"Aku tau kau membenciku Quen... tapi apa kau tahu jika perkataanmu menyakitiku?" tanya Anna dengan tangisan nya
" Rasa sakit yang kau rasakan sekarang hari ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang aku rasakan sejak dulu... sebelum kau merasa dirimu tersakiti fikiran dulu apa yang sudah kau lakukan padahal kau sama sama wanita... apa kau tidak punya hati atau kau memang tidak tau malu? " tanya Quen tajam
dan membuat Sean menatap Quen dengan tak kalah tajam nya Sean dan Quen menikah karna perjodohan yang di lakukan ayah Sean,Sean menerima perjodohan itu karna saat itu kekasih Sean berselingkuh di belakang Sean yang membuat Sean menerima perjodohan itu tapi tak lama Sean malah menjalin hubungan kembali dengan kekasihnya setelah menikah dengan Quen malah perselingkuhan itu di lakukan secara terak terangan di hadapan Quen dan di dukung oleh teman teman Sean dan kekasihnya. Quen yang mengetahui perselingkuhan yang dilakukan Sean hanya bisa diam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quenn9597, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Para tentara pagi ini melakukan rutinitas paginya dengan berolahraga berkeliling marakas dengan memperlihatkan tubuh kekar mereka membuat Bella dan Acha mengintipnya dari jendela kamar mereka berdua.
"Wah ini pemandangan pagi hari yang sangat indah" kata Bella.
"Iya mereka tampan dan tubuh mereka kekar semua" kata Acha juga tersenyum senang dengan Bella.
"Iya pantas saja Quen jatuh pada pesona Kapten Oh, orang anak buahnya saja keren- keren begitu"
"Hemmm kapan ya aku bisa punya pacar tentara"
"Iya aku ingin sekali punya pacar tentara dan melihat mereka setiap hari" kata Bella sambil mengkhayalkannya dan keduanya terkekeh dan sejak tadi hal itu dilihat oleh Satria yang berdiri dibalkon kamarnya dan menatap kesal kearah Bella.
"Apa-apaan dia" kesal Satria.
“Bagaimana bisa dia melihat pria lain? Apa dia melupakan ada aku dokter tampan disampingnya" kata Satria kesal.
"Kau ini"
Jeno datang.
“Apa Bella tahu kau menyukainya? Bella saja tidak tahu kau menyukainya apa salahnya dia melihat pria tampan dan apa kau juga kekasihnya?" cibir Jeno membuat Satria kesal Jeno tertawa melihat wajah kesal Satria.
"Jika tidak mau dia melirik pria lain katakan padanya. Tidak berani Baiklah biar aku saja" Kata Jeno dan Satria terkejut.
"Bella" panggil Jeno.
"Apa yang kau lakukan bantet bodoh!" pekik Satria kesal dan langsung menarik Jeno untuk masuk membuat Bella dan Acha heran karena tidak menemukan siapa yang memanggilnya.
"Kau gila atau apa"
"Aku hanya membantu sahabatku saja"
"Aku tidak membutuhkan bantuanmu" kata Satria lalu pergi dan Jeno tertawa menyusuinya.
"Siapa yang memanggilku tadi?" tanya Bella.
"Entahlah? Ayo kita harus mulai ke gedung medis"
"Ayo"
10 orang tentara sedang membersihkan bagian depan markas karena ini adalah tugas mereka hari ini.
Seorang tentara membersihkan bagian terowongan kecil dan dia merasa aneh seperti ada sesuatu yang besar menghalangi sapu lidi miliknya.
“Ini apa" kata Tentara itu dan mendekatinya dan dia menariknya.
"Astaga" pekiknya kaget melihat seorang pria yang tidak sadarkan diri memeluk sebuah koper.
“Ada mayat!" teriak tentara itu membuat mereka langsung menyusulnya.
Quen dan Vio baru saja dari ruang medis mereka akan menuju keruangan Althea dan mereka berdua mendengarnya dan juga ikut pergi kearah teriakan itu.
"Astaga" kaget Quen dan Vio dan mereka mendekati tubuh pria itu dan Quen meriksa nadinya.
"Dia masih hidup" kata Quen.
“Angkat dia!" kata Quen dan mereka langsung membawa nya ke gedung medis dan mulai diperiksa.
"Lambungnya bermasalah" kata Satria.
“Ron sen. setelah itu kita akn tahu penyebabnya" kata Quen.
"Baik"
“Quen. hari ini Kapten mengadakan rapat dan ia minta perwakilan tim medis datang" kata Acha.
“Hah kenapa mendadak sekali?" tanya Quen.
“Entahlah.. aku juga tidak tahu.. kau harus kesana"
"Satria kau bisa ambil alih ini?" tanya Quen.
"Biar aku saja Quen.. kau pergilah"
"Baiklah"
Quen keluar dari ruang MRI dan menuju keruangan Rapat dia masuk kesana dan disana ia melihat Tim Althea yang terlihat akan duduk dan Quen duduk didekat Alvian dan disampingnya ada Albian Althea menatap datar Quen begitu juga dengan Sean.
“Rapat segera kita mulai" kata Sean.
"Baik Kapten" kata mereka.
“Ada beberapa hal penting yang akan aku bahas dirapat kita hari ini.. selama rapat jangan ada yang saling bicara atau sibuk sendiri dengan apapun fokus pada apa yang aku katakan!"
“Baik Kapten"
“Pertama aku akan membahas tentang misi utama keberadaan kita disini.. diawal sudah aku katakan selain misi kemanusiaan ada misi rahasia disini dan juga markas ini mulai diincar oleh pemberontak.. untuk itu aku minta pada kalian untuk lebih berhati- hati dan waspada pada orang luar"
“Apa sebaiknya kita setiap waktu tertentu kita adakan pemeriksaan di markas?" tanya Ethan.
"Itu memang akan dilakukan jadi pastikan kalian tetap membawa kartu identitas kalian disini dan untuk tim medis.. karena jumlah kalian sedikit dan kami hafal semua wajah kalian maka kartu identitas tidak perlu untuk tim medis" kata Sean pada Quen.
“Lalu yang kedua.. aku akan membahas tentang transaksi keluar masuk markas..seperti di bahan makananan, persenjataan dan juga peralatan medis.. aku ingin setiap orang yang akan mengantar barang yang masuk kemarkas harus diketahui dulu siapa orangnya.. artinya orang yang memesan barang harus tahu siapa yang mengantar barangnya jika tidak maka orang tersebut tidak akan diizinkan masuk"
"Bagaimana jika keadaannya parah?" tanya Quen.
“Kau terlalu banyak bertanya" kata Annisa sinis.
"Memang kenapa bagi ku sebagai dokter lebih mementingkan keselamatan pasien ketimbang peraturan lagi pula peraturan ada untuk dilanggar untuk tujuan yang baik" kata Quen.
“Dan Aku hanya menanyakan kemungkinan terburuk. bagi kami tim medis.. kesehatan itu nomor satu dan keselamatan pasien itulah yang utama.. satu detik pun itu sangat berarti untuk tubuh yang terluka " Lanjut Quen.
Sean melihat kearah Quen.. ia sedikit tertarik dengan vocal dan pemikiran Quen yang menurutnya sangat berani dan ia tidak menyangka jika ternyata Quen tidak selemah seperti yang dia lihat.
“Pengecualian untuk itu.. maka ketika tim medis memeriksa akan ada tentara yang bersama dengan kalian"
"Baiklah" kata Quen.
Lalu dilanjutkan dengan pembahasan lain dan disana terkadang Anna dan Sean terlihat akrab dan saling bertukar pikiran bersama membuat Quen sangat cemburu namun ia diam, Quen masih tidak bisa membohongi dirinya jika dia memang mencintai Sean, sangat mencintai pria itu.
Sementara itu, tim medis dibuat bingung dengan hasil rong sen organnya.
"Bagaimana ini.. kita harus segra mengambil tindakan.. tapi Quen masih rapat" kata Satria.
Satria menghubungi Quen namun ponsel Quen justru tertinggal disana.
“Bagaimana ini?" tanya Vio.
“Aku akan keruang meeting.. berikan hasil rong sen nya" kata Satria dan Vio memasukannya dalam amplop warna putih Satria berlari menuju keruangan rapat Althena.
"Selain itu apa Tim medis selama ini nyaman dengan tempat kalian disini?" tanya Anna pada Quen.
"Kami semua nyaman disini terimakasih" kata Quen datar.
"Tentu saja mereka akan nyaman.. karena ide tentang tempat medis itu dirancang oleh Anna dan Anna selalu membuat mereka yang akan bergabung dengan Tim Althena nyaman karena hal itu angggota Althea tidak pernah menyesal masuk kesini" kata Maria.
"Bukankan begitu Sean?" tanya Maria lagi.
"Iya dia banyak berperan besar disini" kata Sean dan membuat Quen malas.
“Kau juga sama Sean.. kau yang lebih berperan besar disini kata Anna tersenyum.
“Kalian berdua sungguh sangat cocok ya" kata Aria tersenyum.
"Benar memang cocok pria selingkuh dan selingkuh han murahan" Gumam Quen.
Quen sebenarnya sangat tidak suka namun pikirannya tertuju pada pasien tadi Pintu meeting diketuk seseorang.
'Siapa yang berani menganggu meeting?" tanya Dev.
“Apa mereka tidak tahu jika tidak boleh ada yang menganggu meeting?" tanya Annisa.
"Ada Dokter Satria diluar" kata Arya setelah mengecek.
"Satria?" tanya Quen.
"Quen apa anggotamu tidak kau beri tahu jika meeting tidak boleh diganggu?" tanya Anna ramah.
“Aku rasa ada hal penting" kata Quen.
"Tapi meeting tidak boleh diganggu.mungkin kau bisa memberitahunya untuk menunggu setelah kau selesai meeting"
“Meeting masih akan dilanjutkan. dan tidak boleh ada yang menganggunya" kata Aria.
Quen tahu Satria pasti memberi tahu soal pasien tadi dan sepertinya sangat parah sampai Satria harus kesini.
"Ka Septian katakan padanya"
“Baik Kapten"
"Tapi.."
“Kau sedang meeting dan ini adalah peraturan meeting Kami" kata Billy.
Quen kesal namun justru yang terjadi Satria malah memaksa masuk dan membuat mereka semua kaget.
“Apa-apaan ini! Kau tahu Meeting tidak boleh diganggu!" kata Dev.
“Maaf Ka tapi ini penting" kata Satria dan melihat Quen.
"Sepenting apa sampai kau menganggu meeting.. maaf tapi ini peraturan" kata Anna.
“Ada apa?" tanya Quen.
"Quen lihat ini" kata Satria memberikan amplop putih yang ia pegang pada Quen Quen mengambilnya dan mengeluarkan hasil CT Scan MRI dan setelah itu ia membuka tirai jendela dan melihat hasil CTScannya.
"Ini apa?" tanya Quen kaget lantaran melihat lima buah benda didalam lambung pasien.
“Aku tidak tahu.. yang pasti itu bukan toxic.." kata Satria.
"Siapkan Operasinya. kita ker luarkan benda ini sekarang" perintah Quen pada Satria.
"Baik Quen" kata Satria dan ia pergi dari ruangan Quen mengambil buku dan pulpen yang ia bawa tadi.
"Dokter Quen, kau tidak bisa meninggalkan Rapat yang sedang berlangsung" kata Anna memperingati.
"Aku tidak bisa melanjutkan rapat. Persetan dengan rapat ada pasien yang harus aku operasi" kata Quen lalu keluar dengan terburu-buru.
" Tim medis susah untuk profesional" kata Annisa.
"Jangan samakan mereka dengan kita.ini menyangkut nyawa orang. tentu saja berbeda" kata Nino.
"Kita lanjutkan Rapatnya!" perintah Sean.
"Baik kapten"
"Rapat kembali berjalan selama 2 jam dan setelah itu rapat selesai jam 4 sore.
" Rapat aku cukupkan.. kalian bisa istirahat!" kata Sean.
“Baik Kapten"
Mereka semua sudah keluar dari ruangan hanya tinggal Sean dan Anna.
“Kau begitu lelah akhir-akhir ini" kata Anna menghampiri Sean dan mengelus pipi Sean.
“Ada banyak hal yang harus aku urus"
"Tapi kau harus istrirahat"
"Tika aku istirahat maka tugasku tidak akan selesai"
"Kau tahu kita jarang menikmati waktu berdua sekarang.. aku rasa itu membuat pikiranmu menjadi lelah. kau perlu Hiburan Sean" kata Anna Sean melihat kearah Anna.
“Bukan hanya aku tapi kau juga" tanya Sean.
dan saat itu Anna tersenyum lalu mereka berciuman panas disana Anna membuka kancing kemejanya dan membiarkan tangan Sean meremas buah melon Anna duduk dimeja ruangan meeting dengan kancing kemejanya yang terbuka dan dadanya yang diremas oleh Sean sedangkan mulut keduanya beradu penuh nafsu dan tangan Anna dengan nakal menggoda milik Sean dan setelah itu mereka melakukan kegiatan panas setelah Anna selesai memakaikan alat pelindung di milik Sean di ruangan meeting tersebut dengan Anna yang duduk di meja ruangan meeting.