Vianne Collins, seorang wanita yang berhasil mendapat gelar dokter, karena bantuan dari seorang pria paruh baya bernama George Orlando. Baginya, tak ada yang lebih penting selain Tuan George Orlando.
Zayn Richard, atau dikenal dengan nama Zero, merupakan asisten pribadi dari Axton Williams. Ia menjalin hubungan dengan Vianne, demi melupakan seorang wanita yang tak lain adalah adik dari atasannya sendiri, Alexa Williams.
Namun, Zero menganggap bahwa ia tak bisa melanjutkan hubungannya dengan Vianne karena ia tak bisa mencintai wanita itu dan memutuskan untuk mencintai Alexa dalam diam, meski wanita itu sudah menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PimCherry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEBESAR ITU RASA BERSALAHMU?
Wesley mengantarkan Vianne ke apartemen milik wanita itu.
"Aku ingin berada di sini dulu, Wes," ucap Vianne.
"Aku akan menunggumu," ucap Wesley.
"Tidak perlu. Kembalilah. Uncle pasti membutuhkanmu. Aku ingin berada di sini untuk sementara waktu. Aku ingin melihat apa yang telah kulakukan beberapa tahun belakangan ini," ucap Vianne sambil menatap sekelilingnya.
"Kamu yakin? Tapi aku tak bisa meninggalkanmu."
"Aku tidak apa apa."
"Baiklah, tapi ingat jangan memaksa untuk mengingat apa yang tidak kamu ingat. Biarlah semua itu datang dengan perlahan, sesuai dengan keinginan hatimu," ucap Wesley.
"Aku mengerti. Terima kasih. Aku akan menghubungimu nanti saat aku ingin kembali," ucap Vianne.
"Baiklah, hati hati dan jangan membuka pintu untuk siapapun yang tidak kamu kenal," pesan Wesley.
Vianne menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Wesley pun akhirnya pergi meninggalkan apartemen milik Vianne.
*****
Setelah kepergian Wesley, Vianne pun masuk ke dalam kamar tidurnya. Ia langsung membuka pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi. Ia membersihkan dirinya dengan cepat karena tak ingin luka bekas tembaknya terkena basah terlalu lama.
Ia pun mengeringkan tubuhnya dan memakai bathrobe. Vianne berdiri di depan cermin dan membuka bathrobe nya. Ia melihat luka bekas tembaknya.
"Aku tak pernah menyangka kamu bisa melakukan itu padaku, Tha. Sungguh ... Ku kira kamu adalah sahabatku. Tapi ternyata, apa yang dikatakan oleh Julian sebelumnya sepertinya benar adanya," gumam Vianne.
Ia menutup kembali bathrobe nya dan kembali ke kamar tidur. Ia mengambil kotak P3K dan mulai mengobati luka bekas operasi itu. Ia seorang dokter dan ia tahu apa yang harus ia lakukan.
Setelah selesai, Vianne berjalan ke arah balkon dan membuka pintu jendela yang menghubungkan kamar tidur dengan balkon. Ia menghirup udara Kota London yang begitu terasa sesak untuknya saat ini.
Sejujurnya, Vianne tak pernah kehilangan ingatannya. Ia tak terkena amnesia, seluruh ataupun sebagian, selamanya ataupun sementara. Ia masih mengingat semuanya, setiap hal dengan sangat jelas.
Hanya saja ia tak ingin membuat Tuan Orlando dan Wesley mengkhawatirkan dirinya. Jadi, ia berpura pura kehilangan ingatan dan menjadi Vianne yang ceria, Vianne yang dulu pernah ada. Ia akan menemui setiap orang yang mencari masalah dengannya dan membalaskan sendiri semua yang mereka lakukan padanya.
Saat ia bertemu dengan Zero, ia sangat mengingat siapa pria itu. Namun, ia akan memanfaatkan keadaan dirinya juga untuk melupakan pria itu. Kini, tujuan hidupnya bukan lagi memiliki keluarga yang ideal, yang tak seperti keluarganya yang hancur.
Kini ia hanya akan membalaskan semuanya secara perlahan, berubah menjadi Vianne yang kuat yang tak akan mudah ditindas oleh siapapun. Namun ia akan melakukan semuanya di balik amnesia yang ia derita.
"Memang tak ada yang akan tulus menyayangiku selain Uncle Orlando dan Wesley. Selain mereka, orang orang itu hanya memanfaatkanku," ucap Vianne.
*****
Zero merasa tidak tenang selama perjalanan dari Kota London ke Jakarta. Kebenaran yang diceritakan oleh Wesley membuat Zero mulai berpikir sesuatu. Kejadian penembakan itu tak terlalu jauh dari saat di mana Vianne menghubunginya.
Apakah saat itu ia menghubungiku untuk meminta pertolongan? - batin Zero.
"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Ze?" tanya Axton.
Axton merasakan perubahan sikap Zero sejak tadi. Ia adalah orang yang cukup peka akan segala sesuatu, kecuali akan rasa cintanya sendiri.
"Tidak ada, Tuan. Aku hanya sedang memikirkan rencana proyek di Jepang," jawab Zero.
Axton menghela nafasnya pelan. Ia tahu Zero berbohong. Namun, ia tak mau juga memaksa Zero mengungkapkan apa yang asisten pribadinya itu rasakan.
"Aku ingin kamu yang bertanggung jawab secara penuh untuk proyek kali ini, Ze."
"Aku siap, Tuan."
Zero tak pernah menolak pekerjaan apapun yang diberikan oleh Axton. Keluarga Williams sudah sangat baik padanya dan pribadi yang setia merupakan balasan untuk kebaikan mereka padanya.
Sesampainya di Jakarta, Zero segera pergi ke markas Black Alpha. Ia menghubungi Four dan Five dari sana dan meminta mereka untuk mengawasi dan menjaga Keluarga Orlando, seluruh anggota keluarga itu. Itulah salah satu bentuk jawaban untuk rasa keingintahuan Zero.
Setelah itu, Zero keluar dari ruangan khusus itu. Ia melihat One yang sedang duduk termenung sambil menatap ke jendela luar. Pria yang biasanya humoris namun disiplin ini seakan telah kehilangan jiwanya. Zero tak tahu mengapa One terus saja menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Nala.
"One, pergilah ke New York. Aku akan memanggil Six untuk menggantikanmu di sini. Aku memerlukan kemampuan analisanya untuk membantuku mengerjakan proyek rumah sakit di Jepang," ucap Zero.
One yang awalnya termenung pun langsung berdiri menghadap Zero dan menatap mata ketua organisasinya itu.
Benarkah Kak Zero mengirimku ke New York? Benarkah aku akan berada dekat dengan Nala? Aku bisa mengawasi dan melindunginya lebih dekat. Selain itu aku bisa membuat perawat siallan itu tahu bahwa apa yang ia perbuat pada Nala akan kembali 2 kali lipat padanya. - batin One.
"Aku siap, Kak. Aku akan segera berangkat. Terima kasih," One segera berlalu dari hadapan Zero dan menyiapkan keberangkatannya.
Zero melihat kepergian One. Begitu cepatnya One menyetujui keputusannya, padahal sebelumnya pria itu paling susah jika akan dipindah tugaskan ke luar negeri.
"Apa sebesar itu rasa bersalahmu, One? Sampai sampai kamu tak menghargai prinsip hidupmu sendiri yang ingin tetap berada di mana makam kedua orang tuamu berada? Bahkan kamu meninggalkan Perusahaan Ayahmu di Jepang sana hanya untuk tetap berada di Indonesia," gumam Zero.
🧡 🧡 🧡