Berawal dari kesalahan Mike dan Sandra yang menyebabkan Sandra harus hamil di luar nikah. Mike pun di usir dari rumah. Lalu Mike membawa Sandra kabur dari rumah orang tua Sandra dan menikah tanpa restu orangtua. Lalu papa Mike berusaha membuat hidup mereka menderita agar Mike meninggalkan Sandra dan balik padanya.
Suatu saat Sandra kontraksi. Tak satu pun warga mau menolong mereka. Mike hanya menemukan gerobak dan membawa Sandra dalam kondisi hujan ke rumah sakit. Mike meminta tolong pada pihak rumah sakit untuk menolong Sandra dengan kekuatan terakhirnya lalu Mike pun pingsan. Lalu keduanya langsung di tangani. Mike pun meninggal. Sandra melahirkan bayi laki-laki yang lucu.
Mengetahui anaknya meninggal, Pak Anwar pun mengambil mayatnya Mike beserta anak mereka. Sandra yang masih lemah tidak dapat mengejar Pak Anwar dan terjatuh.
“Jangan Ambil Anakku” Ucap Sandra saat dia terjatuh .
Bagaimanakah nasib Sandra dan anaknya? Apakah Sandra masih bisa bertemu dengan anaknya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Jenius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Keputusan Pak Riko (Part 2)
“Kenapa? Apa yang papa katakana tadi benarkan? Orangtua Mike pasti nggak setuju kan kalian menikah?” Tebak Pak Riko tepat sasaran.
“Hmm.. Iya pa. Kata Mike papanya memang nggak setuju kalau Sandra menikah dengan Mike pa.” Sandra pun berkata jujur pada papanya.
“Sudah papa duga. Karena nggak akan ada seorang orangtua pun yang setuju kalau anaknya harus menikah di usia muda apalagi dengan masalah hamil di luar nikah. Itu adalah sesuatu hal yang memalukan bagi orangtua manapun.” Jelas Pak Riko.
Sandra tidak menjawab apa yang di katakan oleh papanya itu. Memang kalau dipikirkan dari sudut pandang orangtua, Sandra mengakui kalau kedua orangtuanya dan orangtuanya Mike memang benar. Setiap orangtua pasti akan malu jika anaknya berbuat seperti itu. Tapi kan sekarang masalahnya nasi sudah menjadi bubur dan nggak bisa diulangi lagi. Harusnya mau nggak mau kedua orangtua mereka itu mendukung keputusan mereka untuk menikah dan tidak mempersulit mereka dengan syarat ini dan itu.
“Trus menurut papa apa yang harus Sandra lakukan pa? Tidak bisakah papa mengikuti keinginan dan rencana Sandra kali ini? Jadi kan walau papanya Mike nggak setuju dengan kami, masih ada papa dan mama yang mendukung Sandra untuk menikah dengan Mike pa.” Pinta Sandra.
“Nggak bisa Sandra. Papa nggak mau dan nggak sanggup melihat masa depan kamu rusak hanya karena masalah ini. Papa maunya itu kamu membuang anak itu dan lanjutkan kuliah kamu. Dan mulailah kehidupan kamu yang baru. Anggap saja masalah kehamilan kamu itu nggak pernah ada.” Titah Pak Riko.
“Mana bisa seperti itu Pa. Mana bisa Sandra bersikap santai seolah kehamilan ini nggak pernah ada di tubuh Sandra pa.”
“Kenapa nggak mungkin? Selama anak itu nggak pernah muncul di dunia ini, dia tidak akan meninggalkan jejak sama sekali di hidup kamu.” Pak Riko berkata seolah dia nggak peduli dengan Sandra dan hanya memperdulikan hidupnya sendiri.
“Apa yang bicara saat ini sama Sandra ini adalah manusia pa? Kenapa Sandra merasa papa seperti orang yang nggak punya perasaan sama sekali? Ini calon cucu papa loh? Apa segitu nggak pedulinya papa dengan calon cucu papa ini?” Sandra ngomong sambil meneteskan air matanya karena sakit hati mendengar perkataan papanya itu.
“Siapa bilang itu calon cucuku. Papa nggak mau mengakui dan nggak akan pernah mengakui bahwa anak yang ada di dalam kandungan kamu itu adalah calon cucu papa. Anak itu hanyalah aib dan kotoran yang kamu lemparkan ke wajah papa. Makanya papa nggak mau anak itu sampai hadir di dunia ini bagaimanapun kamu memaksanya.”
“Tapi pa..??” Sandra nggak sanggup berkata apa-apa lagi.
Bu Mira memperhatikan kedua orang yang dihadapannya tersebut. Dia merasa sedih karena harus melihat pertengkaran yang terjadi pada kedua orang yang di sayanginya itu.
“Sudah.. Sudah.. Jangan bertengkar lagi. Apa yang kalian ributkan? Apa papa dan Sandra nggak bisa duduk tenang dan mencari solusi dengan kepala dingin saja sih? Kenapa harus saling mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hati kedua belah pihak sih? Apa nggak ada lagi kasih sayang yang tersisa di hati papa dan kamu Sandra?” Teriak bu Mira yang nggak tahan melihat pertengkaran ayah dan anak tersebut.
Seketika Pak Riko dan Sandra menundukkan kepala mereka mendengarkan teriakan dari Bu Mira istri dari Pak Riko yang juga merupakan mamanya Sandra. Mereka merasa malu atas apa yang baru saja terjadi di antara mereka.
“Gimana Pa? Apa papa sebagai kepala keluarga di keluarga kecil kita ini nggak bisa lebih lembut lagi pada Sandra? Haruskah papa memaksakan kehendak papa?”
“Papa malu ma. Papa malu.” Pak Riko menghapus air mata yang menetes di pipinya tersebut.
“Trus memang papa pikir mama nggak malu? Trus apa papa pikir Sandra juga nggak malu saat ini?”
“Tapi kan ma. Sandra merasakan malu itu kan karena ulahnya sendiri. Sedangkan kita? Apa yang sudah kita lakukan sehingga membuat kita harus menanggung malu oleh ulahnya Sandra? Apa salah kita pada Sandra ma? Bukankah selama ini kita sudah memberikan segala hal yang terbaik pada Sandra? Apa masih kurang perbuatan kita selama ini pada dia sehingga Sandra harus melakukan hal ini pada kita? Harusnya kan dia mengatakan apa yang kurang dari perbuatan kita selama ini bukan malah melemparkan kotoran ke wajah kita sebagai bentuk pemberontakannya pada kita ma.” Pak Riko mengeluarkan uneg-uneg nya yang sudah dia simpan selama tiga hari dia berdiam diri.
“Papa.. Mama tahu kalau papa kecewa. Mama juga tahu kalau semua ini adalah kesalahan Sandra sepenuhnya. Tapi haruskah papa sekeras itu pada Sandra?” Bu Mira berkata dengan suara lembut.
“Apa sekarang mama mau membela Sandra? Apa mama masih membela Sandra yang sudah jelas-jelas melakukan kesalahan besar ini?”
“Nggak pa. Mama bukan mau membela Sandra. Mama cuma menjelaskan kalau sebesar apapun kesalahan Sandra, dia itu tetap anak kita. Kita boleh kecewa. Kita boleh marah. Tapi jangan terlalu keras pa. Sandra pun sekarang menderita pa. jiwanya pun sedang terguncang saat ini. Bagaimana pun dia butuh kita pa. Dia butuh kita sebagai sandarannya pa. Seharusnya kita jangan terlalu keras pada dia. Kita coba bantu dia pa. Kita cari jalan keluarnya.” Bujuk bu Mira lagi.
“Kenapa sih mama dan Sandra harus mutar-mutar saja terus. Papa kan sudah bilang bahwa papa ingin Sandra menggugurkan kandungannya saja dan dia bisa melanjutkan hidupnya. Kenapa kalian selalu memaksa harus mencari solusi lain. Papa sudah memikirkannya baik-baik kalau memang menggugurkan kandungan Sandra itu memang adalah solusi yang terbaik saat ini. Jangan selalu memaksakan kehendak untuk menikah dengan Mike karena itu bukanlah jalan keluar yang terbaik untuk Sandra.”
“Tapi pa. Apa papa sudah yakin? Apa papa rela melihat anak papa satu-satunya ini harus kehilangan kesuciannya tanpa ada yang bertanggung jawab. Walau Sandra nantinya bisa melanjutkan hidupnya seperti yang papa bilang apa akan menjamin Sandra Bahagia?”
“Ya papa akui memang nggak ada jaminan Sandra akan bahagia saat dia menggugurkan anak itu tapi setidaknya masih ada harapan buatnya untuk bahagia ma. Sandra masih punya kesempatan untuk mendapatkan laki-laki yang lebih baik beribu kali lipat dari Mike.”
“Menurut papa apa masih ada yang mau menerima Sandra jadi istri setelah dia tidak suci lagi? Apalagi dia sudah pernah menggugurkan kandungannya?”
“Pasti ada pa. Papa yakin pasti masih ada yang mau menerima Sandra jadi istrinya kelak” Bu Dewi terkejut mendengar jawaban dari suaminya itu. Dia nggak menyangka kalau suaminya itu sangat keras saat ini.
“Siapa pa? Zaman sekarang nggak akan ada yang mau menerima anak gadis yang sudah tidak suci lagi.” Ucap Bu Mira pada suaminya itu.
“Pasti ada ma.”
“Sudah.. sudah ma. Sudah pa. Apapun yang kalian katakan, Sandra akan tetap dengan keputusan Sandra kalau Sandra akan tetap menikah dengan Mike dengan atau tanpa persetujuan dari papa dan mama. Sandra nggak mau melakukan dosa besar lagi. Cukup sekali saja Sandra melakukan dosa besar. Sandra nggak mau mengulanginya sekali lagi.”
Setelah berkata hal tersebut, Sandra pun menangis. Dia lalu bangkit dari tempat dia duduk tadi dan pergi meninggalkan papa dan mamanya di sana.
“Kamu mau kemana Sandra? Papa dan mama belum selesai bicara.” Bentak Pak Riko saat melihat Sandra berjalan menjauh dari tempat itu, Sandra sama sekali nggak mau mendengar panggilan papanya dan hanya berjalan saja menjauh dari sana.
telat mikir nya, makanya mikir sebelum berbuat
"aku dan teman kamarku"
terima kasih