Perjodohan yang dilakukan orang tua ku dan teman mereka membuatku terjebak dengan seorang Dosen killer. Dia meninggalkan aku di sebuah rumah besar miliknya, namun dia terus menafkahiku. Pria itu berjanji akan menceraikan aku setelah ia kembali.
Setelah 5 tahun, dia kembali dan meminta diriku untuk tetap bersamanya. Setelah aku menyanggupinya, tiba-tiba saja ada wanita yang datang dalam kehidupan kami dan mengaku sebagai istrinya.
Siapa wanita itu sebenarnya? Dapatkah kami mempertahankan rumah tangga ini hingga akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secarik rindu di senja hari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Semakin Runyam
"Sudahlah, jangan bersedih lagi. Ayo ikut aku jalan-jalan dan belanja. Aku yakin stresmu akan berkurang," ajak Abidzar sembari mengajak Nathaline untuk sedikit bercanda.
Nathaline awalnya menolak dengan alasan masih banyak hal yang harus ia kerjakan saat ini, tetapi karena terus didesak oleh pria itu ia akhirnya menyetujui tawaran Abidzar.
Mereka segera berkemas dan berjalan-jalan memutari pusat kota sembari bercanda ria berdua, mereka juga mampir di toko-toko kecil pinggiran kota untuk membeli sesuatu yang menarik hati mereka.
"Kau lapar? Ayo makan malam bersama dan nanti aku akan mengantarmu untuk pulang," tanya Abidzar menawarkan makan malam kepada Nathaline.
Gadis itu sebenarnya sangat lapar, tetapi hari juga sudah mulai larut, ia takut jika sang suami menunggunya di rumah.
"Tidak perlu Abidzar, aku takut suamiku mencari diriku, aku juga tidak memberinya kabar seharian," ucap Nathaline memberi alasan, berusaha menolak tawaran Abi dengan lembut.
Abidzar mengangguk kemudian ia segera masuk ke dalam mobil dan bergegas melajukan kendaraannya untuk mengantar Nathaline pulang.
Mobil yang mereka berdua kendarai tiba-tiba berhenti ketika lampu lalu lintas berwarna merah. Mereka menunggu dengan tenang, sembari menikmati beberapa snack yang baru saja mereka beli tadi, sebelum pulang.
Antrian kendaraan terlihat cukup panjang yang menyebabkan macet hingga beberapa meter. Mereka bahkan sangat bosan menunggu.
"Bukankah itu pak Rey?" Nathaline bergumam kepada dirinya sendiri ketika sadar mobil yang biasa suaminya kendarai tengah berada tepat di samping mobil yang tengah ia kendarai bersama Abidzar.
"Siapa wanita itu? ah tidak, bukankah itu wanita yang kemarin?" Nathaline semakin mempertajam matanya dan melihat dengan seksama pengendara mobil di sebelahnya.
Puas ia meneliti, puas ia mencoba untuk meyakinkan hatinya bahwa itu bukanlah sang suami, puas ia mencoba 'tuk menyakinkan dirinya sendiri bahwa ia hanya salah paham kepada sang suami. Namun, semakin ia mencoba menolak kenyataan, semakin parah pula hatinya terluka.
Setelah sekian menit ia mengamati pengendara tadi, ia mendapati bahwa itu memanglah benar sang suami, bukan hanya sekedar mirip saja. Di depan mata kepalanya sendiri ia melihat wanita itu bercumbu mesra dengan laki-laki yang selalu mengucapkan kata-kata cinta kepada dirinya itu.
Wanita mana yang tidak akan kecewa jika melihat pria yang sangat ia sayangi menghianati dirinya? Wanita mana yang tidak akan sakit hati bila sang suami telah menduakan dirinya?
Puas ia menahan air mata yang sedari tadi tidak sabar ingin mendobrak paksa dan keluar dari kelopak matanya, tetapi usahanya gagal.
Wanita itu memegangi dadanya yang terasa sangat penuh dan sesak seakan ingin meledakkan semua yang tengah ia rasakan saat ini, air matanya pun juga turut andil dalam menjadi saksi bisu kehancuran cinta dan semua kepercayaannya kepada sang suami detik ini.
Nathaline memalingkan wajahnya, ia bahkan tidak sanggup melihat kemesraan sang suami dengan wanita itu lebih lanjut.
Lampu sudah berubah warna menjadi hijau, mobil-mobil yang mengalamai kemacetan sudah mulai melaju perlahan.
Air mata Nathaline masih mengalir, ia sekuat tenaga menahan suaranya agar Abidzar tidak melihat dirinya yang sangat rapuh saat ini.
"Argkh!!" Jeritnya pecah, di selingi air mata yang semakin tumpah dan mengalir begitu deras.
Gadis itu menjambak rambutnya dengan kesal saat teriangat bagaimana mesranya sang suami bersama wanita asing itu.
"Ada apa Nathaline?" Abidzar seketika mengerem mendadak mobilnya ketika melihat Nathaline yang tampak sangat kacau. Air matanya bersimbah dimana-mana, wajahnya bahkan terlihat membengkak karena sudah menangis terlalu lama.
Abidzar meraih tubuh mungil wanita yang kini sedang rapuh hatinya itu, perlahan mendekapnya dengan penuh kehangatan, dan mengelus lembut pundaknya untuk menenangkan wanita itu.
"Abi, Pak Rey sangat jahat! dia selingkuh di belakangku, dia bersama wanita lain, dia sudah tidak mencintai diriku lagi," ucap Nathaline yang masih terisak dalam pelukan Abidzar.
Abidzar tidak menggubris ucapan Nathaline barusan dan masih tetap berusaha untuk menenangkan wanita itu.
"Aku membencinya Abi, aku sangat membenci pria itu, aku menyesal telah memberikan semua cinta dan kepercayaanku kepadanya, aku membencinya, aku sangat membencinya, abi-" Nathaline terus meracau tanpa henti di sela tangisnya.
"Menangislah, lepaskan semua kesedihanmu kepadaku. Kau tenang saja, masih ada aku yang akan selalu berada di sisimu." Abidzar semakin mendekap erat wanita itu dalam pelukannya.
...***...
Nathaline duduk termenung di dalam kamar Abidzar, tangisnya sudah mereda, tetapi air matanya masih saja mengalir tanpa ia kehendaki.
Ia sepertinya berusaha terlihat sudah baik-baik saja, tetapi hatinya tahu betul jika ia sedang sangat terluka saat ini. Kekecewaam dan rasa sakit turut mengiringi kesedihannya.
"Nathaline, makan ini dulu, kau belum makan dari tadi sore," ucap Abidzar sembari menyerahkan satu piring nasi lengkap dengan lauk pauknya kepada Nathaline.
Gadis itu hanya menggelengkan pelan kepalanya, bahkan untuk makan saja ia merasa tidak sanggup.
"Jangan begitu, makanlah walau hanya sedikit. Kau tidak kasihan kepadaku? Aku susah payah untuk membuat masakan spesial ini untukmu, apakah kau tidak mau menyicipinya barang sesendok saja?" bujuk Abidzar sembari menyodorkan sesendok nasi kepada Nathalin.
Nathaline akhirnya mau makan walaupun hanya sedikit saja, nafsu makannya benar-benar hilang karena terus teringat kejadian tadi ketika di lampu merah.
"Sudah kenyang? Mau aku antar pulang ke rumahmu? Tidak enak jika kau tidak pulang, suami mu akan mencarimu nanti." Abidzar bertanya dengan hati-hati karena takut akan menyinggung perasaan Nathaline yang sedang sensitif saat ini.
"Tidak! aku tidak mau bertemu dengan dirinya! Jangan panggil ia suamiku, dia tidak pantas di sebut sebagai suami!" ucap Nathaline meninggikan nada bicaranya.
"Jangan menghindari masalah, hadapi masalahmu dengan kepala dingin. Bicarakan kepadanya dengan baik-baik, lalu kalian putuskan jalan mana yang ingin kalian ambil nantinya," ucap Abidzar memberi saran.
Nathaline terdiam sangat lama, tetapi masih teguh dengan keputusannya, ia tetap tidak ingin pulang dan menemui pria itu malam ini
Abidzar hanya bisa menghela nafasnya dalam-dalam, ia juga memutuskan untuk menyudahi pembicaraan itu sebelum Nathaline kembali bersedih.
Pria itu dengan berat hati mengizinkan Nathaline untuk menginap di rumahnya selama satu malam. Karena ia sudah tidak punya pilihan lagi untuk membantu sahabatnya itu.
"Tidurlah di kamarku, aku akan tidur di kamar pelayan malam ini. Lupakan masalahmu sejenak, kau perlu istirahat dan menenangkan pikiranmu," ucap Abidzar sembari mengelus lembut puncak kepala Nathaline, sebelum akhirnya pergi dan keluar dari kamar tersebut.
"Seandainya saja, dirimu adalah pak Rey, aku yakin jika aku akan jatuh cinta kepadamu setiap saat." Nathaline bergumam kepada dirinya sendiri.
"Sudah cukup Pak, aku sudah tidak tahan lagi dengan hubungan kita yang seperti ini. Semakin aku mencoba bertahan, hatiku semakin terluka. Semakin aku mencoba untuk bungkam, sikapmu semakin keterlaluan. Cukup! sudah cukup pak! Kita sudah tidak bisa mempertahankan hubungan kita lagi." Nathaline kembali bergumam sembari memandangi foto-foto dirinya dengan Reyhans.
Air matanya kembali mengalir ketika melihat momen-momen indah mereka, yang terabadikan di dalam potret.
"Andai waktu bisa berputar kembali, aku tidak ingin mengenal dirimu," batin Nathaline.
...Next.......
...Selamat membaca❤...
...Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar.😁...
Terima kasih atas kritik dan sarannya.
benci aku sama Reyhans
ko jdi gini si, uda ngga seruh lgi