NovelToon NovelToon
Semestaku Semestamu

Semestaku Semestamu

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:752k
Nilai: 5
Nama Author: ingrid nadya

Kehidupan Nayla dan Azel sudah benar-benar berubah sejak terakhir kali bertemu. Nayla bertemu seseorang, kemudian putus dan tidak bisa move on. Azel menikah dengan seseorang, dikhianati kemudian bercerai.

Satu hari, mereka dipertemukan lagi di sebuah acara keluarga. Pertemuan itu membuat dunia mereka saling jungkir balik. Bagaimana kelanjutan kisahnya?

Cover obtain from pexels, free to use.
IG author : @ingrid.nadya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingrid nadya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Azel & Nayla : Here We Are

Azel

Setelah mendapat pesanan dari barista, gue memutuskan berjalan ke arah taman. Selain membeli segelas Americano, gue juga membeli Signature Chocolate untuk Nayla. Sepertinya dia lagi ada pikiran, mungkin segelas cokelat bisa membuatnya lebih baik.

Gue melihat dia dari kejauhan. Dia sedang menatap serius handphonenya. Berkali-kali terlihat seperti sedang berbicara dan meyakinkan dirinya sendiri.

Tapi saat gue mendekat, Nayla malah berdiri sambil meletakkan handphone di telinganya. Dia melangkah menjauh dari gue, sepertinya tidak menyadari kehadiran gue.

“Hi, Ernest.”

Kaki gue berhenti melangkah.

Ernest?

Mantan pacar Nayla?

“Uda lama banget…” Suaranya pecah, seperti menangis.

Dan gue tau begitu saja bahwa hati Nayla masih untuk orang itu.

Gue berbalik, meninggalkan Nayla, kemudian membuang signature chocolate brengsek itu.

Kelihatannya memang tidak akan berhasil. Dari awal hubungan ini memang tidak mungkin berlanjut.

C’mon, Azel, let’s quit the game! It's for good!

Nayla

Begitu Ernest menjawab teleponku, tangisku langsung pecah. Betapa aku sangat merindukan suaranya.

“Uda lama banget…” suaraku lirih.

“Nay, aku orang paling **** di dunia ini. Aku pengecut, aku brengsek. Dan aku benar-benar minta maaf. Selalu kamu di hati aku... kamu aja...”

Kudengar suara Ernest yang bergetar.

Betapa dalam lima tahun terakhir aku sangat merindukan suara ini. Dan betapa kalimat ini yang ingin kudengar darinya.

Tiba-tiba aku menyadari kehadiran seseorang, aku berbalik.

Azel?

Dia terlihat memunggungiku, berjalan menjauh lalu membuang satu cup signature chocholate yang tadinya ada di pegangannya.

Apa itu seharusnya untukku? Kenapa dia membuangnya? Apa dia tadi mendengarku?

Apakah…

Aku menutup mataku, lalu kembali memunggunginya.

Memang seharusnya seperti ini. Memang sudah seharusnya kami tidak memulai apapun.

Sudah cukup aku bertanya-tanya dan menebak-nebak perasaanku pada Azel. Karena apapun itu, dia tidak akan bisa menang dari Ernest.

Aku akan kembali pada orang ini, orang yang telah kutunggu selama bertahun-tahun.

***

SEBULAN KEMUDIAN...

Azel

Gue berjalan ke parkiran sambil menelepon Diana. Gila! Sudah seminggu ini gue benar-benar disibukkan dengan urusan due diligence perusahaan. Semua karena kami akan mengaukisisi perusahaan di Semarang itu.

Gue tidak boleh mengeluh, demi bonus yang berlimpah.

“Hello, Honey?” Dia menjawab.

“Just because you can’t babe me, you can honey me.”

(Karena kamu gak bisa panggil aku 'babe', bukan berarti kamu bisa panggil aku 'honey'.)

“Uuuu. Dingin banget.”

“Anyway, gue bisa jemput Rara gak malam ini?”

Dia tertawa.

“Looks like you run out of woman’s supply. You can use me, Babe.”

(Kayaknya kamu mulai kekurangan persediaan wanita. Kamu bisa gunakan aku, Babe.)

“Dee… c’mon.”

“Why so serious?”

(Kenapa serius banget sih?)

Gue malas menjawab. Terlalu malas mengomentari godaan Diana.

“Okay, okay, Mr. Serious. Gue uda reserve tempat spa hari ini buat gue sama Rara. Spa keluarga ya, for your information, jadi enggak, kamu gak bisa jemput dia malam ini.”

“Okay.” Gue bergumam.

“Why don’t you join us?”

(Kenapa gak gabung ke kita aja?)

“Enggak deh, makasih. Yauda, gue mau nyetir. Salam sama Rara.”

Kemudian telepon terputus setelah dia menggumamkan oke.

Jadi apa yang bisa gue lakukan sekarang? Uda sebulan gue puasa wanita. Nayla, Nayla. Ternyata ada pengaruhnya juga wanita itu di sebulan kehidupan gue ini. Beginilah kalau belum berusaha tapi sudah dipatahkan.

Gue scrolling nomor di kontak handphone gue, try to find someone to hook up tonight.

Mari kita lihat...

Dan gue menemukan nama seseorang yang mungkin masih sudi bertemu denganku.

Gue meneleponnya.

Butuh beberapa kali telepon. Tapi gue tau, di seberang sana, keinginan untuk menjawab lebih besar. Dan akhirnya, dia menjawab.

“Hi, Sally, apa kabar? Maaf. Maaf banget. Mau minum gak malam ini? Oke. Aku jemput jam delapan ya.”

Dan disinilah gue, balik kepada rutinitas gue yang dulu.

Gue mengarahkan mobil ke rumah Sally. Sesampainya disana, gue mengirimkan pesan whatsapp kepadanya bahwa gue sudah di depan gerbang rumahnya.

Dia membuat gue menunggu lama. Inilah yang gue suka dari Sally, meskipun dia ingin, dia tidak pernah terburu-buru.

Sally keluar dengan sebuah dress satin hitam sebetis dengan belahan sampai ke paha.

I always thank God for creating woman.

(Terima kasih Tuhan telah menciptakan wanita!)

Bagaimana mungkin gue bisa melupakan kegilaan gue dengan wanita hanya karena kejadian Nayla sebulan yang lalu?

Gue turun dari mobil, berjalan pelan dengan wajah pura-pura bersalah.

“Hi, Sally.”

“Hi.”

“You look so beautiful tonight.”

(Kamu kelihatan cantik banget malam ini.)

“I know.”

(Aku tau.)

“And I’m really stupid back then.”

(Dan aku bodoh banget kemarin-kemarin.)

“I know.”

(Aku tau.)

“Will you forgive me?”

(Mau kan maafin aku?)

“It depends.”

(Tergantung.)

“Depends on what?”

(Tergantung apa?)

“On how you do me tonight.”

(Tergantung gimana kamu melakukannya padaku malam ini.)

Nakal.

Gue tersenyum, menggenggam tangan Sally, lalu membawanya masuk ke dalam mobil.

Jadi disinilah gue sekarang, kembali menjadi orang paling brengsek sedunia lagi.

Sally ada di menu makan malam gue hari ini.

Yum.

Nayla

Ini hari Sabtu yang sakral, aku bahkan tidak ingin bergerak sedikit pun dari tempat tidur. Aku masih terbuai dalam mimpi, tapi suara bel pintu apartemenku menarikku keluar dari ketidaksadaran.

Siapa yang berani sekali menekan tombol itu di hariku yang indah ini?

Ah, kan hanya satu orang yang kuberikan akses lift ke apartemenku.

Aku berniat tidak membuka pintu, tapi orang itu sangat keras kepala, dia terus membunyikan bel tanpa menyerah. Akhirnya dengan berat hati, aku melangkah membuka pintu.

Dan berdirilah dia disana, dengan sekotak pizza dan mungkin pasta.

“Hi, Nay. Kamu kelihatan... luar biasa...” Senyum jahil menghiasi wajahnya. Aku langsung menyadari betapa berantakannya aku sekarang. Piyama usang dan rambut berantakan, benar-benar perpaduan yang sangat menarik!

“C’mon. You come without telling me. What do you expect?”

(Ayolah. Kamu datang gak kasih tau aku. Apa yang kamu harapin?)

Aku mendengus.

“I actually expect this...”

(Sebenernya, aku harapin ini.)

Dia memandangiku dari atas sampai bawah sambil tertawa-tawa.

Aku pura-pura menutup pintu.

“Well, I guess you don’t want to get in.”

(Kayaknya kamu gak mau masuk ya.)

Dia langsung menahannya, masih tertawa.

“Sorry, Nay.”

Aku mendengus, tapi akhirnya membiarkannya masuk.

“Kangen banget ya sama aku? Sampe muncul di sabtu pagi begini.” Aku berkacak pinggang.

Dia malah menarikku dalam pelukannya.

“Kangen iya. Tapi ini bukan pagi lagi, Sayang.”

Aku melirik jam. Shit! Ternyata sudah jam satu siang. Kebablasan.

“Kalau aku gak datang, kamu gak bakal makan sampe malem.”

Aku menenggelamkan wajahku di dadanya. Wanginya selalu menyenangkan. Aku sangat suka berada dalam pelukannya.

“Makan sambil nonton yuk? Tanganku mulai kram nih.”

Aku tertawa, karena dia memang masih memegangi pizzanya. Kami pun duduk di sofa depan televisi, menyalakan Netflix. Kemudian, aku pun bersandar kepadanya sambil memakan pizza, tentu saja.

"Ini tanggal berapa ya?" tanyanya padaku.

"Tanggal dua. Kenapa emang?"

"Gak apa. Tiba-tiba keinget harus bayar cicilan kartu kredit."

Tunggu? Ini sudah tanggal dua lagi?

Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Astaga. Sudah sebulan berlalu ternyata, sejak terakhir aku bertemu Azel di kantornya. Setelah itu, kami benar-benar tidak pernah berpapasan lagi. Seperti semesta tidak mengizinkannya lagi.

Berkali-kali aku berusaha keras mengenyahkan pikiranku dari Azel. Beberapa kali berhasil, beberapa kali tidak.

Tapi tidak apa-apa, hari ini penawarku ada disini. Orang yang bisa menetralisir pikiranku dari seseorang bernama Azel.

Disinilah aku sekarang.

Di pelukan Ernest.

***

1
Studesyy
akhirnya kumenemukanmu Thor, BAGUS BANGETTTTT... makasih ya buat karya yg sebagus ini, kamu luar biasa Thor... GBU
Studesyy
kok aku naksir Dave ya.. wakakakkakak
yhoenietha_njus🌴
koq aq juga ngerasain dangdutan ya koplo lagi..kaya aq yang lagi nelpon si Nayla
yhoenietha_njus🌴
Luar biasa
Amalia Khaer
bye bye Rara. sukses ya kamu.
Amalia Khaer
karya pertama TPI sudah sekeren ini 👏👏👏
Amalia Khaer
yok di ramein yokk. pas bngett moment nya si Om Azel dtng.
Amalia Khaer
Luar biasa
Amalia Khaer
selain krna hobi mereka sma, krna Rara mengerti apa yg diinginkan Papanya.
Amalia Khaer
ngantuk dong KLO minum antimo
Amalia Khaer
lgi isi kamu tuh, Regina.
Amalia Khaer
SDH bertahun2, aq balik lgi untk membaca, trnyata likenya msih ratusan. pdhal ceritanya Nayla keren bnget loh.
Amalia Khaer
si Cantik Rara sibuk chatan sama Calon Mamanya hihihi
Amalia Khaer
anak pintarr. dukung papa dan Tante Nay ya, Rara.
Amalia Khaer
boleh bnget Om Azel. asalnya dirimu mau berjuang.
Amalia Khaer
semangat ya Om Azellll
Amalia Khaer
aq juga mau Om Azel menguras rekeningmu. TPI gratis yaa
Amalia Khaer
GK pa2, Zel. KLO jodoh y mau gimana lgi. TPI ya itu, dirimu harus berjuang. hehhehe
Amalia Khaer
uhuyyy Om Azel 😍😍😍😍😍😍
Amalia Khaer
Hay, Nay. aku rindu kamu sama Om Azel, hihihi. aq dtng lgi mengulang ceritamu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!