnya. Om ke atas dulu.." Sofia mengangguk tanpa menatap Reksa.
Reksa mengacak gemas rambut bocah itu dan langsung melangkah meninggalkan Sofia bersama Hanum.
Hanum yang melihat tingkah laku Reksa yang tak biasanya hanya bisa menatap heran. Sedangkan Sofia yang terlihat mengerucutkan bibirnya saat Reksa mengacak rambutnya. "Uuuhhh..om Reksa buat rambut Fia berantakan.." dengan tangan nya mencoba merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan karena ulah Reksa.
"Sini,sini..Oma rapihkan rambut Sofia. Maafin Om Reksa yaa...dia terlalu gemas sama Fia.." Hanum menarik tangan Fia dengan pelan dan mendudukkan nya di sampingnya lalu dengan telaten Hanum merapihkan rambut Fia yang berantakan karena ulah Reksa.
Reksa melangkah cepat ke dalam kamarnya lalu dia mengambil sesuatu di kantong bajunya. Dia menghela nafas panjang dan segera mengambil ponsel yang ada di saku celananya.
"Hallo bro!" suara seseorang terdengar dari seberang sana.
"Hemmm..besok gue ke Rumah Sakit dan ada sesuatu yang harus lo lakukan." Reksa dengan to the point membuat janji dengan seseorang.
"Lo sakit?" terdengar suara seseorang dari seberang telepon.
"Nggak, tapi ada sesuatu yang perlu gue lakukan."
"Baiklah, datanglah kemari besok pagi. Gue ada praktek jam 10 pagi."
"Hemm.." tanpa menunggu jawaban dari seberang sana, Reksa lebih dulu mengakhiri panggilan itu.
Lalu dengan hati-hati dia menyimpan sesuatu yang di perlukan untuk besok.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, Reksa menuruni tangga dengan sedikit tergesa-gesa. Hari ini dia kesiangan karena semalam tak bisa tidur memikirkan hari ini.
"Pagi ma, pah!" Reksa menyempatkan diri untuk menyapa dan mendekati kedua orang tuanya.
"Pagi sayang..!
"Kamu kelihatan buru-buru benget Sa?"
"Reksa kesiangan ma, Reksa pamit dulu, pa, ma!" Reksa berpamitan pada kedua orang tuanya mencium tangan kedua orang tuanya.
"Reksa, kamu nggak sarapan!" suara Hanum sedikit lebih keras saat melihat Reksa ingin melangkah pergi.
"Nggak keburu ma, biar nanti Reksa sarapan di kantor saja. Reksa berangkat ma,pa.. Assalamualaikum.."
"Wa'alaikum salam.." Pram dan Hanum saling pandang melihat kelakuan putranya.
Tak lama Tari keluar dari dapur membawa segelas kopi untuk Reksa. "Tari, kamu bawa kopinya ke dapur lagi. Reksa sudah berangkat." Tari menoleh ke arah Hanum dan menoleh ke arah jam dinding.
"Sudah berangkat nya, nggak sarapan?" Hanum mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Tari.
"Dia bilang sedang buru-buru. Lagi pula di kantor dia bisa sarapan di kantin." Pram menjawab pertanyaan Tari dan kemudian Tari mengangguk dan tersenyum kikuk.
Dia meruntuki kebodohan nya karena teringat Reksa yang tak bisa terlambat makan.
"Kalau begitu saya kebelakang dulu tuan, nyonya.." Tari pun kemudian melangkah meninggalkan ruang makan dan segera kembali ke dapur.
"Ini bahkan masih jam 8 pagi tapi kenapa dia buru-buru banget, bahkan nggak sempet sarapan. Sudah tahu punya gerd selalu ceroboh ." Tari menggerutu karena sikap Reksa yang selalu dia anggap ceroboh dalam menjaga kesehatan nya.
"Kamu kenapa ngedumel gitu Tar? habis di marahin tuan sama nyonya ya? Makanya jadi babu tuh tahu diri, jangan kegatelan!" Tari menatap ke arah Mini yang sedang berdiri tak jauh darinya sembari mengkritiknya.
"Mba Mini terlalu negatif thinking sama saya, siapa yang marah dan siapa yang di marahin? Sok tahu!" setelah membalas ucapan Mini, Tari melenggang pergi meninggalkan area dapur dan bahkan dengan sengaja menabrak bahu Mini sehingga Mini hampir terjatuh.
Bersambung
like + 🌹✍️😉