NovelToon NovelToon
Gadis Kecilku

Gadis Kecilku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:19.4k
Nilai: 5
Nama Author: LilyFlow

Namanya Ara, gadis berpostur mungil yang memiliki fitur wajah bak boneka. Tak hanya menjadi pujaan laki-laki seusianya, pesonanya juga memikat pria dewasa disekelilingnya.

Terutama Farhan, pria sederhana yang agak sombong dengan ketampanannya. Dia tak pernah menyangka bahwa suatu saat akan ada seseorang yang mampu membuatnya bertekuk lutut. Terutama Ara, gadis yang diharapkan dapat menghiburnya dikala bosan, yang bisa ia ajak 'main-main'

Tak seperti Farhan yang awalnya memiliki niat buruk, Dion, pria kaya raya itu menyukai Ara dengan tulus. Wajahnya pun tak kalah tampan dari Farhan. Namun, sikapnya yang dingin kerap membuat orang lain merasa tak nyaman. Selain itu dia sangat posesif terhadap pasangannya.

Siapakah yang akan di pilih Ara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilyFlow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Waktu menunjukkan pukul setengah enam pagi ketika Ara membuka mata. Itu hari sabtu, sekolah libur dan dia tidak memiliki jadwal apapun di hari itu. Oleh karena itu dia tidak beranjak dari tempat tidurnya yang hangat meskipun sudah bangun.

Sambil memeluk boneka panda kesayangannya, Ara berguling ke kiri, mendekati kabinet di samping ranjang. Tangannya terulur, meraih ponselnya yang teronggok di atasnya.

Begitu membukanya, dia mendapati tiga pesan yang dikirim Farhan saat tengah malam, ketika dia sudah tidur.

[Kamu sudah tidur?]

[Aku sedang melihat langit dan tiba-tiba teringat padamu. Aku selalu berpikir bahwa tidak ada yang yang lebih indah dari pemandangan langit dimalam hari. Sekarang aku sadar bahwa selama ini aku salah. Kamulah satu-satunya keindahan di dunia ini. Setiap kali melihat matamu, aku teringat pada jutaan bintang di langit. Mereka sama-sama berkilauan, cantik sekali]

[Apakah kamu percaya jika aku mengatakan wajahmu jauh lebih indah dari rembulan?]

Sudut mulutnya melengkung saat membaca pesannya. Ara masih memegangi ponselnya saat benda itu tiba-tiba berdering. Seseorang menelponnya.

Ara mengangkat telepon. "Halo," katanya dengan suara serak.

Suara Farhan terngiang di telinganya. "Kamu sudah bangun?"

Ara mengangguk. "Hmm."

"Apa yang sedang kamu lakukan sekarang?"

"Tidak melakukan apapun—aku masih di tempat tidur." Ara menarik selimut hingga menutupi dadanya.

Farhan membayangkannya berbaring di ranjangnya, tanpa mengenakan sehelai benang pun, seperti yang sering ia impikan. Jakunnya bergerak naik turun. Tonjolan di bawah perutnya semakin keras.

"Aku merindukanmu, Ara," katanya dengan suara serak.

"Bagaimana mungkin? Kita baru saja bertemu." Mereka baru berpisah selama beberapa jam.

"Sungguh, aku tidak berbohong."

Farhan menunggunya mengatakan sesuatu, tapi Ara tetap diam selama beberapa saat. Farhan kemudian bertanya,

"Apakah kita bisa bertemu?"

Ara berpikir sejenak sebelum bertanya, "Kapan Kak Farhan punya waktu?"

Farhan tidak menyangka Ara bersedia menemuinya. Dia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Bibirnya melengkung lebih tinggi. "Tunggu sebentar...."

Farhan memeriksa jadwal kerjanya di selembar kertas yang ia simpan di dompet. Setelah itu berkata, "Bagaimana kalau lusa? Aku tidak bekerja di hari itu."

"Baiklah." Ara menyetujuinya. "Sudah dulu, ya, Kak Farhan. Aku mau mandi.

"Oke, sampai jumpa di hari selasa, Sayang."

Ara mengerutkan kening saat menutup telepon. Dia tidak mengerti mengapa Farhan memanggilnya seperti itu. Mereka bukan sepasang kekasih.

Ara mengabaikannya dan bergegas turun dari tempat tidur. Dia menghampiri jendela kaca setinggi langit-langit dan menarik tirai.

Cuaca pagi itu sangat cerah. Matahari bersinar terang dan awan Cumulus, yang bentuknya menyerupai kembang kol menyebar di setiap sudut. Pemandangannya sangat indah.

Ara membuka pintu dan melangkahkan kakinya ke balkon. Kemudian menarik napas panjang. Menghirup dara pagi yang menyegarkan.

Dia berdiri di sana, menikmati hangatnya sinar mentari dan mendengarkan kicauan burung gereja dengan mata tertutup. Rambutnya yang panjang dan bergelombang bergoyang setiap kali angin bertiup ke arahnya.

Sepuluh menit kemudian, Ara kembali masuk ke kamar dan menanggalkan pakaiannya. Dia mandi dengan air hangat.

Setelah berpakaian dan mengeringkan rambutnya, dia bergegas turun dan menuju taman belakang sambil bersenandung.

Senyum tipis menghiasi wajahnya saat menyapa bunga-bunga yang bermekaran. "Selamat pagi kesayangan."

Ara membentangkan tangannya, membelai kelopaknya saat dia berlari-lari kecil mengitari hamparan bunga itu. Kemudian membungkukkan badan dan mendekatkan hidungnya ke sekuntum mawar merah. Dia menghirup aromanya dalam-dalam.

Dion, yang sejak tadi mengawasinya berjalan mendekat. "Kau sedang apa?" tanyanya.

Ara menegakan tubuh dan berbalik menghadapnya.

"Kak Dion ... Kenapa tiba-tiba bisa ada disini?" Dia tidak menyadari kapan pria itu datang, itu membuatnya sedikit terkejut.

"Aku sudah di sini sejak tadi, sebelum kamu datang."

"Oh ya, aku tidak melihatnya."

"Bagaimana bisa lihat? kamu hanya memperhatikan mereka begitu datang." Dion menunjuk hamparan bunga itu dengan sorot matanya.

"Benar," Ara mengakui. Ia kembali menatap bunga-bunga itu. "Mereka sangat cantik bukan?"

Dion menggeleng-gelengkan kepala, tak setuju. "Tidak."

Ara mendongak dan hendak protes, tapi Dion menyelanya lebih dulu.

"Mereka tidak secantik dirimu." Dion memujinya. "Apakah kamu tahu? kamu lebih cantik dari apapun dan satu-satunya yang terindah di dunia."

Kata-katanya terdengar hampir sama dengan pesan yang dikirim Farhan semalam.

Apa-apaan ini? Mengapa aku harus mendengarkan omong kosong dua pria di pagi hari?

Dion memetik bunga kamboja merah dan menyembunyikannya di balik punggung. Kemudian memerintahnya dengan suara lembut. "Lihat ke sini, Ara."

Keduanya bagaikan tiang listrik dan botol Yakult saat berdiri bersebelahan. Satunya sangat tinggi dan yang lainnya kecil dan mungil. Ara perlu mendongak untuk menatap wajahnya.

"Bunga yang cantik untuk gadis cantik," kata Dion usai menyelipkan bunga ke telinga Ara.

"Kak Dion juga harus pakai." Ara memetik bunga Daisy di hadapannya. Kemudian berjinjit untuk menyematkannya di telinga Dion.

Dion meletakan kedua telapak tangannya di pipi dan berpose genit. "Apa aku juga terlihat cantik?"

Ara tersenyum. "Cantik sekali."

Dion memperhatikan Ara menyapu setiap kuntum bunga yang mereka lewati saat menyusuri taman kecil itu. Dia kemudian bertanya, "Kamu suka bunga?"

"Suka sekali," jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari bunga-bunga yang bermekaran.

"Bunga apa yang kamu suka?" Dion kembali bertanya

"Semuanya. Mawar, anggrek, lili, Dahlia, tulip— Aku menyukai mereka semua."

"Jika harus memilih satu, mana yang akan kamu pilih?"

"Itu sulit." Ara memikirkannya sejenak sebelum memutuskan. "Kurasa bunga mawar."

"Kenapa?"

Ara memiringkan kepala, menatap Dion dengan bingung. "Apanya?"

"Kenapa kamu memilih bunga mawar?"

Ara mengerutkan kening. "Haruskah aku memilih bunga yang lain?"

Dion tertawa melihat kebingungannya. "Kurasa tidak," sahutnya.

Ara menghentikan langkah dan duduk di kursi panjang yang terbuat dari besi. Pandangannya lurus ke depan. Menatap kolam ikan yang memiliki air mancur di tengahnya. Dia tiba-tiba merindukan seseorang yang telah lama tiada.

Dulu, saat orang tuanya masih ada, ayahnya sering membawanya ke taman kecil itu. Mereka biasa duduk berdampingan di kursi yang sama, yang saat ini ia dan Dion duduki, sambil memberi makan seekor kelinci. Ayahnya juga sering menyuruhnya memberi makan ikan di kolam.

Ara kecil tidak menyukai ikan. Dia membencinya karena ikan itu terlalu lemah dan mudah mati. Meski begitu dia tetap melakukannya. Namun, karena dia memberinya makan terlalu banyak, ikan-ikan itu mati setelahnya.

Ara kecil tidak tahu kalau ayahnya suka menggodanya. Dia mengira ayahnya benar-benar menyalahkannya. Alhasil dia semakin membenci ikan.

Dion melihatnya terdiam untuk waktu yang lama dengan tatapan kosong. "Apa yang kamu pikirkan?"

Ara tersadar dari lamunannya. Dia menggelengkan kepala. "Tidak ada."

Ekspresinya kembali ceria saat menatap Dion dan bertanya, "Kaki Kak Dion masih sakit?"

Dion mengabaikan nyeri di kakinya yang berdenyut-denyut. "Sekarang baik-baik saja."

Ara menunduk, memandang engkelnya yang dibalut perban elastis. Kemudian naik ke lututnya. "Kenapa lututnya tidak diperban?"

Meskipun tidak parah, Dion seharusnya tetap menjaganya agar tetap kering dan terhindar dari debu dan kuman yang bisa menyebabkan infeksi. Namun, pria itu jelas tak mengindahkan perkataan dokter. Dia membiarkan lukanya terbuka begitu saja.

"Perbannya terlepas saat tidur, aku belum sempat menggantinya."

Gadis naif itu tidak dapat mendeteksi kebohongan Dion. Dia mempercayainya begitu saja.

"Tunggu di sini sebentar, aku akan segera kembali." Ara bangkit dari kursinya dan menghilang ke dalam rumah. Dia membawa kotak P3K saat kembali.

Dengan terampil Ara membersihkan luka di lutut Dion dengan larutan antiseptik. Kemudian membalutnya dengan kain kasa steril.

Dion menatapnya lekat-lekat. Perhatian dan kepeduliannya sedikit demi sedikit melelehkan gunung es di hatinya. Dion tidak pernah menginginkan wanita manapun sebelumnya. Kini dia memiliki satu. Ara, gadis kecil itu, dia menginginkannya.

"Selesai," kata Ara tak lama kemudian. Gadis itu kembali memasukan peralatan ke dalam kotak P3K sebelum menutupnya dengan rapat.

"Kamu begitu cekatan, seperti sudah terbiasa melakukannya."

Ara mengangguk. "Kak Samsul tidak menyukai rumah sakit. Dia juga tidak senang jika orang lain menyentuh tubuhnya. Jadi, saat dia sakit ataupun terluka, akulah yang merawatnya dibawah bimbingan dokter. Kecuali kalau sangat parah."

Ara menatap wajah Dion saat memberitahunya, "Sebenarnya aku sangat ingin menjadi dokter atau perawat, tapi Kak Samsul tidak mengijinkannya."

"Kakakmu benar. Kamu tidak perlu melakukannya."

Dion selaras dengan Samsul mengenai hal ini. Tidak peduli betapa Ara menginginkannya, dia tidak akan pernah mengijinkannya menjadi tenaga medis.

Alih-alih mendukungnya, Dion justru berpihak pada sang kakak. Ara sedikit kesal karenanya. "Menjadi tenaga medis tidak buruk. Itu pekerjaan yang mulia. Aku tidak mengerti mengapa semua orang melarangku melakukannya," protesnya dengan bibir mengerucut.

"Pekerjaan itu sangat melelahkan. Kamu seorang wanita, tidak perlu mengerjakan tugas berat seperti itu."

Banyak sekali wanita yang menjadi tenaga medis di luaran sana. Dia bukan satu-satunya. Mungkinkah karena posturnya yang kecil, sehingga orang lain menganggapnya lemah? "Jangan remehkan aku. Tubuhku mungkin kecil, tapi aku cukup kuat."

"Bagaimana mungkin? Mana berani aku meremehkan gadis pintar dan secantik kamu."

Dion mengulurkan tangan, meraih helaian rambutnya yang tersesat dan mengembalikannya ke tempat yang seharusnya.

"Siapapun yang menyayangimu tidak akan membiarkanmu melakukan pekerjaan apapun. Mereka tidak ingin melihatmu kelelahan, apalagi melakukan pekerjaan berat. Mengerti?"

"Kalau begitu apa yang harus kulakukan? Tidak mungkin aku hanya berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun."

Benar. Kamu tidak perlu melakukan apapun ketika menjadi istriku nanti. Kamu hanya perlu menungguku pulang dan melayaniku di tempat tidur.

Samsul baru saja turun dan menatap keduanya dari kejauhan. Dia berbalik untuk memerintahkan pembantunya. "Beritahu mereka untuk sarapan"

"Baik, Tuan."

Pembantu itu bergegas keluar dan menyampaikan pesan Samsul kepada Ara dan Dion.

"Nona Ara... Tuan Dion.... Sarapannya sudah siap. Tuan Samsul sudah menunggu di meja makan."

"Baiklah, kami akan segera ke sana," jawab Dion.

"Terimakasih, Bibi," timpal Ara.

Samsul sudah duduk di kursinya saat keduanya tiba. Ara menarik kursi dan duduk di sisi kanan Samsul. Berhadapan dengan Dion yang duduk berseberangan dengannya. Haris ikut bergabung tak lama kemudian.

Terlahir dengan sendok emas di mulutnya, Dion nyaris tidak kekurangan apapun. Satu-satunya yang tidak ia dapatkan adalah perhatian dari keluarganya. Ayah dan ibunya selalu sibuk dan jarang ada di rumah. Dion bahkan sudah lupa kapan terakhir kali mereka makan bersama.

Sambil mengunyah makanan di mulutnya, Ara mengamati Dion. Pria itu tampaknya memiliki selera makan yang buruk. Tidak heran jika tubuhnya sangat kurus.

Selain sepotong roti gandum dan secangkir kopi hitam tanpa gula, Dion tidak menyentuh apapun lagi.

Dion mengangkat wajahnya ketika sepiring penuh makanan disodorkan kepadanya. Ara menatapnya dengan senyum manis.

"Jangan hanya minum kopi, makan yang lainnya juga," kata Ara dengan lembut.

"Jangan menolak, turuti saja kemauannya. Kalau tidak, nanti dia ngambek," ucap Haris.

"Anak itu lebih ganas dari singa kalau sudah marah," imbuhnya.

Ara memberikan tatapan tajam pada Haris sebelum menoleh ke arah Dion. "Jangan percaya Kak Haris, Dia suka berbohong," imbuhnya.

Dengan senyum di wajahnya, Dion mengangguk setuju. "Oke."

Ara sangat senang seseorang memihaknya. Dia kembali menambahkan lauk di piringnya. "Udangnya enak sekali, Kak Dion harus coba."

Dion tidak suka bawang bombai. Dia tidak akan menyentuh hidangan apapun yang dicampur dengan bawang bombai. Namun, kali ini dia memakannya dengan lahap, seolah sangat menyukainya.

Dion berulang kali melirik Ara saat menghabiskan makanannya. Saat itu dia menyadari satu hal. Tidak peduli apapun makanannya, semuanya akan terasa enak jika disajikan oleh orang yang dia sukai.

1
nadia noviana02_
up dOng....
Choirul Anna Soenarso
up terus Thor
Dayana
wah ara pingsan.. lnjut thor.
Lily Flow
iya kak
skrng lg fokus pngn namatin novel yg satunya dulu jd ini jarang update
tp lg berusaha biar update dua2nya
Dayana
kok lama bngt up thor..
Lily Flow
ok
Choirul Anna Soenarso
Thor ditunggu bersatunya Farhan Ama Ara
Choirul Anna Soenarso
Thor,satukan Ara dg Farhan donk
Choirul Anna Soenarso
sebenarnya cerita ini bagus,,sy lebih suka dg cerita cinta sederhana,,laki2 dari keluarga sederhana dan cewek nya dari keluarga kaya,
Choirul Anna Soenarso
Alhamdulillah akhirnya up juga,, lanjut
Choirul Anna Soenarso
kpn punya, ditunggu juga sampe lumutan
NR
Aaaaahhhhkkkk tidak 😱, Ara hanya milik Farhan. Dion biar sama aku aja😁
Kaina AR-RAHMA: kpn nih up y
total 1 replies
NR
aku meleleh... plis mas Han sama aku aja😁
Lily Flow: jangan
Mas Han punya Ara 😄
total 1 replies
Choirul Anna Soenarso
bagus
NR
Definisi gak pacaran tapi saling cemburu-cemburuan🤣. Makanya Ara buruan minta kejelasan sama Mas Farhan
Choirul Anna Soenarso
yaahh knp sih Ama fira segala,,ibunya juga pake jodoh2in segala
Choirul Anna Soenarso
sy suka cerita nya,, ditunggu kemesraan mereka
Choirul Anna Soenarso: teman tapi mesra
total 2 replies
Choirul Anna Soenarso
bagus banget
Zulfakarimafitri
lanjut dong
Lily Flow: di tunggu ya kak
total 1 replies
NR
laki kaya Mas Farhan ada dijual dishopee gak sih, aku mau beli😅🤣🤣
Lily Flow: coba di cek spa tau ada di kranjang kuning 😀
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!