Alur maju-mundur.
****
Kini senyum menawan itu hilang, menyisakan penyesalan merayap datang.
Hal terindah di sia-siakan demi nafsu pekerjaan.
Terpuruk dalam kesedihan, seakan mimpi menjadi kenyataan.
Istri cantik ku berlumuran darah kaku seperti kayu.
****
Menikahi seorang wanita yang masih asing, membuat Ridwan acuh dalam rumah tangganya. Ridwan yang merupakan seorang peneliti, tetap sibuk dengan penelitian meski sudah menikah. Hingga suatu saat, Ridwan baru menyadari jika dirinya mulai nyaman dan tertarik Ketika istrinya sudah tiada.
Apa yang akan di lakukan seorang genius gila penelitian untuk menebus kesalahannya?
Hal gila akan di lakukan demi melihat senyum istrinya yang sangat jarang nampak di lihat.
Akan tetapi, hal gila tersebut membuatnya merasakan sakit yang berulang dan lebih sakit dari sebelumnya.
yuk ikuti ceritanya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pejuang imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyelesaikan Komponen Mesin
"Di tutup oleh pihak kepolisian..!! Errrhh.." Ridwan bergumam keras dengan ekspresi terkejut.
Setelah berbicara demikian, Ridwan ingin cepat bangkit dari tidurnya. Tetapi kepala Ridwan terasa sangat berat dan kaki Ridwan juga di pasang gypsum.
"Sebaiknya kau tenang dan tetaplah beristirahat. Kakimu mengalami patah tulang karena kau terlempar cukup jauh saat terjadi ledakan. Beruntung kau mengenakan baju anti bom. Jika tidak, mungkin kau sudah tewas." Farid berbicara kepada Ridwan yang masih berbaring lemah.
** 1 minggu kemudian **
Ridwan sudah keluar dari rumah sakit dan menuju ke tempat penelitiannya yang telah di segel oleh pihak kepolisian. Untuk membuka segel, Ridwan harus memiliki ijin yang lengkap terlebih dahulu. Atas bantuan dari Surya, akhirnya tempat penelitian Ridwan dapat di buka kembali setelah melalui proses yang cukup lama hingga 3 bulan. Tetapi waktu 3 bulan tersebut jauh lebih pendek jika Ridwan harus mengurus ijin tanpa menggunakan nama perusahaan milik Surya..
Setelah mendapatkan ijin operasional kembali, kini Ridwan yang di bantu Farid mulai melanjutkan penelitiannya. Ridwan semakin tekun dan berfikir keras untuk menyelesaikan mesin waktu yang di yakininya dapat membawa Ridwan ke masa lalu.
Berhati-hati hingga berminggu-minggu waktu berlalu begitu saja. Sedangkan Ridwan masih terus melanjutkan progres mesin waktunya. Satu tahapan komponen telah selesai di perhitungkan, berlanjut ke proses pembuatan dan percobaan.
"Aaaaaaaaaaahh.." Terlihat Ridwan berulang kali menulis sebuah rumus di papan tulis putih dan menghapusnya berulang kali juga.
"Sepertinya kita harus bersantai terlebih dahulu." Farid berbicara kepada Ridwan dengan membawa dua cangkir kopi. Mereka berdua menikmati kopi sambil memperhatikan rentetan rumus yang di tulis oleh Ridwan dari awal.
"Sepertinya ada kesalahan perhitungan di beberapa papan sebelumnya. Sehingga perhitungan di sini selalu tidak sesuai dengan hasil yang kita harapkan." Farid berbicara saat dirinya dan Ridwan sama-sama memperhatikan coretan-coretan di beberapa papan tulis.
"Aku rasa juga demikian, tetapi aku belum menemukan letak kesalahannya." Ridwan berguman cukup keras hingga Farid juga mendengar gumaman Ridwan.
Perancangan dengan segala perhitungan yang di gabungkan dengan proses atom serta segala perhitungan terus di lakukan. Enam bulan sudah berlalu semenjak Ridwan memulai kembali penelitiannya setelah di tutup oleh pihak kepolisian. Tetapi progres tetap tidak terlihat. Terlebih di mata Surya yang secara berkala terus memantau perkembangan penelitian Ridwan.
Surya sering mengunjungi Ridwan di tempat penelitiannya bukan karena mengharap sebuah kemajuan dalam penelitian Ridwan. Tetapi Surya lebih mengkhawatirkan kesehatan Ridwan yang terlalu memforsir diri supaya penelitiannya cepat terselesaikan.
"Apakah kau menikmati ini..?" Surya mencoba bertanya kepada Ridwan supaya memiliki celah untuk menghentikan keinginan gila Ridwan yang menurut Surya hanya membuang waktu. Terlebih dalam sudut pandang yang di lihat Surya, hanya terlihat sebuah tulisan dan komponen-komponen kecil yang di simpan di dalam etalase tanpa adanya progres mesin yang terbangun.
"Aku merasa kembali hidup. Tidak lama lagi. Tidak lama lagi aku akan melihat senyum yang aku rindukan. Senyum yang telah aku hilangkan dari wajah cantik seorang wanita yang sebelumnya selalu penuh senyum." Ridwan menjawab ucapan Surya dengan memandang langit-langit.
Dalam pandangannya ke langit-langit, Ridwan mengingat kembali bagaimana wanita yang selalu penuh senyuman berumah tanpa senyum.
** 1 tahun 10 bulan yang lalu **
"Bi Ina, cobain masakanku ya." Ridwan baru datang dari tempat penelitian milik tuan Jimmy. Mendengar ucapan Reisya ke bi Ina.
Reisya dan bi Ina yang sedang memasak di dapur, terlihat sangat bahagia yang terdengar dari gelak tawa Reisya dan bi Ina.
"Mas, kamu sudah datang..? Aku buatin kopi ya." Reisya yang baru menyadari jika Ridwan baru datang, segera menawarkan kopi dan membuatkannya untuk Ridwan.
Beberapa saat kemudian, Reisya membawakan kopi lalu menaruhnya di meja sebelah Ridwan duduk dan kembali ke belakang untuk membawakan sesuatu.
Tetapi saat Reisya akan kembali ke tempat Ridwan duduk, terdengar suara knalpot mobil sport Ridwan kembali keluar rumah. Dengan segera Reisya menaruh air panas yang akan di gunakan untuk membasuh kaki Ridwan agar dapat membuat Ridwan rileks. Lalu mengejarnya keluar rumah dengan harapan bisa memanggil Ridwan kembali. Tetapi usaha Reisya sia-sia tanpa hasil.
"Apakah aku tidak di anggap oleh mas Ridwan..?"
"Sudah lebih 1 bulan aku menjadi seorang istri. Tetapi aku masih belum merasakan apa sebenarnya seorang istri. Aku hanya merasa menjadi seorang wanita yang tidak di anggap." Reisya membatin di dalam hatinya.
"Lebih baik tidak menjadi siapa-siapa. Dari pada menjadi siapa-siapa tetapi tidak di hiraukan keberadaannya." Reisya kembali membatin saat berjalan menuju kamar untuk mengambil handphonenya.
16.39
"Mas, selama 1 bulan lebih ini aku menjadi istrimu, tetapi jariku tidak akan habis untuk menghitung berapa kali kamu berpamitan untuk keluar rumah atau bekerja. Apakah aku di anggap di rumah ini? Aku iklas lillahita'ala menjadi istrimu dengan segala perlakuanmu. Tetapi alangkah membahagiakannya jika keberadaanku kau anggap. Bukan seperti saat ini. Meski aku tetap iklas, tetap saja terasa menyedihkan." Reisya mengirimkan pesan untuk Ridwan.
****
"Hei.. Kau melamun apa..?" Surya menegur Ridwan dengan menepuk pundak Ridwan yang terlihat melamun dan menatap lekat ke langit-langit.
"Tidak.. Aku tidak melamun. Aku hanya sedang mengingat kesalahanku yang akan aku perbaiki nanti." Ridwan yang terkejut, dengan segera menjawab ucapan Surya.
Setelah merasa cukup bertemu dengan Ridwan, kini Surya kembali menuju kediamannya di bekasi. Sedangkan Ridwan yang baru saja mengingat kesalahannya kepada Reisya, seakan menjadi penyemangat bagi Ridwan untuk segera menyelesaikan mesin waktu yang di harapkan oleh Ridwan dapat membawanya kembali ke masa lalu.
Meski sering mengalami kegagalan dalam percobaan suatu komponen, Ridwan tidak menyerah begitu saja. Ridwan selalu tetap bersemangat untuk menyelesaikan komponen-komponen mesin waktu yang akan Ridwan buat.
** 7 bulan kemudian **
Semua komponen telah berhasil di buat dan di uji dengan segala mekanisme yang hanya di pahami oleh Ridwan dan Farid.
"Besok kita akan mulai merakit semua komponen ini satu persatu. Semoga tidak ada halangan lagi dalam perakitannya. Semoga akan menjadi hasil yang sesuai dengan yang kita harapkan." Farid berucap kepada Ridwan yang sudah tidak sabar untuk hari esok saat mulai perakitan.
"Ya, aku juga berharap demikian." Mata Ridwan berkilau penuh harapan saat melihat semua komponen yang terpajang satu persatu di etalase tempat penelitiannya. Semua chip juga sudah siap dan tersimpan dengan rapi.
Ke esokan hari, saat-saat yang di tunggu oleh Ridwan dan Farid. Terlebih oleh Ridwan yang sudah tidak sabar merakit semua komponen menjadi sebuah mesin waktu yang dapat mengantarnya ke masa lalu dan memperbaiki kesalahannya.
"Bismillahirrahmanirrahim. Ayo kita mulai." Ridwan berucap sebelum memulai merakit mesin waktunya bersama Farid.
setiap org mengharapkan dpt istri salehah yg selalu berbakti pd suami, krn tanggungan sebagai suami itu sangat lh berat..
penelitian apa yg membuat Ridwan tega meninggalkan istri yg baru 1 hari dinikahinya..