NovelToon NovelToon
Doctor Dom

Doctor Dom

Status: tamat
Genre:Dokter Ajaib / Identitas Tersembunyi / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:75.2k
Nilai: 5
Nama Author: dee Irma

Kecelakaan membuat nyawanya masuk dalam tubuh seorang anak SMA yang menjadi korban saat menolong seorang gadis saat terjebak tawuran siswa.
Mengetahui dirinya telah meninggal, Dom tidak bisa menerima hal itu. Terutama saat dia mulai sering bermimpi buruk yang membuatnya tidak nyaman.
Dom yang seorang dokter bedah ternama, sekaligus dokter peneliti obat obatan, yang memiliki laboratorium, serta pewaris tunggal dinasti dari keluarga yang bergerak di bidang farmasi, harus bisa menerima kenyataan bahwa raganya telah tiada.
Dom menjalani kehidupan sebagai anak SMA, sambil menyelidiki kematiannya sendiri.
Dalam perjalanannya menyelidiki, banyak hal yang tak terduga dialaminya.
Penghianatan, rahasia keluarga, dan teman membuat hidup Dom yang sebagai Arthur semakin berwarna.

Ikuti terus kisahnya hanya di sini.
Jangan lupa like dan komentarnya, baca secara urut juga ya.

Terima kasih 😘💕

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dee Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Lucy

"Bu, bagaimana bisa memasak pasta seenak ini?"

"Ibumu memang memiliki resep pasta terenak di dunia, aku pun tak pernah bisa meniru resep buatannya sampai saat ini. Lihat, Ana makan dengan lahap hingga nambah sampai tiga kali."

Puji Rea pada Lea, ibu Arthur.

"Kalian ini! Bukannya kamu sekolah memasak dan saat ini bekerja di restoran terkenal itu? Oh, mungkin, kamu harus memasak dengan menambahkan sedikit bumbu cinta pada masakanmu, Re."

Lea tersenyum sambil menepuk bahu adiknya.

"Oya, jadi kakak memutuskan untuk rawat jalan seterusnya?"

Lea mengangguk.

"Di Rumah Sakit Daerah?" Tanya Dom sambil menatap Lea.

"Iya. Selama ini, ibu melakukan pengobatan di sana."

"Mengapa tidak pindah saja ke rumah sakit pusat saja, Bu? Ibu bisa minta surat rekomendasi, data tinggal dikirim saja. Apalagi di sini ada rumah sakit khusus kanker, bahkan ada lab nya. Ibu bisa melakukan rawat jalan di sini. Bukankah, untuk biaya pengobatan, ditanggung dari tempat bekerja ibu?" Tukas Dom mencecar Lea.

"Benar, Kak. Dulu, harus menginap, untuk melakukan uji lab, lalu komotrapi, lalu pengobatan dan terapi, dan bisa memakan waktu sekitar tiga hingga lima hari. Mungkin, jika di rumah sakit khusus, kakak bisa lebih dekat, lalu dokter juga lebih banyak, alat medis lebih lengkap, dan itu tempatmu bekerja dulu." Imbuh Rea.

"Dokter yang menanganiku adalah temanku dulu, Dokter Martin adik tingkat Dokter Luther, aku sudah nyaman di sana. Lagi pula, di sana lebih tenang. Di rumah sakit pusat, terlalu ramai, aku kurang nyaman."

"Bukankah, Dokter Martin juga bekerja di rumah sakit pusat?" Tukas Dom dengan cepat, membuat Rea dan Lea terkejut dan menatap Dom sambil mengerutkan kening.

"Bagaimana kamu tahu?" Tatap Rea penuh selidik.

Dom terdiam sejenak mencari alasan yang tepat supaya dua wanita paruh baya di hadapannya tidak curiga.

Tapi, curiga juga mereka hanya bingung, karena saat ini memang wujudnya adalah Arthur, Dom menepuk keningnya.

"Itu, saat kemarin aku di rumah sakit. Sempat membaca ruangan Dokter Martin di dekat lab. Sewaktu pengenalan lab rumah sakit untuk para pemenang lomba penelitian kemarin."

Jawab Dom, untung dia ingat dan sempat melihat ruang Dokter Martin, yang merupakan dokter di rumah sakit mamanya juga.

Rea dan Lea hanya mengangguk sambil meneruskan makannya.

Tok... Tok... Tok...

Saat mereka sedang makan malam sambil mengobrol, tiba-tiba terdengar ada yang mengetuk pintu.

Lea menoleh pada Rea dan Dom.

"Ada yang memesan makanan?"

Rea dan Dom menggeleng bersamaan.

"Akan aku periksa." Dom beranjak dari kursinya, dan menuju ke arah pintu.

Dom mengintip melalui lubang kecil pada pintu untuk melihat siapa yang datang.

"Hah? Ngapain dia datang?"

Dom melotot saat melihat Lucy telah berdiri di depan pintu.

"Siapa Arthur?" Teriak Rea dari ruang makan.

Dom hanya diam, lalu membukakan pintu.

"Hai." Lucy menyapa lebih dulu sambil tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya.

"Ada apa?" Tanya Dom sambil mengerutkan keningnya.

"Bolehkah aku menginap di tempatmu malam ini?" Pinta Lucy dengan memasang wajah memelas.

"Arthur siapa yang datang?" Lea menuju ke arah pintu, dan saat mengetahui tamu mereka, Lea tersenyum lebar.

"Halo Lucy, ayo masuk! Arthur, mengapa masih kamu biarkan seorang gadis terus berdiri di depan pintu?!" Lea melotot pada Dom, sambil menarik tangan Lucy langsung masuk menuju ruang makan.

Dom menggelengkan kepala, sambil membantu membawakan ransel Lucy yang lumayan berat.

Dom mengerutkan kening, heran saat membantu membawakan ransel Lucy.

"Dia mau kabur?" Gumam Dom sambil menganggkat bahunya.

Rea dan Ana menyambut Lucy dengan gembira. Lea mengambilkan piring dan sendok untuk Lucy dan langsung menyuruhnya untuk makan.

Dom menaruh tas di sofa, lalu menuju ke kursinya, dan melanjutkan makan malamnya yang terpotong.

"Apa yang membawa kamu datang ke sini malam malam begini?" Tembak Dom tanpa usai mereka menikmati makan malam.

Lucy terdiam, lalu menoleh pada Rea dan Lea, lalu pada Dom.

"Bolehkah, aku menginap di sini malam ini?"

Lucy pasrah akan jawaban yang akan di dapatnya.

"Tentu saja boleh! Ya, kan, Lea." Jawab Rea sambil menepuk bahu Lucy.

"Ya, tentu saja. Kamu bisa tidur di kamar Arthur, dan Arthur bisa tidur di sofa." Imbuh Lea tersenyum lebar.

Dom hanya bisa melongo melihat reaksi ibu dan bibi Arthur.

Lalu, menatap Lucy seakan tidak bisa terima.

"Terima kasih, Bibi." Lucy memeluk Lea dan Rea bergantian.

"Lalu, jika ada lowongan pekerjaan paruh waktu, aku juga bersedia." Sambung Lucy dengan raut wajah serius.

Rea menatap tajam pada Lucy.

"Apa yang terjadi padamu, Nak?"

"Tidak ada yang terjadi padaku, Bibi. Aku hanya ingin mandiri saja. Usiaku sudah delapan belas tahun, dan aku sudah bisa bebas memilih kehidupanku." Jawab Lucy dengan tenang.

Rea menghela napas dalam.

"Kamu bisa membantu di restoran sepulang sekolah. Aku akan mengatur jadwal untukmu, Arthur juga bekerja di sana membantuku."

"Terima kasih, Bibi Rea! Kamu memang yang terbaik!" Seru Lucy memeluk Rea.

"Terima kasih juga Bibi Lea!" Lucy beralih memeluk ibu Arthur.

"Terima kasih anak cantik!" Lucy mencium dan memeluk Ana dengan gemas.

Lalu dia menatap Dom sambil nyengir.

"Kalian sungguh tidak ada hubungan apa apa, selain teman?" Selidik Rea sambil menatap Lucy dan Dom bergantian.

Keduanya kompak menggeleng.

"Sudah lah, Re. Anak muda, biarlah! Seperti tidak ingat kamu dan Ed saja!" Sindir Lea.

"Kak?!"

Dom dan Lucy terkikik mendengar ucapak ibu Arthur, lalu Rea hanya bisa menggelengkan kepala.

"Kalian bereskan meja makan, dan cuci semua." Titah Rea sambil memggendong Ana menuju kamar mandi.

Lucy mengangguk.

"Bibi Lea, biarkan. Ini tugasku dan Arthur, silahkan istirahat."

Lea tersenyum, lalu menuju ke ruang tengah menonton televisi.

Lucy mencuci piring di dapur dan Dom membantu mengeringkannya.

Dom sangat penasaran akan alasan yang sebenarnya Lucy datang ke rumah. Tapi, dia membiarkan Lucy menyelesaikan tugasnya dulu.

"Yang terakhir!" Seru Lucy sambil menyerahnya gelas basah pada Dom.

Dom tersenyum sambil menerima gelas itu dan mengeringkan dengan lap.

"Tunggu!" Seru Dom pada Lucy. Lucy hanya diam membiarkan Dom mendekati wajahnya.

"Ada busa di rambutmu." Dom tersenyum geli saat melihat reaksi wajah Lucy yang memejamkan mata dengan pipi merona.

"Kenapa kamu tersipu?"

Lucy yang menyadari akan kesalah pahaman dirinya menjadi malu.

"Enka saja, siapa yang tersipu? Kamu kali!" Elak Lucy sambil memalingkan wajahnya mengeringkan tangannya.

Dom tersenyum geli.

Lucy melotot pada Dom.

"Jangan ge er! Aku tidak tersipu padamu!" Ucap Lucy dengan ketus.

Wajah Lucy yang terlihat serba salah terlihat menggemaskan. Dom, menghela napas menatap Lucy.

Keduanya saling bertatapan, jantung Dom berdegup kencang. Dia tak dapat memungkiri reaksi biologis yang terjadi saat ini.

Namun, dia berusaha untuk menenangkan diri dan mengendalikan perasaannya.

"Eh... Arthur, apakah di sini ada binatu?" Lucy memecahkan ketegangan kala itu.

"Eh, ya, ada, di bawah."

"Temani aku ke sana."

Ajak Lucy sambil menuju pada tas ranselnya.

"Bibi Lea, aku akan mencuci pakaianku ke binatu." Pamit Lucy pada Lea yang masih menonton televisi.

"Ada di lantai bawah. Biar Arthur menemanimu."

Sahut Lea.

Lucy mengangguk, diikuti oleh Dom.

1
MyFamily
mungkinkah Dom anak adopsi
wayang
terimakasih 😊😊😊 telah menghibur 😊😊😊🙏🙏🙏 walaupun diluar ekspektasi endingnya 😂😂😂 🙏🙏🙏 AQ pikir cerita berhubungan dengan doc. dom
wonder mom
tersisa 1 g y? modelan Domi a.k.a Arthur. meski sdh beralih body dan genre pun kesetiaannya tak tergoyahkan. 11 tahun. di dunia nyata, 1 bulan jg udh cari yg baru
wonder mom
jodoh tu g kemana. meski harus pake alur balik bin jungkir dlu. y ttp ketmu
Putri Ayu pertiwi
jurus paling ampuh nyosor bibir ya dom
wonder mom
menarik
Firdaus Tjahyono
lanjut Thor minim 1 hari satu bab /Facepalm/
Firdaus Tjahyono
menarik sekali alur ceritanya
¢ᖱ'D⃤𝐀⃝🥀 iman A.♉ ⏤͟͟͞R
jalan cerita yg menarik smoga sampe end ya thor
Ayu Octaviany
next Thor...
ari sachio
tegang bet akuhhhh kek lg nontong film horor 🤭
Nurul Hikmah
ujian
Nurul Hikmah
ngeces lg
Nurul Hikmah
yaa tdk terus terang.. kurang seru
Nurul Hikmah
lanjutkan thor 😂
Nurul Hikmah
bibi datang
Nurul Hikmah
saling berhubungan saudara
Nurul Hikmah
alasan
Nurul Hikmah
keras kepala
Nurul Hikmah
hahaha 🤣... terus terang saja... bahwa pindah raga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!