Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum yang Menanti Redam
Satu bulan telah berlalu sejak badai kebenaran runtuh di selasar Rumah Sakit Jiwa Pakem. Universitas Airrawan akhirnya kembali membuka gerbang besarnya setelah masa renovasi total selesai. Suasana kampus pagi itu tampak begitu hidup; hilir mudik mahasiswa baru dan lama berbaur di bawah rindangnya pohon-pohon peneduh, menciptakan riuh rendah yang kontras dengan sunyinya hari-hari libur panjang kemarin.
Glen melangkah melintasi pelataran gedung Sastra dengan bahu yang tak lagi setegang dulu. Ia berjalan beriringan dengan Thone, yang sejak pagi tadi setia menjemputnya di kost untuk berangkat bersama. Meskipun Glen masih mengenakan jaket denim andalannya dan pembawaannya tetap tenang, ada sesuatu yang berbeda dari sorot matanya. Kilatan elang yang dulu selalu menyala penuh amarah kini berganti menjadi redup kabut yang dalam, menyiratkan jiwa yang sedang dipaksa berdamai dengan kenyataan.
Novel Thornless Red Rose di NovelToon miliknya telah ia biarkan menggantung tanpa pembaruan bab sejak hari itu. Bagaimana mungkin ia bisa melanjutkan baris kalimat kejam tentang kehancuran sang mawar, jika kenyataan telah menamparnya bahwa ia selama ini menyerang orang yang salah?
"Bagaimana administrasi ayahmu untuk bulan ini, Glen?" tanya Thone pelan, memecah keheningan di antara derap langkah kaki mereka.
Glen menghela napas pendek, tatapannya lurus ke depan. "Sudah beres. Sisa uang dari royalti beberapa bab awal kemarin dan bantuan dari Bik Sisi cukup untuk mengamankan ruang rawatnya sampai akhir bulan."
"Syukurlah," balas Thone lembut.
Namun, langkah kaki kedua sahabat itu mendadak melambat saat mereka berbelok di koridor utama menuju ruang teater. Dari arah berlawanan, dua orang gadis sedang berjalan bersama sembari membawa beberapa diktat kuliah.
Melanie dan Diandra.
Seketika itu juga, atmosfer di sekitar koridor terasa membeku bagi Glen. Jantungnya berdegup kencang, memicu sebuah letupan emosi lama yang mendadak naik ke tenggorokan. Glen ingin marah. Demi Tuhan, ada rasa sesak yang luar biasa yang menuntut untuk diluapkan atas takdir keluarganya yang hancur berantakan hingga ayahnya kehilangan kewarasan.
Namun, saat matanya menatap kedua gadis itu, jemarinya di dalam saku jaket justru melemas. Glen ingin marah... tapi pada siapa?
Kepada Melanie? Gadis itu sama sekali tidak bersalah, melainkan korban dari caci maki salah sasaran yang Glen muntahkan selama ini. Kepada Diandra? Gadis periang itu berjalan dengan langkah ringan, sama sekali tidak tahu-menahu bahwa ayahnya, Hermawan, adalah dalang sesungguhnya yang telah merampas kebahagiaan masa kecil Glen hingga keluarganya jatuh miskin. Diandra adalah lembaran putih yang bersih dari dosa masa lalu orang tuanya.
Saat jarak mereka kian mengikis, Diandra mendongak dan menyadari kehadiran Glen dan Thone. Dengan ketulusan yang murni tanpa beban masa lalu, Diandra langsung mengulas senyum manisnya yang khas ke arah mereka.
"Pagi, kak Thone! Pagi, kak Glen!" sapa Diandra ceria seperti biasanya, seolah dunia ini tidak pernah menyimpan rahasia kelam apa pun di balik punggung mereka.
Melihat senyuman tanpa dosa itu, Glen terpaku. Kemarahannya menguap, digantikan oleh rasa perih yang teramat dalam di dada. Ia tidak sanggup bersuara, hanya bisa mengepalkan tangan di dalam saku jaketnya demi menahan guncangan batin.
Sementara itu, Melanie yang berjalan di sebelah Diandra perlahan menghentikan langkahnya sejenak.
Ia tidak berani menatap langsung ke dalam manik mata Glen. Dengan jemari yang meremas erat tepi buku diktatnya, Melanie menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan gurat kesedihan dan rasa bersalah yang salah alamat yang masih tersisa di wajah ayunya. Ia memilih untuk melindungi ketidaktahuan Diandra sekaligus memberi ruang bagi Glen yang ia tahu sedang terluka hebat.
Thone yang menangkap seluruh ketegangan itu segera mengambil alih kendali situasi. Ia melirik Glen sekilas sebelum akhirnya menatap Diandra dengan binar mata yang hangat.
"Pagi, Diandra," balas Thone, menyunggingkan senyuman tulus yang sengaja ia berikan untuk mencairkan kebekuan di antara mereka sekaligus membalas sapaan gadis itu agar kecurigaan tidak timbul.
Kedua kelompok itu akhirnya berpapasan dan saling melewati dalam hitungan detik yang terasa berjalan begitu lambat. Saat punggung Melanie dan Diandra mulai menjauh di ujung koridor, Glen sempat menoleh ke belakang sekilas, menatap siluet rambut Melanie yang tertiup angin kampus. Tak ada lagi kata caci maki, tak ada lagi imajinasi belati. Di koridor yang ramai itu, Glen sadar bahwa perang di dalam hatinya belum sepenuhnya usai, namun setidaknya, ia kini tahu bahwa mawar yang pernah ia benci itu sedang menunggunya dengan sabar di ujung waktu yang entah kapan akan menyembuhkan mereka berdua.
terlalu mengaitkan kisah fiksinya...