NovelToon NovelToon
Sisi Gelap Istri Pendiam

Sisi Gelap Istri Pendiam

Status: tamat
Genre:Suami Tak Berguna / Pelakor / Poligami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:22.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nanaxu

Tiara adalah istri pendiam yang selalu dihina Bima karena hanya memiliki toko roti kecil dan belum bisa memberi anak. Saat Bima berselingkuh dan merendahkannya, Tiara diam-diam bangkit membangun usaha hingga sukses besar. Ketika hidup berbalik—Tiara naik, Bima jatuh—lelaki itu menyesal dan ingin kembali.
Namun Tiara yang sekarang bukan lagi wanita yang bisa diinjak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanaxu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. BAB. 17 Dia Pilihan Ibuku

Saya tidak pernah membayangkan dikhianati oleh laki-laki yang kuamat cintai. Bertahun-tahun hubungan kami, setiap detik yang terlewati adalah persiapan menuju masa depan bersama.

Besar harapanku dia akan melamarku, menjadikanku pendamping hidupnya, tetapi kenyataannya sungguh menyakitkan: Fero memilih wanita lain. Dan ironisnya, saya menyaksikan pemilihan gaun pengantin itu di butik mewah ini, tempat yang seharusnya menjadi saksi kebahagiaan kami.

​Mereka, Fero dan wanita itu yang belakangan kuketahui bernama Mutia, berdiri di depanku. Mereka terkesan tidak merasa bersalah sama sekali. Yang ada, mereka melanjutkan memilih gaun dengan tawa renyah, seolah sengaja memamerkan kebahagiaan di atas kehancuranku. Mereka seolah senang melihat saya terpuruk, menyaksikan jiwaku remuk di lantai marmer butik ini.

​"Jangan salahkan saya, ataupun dia. Dia wanita baik-baik pilihan orang tuaku," ucap Fero, suaranya datar, tanpa nada penyesalan sedikit pun. Kalimat itu bagai pisau dingin menghunus tepat ke ulu hatiku, membelah kepercayaan yang selama ini kubangun.

​"Lalu, saya bukan wanita baik-baik seperti itu?" Ucapku, suara bergetar menahan amarah dan air mata. Saya tidak terima dengan pembelaan dirinya yang begitu picik. Apakah cinta dan kesetiaan kami selama ini tidak berarti apa-apa dibandingkan kriteria "wanita baik-baik" versi orang tuanya?

​Pandangan Fero kemudian tertuju pada bingkisan mewah di tanganku, sebuah jam tangan edisi terbatas yang kurencanakan sebagai hadiah luar negeri . "Itu hadiah untukku, kan?" tanyanya tanpa malu, tangannya terulur mencoba mengambil bingkisan itu. Enak saja! Siapa dirinya sekarang?

Kenapa saya begitu buta hingga tidak melihat sisi gelap pria yang selama ini kupertahankan mati-matian? Sisi gelap berupa ketidaksetiaan dan ketidakpekaan yang menjijikkan.

​Saya menarik bingkisan itu jauh dari jangkauannya. "Maaf, bukan untukmu lagi." Ucapku tegas, meskipun hati ini rasanya seperti tercabik. Tanpa membuang waktu sedetik pun lagi, saya berbalik dan keluar dari butik tersebut. Saya malu, sangat malu, menjadi tontonan orang banyak. Beberapa pasang mata menatap, berbisik, bahkan ada yang mengeluarkan ponsel untuk merekam drama menyedihkan ini.

​Saya berjalan cepat, menahan isakan, dan langsung masuk ke dalam mobil. Saya tidak peduli dengan teriakan Fero di belakang yang memanggil namaku, yang mengundang lebih banyak perhatian dan kamera. Biar saja. Akan terjadi pro dan kontra publik sebentar lagi apabila video ini trending. Media sosial sangat cepat, dan anehnya, hal ini tidak merugikanku sama sekali. Mungkin memang ada sebagian haters yang akan membuat saya terpojok, tetapi rasa sakit ini jauh lebih besar daripada ketakutan akan cibiran publik.

​Saya melajukan mobil dengan kecepatan sedang, menjauh dari butik penuh dusta itu. Tujuan saya adalah taman kota, tempat sepi di mana saya bisa menetralkan perasaan. Saya sungguh kecewa sejadi-jadinya. Pria yang kucintai menyakitiku sehebat ini.

​Di bangku taman yang teduh, tangis saya akhirnya pecah. Saya menangis tergugu dan begitu menyakitkan bagiku, meratapi kenyataan bahwa perjuangan ini, kesabaran ini, tidak dihargai kalau diberikan kepada orang yang salah.

Saya terus meratap, membiarkan semua rasa sakit keluar sampai saya merasa puas, sampai mata terasa perih dan kepala berdenyut.

​Langit mulai berubah warna menjadi jingga gelap, dan saya menyadari betapa parahnya saya meratap. Saya menyeka sisa air mata, mencoba menarik napas, ketika tiba-tiba bayangan dua sosok mendekat. Ternyata taman ini sangat gampang ditemukan oleh pengkhianat ini. Dia datang, bahkan bersama calon istrinya. Fero dan Mutia berdiri di depanku, merusak momen penenanganku.

​"Maaf Kak, saya tidak berniat merebut Kak Fero," ucap Mutia dengan nada yang dibuat-buat, pura-pura menunduk, tetapi saya menangkap senyum sinis tersungging di sudut bibirnya. Dasar penggoda!

​"Kamu tidak bertanya kah sama lelaki-mu itu bahwa dia sudah punya pasangan atau tidak?" Hardikku. Walaupun saya baru selesai menangis, saya muak dengan pengakuan menjijikkan dari wanita penuh kepalsuan ini.

​Mutia mendadak memasang wajah sedih. "Maafkan aku, Kak. Aku mengalah saja. Kak Fero jangan cari saya lagi," katanya sambil mulai menangis, sebuah sandiwara yang jelas terbaca.

​"Ainun, saya memilih dia karena pilihan orang tuaku sudah pasti terbaik, dan saya juga harus mengelola toko orang tuanya," sela Fero, mencoba membenarkan perbuatannya.

Kata-katanya seolah menunjukkan bahwa saya ini bukanlah orang yang tidak berguna, tidak memiliki "nilai jual" di mata keluarganya.

​Saya menatapnya dengan tatapan bengis. Entah ke mana perginya rasa sayangku selama ini, kenapa bisa menjelma menjadi rasa benci dalam waktu sesingkat ini. Sementara itu, Mutia, wanita pilihan orang tuanya itu, hanya tersenyum mengejek, menikmati kemenangannya.

​"Dek Mutia yang sabar ya, dia tidak bisa ganggu hubungan kita," ucap Fero dengan mesra, bahkan mengelus kepala wanita itu. Apakah saya ini penonton kemesraan mereka? Miris sekali.

​"Mana hadiah untukku? Ini sudah mulai malam. Saya tidak mungkin mengejarmu sampai di sini," Fero kembali menuntut tanpa tahu malu, matanya masih tertuju pada ku dengan tatapan tajam sambil mencari hadiah.

​Seharusnya dia sadar, jika berkhianat dariku, dia tidak bisa mendapatkan apa pun lagi, termasuk hadiah yang sejak awal memang kuniatkan untuknya jika dia setia. Ternyata hari ini, saya melihat betapa payahnya lelaki yang kupertahankan mati-matian. Dia serakah, tidak punya harga diri, dan rela mengemis.

​"Kak Ainun, berikan hadiahnya! Tidak boleh pelit, tahu. Nanti kena azab," Mutia ikut-ikutan mendesak dengan cengengesan. Mereka berdua memang serasi, sama-sama tidak tahu malu.

Kadang, jodoh itu cerminan diri sendiri, dan saya bersyukur tidak menjadi cerminannya. Jam tangan itu? Mendingan kuberikan kepada pemulung, itu akan lebih bermanfaat jika mereka menjualnya untuk menyambung hidup.

​Saya menarik napas panjang, memasang wajah sedingin mungkin. "Fero, DP motor kamu pakai uangku, kan? Saya mau kamu kembalikan dengan utuh, saya tidak terima alasan apa pun," kataku, mengubah fokus perdebatan.

​Kulihat Mutia kebingungan. Entah apa yang ada dalam benaknya anak itu. Apakah dia pikir Fero itu sangat royal? Miris sekali, padahal Fero adalah lelaki yang paling pelit yang pernah kukenal, bahkan uang cicilan motor pun kadang minta dibayari.

​"Tidak ada uangmu di motor aku. Saya manajer dulunya, tahu sendiri kan gaji seorang manajer," ucapnya sombong, mencoba berbohong.

​"Benarkah? Kalau tidak salah, motor itu kamu atas namakan diriku. Kamu belum bayar cicilan bulan ini, sudah jatuh tempo," ucapku dengan senyum kemenangan tipis. Kamu main-main denganku, kamu akan tahu sengsara itu apa. Saya tidak peduli dengan seorang pengkhianat.

​Wajah Fero tampak terbengong sesaat sebelum ia menarik tanganku, menjauh dari Mutia. "Lepas!" Bentakku sambil menarik tanganku dengan kuat. "Apasih!"

​Dia melepaskan tanganku. Dasar manusia tak berperasaan, kenapa dulu saya bisa jatuh cinta padanya? Benar-benar menyesal.

​"Tolong, bayarin dulu lah, Nun. Nanti saya ganti setelah saya menikah," ucapnya setengah memohon. Permintaan itu membuatku mual.

​"Bayar sendiri, atau suruh Mutia," ucapku dingin, memberinya saran yang pedas.

​"Kan motor itu masih atas namamu dan belum lunas. Jadi, termasuk tanggung jawabmu!" ocehnya, mencoba memanipulasi. Sungguh memuakkan.

​"Saya tidak peduli. Jika kamu telat tiga bulan, motormu akan ditarik. Lagian motor itu kamu yang pakai," saya meninggalkannya, bergegas menuju mobil.

​Dia masih mengekor di belakangku, mendesak keinginannya agar kuturuti. Seandainya saya belum melihat pengkhianatan ini, mungkin saja uangku sudah keluar dengan suka rela, tetapi hati ini menolak. Bahkan saya lebih rela uang itu hilang daripada harus membantu bajingan ini.

​"Nun, kamu belum pulang?" Tiba-tiba sebuah suara lain menyela. Albert datang dari arah samping. Sejak kapan dia ada di taman ini? Perasaan tadi hanya bertiga saja.

​"Kak Albert, sejak kapan di sini?" Tanyaku, terkejut.

​"Sejak kamu berada di sini," ucapnya santai. Berarti dia ada di sana sudah lama, dan dia menontonku saat menangis. Ahh, menyebalkan sekali!

​"Dia siapa?" Tanya Fero dengan wajah merah padam, nada suaranya mengandung cemburu yang konyol. Dia marah? Setelah semua ini?

​"Ummm..." Saya hendak menjawab.

​"Dia calon istriku," Albert menyela dan menjawab spontan, tatapannya tajam menantang Fero.

Jawaban itu membuat Fero terdiam, menatap Albert tak percaya, seolah dunia berputar 180 derajat di depannya. Di saat yang sama, Mutia terbelalak kaget. Saya hanya berdiri mematung, mendadak merasa terlindungi oleh kebohongan Albert yang manis. Fero si pengkhianat, tiba-tiba menjadi lelaki yang takut kehilangan. Terlambat.

1
Suci Dava
Penulisannya banyak yg typo, tanda baca perlu di perhatikan lgi
Wa Ode Afsheen Diyah Muktamiroh
Cerita nya bagus, menceritakan tentang kisah nyata 👍
Nana Xu: Terimakasih kak. Baca juga ceritaku yang lain ya🙏
total 1 replies
Wanita Aries
ya ampun farel gemesin
Wanita Aries
seru thor
Wanita Aries
maaf thor koreksi penulisan salam, yg benar Assalammualaikum. krna salah tulis artinya pun beda
Suci Dava: Iyaa thor penulisan salamnya hrs di revisi, yg benar Assalamu'alaikum 🙏
total 2 replies
Wanita Aries
ihh bodohnya jd wanita mau aj dipanggil mandul. gk enak thor bacanya kl ada kata saya dan anda gtu kyk aneh
Nana Xu: terimakasih kak. 🙏
total 1 replies
Ipah
dlanjut
Nana Xu: iya kak. sudah update kembali ya🙏
total 1 replies
Ipah
lanjut lagi seru seru nya ni
Ipah
seharus nya laki-laki seperti itu d sunat lagi sampai habis greget🤭
Nana Xu: seharusnya iya yah Kak🙏😄.
total 1 replies
Lisa Yacoub
thor, ma'af ...rasaya kaku benerkok pake " saya"?
Nana Xu: iya say 🙏🙏🙏
total 2 replies
SHAIDDY STHEFANÍA AGUIRRE
Bagus banget, jadi mau baca ulang dari awal lagi🙂
Nana Xu: Terimakasih🙏🙏
total 1 replies
Kiyo Takamine and Zatch Bell
Lanjutin dong, penasaran banget!
Tsumugi Kotobuki
Mesti dibaca ulang!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!