Karena keadaan keluarganya, Arimbi ingin membawa ibu dan neneknya pindah ke tempat baru yang di mana tidak ada orang yang tahu asal mereka. Tentu semua itu membutuhkan biaya yang cukup besar. Sampai suatu saat tawaran datang dari seorang gadis kaya yang menjanjikan uang yang menggiurkan, membuat Arimbi pergi ke kota dan nekat menerima tawaran itu. Apa yang selanjutnya terjadi dengan Arimbi gadis cantik dan polos yang berasal dari desa itu?
Hati-hati ya, ceritanya bikin sakit perut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anny Djumadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Clara ditugaskan mempersiapkan pernikahan
"Atau jangan-jangan benar kecurigaan Fani, kalau kau sudah menjebak aku?" tanya Hugo langsung teringat tuduhan Fani yang langsung ditepis Hugo saat itu.
Aduh! Aku tidak boleh kalah mental nih! Aku harus tidak kelihatan ikut andil! pikir Clara dalam hati berusaha bersikap tenang menghadapi tuduhan Hugo.
"Berdasarkan apa Fani curiga? Untuk apa aku menjebak kak Hugo? Sama sekali tidak ada untungnya kak! Aku hanya ingin kak Hugo bertanggung jawab dengan kesalahan yang sudah kak Hugo perbuat, lagipula aku merasa bersalah pada Arimbi karena akulah yang sudah mengajaknya ke acara kumpul-kumpul itu!" sahut Clara.
"Apa mungkin kau tidak suka karena aku dengan Fani?" tanya Hugo lagi.
"Buat apa aku tidak setuju kak? Kakak tahu waktu kakak mengajaknya ke rumah, bagaimana sikap ku pada Fani? Aku kan baik-baik saja dengan Fani!" sahut Clara yang bersyukur waktu Fani datang ke rumah berkunjung, saat di hadapan Hugo dia tidak pernah kelihatan memusuhi Fani.
"Tapi kata Fani kau tidak terlalu menyukainya, Ra!" desak Hugo lagi.
"Kalau itu sudah dulu sekali kak. Dulu saat aku belum menjadi adik tiri kak Hugo," jawab Clara menghela nafas.
"Apakah benar kata Fani kalau kau dulu pernah menyukai ku, saat aku belum menjadi kakak mu sehingga kau dendam dengannya?" tanya Hugo yang kembali teringat ketika terakhir kalinya percakapan dia dengan Fani berakhir dengan tidak enak. Hugo marah saat Fani menuduh kalau Clara sebenarnya menyukai Hugo sebagai seorang pria, bukan kakak.
"Ha-ha-ha, aku kini tahu mengapa Fani dulu suka membully aku dan mempermalukan aku di depan teman-teman kami, kak. Ternyata dia kira aku menyukai mu dan ingin bersaing dengannya. Mana mungkin aku berani kak? Kalau menyukai mu, itu kan hal biasa seperti seseorang yang mengidolakan artis. Bukankah dulu yang mengidolakan kak Hugo di sekolahan banyak? Bukan aku saja. Memang aku tidak suka dengan Fani karena dia suka sekali menghina orang-orang yang miskin seperti aku, saat itu. Tapi aku sudah berbesar hati untuk melupakan semua itu saat kak Hugo menjalin kasih dengannya. Bagaimanapun aku selalu menghormati kak Hugo, sudah pasti aku akan menghormati orang yang kak Hugo cintai. Kok sekarang bisa-bisanya dia menuduh ku seperti itu? Jangan-jangan dia yang cemburu melihat hubungan kakak beradik kita yang baik, dan dia mengira aku punya maksud tertentu kak. Kakak tahu sendiri kalau selama ini aku tidak pernah macam-macam saat menjadi adik kak Hugo bukan? Aku juga tulus menganggap kak Hugo adalah kakak ku!" sahut Clara dengan wajah serius dan sekaligus menjelekkan sifat Fani di hadapan Hugo, begitu ada kesempatan. Tampak Hugo terdiam sejenak.
"Baiklah, kau urus saja pernikahan ku dengan Arimbi. Ini kartu untuk kau mengurus pernikahan aku dan Arimbi. Mengenai kapan kau bisa diskusikan dengan Arimbi. Tolong kau beritahu ibu, agar ibu memberitahu pada ayah juga!" ujar Hugo akhirnya menyerah.
"Tenang saja kak. Aku akan mengurus sebaik mungkin pernikahan kakak ku tersayang! Kakak jangan khawatir, kakak tetap bisa beraktivitas seperti biasa, nanti kalau aku membutuhkan kehadiran kakak, aku akan menghubungi kakak," sahut Clara dengan riang seketika.
Rasakan kau Fani! Kau pikir hanya diri mu yang pintar berakting, aku juga pintar! Sayang saja belum ada sutradara yang melirik ku! ujar Clara dengan bangga dalam hati, akhirnya dia memenangkan game kali ini!
**********
Walaupun Fani di bibirnya berkata kalau tidak masalah Hugo menikahi Arimbi, dan akan menunggu sampai Hugo bercerai dari Arimbi, tapi tetap saja hatinya sakit jika membayangkan kalau Hugo nanti akan tinggal bersama-sama dengan istri yang terpaksa dinikahinya itu. Bahkan pertama kali saat mendengar Hugo sudah tidur dengan wanita lain, Fani saja tidak bisa menerima dan marah. Tapi setelah sadar kalau kemungkinan semua itu adalah ulah Clara, Fani tidak rela dan bertekad akan merebut Hugo kembali. Fani memang sejak dulu tidak pernah mau kalah dengan siapa pun, apalagi dengan Clara yang dia anggap beruntung hanya karena ibu Clara menikah dengan ayah Hugo sehingga bisa naik level ke kaum jetset. Dan yang membuat Fani penasaran, Fani belum tahu bagaimana rupa perempuan yang akan menjadi saingannya nanti. Hugo sama sekali tidak mau mengatakan apapun mengenai perempuan itu, Hugo hanya berkata kalau dia tidak suka dengan perempuan itu.
Aku harus mengalah kali ini! Terakhir kali aku menceritakan hal yang sebenarnya terjadi dulu antara aku dan Clara, kak Hugo malah sama sekali tidak percaya. Bahkan kak Hugo berkata mereka berdua sangat cocok sebagai kakak beradik. Dasar si Clara itu memang penjilat, paling pintar saja menyenangkan hati Hugo agar meminta apapun diberikan! gerutu Fani dalam hati yang merasa kesal karena dia tidak berhasil merusak hubungan kakak beradik itu.
Apalagi tadi Hugo kembali datang menjumpainya dengan kabar tidak bagus.
"Maafkan aku Fani, aku mau tidak mau harus menikah dengan Arimbi. Bagaimanapun aku sudah merusak kesucian gadis itu. Aku sudah coba tawarkan untuk membayar ganti rugi, tapi Clara marah dan tidak terima, karena Arimbi adalah temannya. Clara merasa bersalah, lagi pula perempuan itu juga tidak mau saat pertama ku tawarkan," ujar Hugo menghela nafas berat.
"Dan kau tak perlu menunggu ku Fan, itu tidak adil buat mu! Banyak pria lebih baik dari ku yang menyukai mu juga. Maafkan aku," sambung Hugo.
"Aku tidak perduli kak Hugo, aku tetap akan menunggu mu," sahut Fani dengan gigih.
"Tapi aku tidak bisa menjanjikan apa pun pada mu, Fan!"
"Aku yakin kak Hugo adalah jodoh ku! Bukankah kak Hugo berkata kalau tidak menyukai perempuan itu? Kak Hugo tidak bisa janji apa-apa pada ku, tetapi aku yang berjanji aku akan menunggu kak Hugo," sahut Fani yang langsung memeluk Hugo dan menangis tersedu-sedu.
Hugo akhirnya menjadi tersentuh dengan perkataan Fani dan terdiam. Hugo memang selalu kalah kalau sudah melihat seorang perempuan menangis. Hugo akhirnya menepuk-nepuk punggung Fani dengan lembut.
"Sudahlah, jangan menangis Fan. Cinta ku memang hanya untuk mu, tapi aku sendiri juga tidak mengerti mengapa hal itu bisa sampai terjadi pada ku. Maafkan aku yang sudah menyakiti mu," sesal Hugo.
"Berjanjilah kak Hugo, kau akan kembali pada ku kalau bercerai dengan Arimbi. Aku akan menunggu mu untuk menikahi ku," desak Fani yang hanya disambut anggukan Hugo dengan ragu .
Sebenarnya sejak ayahnya beberapa kali kawin cerai, Hugo sudah pernah berjanji hanya akan menikah sekali seumur hidup. Hugo tidak menyangka akan menemui kejadian seperti itu.
Apakah nasib sedang mempermainkan aku? Mengapa aku harus menikahi perempuan yang sama sekali tidak aku cintai? Apakah nasib ku harus seperti ayah ku? sesal Hugo dalam hati sambil menatap wanita yang dicintainya itu dengan gamang.
Aku tidak perduli walau harus merendahkan diri, aku harus memiliki Hugo kembali! Aku tidak boleh kalah dengan Clara perempuan rendahan itu! gerutu Fani dalam hati dengan ambisius.
Bersambung............
aduh othor sayang, ku candu dengan cerita mu, sehat sehat biar up teratur 🫰❤️
semangat othor kesayangan