Follow sosmed author
IG:Mia novita23
Tiktok:Miss Mia Novita
Perceraian antara kedua orangtuanya membuat Argantara tidak memiliki hubungan baik dengan ayahnya. bagaikan air dan minyak yang tidak akan pernah bisa bersatu. Ikuti kisahnya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengalihan sementara
"Woiii.. diem-diam bae. kenapa Lo?" Arga menepuk pundak Candra, namun karna terlalu kaget Candra tanpa sadar menyebutkan kalimat yang selama ini ia sembunyikan.
"Tante Dita..." ucap Candra, terkejut.
Suasana hening seketika. Senyum Arga langsung pudar, tergantikan oleh ekspresi terkejut yang cepat berubah menjadi kemarahan dingin. Mata Arga menajam, menuntut.
"Apa yang kau katakan?" tanya Arga, suaranya pelan dan berat, membuat teman-teman mereka yang lain (Kinan, Raka, dan Rian) langsung terdiam, merasakan ketegangan yang tiba-tiba.
Candra, yang kini sadar telah keceplosan, pucat pasi. Ia mengutuk kecerobohannya dalam hati. Ia ingat betul peringatan Mamanya.
"Ah, tidak! Tidak ada apa-apa, Ga! Aku... aku hanya sedang memikirkan soal film horor semalam. Dita namanya, di film itu sangat seram," elak Candra, berusaha keras terdengar natural, meskipun matanya terlihat panik.
Arga tidak bodoh. Ia mengenal Candra lebih dari siapa pun. Kepanikan itu nyata, dan nama ibunya, Dita, adalah subjek yang selalu Arga hindari kecuali dalam momen kerinduan pribadi.
"Jangan berbohong, Ndra. Jangan coba-coba mengelak," desak Arga, kini mencengkeram lengan Candra. "Kau menyebut nama bunda. Ada apa? Kau bertemu Bundaa? Di mana Bunda?"
"Aku bilang tidak ada apa-apa, Arga!" Candra menarik lengannya. Ia tidak mau menatap mata Arga. "Sudahlah, jangan dibesar-besarkan. Ayo, sebentar lagi bel masuk."
Candra buru-buru berdiri, bersiap pergi, tetapi Arga lebih cepat. Arga menarik kerah baju Candra, memaksa sahabatnya itu untuk duduk kembali.
"Kau tahu betapa aku merindukan Bunda, Candra. Jangan main-main dengan perasaanku!" Arga hampir berteriak.
Kenan, Raka, dan Rian yang menyaksikan, mencoba menenangkan Arga.
"Tenang, Ga. Mungkin Candra benar," ujar Raka.
"Tidak!" potong Arga. "Aku tahu ada yang disembunyikan. Sejak pagi dia aneh. Jawab aku, Candra! Kenapa bunda ada di pikiranmu?"
Candra menghela napas panjang, kekalahan terpancar di matanya. Ia tidak bisa menahan desakan Arga lebih lama. Namun, ia juga tidak bisa mengungkapkan seluruh kebenaran.
"Baiklah, aku akan jujur," bisik Candra, mencondongkan tubuhnya ke depan agar yang lain tidak mendengar. "Aku... aku memimpikan Tante Dita semalam. Itu saja. Aku mimpi buruk tentang kecelakaan Tante Dita bertahun-tahun lalu. Itu yang membuatku murung."
Kebohongan itu cukup masuk akal untuk meredakan kecurigaan, tetapi tidak bagi Arga. Arga tahu, Candra tidak pernah mengakui kelemahan sekecil itu, bahkan di depan sahabatnya.
"Mimpi? Dan kau sampai menyebut namanya tanpa sadar?" Arga melepaskan cengkeramannya, tetapi tatapannya tetap tajam. "Aku akan menyelidiki ini. Dan jika aku menemukan kau menyembunyikan sesuatu tentang bunda, Candra, kita akan berurusan."
Candra hanya bisa mengangguk, merasa bersalah. Ia tahu ia baru saja lolos, tetapi ia juga tahu, Arga tidak akan berhenti sampai menemukan kebenaran.
Saat Arga sedang dihantui kecurigaan tentang ibunya, Kinara memasuki gerbang sekolah, senyumnya masih tersisa dari interaksi mereka di dalam mobil tadi. Ia berjalan menuju kelasnya, merasa senang karena berhasil memberikan kejutan kecil pada Arga.
Kinara tahu Arga mengharapkan balasan 'Aku sayang kamu' tadi malam, tetapi Kinara belum siap. Perasaannya pada Arga memang tumbuh, tetapi masih dibatasi oleh kesepakatan pernikahan dan trauma masa lalu yang ia bawa. Namun, kecupan singkat di pipi tadi pagi adalah upayanya untuk menunjukkan bahwa ia menghargai Arga, dan bahwa perasaannya mulai berubah.
Saat Kinara sedang menata buku di lokernya, ia didekati oleh Chandra.
"Bu Kinara, aku butuh bantuanmu," kata Candra, terlihat sangat cemas.
"Ada apa, Ndra? Wajahmu pucat," tanya Kinara.
Candra menceritakan secara singkat tentang apa yang terjadi dengan Arga barusan. Tentang bagaimana ia keceplosan menyebut nama Tante Dita, dan bagaimana Arga kini curiga.
"Aku janji pada Mama dan Om Regan untuk tidak mengatakan apa pun pada Arga tentang kondisi Tante Dita. Ini sangat penting, Bu kin. Keadaan Dita Tante masih sangat rapuh," jelas Candra.
"Jadi, Tante Dita... benar-benar masih sakit? Arga pikir beliau hanya pindah ke luar negeri," Kinara terkejut.
"Ya. Maaf, aku tidak bisa menceritakan detailnya, tapi tolong, bantu aku mengalihkan perhatian Arga. Buat dia sibuk, buat dia bahagia, apa pun! Biar dia tidak fokus pada hal ini," pinta Candra memelas.
Kinara menatap Candra. Ia kini dihadapkan pada dilema: jujur pada suaminya yang terlihat putus asa mencari ibunya, atau melindungi rahasia yang mungkin menyelamatkan nyawa ibu mertuanya dari bahaya Marta.
Kinara memilih yang kedua. Untuk saat ini, ia akan melindungi Dita dan Arga, bahkan jika itu berarti harus membohongi suaminya.
"Baik, Ndra. Aku akan bantu. Aku akan pastikan Arga tidak punya waktu untuk menyelidiki apa pun," kata Kinara, tekad terpancar di matanya.
Selama jam istirahat, Kinara menghampiri Arga di perpustakaan. Arga masih terlihat murung, matanya terpaku pada layar ponselnya, tampaknya sedang mencari informasi tentang Mama Dita.
Kinara duduk di sampingnya, menatap Arga dengan senyumnya hangat.
"Arga, kenapa murung begini? Kata Candra kamu bertengkar dengannya?" tanya Kinara lembut.
Arga menghela napas. "Dia menyembunyikan sesuatu tentang bunda, Kinara. Aku yakin sekali."
"Mungkin dia hanya sedang sensitif karena baru mimpi buruk. Sudahlah, jangan pikirkan itu dulu," Kinara menarik ponsel dari tangan Arga. "Ayo, kita lakukan sesuatu yang lebih menyenangkan."
"Apa?"
Kinara tersenyum penuh makna. "Suami brondongku yang tampan, kau bilang ingin kencan malam ini, kan? Aku sudah memikirkannya. Aku akan memasak makan malam untuk kita, dan aku akan mengenakan gaun yang kau sukai." ucap Kinara berbisik
Arga menatap Kinara, terkejut. "Kau... kau serius? Kau akan memasak?"
"Aku serius. Tapi ada syaratnya," Kinara memajukan wajahnya, suaranya berbisik. "Setelah makan malam, kita akan duduk berdua, tanpa ponsel, dan kau harus bercerita tentang semua hal yang kau sukai dari hubungan kita selama ini."
Wajah Arga langsung berseri-seri. Strategi pengalihan Kinara berhasil 90%.
"Aku setuju. Sepuluh kali setuju!" Arga memeluk Kinara erat. "Terima kasih, Sayang."bisiknya
Meskipun senyum Arga kembali mengembang, Kinara tahu itu hanya topeng. Di balik senyum itu, Arga masih seorang anak yang mencari ibunya. Kinara hanya berharap, rencananya cukup kuat untuk mengulur waktu sampai Regan dan Mika siap mengungkapkan kebenaran yang sesungguhnya.
Kinara hanya punya satu hari untuk membuat Arga melupakan kecurigaannya.
Apa yang terjadi pada malam kencan itu? Apakah Kinara berhasil mengalihkan perhatian Arga sepenuhnya, atau Arga menemukan petunjuk baru yang mengarah pada rahasia Tante Dita?