Sekretaris lama bernama Indira Maheswari adalah sekretaris yang memiliki kompenten tinggi walaupun penampilannya tidak menarik.Dengan kacamata super tebal dan rambut yang selalu di ikat.Indira sangat tidak menyukai bos barunya anak dari bapak Abraham yang bernama Danish Bastian Abraham karena perlakuannya yang sering membawa keluar masuk wanita cantik dan sexy di kantornya.Begitupun dengan Danish yang tidak menyukai sekretarisnya yang cupu.
Danish akhirnya terperangkap dengan sekretarisnya karena rasa tanggung jawabnya sebagai seorang pria yang telah menghamili Indira.
yuk...guys baca dan nantikan per episodenya💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Riskiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengantin baru
Indira memasuki kamar pengantin, begitu cantik dan tidak seperti orang yang mendekorasinya berharap akan mempengaruhi pasangan yang baru saja menikah melakukan malam pertamanya dengan cinta. Malam ini tidak akan ada percintaan. Dimana ranjang kamarnya di penuhi oleh kelopak mawar merah. Lalu terdapat banyak lilin- lilin yang juga ikut menghiasinya.
Indira memegang kelopak bunga yang bertaburan dan menghirup aromanya. Indira sangat menyukainya. Kamar yang sangat luas, entah satu rumah Indira hanya seluas kamar di rumah Abraham. Indira melangkah dan mencari handuk untuk membenamkan dirinya di dalam air. Rasa gerah dan lelah akan membuatnya terlelap nantinya.
Setelah Indira membersihkan dirinya ia mencari baju di dalam lemarinya. Lemari sebesar ini hanya terdapat gaun malam.
" Apakah kalian bercanda???" Ucap Indira memilah-milah baju yang terdiri dari kain tipis dan seksi. Tidak ada pakaian yang layak baginya. Semua pakaian terawang dan super tipis.
Beberapa menit kemudian Danish masuk dalam kamar Indira.
Danish bersiul, Indira mengerjap dan memeluk tubuhnya sendiri menggunakan kedua tangannya. Rasanya sungguh malu dengan lekuk tubuhnya yang menonjol dan pakaian dalamnya yang terlihat jelas.
" Apakah kau mau menggodaku?" Ucap Danish melihat Indira yang baru saja keluar dari kamar mandi, sengaja menggoda Indira.
" Apa??? Terpaksa. Coba lihat di lemari sebesar ini, hanya ada baju setipis ini semua." Jelas Indira yang berlari bergegas mengambil piyamanya lalu memakainya.
Danish membuka lemari pakaian Indira. Ternyata benar jika isi seluruh lemarinya hanya gaun malam. Rosa memang sengaja meletak gaun malam tersebut, bukankah wajar untuk pasangan yang baru saja menikah.
" Kita harus cepat meninggalkan rumah ini, jika tidak..perjanjian kita tidak akan berfungsi dan kau akan memiliki anak banyak dariku." Ucap Danish menyeringai mesum berlalu pergi menuju kamar mandi.
" Apa??? Dasar kau pria mesum." Batin Indira langsung naik ke ranjangnya. Rasanya Indira ingin tidur secepat mungkin malam ini karena lelah menyalami tamu yang begitu banyak. Dan memilih menghindar dari Danish yang mungkin tergoda dengan tubuhnya, Indira menyelimuti seluruh tubuhnya agar Danish tidak bisa melihat sedikit pun tubuh bahkan kulitnya.
Danish baru saja membersihkan dirinya. Dengan handuk yang digosok-gosok ke kepalanya karena rambutnya yang basah. Ia melihat Indira dengan selimut yang di tutup sampai menutupi seluruh tubuhnya termasuk kepalanya. Danish menyeringai kembali.
" Kau kira aku akan menyentuhmu, aku tidak tertarik dengan tubuhmu. Bahkan jika semua wanita tau jika aku telah beristri, mereka tetap ingin bermalam denganku."Jelas Danish kepada Indira.
Padahal Indira sudah tidur. Namun rasanya Danish ingin menjelaskan bahwa Indira tidak perlu takut dengannya.
...****************...
Keesokan harinya, Danish sudah tidak melihat istrinya. Kamarnya sudah menjadi sangat rapi. Ia segara membersihkan wajahnya dan turun.
Terlihat keluarganya yang menunggu Danish untuk ikut makan bersama.
" Danish, cepatlah..Kau harus menyicipi masakan istrimu." Ucap oma Brata yang berada di kursi paling depan.
Indira dengan sigap meletakkan nasi di piring Danish, Brata, Abraham, dan Rosa kemudian dirinya. Membuat Brata tersenyum lebar melihat sikap Indira yang begitu santun. Seperti inilah wanita yang di carinya selama ini untuk cucunya.
Danish melahap makanannya seperti biasa, namun terlihat lebih cepat.
" Wah, masakanmu enak. Kau belajar dari mana nak?" Ucap Brata mengunyah makanannya sembari memuji masakan Indira.
" Ibu, oma! Dan Indira hidup sendiri jadi, Indira masak sendiri setiap hari." Ucap Indira yang tidak lagi memakai kacamatanya. Terlihat begitu berbeda namun Danish terlihat biasa saja menanggapinya.
" Wah, kau beruntung Danish bisa mendapatkan calon istri sepertimu. Sudah cantik, pintar memasak lagi" Ucap Brata yang di sambut senyuman oleh Abraham dan Rosa.
" Benar ibu, bukan hanya itu. Dia juga rajin bekerja dan pintar dalam pekerjaanya! Sudah lama dia menjadi sekretarisku! " Jelas Abraham yang juga ikut memuji Indira.
" Wah, sempurna! Aku sangat beruntung Danish bisa mendapatkan wanita sepertimu. " Pujinya lagi kepada Indira.
Danish hanya diam dengan lontaran omanya dan juga ayahnya, sembari masih tetap melahap makanannya.Tidak ada yang patut di untungkan, ini hanya sebuah transaksi menebus dosanya dan juga demi harta warisannya.
" Tapi kau tidak boleh terlalu banyak beraktivitas. Ingat ada bayi di kandunganmu. Jika kau mengidam sesuatu, jangan sungkan bilang aja ke Danish."Jelas Brata.
Membuat Danish memutar bola matanya jengah. Jangan berharap banyak. Danish tidak akan membiarkan dirinya disibukkan dengan sesuatu hal yang menurutnya tidak penting.
" Terima kasih oma. Oia Danish, ajak istrimu pergi ke pijat khusus ibu mengandung. Indira pasti akan lelah dengan kandungan yang semakin membesar nantinya ." Ucap Brata kepada Danish.
" Tidak perlu repot-repot oma.Tidak perlu di pijat." Ucap Indira menatap Danish canggung.
" Itu wajib, karena bisa merilekskan otot-otot ibu hamil. Dulu mama Danish juga sering di anter sama Abraham." Jelas Brata.
Danish menatap Indira dengan tatapan tidak mengenakkan. Indira langsung beralih menatap Brata yang masih berbicara.
Danish melahap makanannya lebih cepat. Membersihkan bibirnya menggunakan tisue, lalu bergegas pergi. Jika tidak bergegas, Danish yakin pembicaraan di meja makan tidak akan menguntungkan dirinya. Dan telinganya cukup gatal mendengar celotehan keluarga yang lebih memuji Indira.
...****************...
Indira rasanya lebih senang berada di dapur dengan bik Ranum. Bik Ranum pembantu rumah Abraham, nyatanya lebih banyak berbicara sehingga Indira sangat menyukainya. Sedangkan mertuanya Rosa sering menghabiskan waktunya perawatan diri. Brata yang menghabiskan waktunya di kamarnya.
Ingin rasanya Indira menghabiskan waktunya untuk bekerja, namun ia di larang karena kehamilannya.
" Bik, di sini ada yang jual mangga muda gak ya?" Tanya Indira tiba- tiba ingin makan mangga muda, rasa masam yang menggiurkan baginya. Entah mengapa dirinya tiba- tiba menginginkannya.
" Gak ada non, adanya mereka jual mangga yang mateng. Kalau yang muda harus ngambil dari pohonnya non. Non Dira lagi ngidam mangga muda ya?" Ucap bik Ranum sambil mengiris bawang.
" Ia bik, kepengen banget mulai kemarin. Emang gak ada pohon mangga bik disini?" Tanya Indira.
"Ada non, di belakang rumah.Tapi bibik gak bisa manjat.Tukang kebun lagi cuti non, mungkin minggu depan baru masuk. Atau non bilang aja sama tuan Danish biar di ambilin." Jelas bik Ranum kepada Indira.
" Dira bisa manjat sendiri kok bik." Ucap Indira santai. Apa yang tidak bisa Indira kerjakan? Bahkan soal memanjat pohon adalah hal biasa baginya. Dimana semenjak kecil Indira sering manjat pohon untuk mengambil beberapa buah mangga atau jambu yang berada di pekarangannya sendiri di kampung.
" Aduh non, jangan! Non masih hamil jangan manjat-manjat atuh. Bahaya! "Jelas bik Ranum kaget mendengar Indira malah ingin memanjat sendiri pohon mangga.