Setelah kepergian suami tercinta menghadap yang maha kuasa, kondisi Diandra sangat terpuruk. Dia harus mengurus dua anak yang masih kecil, Faris (anak pertama berusia 9 tahun) dan Fanisha (anak kedua berusia 6 tahun). Belum lagi kondisi Diandra yang sedang hamil 7 bulan.
Diandra benar-benar merasa kehilangan sehingga dia menghabiskan hari-harinya hanya menyendiri di kamar dan menangis.
Hingga di hari kesepuluh kepergian suaminya, Diandra melihat Faris anak pertamanya sibuk mengurus adiknya Fanisha. Di situ membuat Diandra tersadar kalau selama ini dia telah menelantarkan anaknya. Diandra memeluk kedua anaknya dan meminta maaf.
Diandra berjuang dengan anak-anaknya, dari sisa harta suaminya yaitu sebuah mobil. Diandra menjual mobil dan memulai semuanya dari awal.
Bagaimana kelanjutan perjuangan Diandra menjadi seorang single parent?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Praditya Dita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Sebelum ujian tes berlangsung.
Setelah Diandra, Monika dan Sophia kembali ke hotel. Faris duduk di kursi yang menghadap ke bangunan pondok pesantren. Bangunan itu terdiri dari empat lantai. Dan tidak jauh dari bangunan yang di lihatnya ada bangunan lagi terdiri dari tiga lantai.
Pesantren itu sangat luas dan besar. Ada masjid juga yang besar. Faris terus memperhatikan setiap sudut bangunan pondok pesantren.
"Pfuhh..."
Terdengar helaan nafas di buang kasar dari seorang cowok yang duduk di sampingnya. Faris refleks melihat kearahnya lalu memberi senyum. Cowok yang usianya tidak jauh berbeda dengan dirinya pun membalas senyum Faris.
"Aku Nabil. Kamu siapa?"
"Faris."
Tidak lama terdengar suara dari mikrofon. "Untuk semua peserta ujian silahkan berkumpul di aula."
Faris langsung ajak Nabil untuk berjalan ke aula. Setelah bertanya dimana tempat aula dari orang yang ada, akhirnya mereka sampai. Mereka melihat aula sudah penuh dengan peserta ujian.
"Banyak juga pesertanya." kata Nabil.
Faris dan Nabil ikut barisan yang ada. Mereka bersyukur karena memiliki postur badan yang tinggi jadi dengan posisi di belakang tidak perlu berjinjit untuk melihat siapa yang sedang bicara.
"Selamat datang peserta ujian masuk pondok pesantren Darul Hikmah. Perkenalkan saya adalah pemilik pondok pesantren ini, nama saya Buya Umar." kata Buya Umar memperkenalkan dirinya, yang disambut bahagia oleh para peserta. Karena bisa terlihat sosok Buya Umar begitu tenang, bersahaja dan murah senyum.
"Hari ini kita akan ujian selama empat jam, dengan soal berjumlah 150." semua peserta kembali berbisik dengan jumlah soal yang luar biasa banyaknya.
"Soalnya berhubungan dengan Agama Islam, Umum dan Bahasa Inggris." lanjut Buya Umar sambil melihat sekeliling peserta yang masih terlihat semangat.
"Sebelum memulai ujiannya, mari kita berdoa agar semuanya berjalan lancar dan dimudahkan dalam pengerjaan soal." Buya Umar melanjutkan doanya untuk para peserta. Semua menadahkan tangan ke atas dan mengaminkan setiap doa yang diucapkan Buya Umar.
Selesai berdoa bersama, peserta di arahkan ke ruangan oleh panitia yang sepertinya itu para senior mereka nanti.
Faris berpisah ruangan dengan Nabil. Faris di ruangan sepuluh sedangkan Nabil di ruangan tujuh. Ruangan mereka sama-sama berada di lantai dua.
Setiap kelas terdiri dari 30 peserta. Soal di bagikan dan mereka mulai mengerjakan soalnya. Faris memejamkan mata untuk mulai fokus, saat membuka mata Faris langsung mengerjakan soal dari yang mudah dahulu. Karena dia ingat pesan Diandra untuk mengerjakan soal yang paling mudah setelah itu baru ke soal yang sulit.
Di dua jam pertama, Faris sudah menyelesaikan soal-soal yang mudah. Masih ada dua jam lagi untuk lanjut ke soal yang sulit. Faris mencoba mengingat lagi isi dari buku-buku yang sudah dia baca dan menyesuaikan dari soal ujian yang ada di hadapannya.
Dengan hati tenang tanpa tergesah Faris menyelesaikan soal yang masih tersisa sepuluh lagi.
Tepat pukul 11.16 Faris dapat menyelesaikannya dan segera di kumpulkan ke pengawas yang ada di depan. Setelah itu Faris keluar ruangan. Faris turun ke lantai satu untuk menunggu jemputan, karena kata pengawas sudah bisa langsung pulang tanpa harus berkumpul lagi di aula.
Saat Faris duduk di plataran pondok sambil menunggu di jemput. Beberapa peserta ikutan duduk disampingnya. Ada empat orang yang sepertinya tadi mereka satu ruangan. Mereka adalah Rasya dari Bandung, badannya tinggi dan berkulit putih, wajahnya selalu tersenyum ramah. Alvin dari Jakarta, badannya sedikit gempal dan berkulit kuning langsat, Alvin paling humoris di antara yang lain karena senang sekali buat lelucon. Bayu dari Yogya, dia berkulit sawo matang dan badannya tidak terlalu tinggi, Bayu paling pendiam karena dia lebih banyak senyum dan tertawa saat melihat lelucon Alvin. Yang terakhir ada Rumi, dia berasal dari Jakarta, berkulit putih dan badannya tinggi besar, bisa dilihat kalau Rumi yang paling tampan dari mereka berempat.
Faris senang karena dia menemukan teman baru walaupun baru ujian masuk. Tidak lama Nabil bergabung bersama kami. Nabil paling heboh membahas soal yang sangat memusingkan. Melihat Nabil, Faris teringat dengan Fanisha yang selalu ngeluh tentang soal ujian yang memusingkan.
Mobil Monika sampai di parkiran pondok pesantren. Fanisha memanggil Faris yang tempat duduknya tidak jauh dari parkiran. Faris pamit ke teman barunya, lalu berjalan menuju mobil Monika.
Mobil melaju ke rumah sakit tempat dimana Diandra di rawat. Faris bingung kenapa harus ke rumah sakit dan siapa yang sakit.
Sampai di lobi rumah sakit mereka bertemu Monika, lalu Monika membawa ke empat anak itu ke ruang rawat Diandra. Sampai di ruang rawat, Faris berlari memeluk bundanya dengan air mata mengalir. Kondisi Diandra sudah lebih baik hanya saja belum bisa banyak bergerak karena masih lemas dan masih perlu banyak istirahat.
"Bunda cepat sehat ya, mas nggak mau bunda kenapa-kenapa." kata Faris sambil memeluk Diandra.
"Iya mas, terima kasih." Diandra mengelus kepala Faris yang masih memeluknya. Fanisha dan Fatih juga ikutan memeluk Diandra.
*****
Dua hari Diandra di rawat di rumah sakit. Monika dan Sophia pun masih setia menemani Diandra dan anak-anaknya. Mereka kembali ke hotel untuk istirahat sehari lagi, besok pagi baru mereka kembali ke Jakarta.
Faris, Fanisha dan Fatih sibuk mengurus Diandra. Pokoknya sang bunda tidak boleh lelah dan makannya pun harus benar. Diandra menikmati moment dapat perlakuan spesial dari anak-anaknya. Diandra juga tidak melarang anaknya untuk memberikannya perhatian. Faris si anak sulung yang paling berperan besar karena dia juga mengurusi adik bungsunya yang masih butuh perhatian.
Tangan kecil Fatih memijiti tangan Diandra. Walaupun terasa seperti di elus-elus tapi Diandra menghayati setiap sentuhan Fatih. Sedangkan Fanisha pijiti kaki Diandra. Walau terbilang baru berusia 8 tahun, pijitan Fanisha sangat penuh tenaga katanya biar bunda cepat sembuh.
Faris sibuk memasukkan baju-baju kotor ke dalam plastik lalu di susun ke koper, biar besok tidak perlu repot lagi. Setelah mencicil barang-barang untuk dimasukkan ke koper, Faris mengajak Fanisha dan Fatih untuk melakukan ritual malam karena mata mereka sudah terlihat sangat ngantuk.
Setelah kedua adiknya tidur dan Diandra juga tidur, baru Faris naik ke tempat tidur untuk istirahat. Di setengah sadarnya, Faris merasa ada seseorang yang mencium keningnya dan berbisik. "Terima kasih mas." Faris tersenyum dan masuk ke alam bawah sadar.
*****
Diandra kembali mengecek isi koper dan ke seluruh kamar hotel apa ada yang tertinggal atau tidak. Setelah semuanya aman, Diandra membawa anak-anak untuk pulang ke Jakarta.
Monika juga pulang bersama untuk menjaga Diandra takut kalau Diandra tidak kuat bisa gantian nyetir mobil.
Syukurnya perjalanan mereka berjalan lancar, sampai rumah dengan selamat. Hanya saja Diandra tidak bisa datang ke workshop catering karena badan terasa capek. Setelah mandi dan sholat Zuhur, Diandra kembali istirahat di temani Fatih. Sedangkan Faris dan Fanisha sibuk membersihkan rumah.
Mereka teringat akan beberapa tahun lalu saat mereka belajar mandiri disaat bundanya sedang mengurung diri di kamar.
Setelah rumah bersih dan rapih, Faris dan Fanisha duduk santai di ruang keluarga. Faris menceritakan pengalamannya ujian masuk pesantren kemarin. Fanisha pendengar setia yang menikmati setiap cerita mas nya.
"Senang ya mas sudah dapat teman aja."
"Iya dek, semoga kita semua lolos biar bisa ketemu lagi."
"Aamiin."
Tiba-tiba terdengar salam dari arah luar gerbang. Faris dan Fanisha keluar pintu dan melihat siapa yang datang. Ada dua orang wanita seumuran Diandra datang membawa map besar.
"Ada apa ya Bu?" tanya Faris yang belum membuka gerbang masih bicara di cela gerbang.
"Dek, bisa ketemu mama nya?" tanya wanita yang berbadan gemuk yang membawa map merah.
"Ibu siapa? Ada urusan apa?" tanya Faris yang merasa ada kecurigaan dengan tamu yang tak di kenalnya.
"Di buka dulu pintunya, nggak sopan banget ada tamu malah nggak di suruh masuk." protes ibu yang kurus yang mendobrak-dobrak gerbang untuk di buka.
"Ibu kok kasar, saya bisa aja teriak ibu maling karena saya nggak kenal ibu siapa." Faris tidak terima dengan sikap kedua ibu itu yang sangat memaksa.
"Kurang ajar ya kamu, emang anak zaman sekarang nggak pernah di ajarin sopan santun sama orang tuanya. Dasar anj*ng... Cepat buka!" marah ibu yang berbadan gemuk sambil menendang gerbang rumah.
Faris makin tidak suka dengan sikap kedua ibu itu. Faris tarik nafas dalam-dalam lalu diapun teriak. "Tolong! Tolong! Ada orang jahat di rumah kami, Tolong!!"
Fanisha yang berdiri di depan pintu juga ikutan teriak. Diandra keluar kamar begitupun dengan tetangga yang ada di sekitar rumah Diandra langsung keluar. Kedua ibu itu panik melihat warga yang sudah ada disekitar mereka.
"Tolong! Ibu-ibu itu maksa mau masuk rumah kami. Tolong!!" teriak Faris lagi.
Pak RT yang mendengar teriakan Faris langsung membekuk kedua ibu itu dengan bantuan warga ke kantor karang taruna.
Faris dan Fanisha juga di ajak untuk di minta keterangan. Dengan gagah perkasa mereka pamit ke Diandra lalu jalan ke kantor karang taruna.
Diandra pun ikut serta sambil menggendong Fatih yang lanjut tertidur di gendongannya.
Sidang darurat pun di mulai. Faris menceritakan kronologis dari kedatangan dua ibu sampai dirinya teriak minta tolong. Fanisha pun membenarkan pernyataan Faris karena dia saksi saat kejadian itu.
Kedua ibu itu protes karena dia tidak terima diperlakukan seperti orang jahat, karena kedatangannya hanya untuk menemui ibu dari anak ini.
"Kalau ibu-ibu merasa benar kenapa harus maksa, marah-marah dan sebut nama binatang?" tanya Faris dengan gayanya seperti seorang pengacara.
"Benar. Ibu-ibu sampai memukul gerbang rumah kami, nggak ada sopan santunnya." kata Fanisha yang tidak kalah kesalnya.
Warga yang ada di kantor karang taruna saling berbisik dan curiga dengan kedua ibu itu.
"Di cek aja pak RT apa yang dia bawa bisa-bisa dia emang mau ngerampok." kata Bu Amel yang memang paling julid dan suka ngegosip di komplek mereka.
Ibu-ibu lain pun menyetujuinya untuk periksa barang dan tas yang di bawa kedua ibu itu. Pak RT permisi terlebih dahulu untuk meminta izin periksa tas kedua ibu dan map yang di bawa. Tidak lupa periksa seluruh badan kedua ibu itu dengan bantuan ibu-ibu warga.
Tidak ada yang aneh sama sekali, maka kedua ibu di bebaskan dengan syarat tidak boleh terlihat lagi di lingkungan komplek ini.
Sebelum kedua ibu pergi, Diandra mendekati dan bertanya. "Ada urusan apa ibu-ibu mencari saya?"
Tanpa memperdulikan pertanyaan Diandra kedua ibu itu langsung melengos pergi dan berbisik saat sudah keluar dari kantor karang taruna. "Gagal sudah rencana kita." bisik ibu yang berbadan gemuk.
Bersambung....
rumi heavy👍👍👍
lanjut their💪💪💪