Wanita bernama Kaluna dengan usia 26 tahun terus saja di desak dan di tanya kapan nikah? Umur sudah cukup untuk membina rumah tangga.
Namun Kaluna tidak ada pacar dan sudah lama putus bagaimana caranya akan menikah? Dirinya saja malas untuk keluar saat teman- temannya mengajaknya nongkrong, dirinya masih percaya dengan kata-kata "Jodoh gak akan kemana."
"Nasib ku, bagaimana aku akan mati dalam keadaan jomblo begini." Ucapnya saat mobilnya mulai masuk ke dalam jurang, pintu mobil juga susah untuk ia buka.
Namun bagaimana jadinya, jika dirinya tidak jadi mati atau pending dulu untuk bertemu dewa kematian, ia malah masuk ke dalam raga seorang wanita yang sudah memiliki suami, bahkan anak?
Baca selengkapnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Transfer data sistem milik Kaluna
Suara ponsel Tifara berbunyi, bukan alarm atau orang yang menghubungi nya, tapi suara tanda peringatan.
Jiwa Kaluna yang paham dengan itu langsung terbangun, namun tubuhnya tertahan oleh tangan kekar Aryan.
"Mas, biarkan aku bangun dulu."
"Ada apa? Masih awal sayang." Namun saat tangan suaminya sudah lepas, Tifara langsung mengambil ponsel dan juga mendekati laptop yang semalam diletakkan di meja. Ia duduk di kursi itu dengan membuka laptop. Aryan yang menatap istrinya seperti khawatir langsung terbangun untuk melihat apa yang dilakukan nya itu.
"Gawat, sialan." Umpatan demi umpatan sambil terus fokus membuat Aryan ikut fokus pada layar laptop yang terlihat.
"Beraninya dia berurusan dengan sistem Kaluna, akan kuhancurkan perusahaan nya."
Aryan tidak bertanya apapun dan hanya menemani istrinya itu.
"Sial." Tifara berusaha untuk mempertahankan sesuatu di dalam laptop nya.
Setelah 1 jam di depan laptop Tifara sedikit lega dengan keadaan sistem nya.
"Sayang, ada apa?" Tubuh Tifara menegang, ia lupa jika disana dirinya tidak sendiri melainkan ada Aryan suaminya.
"Mas, em aku belum bisa kasih penjelasan sekarang, tapi bolehkah aku meminta bantuan?" Tanyanya sambil memohon.
"Apapun, mas akan melakukan apapun untukmu asalkan bukan menjauhi atau membencimu, mas gak bisa."
Tifara menghela nafasnya, Aryan memang sangat mencintai nya, bukan, mencintai raga itu yang istrinya bukan jiwa dari Kaluna.
"Aku hanya ingin meminta tolong ikut aku ke kota s, ada sesuatu yang harus aku bereskan."
"Kota s? Sejak kapan kamu pernah ada urusan disana?" Aryan tidak pernah tau jika istrinya itu ada sesuatu yang penting disana.
"Sangat penting, tolong mas. Setelah selesai dengan itu dan menghancurkan sesuatu, aku akan mengatakan yang sesungguhnya."
"Tapi, bisakah kita berangkat malam ini juga? Kita bisa bergantian nyetir, aku mohon." Tiara nampak sangat memelas dan Aryan tidak pernah melihat itu, ada apa sebenarnya.
"Tapi gimana Elzan?" Tanya Aryan jika dirinya dan Tifara pergi bagaimana dengan putra nya.
"Kita akan membawanya, aku bisa mengatasi ini dan meminta seseorang untuk menjaga nya sebelum urusan kita selesai. Percaya sama aku, mas." Tifara memegang tangan Aryan untuk memohon. Dirinya juga dulu paling banter memohon hanya pada kedua orang tuanya.
"Mas akan siapkan mobil dan kamu bangunin Elzan."
"Baik. Aku mau bawa baju hangat dan laptop yang lebih penting." Aryan langsung bangkit untuk mengambil barangnya dengan cepat, Tifara juga sama mengambil tas dan memasukkan baju hanya sedikit karena bisa ia beli di kota s. Sekarang tinggal ia bangunkan anak nya itu.
Sebelum berangkat ia menulis surat di meja agar bibi dan mertuanya tidak khawatir. Ia menulis untuk liburan agar tidak heboh jadi mereka berangkat diam-diam.
Mereka saat ini tengah di mobil, dan Aryan lebih memilih untuk naik pesawat yang sudah ia hubungi asisten nya barusan agar dapat tiket sekarang juga untuk perjalanan ke kota s. Karena dengan mobil akan memakan waktu yang lumayan akan melelahkan, sedangkan dengan udara lumayan singkat.
"Tidur lagi sayang, biar mama peluk Elzan." Tifara memeluk putra nya sambil menepuk-nepuk tubuh nya pelan. Aryan tidak sempat jika akan cemburu dengan anaknya saat ini.
Mereka sampai di bandara dan Aryan yang mengurus semuanya, Karena Elzan tertidur membuat Tifara sedikit susah. Tidak lama mereka sudah masuk ke pesawat dan Aryan yang mengambil alih putra nya. Mereka tidak lupa dengan masker dan topi, jika tidak pasti mereka ketahuan.
Tifara mencoba menghubungi teman yang ia ingat nomornya. Lili, adalah teman IT yang sama dengannya walaupun belum menikah tapi punya pacara. Wanita itu tidak mengangkat nya. Sinta, adalah teman IT yang sudah menikah dan wanita itu langsung mengangkat telepon dari Tifara.
"Sinta? Tolong dengar dulu." Tifara tau jika Sinta akan memutuskan sambungan telepon nya.
"Siapa?"
"Sinta percaya sama gue, lo datang ke kantor sekarang juga, ada seseorang yang ingin meretas dan mengambil alih sistem gu- sistem Kaluna." Hampir saja dia keceplosan mengatakan jiak sistem yang ia buat akan diambil oleh seseorang.
"Gue gak percaya, lo penipu kan?" Siapa juga yang akan percaya dengan orang memakai nomor baru dan tiba-tiba menyuruh ke kantor dini hari.
"Plis percaya sama gue, gue nelpon lili gak diangkat."
"Lili tentu saja, dia kalau tidur susah bangun."
"Plis bangunin dia, 1 jam lebih gue berusaha sampai kesana. Nanti gue cerita semuanya sama kalian. Plis ini amanah dari Kaluna buat gue, sistem itu sangat penting." Tifara sampai menangis membuat Aryan yang di dekatnya mengelus punggung istrinya walaupun tidak mengerti apa yang terjadi.
"Oke. Tapi kalau sampai lo bohong, suami gue yang akan lacak lo." Ancamnya.
"Iya si paling polisi intel atau apalah suami nya, tapi nanti aja sekarang lo datang ke apartemen Lili."
"Awas aja lo." Langsung mematikan sambungan telepon nya, dan itu membuat Tifara bernafas lega sebelum benar-benar mengganti ke mode pesawat.
"Sayang, sebenarnya ada apa?" Tanya Aryan yang sedang memangku anaknya.
Tifara menghela nafasnya panjang. Ia harus menjelaskan sekarang, tidak mungkin akan menjelaskan nanti karena tidak ada alasan untuk ia menghindar.
"Sebenarnya, aku punya kenalan yang bernama Kaluna. Dia seorang IT, dan aku belajar dari dia mas sebelum mengambil alih jika sesuatu terjadi pada sistem yang dibuat. Aku mengetahui semuanya dari Kaluna, tapi dia sekarang sudah tiada." Entah dia harus menjelaskan bagaimana lagi, itu yang paling bisa untuk beralasan, tidak mungkin jika dia berkata jujur dan mengaku jika jiwa Kaluna masuk ke raga istri Aryan.
"Lalu, kamu mengenalnya dimana, jika dia bekerja di kota s?" Tanya Aryan membuat Tifara mengalihkan pandangannya agar tidak terlihat seperti mencari alasan.
"Aku dulu pernah kesana dan malah beberapa kali, mungkin mas lupa kalau aku juga orang yang sering keluar kota." Memang Tifara orang yang sibuk juga seperti Aryan yang bekerja di kantor, namun itu sebelum Tifara terkenal seperti sekarang.
Aryan mengangguk mengerti, ia akan bertanya lagi nanti.
"Kamu tidur sayang, nanti mas bangunin kalau sudah sampai."
"Mas aja, mas baru tidur setelah pulang dari kantor." Tifara menatap suaminya yang memang sangat mengantuk, Elzan tertidur di pangkuan nya membuat Tifara mengelus tangan mereka bergantian. Kantuk yang ia rasakan telah hilang saat ada seseorang yang berani mengusik sistem miliknya.
"Mas tidur ya, Ara sudah tidak mengantuk. Jika urusan nanti selesai, Ara pasti akan segera istirahat." Aryan menatap Tifara lekat, wajah cantik yang tanpa polesan itu membuat Aryan tidak bisa jika tidak mencintai nya.
"Mas juga bisa tahan sayang."
"Mas Aryan istirahat, nanti Ara marah kalau mas Aryan gak mau dengerin Ara." Tifara pura-pura ngambek, padahal dia sepertinya tidak tau caranya seperti apa, hanya saja harus ia lakukan.
"Baiklah, mas akan tidur sebentar." Tidak butuh waktu lama saat Tifara sambil mengelus tangan suami dan anaknya, karena Aryan juga sangat mengantuk.
Tifara berdoa supaya cepat sampai, ia juga memiliki tujuan lain saat sampai di kota s.
Waktu yang menurut Tifara begitu lama sampai juga akhirnya di kota s, ia dan Aryan sudah keluar dari pesawat.
"Sayang, bangun dulu ya kasian papa gendong kamu terus dari tadi." Tifara membangunkan Elzan yang selalu gendong ke Aryan dan belum bangun seperti tak terusik tidurnya.
"Gak apa sayang, sepertinya dia masih ngantuk."
"Cari taksi dan langsung ke kantor dulu ya mas, Teman-teman dari Kaluna pasti sudah di kantor." Mereka langsung masuk taksi dan menuju kantor yang dituju. Namun saat sampai disana Aryan mengernyit bingung dengan nama perusahaan itu.
Tifara langsung berlari menghampiri teman-teman nya, teman Kaluna maksudnya.
"Sinta, lili. Kalian sudah dari tadi?" Tanya Tifara yang disusul Aryan dan Elzan yang sudah bangun. Sinta dan Lili saling pandang karena tidak mengenal wanita itu.
"Kalian bingung kan? Gue Tifara." Sambil membuka masker dan topi nya.
"Kok gak asing yah? Kayak pernah lihat di tv." Mereka berdua memperhatikan sambil memiringkan wajahnya menatap wajah Tifara.
"Sudah-sudah, sekarang kita gimana cara masuknya ke dalam. Nanti gue jelasin semuanya di rumah. Maksud gue di rumah Kaluna, sekarang sangat penting menyelamatkan sistem yang di buat."
"Dia dan anak kecil lucu itu, siapa?" Tanya mereka nunjuk Aryan dan Elzan.
"Saya suami Tifara, Aryan mikael."
"Hah? Kok?"
Aryan membuka maskernya dan itu membuat 2 orang itu heboh. Lalu Aryan memasang kembali masker nya karena istrinya sudah menatap nya tajam.
"Stop, kalian ini sudah punya pasangan masih aja suka sama suami orang."
"Bagaimana lo-
"Plis, kita masuk nya gimana dulu."
Sinta menampilkan kunci di tangan nya, ia langsung mengajak mereka masuk.
"Gue masih angker sama nih ruangan." Gumamnya masih di dengar mereka semua.
"Kapan lo ke kantor ini? Perasaan gak pernah lihat."
"Dan ucapan lo persis ucapan Kaluna."
'Mampus.'
"Karena gue tau itu dari Kaluna, saat dia takut pulang sendiri karena kalian di jemput pasangan ternyata dia hanya sendiri." Tentu saja dirinya yang merasakan itu.
Mereka sampai di ruangan itu, hanya untuk 3 orang. Tifara langsung masuk dan menuju meja Kaluna yang membuat Sinta dan Lili curiga.
Melihat tatapan mereka Tifara mengerti.
"Gue tau dari Kaluna." Hanya itu jawaban yang pas saat ini. Tifara mengeluarkan laptop nya dan membuka komputer di meja Kaluna.
Mengotak-atik komputer Kaluna membuat Lili akan menghentikan nya, namun Sinta menahan tangan Lili. "Selamat datang nona Kaluna, sistem sudah terbuka."
Sistem terbuka membuat Lili dan Sinta melongo terkejut saat sistem memanggil Kaluna. Aryan juga sama terkejut nya.
"Kau- siapa kau? Kenapa begitu mudahnya membuka sistem yang dibuat Kaluna? Kita saja tidak bisa meretas nya." Tifara hanya fokus dan mentransfer semua ke laptop miliknya, membuat komputer itu kosong seperti komputer biasa tanpa adanya sistem buatan nya.
"Transfer data berhasil."
"Yes, gue bisa melakukan nya, siapa dulu dong Kaluna." Dengan bangga dia menyebut dirinya Kaluna sambil menepuk dada sombong.
"Ka-kaluna?" Mereka berdua gugup membuat Tifara tersadar.
"Maksud gue Kaluna yang ngajarin gue, makanya sekarang berhasil." Menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Gue juga berharap sistem yang kalian buat separuh tidak sembarangan di proses orang. Jika itu terjadi dan disalah gunakan maka akan bahaya."
"Nanti kita jelasin di rumah Kaluna, sekarang kita ke rumah Kaluna dulu. Anak dan suami gue perlu istirahat, apalagi gue sendiri. Kita harus segera pergi karena orang yang mungkin akan mengambil alih sistem akan datang atau akan segera tau jika kita tak cepat pergi."
Mereka langsung pergi keluar kantor. Aryan masih bingung dengan istrinya, sejak kapan tau tentang hal semacam ini dan juga yang lainnya.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain.
IG : @istimariellaahmad98
See you...