Guan Lin adalah seorang alkemis yang paling berbakat di akademi. Suatu hari Guan Lin tiba-tiba saja dibunuh oleh seseorang dan saat terbangun Guan Lin sudah berada ditubuh orang lain.
“Li Mei kamu akan tamat sampai di sini.” Seorang wanita berbicara dengannya.
Guan Lin melihat sekeliling, banyak sekali pria yang mengelilinginya.
“kalian … lakukan sesuka kalian,” ucap wanita itu sambil berjalan keluar.
“hehe kami akan membuatmu merasa nyaman,” ucap seorang pria kepada Guan Lin dengan senyum bahaya.
Saat Guan Lin ingin melawan, Guan Lin merasakan ada yang tidak beres dengan tubuhnya.
Apa ini? Siapa mereka? Mengapa tubuhku merasa tidak nyaman? Sial.
Akankah Guan Lin bisa melepaskan diri?
*******************
Cover by pinterest
*******************
ini adalah novel keduaku, mohon dukungannya dan jangan lupa like, subcribe serta vote ya..
terimakasih ^^
baca juga novel pertamaku Menikah dengan penjahat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ellani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Sosok Ayah
Rolin sesekali mengunjungi gedung belakang untuk bermain. Sudah 6 tahun berlalu semenjak pengobatan Rolin. Butuh 1 tahun untuk bisa melihat dengan sempurna. Sekarang Rolin sudah masuk Sekolah menengah pertama dan bisa belajar dengan teman – temannya yang lain.
Obat yang mereka buat kini sudah mereka kembangkan dan patenkan. Orang yang ingin melakukan perawatan dengan obat ini harus didampingi dokter yang sudah terlatih karena pengobatan ini butuh penanganan khusus dan tentu saja butuh biaya yang tidak sedikit.
Kini Li Mei dan rekannya sudah cukup terkenal di kalangan para ilmuan. Meskipun nama julukan mereka tetap tidak berubah tetapi mereka adalah ilmuan yang sangat disegani, Anjing Gila yang disegani.
“Bagaimana hari pertamamu disekolah?” tanya Li Mei.
“Ini sangat bagus … aku memiliki banyak teman dan mereka sangat ramah padaku,” ucap Rolin dengan semangat.
Kini Rolin bukan lagi anak murung yang penyendiri, sekarang dia menjadi anak yang lebih ceria dan terbuka dengan hal – hal baru yang baik untuknya.
“Bagus lah,” ucap Li Mei tersenyum.
“Kakak … apa aku juga akan pergi sekolah?” tanya A Ping.
“Bodoh … umur kita belum cukup,” jawab A pei.
A Ping mengabaikan saudaranya dan bertanya kepada ibunya. “Ibu … apa kita sudah bisa masuk sekolah?” tanya A Ping.
“Bisa … umur kalian sudah cukup,” jawab Li Mei.
“Heh … kau yang bodoh,” ledek A Ping.
Wajah A Pei seketika memerah. “Ehm … sepertinya aku harus banyak membaca lagi.” A Pei mengatakan itu seperi tidak terjadi apa – apa padanya.
TING NONG. Suara Bell berbunyi.
“Biar aku yang buka,” ucap A Pei sambil menuruni kursi dengan tubuh kecilnya.
“Siapa?” tanya A Pei sambil membuka pintu.
“Kejutan!” terdengar seorang pria.
“Paman Jack?!” teriak A pei.
“Ibu Paman Jack ada disini!!” panggil A Pei lagi.
Mendengar ini Li Mei dan A Ping pergi keluar untuk melihat.
“Jack?”
“Bukankah kamu mengatakan akan pergi ke jepang untuk bisnis?” tanya Li Mei.
“Benar … semua sudah beres dan aku baru saja tiba di bandara langsung menuju kerumahmu,” ucap Jack dengan senyum lembut.
Li Mei terpana dengan senyum Jack dan segera menyadarkan dirinya.
“Paman apa paman membawa oleh – oleh untukku?” tanya A Ping memecah suasana.
“A Ping jangan tidak sopan begitu … “ ucap Li Mei tegas.
“Tidak apa – apa mereka sudah aku anggap seperti anakku sendiri,” ucap Jack.
Li Mei terdiam sesaat. “Ah … ayo masuk dulu,” ajak Li Mei.
Jack … Bossnya saat dia bekerja di cafee ternyata adalah anak konglomerat yang kabur dari rumah dan memutuskan untuk kembali beberapa tahun kemudian. Pada saat itu lah Jack datang menemuiku dan anakku, dia sering datang sehingga anak – anak merasa sangat dekat dengannya sekarang.
“Oh! Rolin ada disini juga?” tanya Jack.
“Kebetulan sekali aku juga membawakanmu oleh – oleh sebagai ucapan selamat untuk hari pertamamu masuk sekolah menengah.” Ucap Jack sambil mengeluarkan hadiah untuk Rolin.
“Wah …. Terimakasih paman, aku akan menyimpannya dengan baik,” ucap Rolin dengan bahagia.
“Untukku … untukku!” A Ping melompat dengan tidak sabar.
“Ini untuk tuan putri kita.” Jack mengeluarkan boneka beruang dengan pakaian putri serta mahkota.
“Ini sangat bagus! Terimakasih paman Jack.” Rolin memeluk boneka itu dan mencium pipi kiri Jack.
“dan ini untuk pria dewasa kecil kita.” Jack mengeluarkan robot mainan yang ukurannya cukup besar.
“Waw … bukankah ini sangat keren!” teriak A Ping dengan takjub.
“Terimakasih paman,” ucap A Pei mengambil robot itu. A Pei sebenarnya menyukai paman Jack, hanya saja dia tidak bisa mengekspresikan apa yang dia rasakan.
Jack hanya tersenyum dan mengusap kepala orang dewasa kecil itu, lalu mengeluarkan sebuah kotak perhiasan.
“Ini untukmu,” ucap A Pei membuka kotak tersebut. Terdapat sebuah cincin dan kalung yang sangat berkilau.
“Ini?” tanya Li Mei bingung.
“Aku membelinya dipelelangan, aku rasa ini sangat cocok untuk,” ucap Jack.
“Ini sangat mahal, aku tidak bisa menerimanya,” ucap Li Mei.
“Li Mei-“
“Anak – anak masuklah kekamar dulu,” ucap Li Mei.
“Baiklah.”
“Kalau begitu aku pulang dulu,” ucap Rolin pamit membawa hadiah yang diberikan.
Saat ini hanya mereka berdua yang ada diruangan.
“Jack aku sudah mengatakan janga sia – sia kan waktumu,” ucap Li Mei.
“Kalau kau terus melakukan ini, ini hanya akan membuang waktumu dan itu membuatku merasa bersalah,” lanjut Li Mei lagi.
“Li Mei orang tuaku sudah setuju dan tidak akan mengganggu jika kita menikah nanti,” ucap Jack dengan nada memohon.
“Bisnisku juga sudah besar dan aku bisa menghidupimu dan anak – anak.”
“Aku akan menganggap mereka seperti anakku sendiri,” ucap Jack memegang tangan Li Mei.
Li Mei sudah memikirkannya, Jack memang sangat baik dan mau menerimanya. Tapi dia tidak mencintai Jack dan dia tidak bisa menerima Jack hanya karna dia baik, itu terlihat seperti dia memanfaatkan seseorang demi keuntungannya.
“A Ping dan A Pei butuh sosok ayah, kamu harus memikirkan masa depan mereka,” ucap Jack.
Masa depan anak – anak? Dikehidupan sebelumnya Li Mei tumbuh tanpa orang tua dan dia sangat merindukan kasih sayang orang tuanya, dia sangat iri dengan anak lain yang memiliki orang tua. Dia tidak bisa membiarkan anaknya mengalami hal yang sama.
“Huuh … Baiklah aku akan mencobanya,” ucap Li Mei.
“Benarkah?” wajah Jack terlihat sangat bahagia.
“Terimakasih Li Mei.” Jack memeluk Li Mei dengan erat.
“Baiklah aku rasa kau harus segera kembali,” ucap Li Mei.
“Bolehkah aku-“
“Tidak!” ucap Li Mei tegas.
“Kalau begitu apa kamu mau menemui orang tuaku besok?” tanya Jack.
“Secepat itu?” Li Mei merasa ini sedikit terlalu cepat.
Li Mei ingin mengatakan tidak. Tetapi saat melihat wajah Jack Li Mei menghela nafas dan menyetujui tawaran Jack.
Didalam kamar A Pei dan A Ping mengintip dari balik pintu.
“Apa menurutmu ibu menyetujui perasaan paman Jack?” tanya A Ping dengan suara pelan.
“Sepertinya begitu,” ucap A pei.
“Kalau begitu apakah kita akan memiliki ayah?” tanya A Ping dengan semangat.
“Mereka belum menikah, kita tidak tahu apa yang akan terjadi dimasa depan,”lanjut A Pei.
“Begitu … lalu bagaimana dengan paman tampan yang kau katakan sebelumnya?” tanya A Ping lagi.
“Aku belum tahu pasti … “ A Pei mengeluarkan Tab nya dan terlihat gambar seorang pria tampan dengan wajah dingin.
“Ini benar – benar sangat mirip denganmu, A Pei versi dewasa,” ucap A Ping takjub.
“Kita harus merahasiakan ini dari ibu .”
“Karena ibu telah menerima paman Jack maka kita harus melupakan pria yang mirip denganku ini,” ucap A Pei denngan serius.
“Kalau itu yang membuat ibu bahagia maka aku akan mengikuti pilihan ibu,” jawab A Ping.
Terdengar suara pintu utama yang tertutup.
“Sepertinya paman Jack sudah pulang.”
“Ayo kita segera tidur,” desak A Ping menarik A pei kedalam selimut mereka.
Li Mei memasuki kamar anak – anaknya dan melihat mereka tertidur lelap. Mengusap rambut mereka dan menatap mereka dengan tatapan sedih.
“Ibu tidak tahu apa pilihan ibu adalah pilihan yang benar. Ibu hanya berharap kalian tumbuh dengan bahagia,” ucap Li Mei.
Akhir dari Bab 17