Sebuah tragedi menimpa keluarga gadis berusia 18 tahun bernama Larissa Haninda. Sang Ibu dimasukkan ke dalam jeruji penjara oleh Adiknya sendiri. Wanita itu menuduh Ibu Larissa telah membunuh Kakaknya yang tak lain suami atau Ayahnya Larissa. Si Bibi pun mengusir keponakannya dari rumah, dia tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada gadis tersebut diluaran sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shn_Bryy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chap 17
Usai mengantarkan Ayunda pulang, Riko sampai di rumahnya. Baru saja membuka pintu matanya sudah melihat hal menggelikan. Larissa bersama Pram tengah berpelukan, gadis mungil itu menjulurkan lidahnya mengejek pada si kakak ipar. Entah mengapa Larissa begitu senang mengganggu Riko.
“Aw!” ucap adik iparnya. Sang kakak berjalan menuju tangga sambil memukul kepala Larissa. Ingin pergi membalas tapi Pram tak melepaskannya. Hari ini pria itu menempel dengan terus mengeluh soal pekerjaan di kantor. Larissa menepuk-nepuk punggung suaminya pelan dan memberikan semangat.
Suara ketukan dari luar tak membuat Larissa lepas dalam pelukan Pram. Rara berjalan cepat membukakan pintu, ternyata Nyonya besar yang datang berkunjung bersama Bella. Sang Mama berdehem kala melihat putra serta menantunya yang asik berpelukan. Dia dengan Bella berjalan melewati keduanya. “Mama sama Bella makan malam di sini boleh kan?”
“Larissa? Pram?” lanjutnya. Mata wanita tua itu terlihat sinis saat menatap menantunya.
“Boleh dong Mah, iya kan sayang?” jawab Pram sambil mengecup kening sang istri. Setelahnya dia pergi ke atas untuk mengambil sesuatu.
Kini dibawah tinggal Larissa, Maya juga Bella. Dua wanita tersebut saling mengobrol dimeja makan namun obrolan mereka terdengar seperti sindiran. Larissa merasa canggung, dia sedikit takut akan tatapan dua makhluk itu. Bagaimana tidak, keduanya menatap seolah-olah Larissa adalah mangsanya yang siap untuk diterkam.
Beberapa saat kemudian, dua pria tampan turun dan menghampiri para wanita dimeja makan. Riko sempat berdiam diri ketika melihat dua orang yang selalu membuat onar berkunjung. Walaupun itu Mamanya, namun sifat Maya begitu buruk di mata Riko. Selain perkataannya yang tak bisa dijaga juga direm, wanita tua tersebut sering meremehkan seseorang.
Malas mencari keributan Riko pun langsung menempati kursinya. Dia segera mengambil nasi sendiri sedangkan yang lain dilayani oleh Mitha. Suasana dimeja makan begitu hening hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Tak lama Larissa berdiri, gadis itu membawa bekas makannya juga sang suami. Ketika menantunya tersebut pergi ke belakang untuk memberikan piring bekas pada para asisten. Maya berkata begitu halus juga lembut memuji Bella.
Respon Pram terlihat biasa saja, dia sudah tidak tertarik akan apa yang Mamanya katakan tentang Bella. Begitupun dengan Riko, dia melengos pergi tanpa berkata apa-apa. Di dapur sana, Larissa membantu Mitha mencuci piring, padahal sang asisten mengatakan tidak perlu namun gadis itu tetap memaksa. Lengan kekar tiba-tiba menariknya, Pram membawa si istri ke kamar lalu menyuruhnya menutup mata.
Larissa was-was takut Pram melakukan hal macam-macam terhadapnya. Meskipun sudah menikah dan halal melakukan apapun, tapi Larissa masih belum siap. Pram memasangkan kalung pada leher istrinya, mewah dan cantik yang pastinya harga barang tersebut mahal. Larissa terharu, dia berkaca sambil terus memegangi kalungnya.
“Kamu suka?” tanyanya lembut. Sang istri mengangguk dan tersenyum. Wanita mana yang tak bahagia dibelikan perhiasan mahal oleh suaminya.
“Pakai terus ya, jangan kamu lepas kalungnya.”
“Iya.”
Pram mendekatkan wajahnya ke sang istri, Larissa terpojok dan terjebak tidak bisa lari guna menghindar hal-hal yang akan terjadi. Gadis itu menelan ludahnya ketika wajah tampan Pram akan menyentuh wajahnya juga. Larissa sudah memejamkan mata namun pria itu lagi dan lagi hanya mengerjainya, Pram meniup wajah sang istri lalu tertawa.
Larissa menghela napasnya, pipinya memerah, dia merasa kesal juga senang. Pram begitu paham dan peka akan apa yang dirinya pikirkan. Larissa akan memberikan tubuhnya pada pria itu ketika dia sudah siap. Dalam hati dirinya bergumam, meminta maaf karena belum bisa menyenangkan suaminya.
Ditempat lain, Linda yang tengah pulas tertidur tiba-tiba saja ditendang oleh teman satu selnya. Entah salah apa yang diperbuatnya sampai membuat empat orang itu memukul dirinya. Tanpa Linda ketahui, keempat wanita tahanan tersebut sebelumnya bertemu dengan Maya juga Bella. Mereka semua dibayar untuk merundung Linda, para penjaga yang mengetahui itu sama sekali tidak melakukan apapun, dia hanya diam saat tahanannya disiksa tahanan lain.
Uang benar-benar bisa membeli segalanya, bahkan rasa kemanusiaan. Orang-orang di sana seolah-olah menutup mata dengan apa yang terjadi. Linda merasa kesakitan pada perutnya, ditendang terus menerus secara keras dan kasar.
Setelah dirasa cukup untuk hukuman hari ini, para penjaga baru memisahkan mereka. Linda yang terluka tidak dibawa ke dokter atau sekedar diobati. Mereka membiarkan wanita tua itu meringis sambil menangis, menyebutkan nama putrinya.
“Ibu....!” Larissa terbangun dari tidurnya. Keringat dingin membasahi tubuh juga wajah cantiknya. Tangan dia gemetar, air mata tiba-tiba saja mengalir, dia menangis mengingat sang Ibu. Setelah pernikahan itu Larissa belum lagi menjenguk keadaan Ibunya dipenjara.
“Kamu kenapa? Mimpi buruk?”
“Nggak, tiba-tiba aja teringat sama Ibu. Aku kangen sama dia, apa besok kita jenguk ke sana?”
“Boleh. Aku antar kamu ketemu Ibu, dia pasti kangen juga sama putrinya yang cantik ini. Udah yuk lanjut tidur, jangan sampai telat bangun kamu juga harus sekolah.” Larissa kembali memejamkan matanya, dia membelakangi Pram. Air mata masih mengalir, otaknya terus memikirkan keadaan sang Ibu.
Esok paginya, Bona selesai memanaskan mobil dan langsung menyuruh Mitha ke kamar Pram. Pintu terbuka, ternyata Tuannya tersebut tengah bersiap membawa Larissa pergi. Gadis itu tiba-tiba demam, badannya menggigil. Pram begitu panik mengetahui istrinya sakit, dia segera meminta Bona membukakan pintu mobil dan mengantarkannya ke rumah sakit.
“Halah drama itu, makin ke sini kok makin ngeselin ya si Larissa,” seru Rara dengan wajah julidnya. Mitha yang berada tepat di sampingnya hanya menatap sinis. Sifat Rara masih saja belum berubah, entah apa salah Larissa padanya.