Rumus selamat dari pembullyan di sekolah adalah berteman dengan cowok ternakal.
Dan sialnya, cowok itu adalah Rifat Basuki. Pemilik pondok pesantren ternama dimana omku menimba ilmu. Dia yang sejak dulu kukagumi, Gus Rifat.
Semenjak pindah ke ibu kota, aku jadi tahu jati diriku dan sungguh aku sangat kecewa dan memutuskan pergi dari rumah.
Beruntung ada om tampan tapi menyebalkan, Samuel Darius Alexander yang mau menampungku dengan syarat mau merawat kekasihnya yang sedang mengalami koma.
Namaku Alina Jovanca Putri
---
Hidup gue amat tenang selama 16 tahun ini. Tapi sejak kehadirannya, seolah semua keberuntungan berpihak padanya.
Dia merampas kasih sayang papa, dia berteman dengan bad boy sekolah yang super keren, dia cerdas, dan dia juga punya sugar Daddy yang sangat tampan.
Ahhh.... Gue iri!
Awas lo, kembaran!
Hidup lo nggak boleh tenang.
Kenalkan, nama gue Alisa Permata Yudha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bund FF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumit
Kring... Kring .. Kring...
Bel berdering menandakan istirahat telah usai.
Rifat tertawa girang, baru kali ini bel masuk kelas menjadi penyelamat baginya.
"Sudah bel, Lin. Gue masuk jelas dulu ya. Tadi gue lupa kalau ada PR yang belum gue kerjain" sebenarnya hanya alasan saja agar Rifat bisa kabur dari Alin. Rifat rasa belum saatnya Alin tahu tentang alasan mengapa Rifat harus pindah sekolah waktu itu.
"Tapi kan gus, kamu belum cerita" kata Alin setengah berteriak karena Rifat yang tiba-tiba berlari meninggalkannya.
"Iihh.... Nyebelin banget sih jadi orang" ucap Alin bersungut-sungut, diapun beranjak dari tempat duduknya untuk kembali ke kelasnya sendiri.
"Bantuin lah Lis, bengong terus sih daritadi?" keluh Zee yang sudah berpeluh, sementara Lisa sepertinya kebanyakan memikirkan masalah negara, daritadi dia melamun saja.
"Cg, iya-iya. Mana yang belum?" tanya Lisa sambil celingukan mencari lantai yang belum tersapu.
Tugas ketiga gadis itu hari ini adalah membantu bagian kebersihan. Membantu memelihara kebersihan lantai, kebersihan makanan dan juga pakaian para penghuni panti jompo.
Kebetulan Lisa dan Zee bertugas membersihkan lantai. Awal mulanya, Zee memilih untuk beberes di bagian teras depan.
"Tuh, didekat jendela belum disapu. Kan gue jadi nggak bisa nerusin ngepel lantainya kalau lo nggak selesai-selesai nyapunya, Lisa" keluh Zee sambil membawa alat pelnya.
"Lagian lo kenapa sih?" tanya Zee yang melihat Lisa nampak murung saja sejak tadi pagi.
"Gue kepikiran deh Zee. Bagaimana kalau ternyata si cewek udik itu memang kembaran gue? Cg! Nggak asik banget" rengek Lisa sambil menghentakkan kakinya.
"Asyik juga kok punya saudara. Kayak gue nih contohnya, kakak gue baik sama gue. Selalu mengalah, selalu bantuin gue kalau lagi kesusahan, dan support gue kalau gue lagi down" puji Zee pada kakaknya.
"Beda lah Zee rasanya kalau lo baru tahu kalau punya saudara saat umur lo sudah sebanyak ini, apalagi ini saudara kembar. Aneh banget tahu nggak sih" kata Lisa sambil mengayunkan sapunya panjang-panjang sebagai pelampiasan kekesalannya.
"Iya juga ya. Terus yang katanya si Alin kan masih punya bunda, berarti bunda lo juga kan Lis. Ehm, perasaan lo gimana tuh?" tanya Zee penasaran, yang Zee tahu selama ini Lisa adalah seorang anak piatu.
"Nah, itu juga yang jadi pikiran gue Zee. Enam belas tahun hidup tanpa kasih sayang seorang ibu, dan tiba-tiba juga tahu bahwa ibu gue masih ada meski belum tahu mukanya, gue jadi pesimis bisa nerima dia dengan baik. Karena gue merasa kalau dia itu nggak sayang sama gue yang dibiarkan saja pergi saat masih sangat kecil" terdengar sirat kekecewaan di ucapan Lisa.
Sebenarnya saat melihat seorang anak yang dipeluk oleh ibunya, ada getaran rasa di dalam hati Lisa untuk merasakan pelukan seperti itu. Namun diyakinkan jika dia sudah tidak memiliki ibu membuat Lisa meminta limpahan kasih sayang dari papanya seorang.
Dan disaat dia tahu jika ibunya ternyata masih ada, entah mengapa rasa untuk mendapatkan pelukannya itu jadi sirna oleh kekecewaan. Meski Lisa tak tahu dengan masa lalunya yang seperti apa hingga ibunya merelakan dia pergi, kini Lisa sedikit tak percaya jika masih ada cinta dari seorang ibu untuknya.
"Memangnya selama ini kalau lo tanya tentang ibu lo, jawaban apa yang papa lo kasih?" tanya Zee. Lisa memang jarang sekali membahas masalah keluarganya yang tak utuh seperti keluarga Zee dan juga Via.
"Papa cuma bilang kalau dia akan jelasin semuanya suatu saat nanti kalau gue sudah bisa berfikir lebih terbuka. Gitu doang\* jawab Lisa.
"Berfikir yang lebih terbuka itu yang seperti apa sih, Lis?" tanya Zee.
"Entah, gue juga nggak tahu" jawab Lisa sambil mengendikkan bahunya.
"Saya perhatikan sejak tadi kalian berdua ini ngobrol terus, apa pekerjaan kalian sudah selesai?" tanya Pak Amin, pengurus panti yang tugasnya memelihara kebersihan panti ini.
"Meski bibir kita ngobrol, tapi tangan kita juga kerja kali, pak. Tuh lihat lantainya kinclong kayak kepala bapak yang gundul" jawab Lisa yang memang sedang tak enak hati.
"Nggak sopan kamu sama orang tua, ya" ucap Pak Amin sedikit ngegas, tersinggung rupanya orang tua itu.
"Bapak sendiri kalau bertanya nggak lihat situasi. Lihat dong hasil kerja kami berdua, jangan baru datang terus main bentak saja" balas Lisa tak mau kalah. Lumayan lah untuk pelampiasan emosi.
"Mulut kamu itu kalau ngomong sama orang tua yang sopan. Nggak pernah disekolahin apa?" ucap Pak Amin masih sedikit marah.
"Gue masih sekolah kali, gue ada disini ini juga karena dihukum sama guru. Kalau nggak karena sedang menyelesaikan hukuman, males banget gue ada disini, jadi jongos pula. Asal bapak tahu ya, dirumah gue, ada banyak banget jongos yang bisa gue suruh-suruh semau gue. Nah ini gue disini malah jadi jongos" balas Lisa masih bersungut.
"Oh, awas ya kamu anak kecil. Aku kasih nilai jelek di daftar tugas kamu" ancam Pak Amin.
"Coba saja kalau pak Amin berani! Saya aduin ke papa biar lo kehilangan pekerjaan" ancam balik Lisa.
"Dasar anak manja. Bisanya ngumpet di ketek bapaknya" gerutu Pak Amin yang sadar sedang berurusan dengan anak konglomerat.
Mereka bisa melakukan apapun pada orang biasa sepertinya. Dan kali ini Pak Amin mengalah. Biarlah nanti dia akan memberi sedikit catatan tentang kepribadian Lisa yang kurang baik.
Pagi itu, di hari yang sama.
Jovan sudah duduk diatas pesawat bersebelahan dengan Akbar yang terlelap sejak baru saja mendaratkan pant*atnya.
Heran Jovan pada pria satu ini, entah mengapa dia sangat patuh terhadap Yudha. Sampai sudah berumur masih saja dia tak sempat memikirkan keinginan untuk menikah.
"Ya, memang menikah itu menyenangkan dan juga membingungkan dalam satu tempat yang sama" gumam Jovan sambil menikmati putihnya awan yang nampak dari jendela pesawat.
"Ibaratnya seperti sedang memegang sebuah koin. Pasti memiliki dua sisi yang berbeda yang harus kita genggam agar tidak terjatuh".
Jovan merenungi kisah hidupnya. Dulu dia dikejutkan dengan pengakuan Yudha mengenai si kembar yang baru saja lahir.
Belum sempat rasa pusingnya hilang untuk memikirkan masalah biaya salah satunya yang terkena masalah jantung, Jovan harus bersedia membujuk istrinya agar salah satu putri kembarnya di bawa Yudha demi pengobatan.
Jovan tak berkutik karena satu alasan yang Yudha ketahui tentangnya. Alasan yang pasti akan membuat Vani kecewa sangat dalam terhadap Jovan dan pasti membuat pernikahannya kandas dan memberikan peluang yang besar terhadap Yudha untuk menggantikannya sebagai suami Vani.
Jovan masih terlalu mencintai Vani dan anak-anaknya hingga dia bersedia untuk saling tutup mulut hingga saat ini, begitupun Yudha yang juga menepati janjinya untuk membawa salah satu putri kembarnya dan tak mengganggunya hingga sebuah kebetulan terjadi seperti sekarang.
"Ah, sial! Seharusnya sudah sejak dulu saja aku biarkan pria brengsek itu membawa kedua putrinya" gumam Jovan sambil meremas rambutnya dengan kesal.
"Tapi seiring berjalannya waktu, akupun sangat menyayangi Alin seperti aku juga menyayangi Varo dan Vee. Ah, aku bingung harus bagaimana menjelaskan semuanya terhadap Alin" kesal Jovan.
"Pasti nanti dia akan sangat membenciku. Tapi, bagaimanapun juga dia harua tahu siapa ayah kandungnya karena nanti yang bertanggung jawab untuk menikahkannya juga bukan aku, tapi ayahnya" kini Jovan berusaha berdamai dengan takdir.
Berusaha mencari rangkaian kata yang tepat untuk dia katakan kepada putri sambungnya agar tak menyakiti hatinya. Setidaknya, saat Alin tahu nanti, Alin tak begitu membencinya sebagai seorang ayah.
Jovan sangat berharap jika didikannya untuk menjadikan ketiga anaknya sebagai anak yang sabar bisa terwujud.
"Semoga Alin bisa mengerti dan tak merubah perasaan sayangnya terhadapku" doa Jovan sebagai seorang ayah yang tulus menyayangi putrinya.
Hingga pesawat akan landingpun tak membuat Akbar terganggu dengan suara pramugari yang menyampaikan informasi.
"Mungkin dia terlalu lelah dengan tugas yang Yudha berikan padanya. Jika aku yang menjadi atasanmu, aku tidak akan membuatmu bekerja terlalu keras seperti ini, Bar. Karena kaupun punya hak untuk menggapai kebahagiaanmu sendiri" kata Jovan dalam hatinya sambil berusaha membangunkan Akbar yang terlelap dengan mulut menganga namun untungnya tak ada aliran air yang turun dari dalam mulutnya.
Bongkar dong kebusukan Hansen
benar..
Alin jadi anak binti Vani, bukan anak bin Yudha😊