NovelToon NovelToon
PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Anak Genius
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Bayang-Bayang dari Masa Lalu

Bab 34: Bayang-Bayang dari Masa Lalu

​Kehangatan dada bidang Adrian yang mendekapnya malam itu masih menyisakan sensasi aneh yang membekas di kulit Aline, bahkan ketika fajar pagi telah menyingsing sempurna.

​Di dalam kamar pelayannya yang sunyi, Aline berdiri di dekat jendela, menatap pantulan dirinya di kaca. Kacamata bingkai emas tipisnya sudah terpasang kembali, mengembalikan kedok "Aline si gadis desa yang lugu." Namun, di tangan kanannya, ia memegang sebuah gawai mikro yang sedang memproyeksikan salinan digital dari berkas "Operasi Chrysalis" yang sempat ia pindai secara kilat semalam sebelum Adrian memergokinya.

​Jemari Aline menggeser layar, menganalisis barisan sandi enkripsi militer lama. Sebagai mantan operator siber taktis, tidak butuh waktu lama baginya untuk membaca pola di balik laporan transaksi tersebut. Namun, semakin dalam ia membaca, semakin kencang jantungnya berdegup—bukan karena takut, melainkan karena sebuah kenyataan mengejutkan yang baru saja terbuka di depan matanya.

​Tanda tangan otorisasi digital ini... bukan milik Adrian, batin Aline, matanya menyipit tajam menatap deretan kode hash kriptografi di bagian bawah dokumen eksekusi Kak Rena.

​Kode otorisasi tersebut terikat pada server sekunder lama milik Dewan Tetua Klan Dirgantara—faksi konservatif di dalam organisasi mafia yang selama bertahun-tahun ini dikabarkan tidak puas dengan kepemimpinan Adrian yang terlalu "bersih" dan condong membawa klan ke arah korporasi legal.

​Seseorang dari dalam faksi internal sengaja mengeksekusi Kak Rena karena kakaknya mengetahui rencana penggelapan aset massal, lalu memalsukan seluruh dokumen lapangan agar semua petunjuk mengarah langsung pada Adrian Dirgantara. Adrian sengaja dijadikan kambing hitam agar dibenci oleh organisasi intelijen tempat Rena bernaung.

​Aline menurunkan gawinya, napasnya tertahan. Pria mafia yang selama ini ia benci setengah mati, pria yang ia susupi rumahnya dengan misi balas dendam... ternyata adalah korban konspirasi yang sama gelapnya dengan nasib yang menimpa kakaknya.

​Langkah Sinkron di Arena Pacuan

​"Kak Aline! Ayo cepat! Daddy sudah menunggu di kandang kuda!"

​Pekikan ceria Keira dari arah koridor luar membuyarkan lamunan Aline. Hari ini, atas saran dokter keluarga untuk memulihkan trauma psikologis anak-anak pasca-insiden Grand Gala, Adrian memutuskan untuk meluangkan waktu luang dengan mengajak si kembar berkuda di area pacuan privat yang terletak di halaman belakang mansion yang sangat luas.

​Aline buru-buru menyimpan gawinya ke dalam kompartemen tersembunyi di balik lemari, lalu melangkah keluar dengan senyuman canggung andalannya. "I-Iya, Nona Muda... aduh, jangan lari-lari toh, nanti kakinya tersandung lagi seperti saya semalam."

​Di area pacuan, Adrian sudah berdiri gagah mengenakan setelan kasual berkuda—celana ketat hitam, sepatu bot kulit setinggi lutut, dan kemeja polo putih yang kontras dengan warna kulitnya yang kecokelatan. Bahu kirinya yang diperban tampak tidak membatasi wibawa mutlak yang terpancar dari pembawaannya. Di sampingnya, dua ekor kuda poni jinak dan seekor kuda jantan hitam besar bernama Erebus sudah siap pelana.

​"Kau bisa naik kuda, Nona Sanyoto?" tanya Adrian dingin begitu melihat Aline mendekat, meskipun sepasang mata elangnya sempat menatap lekat-lekat ke arah mata Aline, seolah sedang mengingat kembali momen intim saat ia memeluk gadis itu yang "mengigau" semalam.

​"A-Aduh, boro-boro kuda, Tuan Besar... di desa saya cuma pernah naik punggung kerbau di sawah," cicit Aline, pura-pura gemetar saat mendekati kuda poni putih milik Keira.

​Adrian mendengus tipis, ada kilat geli yang sangat samar di sudut matanya yang biasa dingin. "Rendra, awasi Kenzo. Aku akan memastikan Keira tidak lepas kendali."

​Aktivitas berkuda berjalan lancar selama tiga puluh menit pertama. Keira tampak tertawa lepas di atas kuda poninya, sementara Kenzo bergerak dengan tenang di bawah pengawasan Rendra yang bahunya masih dibalut kain penyangga. Aline sendiri berjalan di sisi pembatas pagar, bertingkah seperti pelayan yang sibuk membawakan botol air minum dan handuk kecil.

​Namun, ketenangan itu mendadak pecah ketika seekor burung elang liar menukik rendah dari arah hutan perimeter luar, mengeluarkan suara pekikan nyaring yang mengejutkan kuda poni milik Keira.

​NEIGGHHH!

​Kuda poni putih itu mendadak panik, mengangkat kedua kaki depannya ke udara, lalu melesat kencang tanpa kendali menuju ke arah pagar pembatas beton di ujung arena yang dipenuhi tumpukan kayu tajam sisa perbaikan.

​"Keira!" teriak Adrian liar, langsung memacu kuda jantannya, Erebus, dengan kecepatan penuh. Namun, jarak posisi Adrian terlalu jauh di sisi timur arena untuk bisa memotong jalur lari kuda Keira.

​Aline yang berdiri paling dekat dengan jalur beton langsung menghitung kalkulasi taktis dalam seperseratus detik. Jarak kuda Keira ke tumpukan kayu tajam tinggal lima puluh meter. Jika ia menunggu Adrian, Keira akan terlempar dan berakibat fatal.

​Persetan dengan penyamaran kedua! batin Aline berteriak.

​Dengan satu lompatan horizontal yang luar biasa bertenaga, Aline melompati pagar pembatas kayu setinggi satu meter dengan kelenturan tubuh seorang atlet senam olimpiade. Kain katun rok pelayannya berkibar, memberikan efek dorongan aerodinamis yang pas. Begitu kakinya mendarat di atas rumput, ia berlari sprint dengan kecepatan penuh, memotong jalur diagonal lari kuda poni tersebut.

​Tepat saat kuda Keira berada di titik kritis, Adrian berhasil merangsek mendekat dari sisi berlawanan.

​Dalam satu momen sinkronisasi taktis yang luar biasa tanpa direncanakan, Adrian mencondongkan seluruh tubuh tegapnya dari atas pelana Erebus untuk meraih tubuh Keira dari atas, sementara di saat yang bersamaan, Aline melakukan lompatan meluncur ke depan, menangkap tali kekang (rein) kuda poni tersebut dengan kedua tangannya, lalu menghentakkan seluruh bobot tubuhnya ke bawah untuk memaksa kuda itu melakukan pengereman darurat.

​SCREEECH!

​Kuda poni itu berhenti dengan paksa, berputar miring tepat dua sentimeter di depan tumpukan kayu tajam. Di sisi lain, Adrian berhasil menangkap tubuh Keira ke dalam dekapannya dengan selamat, berguling turun dari pelana Erebus dan mendarat mulus di atas rumput empuk bersama anaknya.

​Atmosfer arena mendadak sunyi, hanya menyisakan suara napas kuda yang memburu pendek.

​Adrian bangkit berdiri sambil memeluk Keira yang menangis syok. Namun, sepasang mata elang sang bos mafia tidak menatap anaknya; tatapannya terkunci rapat, lurus, dan penuh intensitas yang mengerikan ke arah Aline yang masih berdiri memegang tali kekang kuda dengan napas yang teratur dan posisi tubuh taktis yang sangat seimbang.

​Ketangkasan melompati pagar setinggi satu meter dan teknik menghentikan kuda panik dengan bobot tubuh horizontal bukanlah kemampuan yang bisa dipelajari dari punggung kerbau di sawah desa.

​Adrian melangkah mendekati Aline, aura intim dan intimidasi yang pekat menguar dari tubuhnya. Ia berdiri tepat di hadapan Aline, menatap lurus ke dalam lensa kacamata emas tipis gadis itu yang kini sedikit berdebu.

​"Refleks yang luar biasa untuk seorang pengrajin sapu lidi, Nona Sanyoto," ucap Adrian, suaranya terdengar sangat rendah, bergetar di antara rasa kagum yang murni dan kecurigaan yang kembali meroket tajam ke puncaknya. "Bakat alamimu... hampir terlihat seperti seorang prajurit terlatih."

​Aline menelan ludahnya pelan, buru-buru merosotkan kembali bahunya dan memasang wajah pucat seolah-olah ia baru saja melakukan tindakan nekat karena panik murni. "T-Tuan Besar... hiks... saya ndak mikir apa-apa lagi... saya cuma takut Nona Muda mati... kalau Nona Muda mati, saya beneran ndak bisa pulang kampung..."

​Adrian tidak menjawab, namun tatapan matanya menembus langsung ke dalam pertahanan ego Aline, menciptakan garis merah tak kasat mata yang siap meledak kapan saja di antara mereka.

1
Queen Aletha
done Kaka
gendiz: terimakasih
total 1 replies
rruangrindu
aku mampir,jangan lupa mampir juga
gendiz: siiappp
total 1 replies
Amiera Syaqilla
hi author💕
gendiz: Haiii, terimakasih sudah mampir membaca karya ku💙
total 1 replies
MayAyunda
keren👍
gendiz: terimakasih 🙏
total 1 replies
M. T🌻
aku mampir ya thor, semangat. jangan lupa mampir juga👍☺
gendiz: terimakasih 🙏 aaasiiiaaappp
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!